NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 - TERBANG DI ATAS ANGIN MALAM

Langit di atas Selat Malaka menggelap pekat saat jet pribadi Gulfstream G650ER menembus lapisan awan pada ketinggian empat puluh ribu kaki.

Di dalam kabin utama yang dilapisi kayu kenari dan dinding peredam suara berbalut kulit alcantara, hanya temaram lampu lantai keemasan yang menyala. Di bawah sana, kerlip lampu kapal-kapal tanker yang kini berada di bawah kendali tunggalku tampak bagai taburan bintang di atas kain beludru hitam.

Marcus Valois telah digiring menuju proses hukum di Paris. Tiga tetua Sembilan Teratai di Singapura telah menandatangani penyerahan seluruh jalur konsesi logistik mereka. Satu per satu pion musuh tumbang, namun ketegangan di dalam dadaku belum sepenuhnya mereda. Di ketinggian ini, di antara getaran mesin jet yang halus dan desau udara tipis, babak pertempuran baru yang lebih masif telah menanti di tanah Eropa.

Aku berdiri di dekat meja konsol kabin, menanggalkan blazer sutra hitamku dan menyampirkannya ke sandaran sofa. Kini tubuhku terbalut gaun tidur sutra tipis bertali spageti berwarna merah marun gelap—kain halus yang memeluk siluet tubuhku dengan anggun.

Setiap kali aku menarik napas, keheningan kabin seolah mengkristalkan seluruh fokus di dalam benakku.

Langkah kaki tanpa alas terdengar pelan di atas karpet tebal.

Adrian Varell melangkah keluar dari ruang istirahat belakang. Pria itu telah menanggalkan dasi dan jas formalnya. Kemeja hitamnya dibiarkan tak terkancing di bagian atas, memperlihatkan dadanya yang tegap dan garis leher yang kokoh.

Di tangan kanannya, segelas kristal berisi brendi tua berputar perlahan. Sepasang mata hitam kelamnya mengunci pandanganku dari balik temaram cahaya kabin—sebuah tatapan tajam dan penuh intensitas yang tak pernah gagal menuntut perhatianku.

"Kamu tidak bisa tidur, Nadia?" suara bariton Adrian bergetar rendah dan dalam.

Aku menolehkan kepala sedikit seraya membalas tatapannya. "Penerbangan ke Nice memakan waktu cukup panjang, Adrian. Terlalu banyak skenario yang harus diperhitungkan sebelum kita menjejakkan kaki di Prancis."

Adrian meletakkan gelas kristalnya di atas meja konsol tanpa suara.

Langkah kakinya yang mantap memangkas jarak di antara kami. Sebelum aku sempat bergerak, kedua tangannya merengkuh pinggang rampingku dari belakang, menarik tubuhku merapat ke dadanya yang tegap.

Hawa hangat dari tubuhnya menyapu punggungku. Napas hangatnya berhembus pelan di dekat leherku, mengirimkan sensasi intens yang membuat napasku tertahan sejenak.

"Malam ini kamu telah melumpuhkan kekuatan mereka di Asia, Nadia Valois," bisik Adrian rendah tepat di sebelah daun telingaku. Sentuhan tegas dan posesif dari tangannya di pinggangku menegaskan kembali ikatan tak terpisahkan di antara kami. "Ayahmu di Nice berada di bawah pengawasan ketat tim keamanan terpercaya. Fokuslah pada langkah strategis kita berikutnya."

"Dan kamu..." bisikku pelan, memiringkan kepala sedikit untuk menatap rahang kokohnya, "selalu punya cara untuk menenangkan badai di pikiran saya, Adrian."

Drian terkekeh rendah—getaran di dadanya merambat langsung ke tubuhku.

Ia membalikkan tubuhku dalam dekapannya dengan gerakan yang mantap dan penuh kendali. Punggungku kini bersandar pada tepi meja konsol kabin. Kedua tangan Adrian mengunci di sisi tubuhku, mencondongkan tubuh tegapnya hingga tatapan kami bertaut lurus dalam jarak yang sangat dekat.

"Buktikan bahwa konspirasi di Eropa itu tidak membuatmu gentar, Nadia," bisik Adrian, menatap mataku dengan ketajaman yang menguji.

"Saya tidak pernah gentar pada apa pun," balasku tenang namun mantap, menyandarkan jemariku di bahu tegapnya.

Adrian menundukkan kepalanya, membungkam bibirku dalam sebuah ciuman yang dalam, tegas, dan sarat akan dominasi mutlak. Ciuman di ketinggian puluhan ribu kaki ini membakar sisa-sisa keraguan, menyatukan dua jiwa penguasa yang sama-sama tak mengenal kata kalah. Tangannya merengkuh punggung dan pinggangku, menarikku ke dalam pelukan yang hangat dan tak terlepaskan.

Ketika ketegangan dan gairah di antara kami memuncak dalam keintiman yang pekat di dalam ruang privat kabin, waktu seolah berhenti berputar. Di balik dinding baja pesawat yang melaju menembus malam, kami menenggelamkan diri dalam penyatuan kekuatan dan hasrat yang saling mengunci takdir kami di atas papan catur dunia.

Satu jam kemudian, kami berdua beristirahat di atas tempat tidur kabin utama di bawah selimut kasmir abu-abu.

Adrian merengkuh tubuhku dari samping, tangannya mengelus pundakku dengan sentuhan protektif. Keletihan fisik perlahan menyelimuti kesadaranku, namun benakku terasa begitu jernih.

Di atas meja samping ranjang, tablet satelitku berkedip pelan.

Sebuah pesan intelijen baru dari Komandan Arnaud di Nice terpampang di layar:

[REPORTS - VALOIS MARITIME DEFENSE]

Marcus Valois telah dipindahkan ke fasilitas penahanan di Marseille. Namun, dewan komisaris tertua klan Valois di Jenewa—Lord Julian Valois—baru saja memanggil seluruh kepala divisi perkapalan Eropa untuk menggelar sidang darurat pembagian aset besok siang.

Lord Julian Valois. Paman tertua yang memegang berkas wasiat asli generasi pertama.

Aku tersenyum dingin di dalam dekapan Adrian, menyandarkan jemariku di atas dadanya yang berdetak tenang.

"Serigala tua berikutnya telah keluar dari sarangnya di Jenewa, Adrian," bisikku pelan.

Adrian membuka matanya perlahan, menatapku dengan senyuman tipis sarat keyakinan.

"Biarkan dia mengumpulkan seluruh armadanya di Jenewa, Nadia Valois," bisik Adrian serak seraya mengecup keningku lembut. "Karena begitu roda pesawat ini menyentuh daratan Eropa... kita sendiri yang akan menentukan arah sidang mereka."

Aku memejamkan mata dalam kehangatan dekapannya saat pesawat terus melaju membelah malam menuju benua biru.

Babak Kedua pembalasan dendamku telah resmi menyeberangi samudra.

Dan esok hari... tanah Eropa akan menjadi saksi bagaimana sang pewaris sejati menuntut kembali seluruh takhta dan hak leluhurnya.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!