Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Kedatangan Tak Terduga
Kembali pada Galang dan Felicya bersama ibunya.
Mereka yang telah usai sarapan pagi. Melanjutkan perjalanan pulangnya.
Sesampai di rumah Galang dan Felicya serta ibunya beristirahat di kamar masing-masing. Felicya menyiapkan air mandi untuk suaminya dan membereskan tempat tidur yang berantakan, karena belum di rapihkan oleh Galang dan membawa kemeja kotor ke dalam ranjang.
Galang yang masih dalam kamar mandi ia bersiul di dalam kamar mandi karena suasana hatinya gembira bertemu dengan istrinya. "Akhirnya Felicya gak terus marah denganku,"gumamnya ia tersenyum sendiri di kamar mandi. Galang tetap masih bersiul riang di sana.
Entah Galang masih belum menyadari tentang perasaannya.
Felicya yang mendengar suaminya bersuara di kamar mandi. Jantungnya ingin copot. Ia seperti trauma suaminya akan melakukan hal yang tidak dia suka. Saat Felicya menempelkan kupingnya di kamar mandi. Ternyata suaminya sedang bersiul saja. Felicya menghela napas dan mengusap dadanya. "Hufttt untung Mas Galang cuma bersiul saja," gumamnya.
Ketika melangkah ingin ke dapur, ponsel galang bunyi di atas meja. Felicya mencoba melihat nama di layar ponsel suaminya. Saat ia buka nomor tak di kenal. Felicya ingin tahu akhirnya mengangkat telepon dari orang tidak di kenal. "Assalamu'alaikum ini siapa yah?"tanyanya.
"Yah Walaikumsalam. Kamu gak perlu tahu siapa saya. Saya mau kasih tahu berhati-hati dengan suamimu," Lalu orang itu pun mematikan teleponnya. Felicya bertanya-tanya. "Kenapa ada dua orang yang kasih tahu aku harus hati-hati dengan suamiku? apa suamiku ini berbahaya untuk orang lain," gumamnya.
Felicya ingin sekali bertanya pada suaminya. Namun, ia urungkan niatnya karena dia tidak ingin berprasangka buruk.
Lalu Felicya turun menuju dapur untuk menyeduh minuman teh hangat untuk dirinya. Ia ingin menyendiri dulu sementara. Awalnya ia merasa sedikit lega. Namun, ada saja yang membuatnya kepikiran. "Sebenarnya Mas ini banyak musuhnya dari kerjaan atau bukan yah?" gumamnya. Dia merasa hidup suaminya seperti banyak rahasianya darinya. Felicya yang sudah selesai membuat teh hangatnya. Ia keruang tamu lalu menyalakan televisi. Sembari duduk dan seruput tehnya yang masih panas.
Saat Felicya sedang sendiri di ruang tamu. terdengar suara bunyi bel rumah.
Ting tong...
Ting tong...
Felicya mendengar bel berbunyi, segera ke depan pintu untuk melihat. Saat di depan pintu datang seorang wanita yang tidak terlalu tinggi, kulit kuning langsat dengan tubuh yang gemuk dan wajahnya biasa saja dan bermata sipit. Tidak seperti wajah Felicya yang kecil mungil dan matanya seperti orang arab.
Felicya mengernyitkan dahinya ketika melihat tamu nya seorang wanita. Felicya pun bertanya.
"Kamu siapa yah? mau ketemu siapa?" tanya Felicya yang ingin tahu.
"Wah aku belum mengucapkan salam, sudah di kasih pertanyaan banyak olehmu. Baiklah, kenalin aku Lytecia," Lytecia mengulurkan tangannya pada Felicya untuk mengajak bersalaman.
Namun, Felicya tidak menyambutnya. perempuan dihadapannya. Mengepalkan tangannya kesal melihat Felicya tidak menyambutnya.
"Emm okey.. kayaknya kamu gak senang dengan kedatanganku ke sini," ucap Lytecia dengan raut wajahnya yang masam.
"Kamu kesini mau mencari siapa?" tanya Felicya tidak basa-basi lagi.
"Aku kesini mencari Mas Galang," ucapnya menantang Felicya.
Felicya menatap perempuan itu dengan tajam. Perasaan Felicya tidak suka jika ada seorang wanita mencari suaminya. Apalagi dia tidak mengenalnya.
"Untuk apa kamu cari suamiku? kamu tau siapa yang di hadapan kamu?" Felicya melempar pertanyaan padanya.
