Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34 — Pulang Kampung
Tujuh hari uji coba berakhir dengan angka dua puluh delapan persen.
Waktu tunggu kendaraan di gudang Pak Hendra turun lebih besar daripada target. Kesalahan pencatatan juga berkurang hampir separuh setelah staf berhenti memasukkan pesanan yang sama ke dua sistem.
Pak Hendra menandatangani kontrak tiga bulan.
"Nilainya tidak besar," kata Arya kepada Anindya malam itu, "tapi cukup untuk membayar tim dan membangun hasil yang bisa dijual."
"Nilainya besar kalau membuat Mas tersenyum begitu."
Sebelum Arya sempat menjawab, ponselnya berdering. Ayu, adik perempuannya yang kuliah di Surabaya, meminta pulang ke Desa Sumberarum akhir pekan itu. Pak Warno mulai sering sakit punggung, sedangkan Bu Lastri enggan memeriksakan diri meski batuknya belum reda.
"Aku ikut," kata Anindya segera.
Arya terdiam.
Senyum Anindya memudar. "Tidak boleh?"
"Bukan begitu. Orang tuaku belum tahu aku menikah lagi."
"Mereka sudah tahu soal perceraian."
"Iya, tapi kalau aku datang membawa istri baru, mobil mewah, dan cerita tentang vila dalam waktu sesingkat ini, mereka bisa kaget."
Anindya menatap meja. "Jadi Mas akan bilang kapan?"
"Setelah aku menemukan cara menjelaskannya tanpa membuat mereka merasa aku menyembunyikan sesuatu karena malu."
Jawaban itu masuk akal. Tetap saja, Anindya merasa seperti bagian hidup Arya yang harus ditinggalkan di balik gerbang.
"Pergilah," katanya. "Aku mengerti."
Keesokan pagi, Arya memilih mobil keluarga yang paling sederhana di garasi. Ia menolak Rolls-Royce dan hanya membawa tas kecil serta beberapa buah tangan tanpa merek mencolok.
Ayu menunggu di depan kampus dengan ransel besar. Perempuan berusia dua puluh tahun itu masuk ke mobil, menatap interior, lalu menatap kakaknya.
"Mas pinjam mobil siapa?"
"Teman."
"Teman yang mana? Teman Mas biasanya naik motor."
"Teman baru."
Ayu menyipitkan mata. "Perempuan?"
Arya menyalakan mesin. "Pakai sabuk pengaman."
"Berarti benar."
Ketika mobil keluar dari halaman vila, Anindya berdiri di dekat gerbang bersama Pak Darto. Ia mengenakan pakaian rumah sederhana, tetapi tetap terlihat seperti seseorang yang seharusnya ikut dalam perjalanan.
Arya menurunkan kaca. "Aku cuma dua malam."
"Aku tahu."
"Kalau ada masalah, telepon."
"Mas juga. Jangan lupa obat batuk untuk Bu Lastri."
Arya mengangguk. Ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih hangat, tetapi Ayu sedang memperhatikan dari kursi penumpang. Akhirnya ia hanya berkata, "Aku berangkat."
Anindya melambaikan tangan sampai mobil berbelok dan hilang.
Ayu menoleh melalui kaca belakang. "Itu siapa?"
"Pemilik rumah."
"Mas tinggal dengan pemilik rumah perempuan?"
"Ceritanya panjang."
"Aku punya perjalanan tiga jam."
Arya pura-pura fokus menyetir.
Mereka meninggalkan kepadatan Surabaya dan memasuki jalan antarkota. Ayu bercerita tentang kuliah, uang kos, dan kabar desa. Sesekali ia kembali bertanya tentang Anindya, tetapi Arya selalu mengalihkan pembicaraan.
"Mas kelihatan beda," kata Ayu setelah satu jam.
"Beda apa?"
"Lebih tegak. Lebih sering tersenyum. Waktu masih dengan Mbak Karina, Mas selalu terlihat sedang menghitung tagihan."
Arya menggenggam setir. "Aku sedang mulai pekerjaan baru."
"Bagus?"
"Masih kecil, tapi milikku sendiri."
"Bapak pasti bangga."
Arya berharap begitu. Ia juga berharap orang tuanya tidak bertanya terlalu banyak tentang sumber mobil, jam tangan yang sengaja ditinggalkan, atau rumah tempat ia tinggal.
Menjelang siang, mereka tiba di Desa Sumberarum. Udara lebih sejuk, sawah membentang di kedua sisi jalan, dan rumah-rumah berdiri jauh dari kebisingan kota.
