NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15 : Padang Sepi

Mereka berlima masih berdiri di padang rumput yang sepi itu. Padang yang dikelilingi dinding akar raksasa seperti mangkuk. Rumput hijau keabuan itu empuk, bunga-bunga putih kecil bercahaya pelan kalau keinjak, tapi cahayanya langsung mati lagi.

Jauh lebih baik dari tempat pertama mereka tiba di dunia monster itu. Tempat pertama itu hutan akar gelap, tanahnya becek hitam, bau busuk akar busuk dan bau Bhayavedin di mana-mana, setiap langkah harus takut keinjak ranting. Di sini sepi, tenang, anginnya dingin tapi bersih, tidak bau.

Tapi Bima tetap angkat tangan, isyarat jangan berisik.

"Sstt,jangan dulu ngobrol kenceng. Kita belum aman 100%." bisik Bima pelan banget. "Bhayavedin kan peka suara juga, tempat ini sepi, suara sekecil apapun kedengeran."

Mereka semua mengangguk. Gilang langsung menurunkan Elina dari gendongannya pelan-pelan ke rumput.

BRUKKK...

Elina duduk, kakinya yang diperban itu langsung dilurusin. Wajahnya masih pucat, tapi udah mendingan daripada di lubang akar tadi.

"El, lo gak apa-apa?" tanya Maira sambil langsung jongkok di depan Elina.

Elina mengangguk lemah, " Gak papa kok. Cuma kaki gue nyut-nyutan lagi."

Maira langsung panik lihat perban Elina. Perban yang tadi pagi masih putih, sekarang sudah coklat kehitaman karena darah kering, becek karena tadi merangkak di terowongan yang lembab, plus kena tanah.

"Ya ampun, perbannya udah kotor banget. Ini bisa infeksi El."kata Maira.

Bima yang pimpin jalan dari tadi, melihat sekeliling padang. Padang itu lurus ke depan, ujungnya masih gelap, tidak terlihat sungai sama sekali. Ia buka peta kulit kayu lagi bersama Arga.

Arga yang baca peta, menunjuk garis lurus panjang di peta.

"Ga, sungainya masih jauh ya?" tanya Bima.

Arga mengangguk, menelusuri garis dengan jarinya. "Iya Bim, di peta...dari padang ini, kita harus jalan lagi lurus ke depan ada sekitar 1 jam barulah nemuin sungai itu. Ini padangnya luas, sungainya di ujung seberang."

"Satu jam?!" Gilang langsung lemes duduk di rumput. "Gila... gua gendong Elina 1 jam lagi? Kaki gua udah kayak jelly tadi di terowongan kerangka."

Elina yang dengar jadi nggak enak hati,"Lang,gue jalan sendiri aja ya. Ini udah agak mendingan kok."

"Enak aja jalan sendiri, perban lo aja udah kayak gini, El," sahut Gilang, tapi nadanya lembut. "Udah, gua gendong lagi nanti, tapi kita istirahat dulu lah..Gua capek banget."

Bima setuju. "Bener, kita istirahat dulu. Kasih jeda untuk istirahat beberapa menit sebelum pergi lagi. Kita isi tenaga dulu."

Bima lalu duduk melingkar, ngasih kode ke semua buat duduk dan jangan berdiri dulu, biar nggak kelihatan dari luar dinding akar.

"Oke, kita istirahat 10 menitan ya di sini. Atur napas dulu. Jangan takut, jangan berisik," kata Bima, masih jadi pemimpin.

Mereka berlima akhirnya duduk melingkar di tengah padang rumput sepi itu.

Maira buka tas kecilnya. Tasnya masih ada sisa bekal yang tadi belum kemakan semua. Ada 2 roti sobek lagi, 1 botol air minum tinggal setengah, dan kotak P3K kecil.

"Minum dulu El. Tadi lo bilang haus kan." Maira ngasih botol air ke Elina.

Elina minum pelan, "Makasih Mai."

Arga yang baca peta dari tadi, juga duduk sambil melipat peta dengan hati-hati. " Di peta keterangannya Sungai Pelupa itu bisa ngilangin bau asing sama rasa takut. Berarti nanti setelah kita nyebur, Bhayavedin nggak bisa nyium kita lagi ya?"

Bima mengangguk, "Teorinya gitu. Soalnya Bhayavedin kan buta, dia cuma ngandelin suara, rasa takut, sama bau asing. Kalau bau asing kita hilang di sungai itu, satu indera dia hilang. Tinggal kita harus jaga jangan berisik sama jangan takut."

Gilang yang lagi selonjor, tiba-tiba nyeletuk, "Gua masih mikirin ruangan kerangka tadi.Gila, banyak banget kerangkanya.Mereka semua nggak sempet sampe sungai ini ya?"

Suasana langsung hening lagi. Merinding.

Maira merinding, "Jangan ngomongin itu lagi, Lang.Gua masih kebayang tengkorak anak kecil yang meluk boneka tadi."

"Sorry sorry..." Gilang langsung tutup mulut.

