NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ENAM BELAS

Amara yang membaca pesan yang sama di sofanya seketika mengumpat kesal dalam hati. "Dasar Profesor gila!"

Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya sendiri. Padahal saat ini sudah memasuki akhir tahun 2026, era teknologi sudah sangat maju, tetapi pria itu masih saja mewajibkan mahasiswanya menyalin sepuluh jurnal ilmiah dengan tulisan tangan.

Namun, tepat saat Amara merutuki kekejaman Zain di dalam hatinya, ponsel di genggamannya mendadak bergetar pelan. Sebuah pesan pribadi dari nomor Zain masuk ke layar ponsel Amara, berisi kalimat singkat yang sanggup membuat jantungnya berdegup tak karuan.

[Kerjakan tugasmu sekarang di ruang kerjaku, atau aku sendiri yang akan menghukummu di atas ranjang malam ini.]

Nyaris empat jam, Amara duduk di kursi panas. Pinggangnya ingin copot, apalagi jari-jari tangannya hampir mati rasa.

"Tangan kamu berhenti bergerak lagi, Amara. Mau saya tambah menjadi dua puluh jurnal?"

Suara bass yang dingin itu menginterupsi keheningan ruang kerja yang teratur dan rapi. Amara meringis, mengibaskan pergelangan tangan kanannya yang terasa pegal luar biasa hingga ke persendian. Di atas meja kayu jati yang mengilap, lembaran kertas diktat bertumpuk tinggi, memperlihatkan tulisan tangan rapi yang sudah menyalin tujuh jurnal ilmiah Farmasetika.

"Tanganku pegal banget, Kak Zain! Ini sudah tujuh jurnal, lho!" keluh Amara seraya memijat jemarinya yang memerah.

Di belakang kursi Amara, Profesor Kaellan Zain Alfatih berdiri tegap. Pria itu mengenakan kemeja kasual yang digulung hingga siku, dengan sebuah penggaris besi panjang di tangannya. Zain sesekali mengetukkan penggaris besi itu ke telapak tangannya sendiri, menghasilkan bunyi dentang dingin yang mengintimidasi.

"Baru tujuh jurnal dan kamu sudah mengeluh?" cibir Zain tajam, menatap dingin ke arah pucuk kepala istrinya. "Sisa tiga jurnal lagi. Selesaikan sekarang."

Amara meremas pena di tangannya, membuang muka sembari mengumpat sengit di dalam hatinya. Dasar kejam! Pria ini benar-benar jahat, dingin, dan tidak punya perasaan sama sekali! Bisa-bisanya dia menyiksa istrinya sendiri seperti ini!

"Dosa besar seorang istri mengumpat suaminya di dalam hati," sahut Zain datar tanpa mengubah posisi berdirinya.

Amara seketika membelalak, berbalik menatap Zain dengan raut wajah tak percaya. "Lho, Kak Zain tahu aku mengumpat!"

Zain tidak menjawab, hanya menaikkan sebelah alisnya dengan wajah angkuh yang menyebalkan.

Amara mengerucutkan bibirnya, lalu mengomel penuh kekesalan. "Harusnya kan suami itu membantu istrinya! Kalau istrinya kesusahan mengerjakan tugas berat begini, bantu dong! Bukannya malah berdiri mengawasi pakai penggaris besi seperti sipir penjara!"

Zain mendengkus tipis, merapikan kacamata yang membalut wajah tampannya. "Kalau untuk membantu pekerjaan rumah tangga, saya bisa saja lakukan. Menyapu, mencuci, atau memasak, itu hal yang lumrah. Tapi yang kamu kerjakan saat ini adalah tanggung jawab akademismu sebagai seorang mahasiswa. Jika saya membantumu menyalin jurnal ini, itu tidak akan membuatmu pintar. Itu hanya akan membuatmu jadi mahasiswa yang bodoh dan malas."

"Tapi aku ini istrimu, Kak Zain!" cetus Amara tak mau kalah, memajukan tubuhnya.

"Di rumah ini, benar kamu istri saya," balas Zain dengan suara yang begitu tenang namun menusuk. "Tetapi di kampus dan dalam hal akademik, saya bekerja secara profesional sebagai seorang dosen. Semua mahasiswa mendapatkan perlakuan yang sama tanpa terkecuali. Saya tidak akan pernah pilih kasih, termasuk kepada kamu."

Amara mendengus keras, akhirnya menyerah dan kembali menundukkan kepala menghadapi kertas-kertas tebal di depannya. Jemarinya kembali menari menuntun mata pena di atas kertas, meski dadanya bergemuruh oleh rasa sebal.

Namun, di tengah goresan penanya, Amara melamun. Ia mengerutkan dahi, menyadari satu hal yang terasa mengganjal sejak kemarin. Mengapa ia tidak bisa lagi mendengar suara hati Zain. Keheningan di dalam kepalanya terasa sangat sepi. Tidak ada lagi jeritan batin Zain yang kocak, mesum, atau penuh kecemasan seperti saat di kamar mandi waktu itu.