Bu Lastri keluar dari rumah sebelum mobil berhenti. Ia memeluk Ayu, lalu Arya, berkali-kali.
"Kamu makin kurus," katanya.
"Aku justru olahraga sekarang."
Pak Warno muncul dari belakang dengan langkah pelan. "Masuk dulu. Ibumu masak sejak pagi."
Tidak ada pertanyaan tentang perceraian di halaman. Mereka menyambut Arya sebagai anak yang pulang, bukan lelaki gagal yang kehilangan istri.
Baru setelah mereka duduk, Pak Warno bertanya, "Karina masih mengganggumu?"
"Sempat. Sekarang semua urusan penting harus lewat jalur resmi."
Bu Lastri meletakkan mangkuk di meja. "Tentang kehamilan itu?"
"Prinsipnya tetap sama, Bu. Setelah lahir ada tes. Kalau anakku, aku bertanggung jawab."
"Ibu tidak akan membenci anaknya," kata Bu Lastri. "Tapi Ibu juga tidak akan meminta kamu kembali kepada Karina."
Arya menatap kedua orang tuanya. "Terima kasih sudah membelaku waktu keluarganya menelepon."
Pak Warno menunduk. "Seharusnya Bapak melakukannya sejak lama."
"Bapak hanya ingin rumah tanggaku bertahan."
"Bertahan tidak selalu berarti sehat. Bapak baru mengerti setelah melihatmu pergi tanpa membawa apa-apa."
Ayu yang mendengar dari samping tiba-tiba berkata, "Tapi sekarang Mas punya teman baru yang rumahnya besar."
Bu Lastri langsung tertarik. "Perempuan di gerbang tadi?"
Arya melotot kepada adiknya. "Kamu bilang tidak akan ikut campur."
"Aku tidak pernah bilang begitu."
Pak Warno tersenyum tipis. "Bapak tidak akan memaksa kamu cerita. Hanya jangan sembunyikan orang baik karena takut kami belum siap."
Arya terdiam. Ia bukan malu kepada Anindya. Ia justru takut kekayaan perempuan itu membuat orang tuanya merasa kecil, atau pernikahan cepat mereka tampak seperti keputusan putus asa.
"Nanti aku jelaskan," katanya. "Saat semuanya sudah lebih tenang."
Bu Lastri mengangguk. "Kalau dia membuatmu tersenyum lagi, Ibu sudah punya alasan untuk berterima kasih."
Saat makan siang, Bu Lastri menyajikan sayur lodeh dan ayam kampung. Arya otomatis mengambil ponsel untuk memotret.
"Buat siapa?" tanya Ayu.
"Bayu."
Ponselnya berbunyi sebelum foto terkirim. Pesan Anindya muncul.
Sudah sampai? Ibu sehat? Jangan lupa makan.
Ayu membaca nama di layar dan tersenyum licik. "Bayu sekarang namanya Anindya?"
Arya menyimpan ponsel. "Makan saja."
Malamnya, setelah orang tua tidur, Arya mengirim foto makanan dan halaman rumah kepada Anindya. Balasan datang cepat. Perempuan itu meminta foto Bu Lastri dan Pak Warno, lalu mengingatkan jadwal minum obat.
Di Vila Kusuma, Anindya duduk sendiri di meja makan yang biasanya mereka gunakan berdua. Piring di depannya hampir tidak tersentuh.
Pak Darto menuangkan teh. "Non ingin menyusul?"
"Arya belum siap mengenalkanku."
"Den Arya mungkin sedang melindungi orang tuanya dari terlalu banyak kejutan."
"Aku tahu. Tapi mengerti tidak membuat rumah ini lebih ramai."
Pak Darto menahan senyum. "Baru beberapa jam."
Anindya menatap kursi kosong di seberang. "Rasanya lebih lama."
"Berarti Non akan merindukan Den Arya."
"Aku sudah merindukannya."
Pengakuan itu keluar tanpa malu karena hanya Pak Darto yang mendengar.
Di Desa Sumberarum, Arya berbaring di kamar lamanya dan menatap pesan terakhir Anindya: Selamat tidur. Jangan lari sendirian besok.
Ia tersenyum, lalu meletakkan ponsel di samping bantal.
Jarak tiga jam perjalanan seharusnya tidak berarti apa-apa.
Namun, malam pertama tanpa Anindya membuat dua rumah terasa sama-sama terlalu sunyi.
Keduanya baru sadar bahwa kebersamaan singkat telah berubah menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan sekarang.