Di tengah hening itu, Maira inget tugasnya.

"Oh iya, Elina, sini ganti perban lo dulu ya," kata Maira lembut.

Ia buka kotak P3K. "Perban lo kotor, harus diganti biar lukanya nggak infeksi. Nanti bau darahnya juga makin nyengat, Bhayavedin bisa nyium bau asing darah lo dari jauh."

Elina mengangguk, meluruskan kakinya.

Maira ganti perban Elina dulu.

Maira buka perban lama pelan-pelan. Elina meringis nahan sakit.

"Aduh,pelan-pelan Mai." kata Elina.

"Sorry ya El. Tahan ya,dikit lagi." kata Maira, tangannya hati-hati banget. Ia bersihkan luka sobek di betis Elina dengan air minum sisa setengah botol itu dan kapas. Lukanya masih menganga, tapi tidak sedalam tadi, darahnya sudah tidak ngalir.

Gilang yang lihat langsung buang muka, nggak tega. "Aduh gua nggak bisa lihat darah."

Bima malah mendekat bantuin Maira nyorotin pakai senter HP yang redup, "Maira, butuh bantuan nggak?"

"Gak usah, Bim, gua bisa.Lo pegangin senternya aja biar terang," kata Maira.

Arga duduk di sebelah Elina, coba nenangin Elina biar gak takut lihat darahnya sendiri.

"El, lihat gua aja, jangan lihat lukanya.Tarik napas pelan. Ingat, jangan takut, kalau lo takut, Bhayavedin ngerasa." bisik Arga ke Elina.

Elina nurut, ia lihat Arga, tarik napas pelan. "Gue nggak takut,gue nggak takut."

Setelah dibersihkan, Maira pasang perban baru yang putih bersih. Ia ikat kencang tapi tidak terlalu kencang.

"Nah, udah, perban baru, udah nggak bau darah lagi." kata Maira, lega.

" Makasih ya Mai." Elina tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari itu.

Setelah ganti perban, mereka isi tenaga dulu.

Maira bagi sisa roti sobek itu jadi 4 bagian kecil, buat Bima, Arga, Gilang, dan dirinya. Elina sudah tidak dikasih karena tadi sudah makan roti coklat utuh.

"Makan dulu, biar ada tenaga buat jalan 1 jam ke depan," kata Maira.

Gilang langsung lahap, "Akhirnya...Gua kira kita bakal mati di terowongan kerangka tadi.."

"Jangan ngomong mati mulu, Lang!" protes Arga sambil ngunyah roti. "Kita udah sampai padang sepi ini, ini kemajuan. Lebih baik dari tempat saat kita tiba di dunia monster ini kan? Tadi kan gelap banget, sekarang ada bulan."

Bima yang pimpin jalan, sambil makan, ia tetap waspada lihat ke dinding akar di belakang mereka, tempat terowongan tadi. Suara DUK... DUK... kaki Bhayavedin tadi sudah tidak terdengar lagi, tapi ia tidak mau lengah.

"Habis makan kita langsung jalan lagi ya," kata Bima. "Jangan lama-lama istirahat di sini. Bau perban lama Elina yang kotor tadi udah gua kubur di bawah rumput, tapi bau asing kita masih nempel. Kita harus sampai sungai hitam secepatnya biar bau kita hilang."

Maira mengangguk, "Iya, Elina juga udah diganti perbannya, jadi bau darahnya berkurang."

Elina yang sudah diperban baru, terlihat lebih segar. "Nanti 1 jam ke depan apa boleh gue minta tolong digendong lagi? Kaki gue masih sakit kalau jalan."ucap Elina sedikit ragu tapi memang kakinya masih terasa sakit untuk dibawa jalan.

Gilang langsung jawab, "Iya El, gua gendong lagi. Lo tenang aja, gua udah isi tenaga nih, makan roti."

Arga melipat peta kulit kayu lagi dan masukkan ke dalam jaketnya. "Oke, rute selanjutnya jelas. Dari padang sepi ini, kita harus jalan lagi lurus ke depan ada sekitar 1 jam barulah nemuin sungai itu. Nggak boleh belok-belok. Lurus aja ikutin cahaya bulan."

Mereka berlima duduk sebentar lagi, menikmati sepi selama 5 menit. Tidak ada yang berani ngobrol keras, hanya bisik-bisik pelan, karena ingat Bhayavedin peka suara. Bahkan suara kunyah roti pun mereka tahan pelan-pelan.

Angin padang sepi itu berhembus pelan, bunga-bunga putih kecil bercahaya kalau tersentuh angin.

Untuk beberapa menit itu, mereka merasa seperti bukan di dunia monster. Seperti lagi camping biasa.

Tapi mereka tahu, setelah istirahat ini, mereka harus jalan lagi. 1 jam jalan lurus ke depan, menuju sungai hitam yang bisa menghapus bau asing dan rasa takut mereka, satu-satunya cara biar Bhayavedin benar-benar kehilangan jejak mereka.

****

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!