Kenapa suara hatinya hilang, ya? batin Amara kebingungan. Apa kemampuan aneh itu cuma muncul kalau... kalau aku tidur dengannya? Astaga! Kenapa pikiranku jadi mesum begini, sih?

Wajah Amara mendadak merona merah padam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras, mengusir bayangan liar yang mendadak melintas di ingatan malam itu.

Hari Senin yang dinanti tiba. Amara berkuliah secara normal, menyusuri koridor gedung Fakultas Farmasi yang mulai ramai oleh lalu lalang mahasiswa. Bau khas laboratorium dan kepulan asap kopi pagi memenuhi udara.

Amara melangkah masuk ke dalam ruang kelas utama, lalu melabuhkan tubuhnya di salah satu bangku barisan tengah. Belum ada lima menit ia duduk, sosok Yunda tampak berlari kecil menghampirinya dengan raut wajah yang diliputi rasa bersalah yang amat sangat.

"Amara!" panggil Yunda dengan suara bergetar, langsung duduk di bangku kosong sebelah Amara.

Amara menoleh, mendapati wajah Yunda yang tampak agak pucat. "Yunda? Ada apa?"

"Mara... aku mau minta maaf banget sama kamu," ucap Yunda dengan mata berkaca-kaca, memegang kedua tangan Amara erat-erat. "Soal pesta malam itu... kamu baik-baik saja, kan? Maafkan aku, semalam itu aku benar-benar panik waktu kamu mendadak hilang! Aku takut banget kamu..."

Amara terpaku sejenak. Tentu saja ia tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa gara-gara salah meminum gelas yang berisi obat, ia berakhir tidur dan berhubungan suami istri dengan Profesor Zain di penginapan.

Amara memaksakan sebuah senyuman tipis, menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Yunda. Semalam itu aku merasa badanku tiba-tiba sangat gerah dan pusing. Jadi aku memutuskan langsung pulang ke rumah, lalu mandi air dingin untuk menyegarkan badan."

Yunda menghela napas lega yang sangat panjang, mengusap dadanya. "Astaga, syukurlah... Aku takut sekali terjadi hal buruk padamu, Mara. Maafkan aku ya. Sebagai gantinya, nanti siang aku traktir kamu kopi favoritmu di kantin, janji!"

"Sudah, tidak apa-apa, Yunda," sahut Amara lembut.

Tak lama kemudian, Erin berjalan memasuki kelas dengan langkah tergesa. Gadis itu langsung duduk di barisan depan Yunda dan Amara, lalu membalikkan tubuhnya dengan raut heboh.

"Eh, kalian tahu tidak!" ceracau Erin berbisik-bisik. "Kemarin si Yunda ini bikin geger satu kosan!"

Amara mengernyit bingung. "Bikin geger bagaimana?"

"Iya!" timpal Erin seraya menunjuk Yunda. "Kemarin pagi dia pamit keluar gang mau beli sarapan. Tapi tahu-tahu beberapa jam kemudian dia ditemukan pingsan tergeletak di depan kosan! Mana dia tidak ingat apa-apa lagi!"

Amara membelalak kaget, menatap Yunda. "Kamu pingsan, Yunda? Kenapa bisa?"

Yunda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan raut bingung. "Aku juga tidak tahu, Mara. Seingatku aku cuma berjalan mau beli sarapan di depan jalan utama. Tapi begitu sadar, aku sudah dibangunkan oleh bapak kos. Tapi anehnya..."

Yunda memajukan tubuhnya, berbisik lebih pelan. "Sore harinya, tiba-tiba ada notifikasi masuk ke ponselku. Aku dapat pemberitahuan kalau aku memenangkan undian dari bank sebesar dua puluh juta rupiah karena terpilih sebagai nasabah yang beruntung! Padahal aku tidak pernah ikut undian apa-apa!"

Tak ada yang tahu satupun, jika uang itu berasal dari Zain, sebagai ucapan terimakasih karena berkat Yunda, Zain bisa melakukan hubungan suami istri lagi dengan Amara.

Erin menepuk bahu Yunda heboh. "Itu namanya rezeki anak solehan setelah pingsan, Yunda! Jangan banyak protes!"

Amara ikut tertawa kecil mendengar cerita itu. Baik Erin maupun Amara tidak memikirkan hal-hal aneh di balik kejadian ganjil tersebut. Mereka bertiga sepakat menganggap uang dua puluh juta itu murni sebagai rezeki tak terduga untuk Yunda.

"Aduh, tapi ngomong-ngomong soal tugas dari prof Zain..." Erin mendadak meringis, mengangkat jari telunjuknya ke udara. "Lihat nih! Kukuku sampai patah gara-gara menyalin sepuluh jurnal ilmiah kemarin! Profesor Zain itu benar-benar tidak punya hati nurani! Tangan rasanya mau copot!"

Yunda mengangguk setuju seraya meratapi jari-jarinya sendiri. "Sama! Aku menulis sampai jam dua malam tahu!"

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!