"Ya. Aku tahu kamu istrinya Mas Galang," jawab lytecia ketus.
"Kamu sudah tahu aku istrinya Mas Galang, untuk apa kamu mencari suamiku?" tanya Felicya mulai merasa risih dengan tingkah Lytecia yang menurutnya tidak sopan.
"Aku kesini. Em.... cuma mau menengok Mas Galang." jawabnya inocent
"Untuk apa kamu menengok suami orang, kamu itu siapanya Mas Galang?" tanya Felicya yang mulai terbawa emosi.
"Aku..." ucapannya tergantung, perempuan itu melihat Galang menunju ke depan pintu.
"Nanti suamimu yang jelasin," ucap Lytecia. Perempuan itu tidak lepas pandangannya dari Galang. Saat Galang sudah di belakang Felicya. Perempuan itu tersenyum pada Galang. Galang yang melihat perempuan itu nekad datang kerumahnya Galang mengeraskan rahangnya. Perempuan itu gugup melihat Galang seperti marah padanya.
"Kamu ngapain ke rumahku?" tanya Galang tak suka dengan kehadiran perempuan tersebut.
"Aku ke sini hanya ingin menengok kamu Mas Galang," ucap perempuan itu dengan suara pelan memelas di hadapan Galang.
"Tapi aku gak menyuruh kamu menengok aku!" Galang kali ini ikut emosi. Dia tidak suka jika perempuan itu gegabah mengambil tindakannya sendiri.
"Aku kan sepupu dari kampung Mas, kamu tega banget sama aku sih, sudah aku di jutekin sama istrimu, sekarang kamu membentakku." ucap Lytecia memasang jurusan andalannya untuk menarik perhatian Galang. Namun, Galang yang sudah tahu taktik perempuan itu. Dia hanya memandangnya malas. Perempuan itu pun kesal lalu mengepalkan tangannya.
"Baiklah kedatanganku benar-benar membuat kalian risih, aku pamit." Perempuan itupun pergi dengan menghentakan kakinya kecil. Lalu melangkah begitu saja.
...****************...
Setelah Lytecia pergi. Ia menaiki motornya dengan ngebut. Dia masih tak menyangka bahwa Galang menyambut dia dengan rasa tidak suka. Di perjalanan Lytecia menggerutu. "Sialan kamu Galang, kedatanganku disambut dengan gak sopan, kalau begitu aku gak usah kerumahmu," Lytecia pun memukul stang motornya yang masih menyetir motor
Lalu dia melaju dengan kecepatan tinggi. Dia tidak perduli dengan ke adaan jalanan ramai. Ia hanya ingin sampai rumah, hatinya sudah sakit dipermalukan di hadapan istrinya.
Lima belas menit sampai di rumah Lytecia memarkirkan motornya di pekarangan rumahnya.
Lytecia masuk ke rumah. Lalu ia membantingkan pintunya kencang. Lytecia berteriak di ruang tamu dan melempar tasnya ke sofa.
"Sialan kau Galang, biadab memang kamu. Lihat saja nanti kamu juga mencariku lagi," suaranya menggema di ruang tamu. Dadanya turun naik meluapkan emosinya.
...****************...
Kembali pada Galang dan Felicya.
Felicya duduk di ruang tamu dan menyenderkan palanya hari ini ia merasa kepalanya seperti berputar. Felicya memejamkan matanya lama. Galang yang melihat istrinya sedang banyak pikiran. Galang duduk di samping Felicya dan berbicara padanya. "Sayang.. Kamu pusing yah atas kejadian kemaren dan hari ini? aku minta maaf yah," ucap Galang dengan wajah yang memelas. Ia takut Felicya mendiamkannya lagi seperti saat dia kembali ke rumah sakit.
"Ya. Aku memang pusing Mas. Tapi gak apa-apa nanti juga hilang sendiri. Aku hanya butuh waktu sendiri dulu. Aku ingin pikiranku tenang," ucapnya yang masih memejamkan mata.
"Okey Mas gak akan banyak tanya. Tapi Mas mau menemani kamu disini. Yah?" tanyanya.
Felicya hanya menganggukan kepalanya. Dia tidak ingin terlalu memikirkan hal yang tidak dia ketahui.
Di sisi lain Galang tidak tahu apa yang di inginkan perempuan itu. Dia tidak ingin perempuan itu mengatakan sesuatu pada Felicya. Ia tidak ingin rumah tangganya hancur begitu saja.