NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12 : Lubang Akar

Lubang itu menganga di depan mereka.

Gelap, lembab, dan terlihat seperti mulut. Mulut yang terbentuk dari puluhan akar pohon raksasa yang saling melilit, saling mengunci, menciptakan sebuah rongga seukuran tenda dome besar.

Bau di dalamnya adalah bau tanah basah yang pekat, bau kayu tua yang sudah ribuan tahun tidak tersentuh manusia.

Bima dkk masuk ke lubang akar yang gelap dan lembab. Mereka tidak punya pilihan lain. Di luar, dunia monster itu terlalu terbuka, terlalu berbahaya. Di dalam sini, setidaknya ada dinding.

Begitu kelima tubuh lelah itu masuk dan meringkuk di dalamnya, kegelapan total hampir menelan mereka. Sampai mata mereka mulai terbiasa.

Untungnya ada beberapa jamur bercahaya yang menerangi sekitarnya jadi terlihat remang-remang. Jamur-jamur itu tumbuh di sela-sela akar, sebesar kepalan tangan, berwarna biru pucat dan hijau lembut. Cahayanya tidak terang, tapi cukup untuk membuat mereka bisa melihat wajah satu sama lain. Cahaya itu berkedip pelan, seperti napas.

Mereka terpaksa. Karena ada teman yang butuh diobati dan keadaan mereka yang benar-benar lelah. Mereka harus istirahat sebelum memikirkan langkah selanjutnya. Sudah hampir 6 jam mereka berlari, ditarik ke dalam perut monster, lalu dilempar ke dunia lain. Tenaga mereka sudah di titik nol. Kaki mereka gemetar, bukan hanya karena takut, tapi karena lapar dan dehidrasi.

Lubang akar itu terlihat normal. Disekelilingnya akar-akar pohon yang rapat dan ada sedikit tanah normal di bawahnya. Tidak ada tulang belulang, tidak ada lendir seperti di dalam perut monster tadi. Hanya akar, tanah yang lembab tapi padat, dan lumut tipis. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia itu, mereka merasa sedikit... aman. Walau aman itu semu.

Bima meletakkan Elina pelan dan Maira langsung menyambutnya, memeriksa luka-luka Elina lalu memberinya minum dari botol yang sempat ia isi ulang di basecamp.

Bima berlutut, dengan sangat hati-hati ia menurunkan Elina dari gendongannya. Ia letakkan Elina di atas tanah yang paling rata, ia ganjal kepala Elina dengan ranselnya sendiri yang sudah kempes.

"Pelan-pelan, Lin..." bisik Bima.

Maira langsung geser ke samping Elina. Wajah paniknya tadi kini berubah jadi fokus. Ia buka lagi kotak P3K-nya yang hampir habis. Ia periksa kembali perban yang tadi ia pasang di luar dengan tergesa-gesa. Ia kencangkan sedikit, ia pastikan tidak ada akar atau tanah yang masuk ke luka.

"Lukanya dalam tapi nggak kena tulang, Bim," bisik Maira ke Bima, mencoba terdengar meyakinkan. "Cuma butuh istirahat."

Lalu Maira mengambil botol minum plastik bening miliknya. Botol yang sempat ia isi ulang di basecamp Pos 1 sebelum pendakian. Airnya masih setengah. Ia buka tutupnya dan dengan pelan menyodorkannya ke bibir Elina.

"Minum dikit ya, Lin. Biar gak pingsan lagi," ujar Maira lembut.

Elina yang wajahnya pucat itu mengangguk lemah dan meneguk air itu pelan. Setetes air mengalir di dagunya. Untuk pertama kalinya, ia terlihat sedikit lebih tenang.

Di sisi lain lubang akar, Bima, Gilang dan Arga duduk bersandar melepas lelah lalu mengambil botol minum masing-masing.

Bima menyandarkan punggungnya yang pegal ke dinding akar yang keras, ia pejamkan mata sebentar, mengatur napas. Arga membuka kacamatanya yang berembun, ia lap dengan ujung bajunya, tangannya masih gemetar. Gilang yang paling parah, ia langsung selonjor, kepalanya bersandar ke akar, wajahnya masih pucat bekas menahan mual tadi.

Mereka bertiga hampir bersamaan mengambil botol minum dari samping ransel mereka dan meneguknya pelan.

Beruntung mereka mendengarkan saran Maira beberapa jam sebelumnya untuk mempersiapkan segalanya.

Maira memang cerewet. Di basecamp, sebelum naik, saat yang lain hanya bawa mie instan dan powerbank, Maira memaksa semua orang.

"Bawa air minimal 1,5 liter per orang! Bawa P3K! Bawa senter cadangan, cas ponsel kalian sebelum berangkat."

Saat itu Bima sempat protes, Gilang sempat bilang ribet. Tapi sekarang, di dalam lubang akar di dunia monster, di tengah kegelapan yang hanya diterangi jamur bercahaya, mereka baru sadar.

Kalau saja mereka tidak mendengarkan Maira, Elina mungkin sudah kehabisan darah. Mereka mungkin sudah pingsan karena dehidrasi di dalam perut monster tadi.

Arga menatap botol minumnya, lalu menatap Maira yang sedang merawat Elina.

"Untung lu cerewet, Ra..." bisik Arga pelan, suaranya serak karena lelah.

Maira hanya tersenyum tipis, tanpa menoleh.

Untuk beberapa menit, ada keheningan yang damai di dalam lubang akar itu. Hanya suara napas mereka yang pelan, dan suara tetesan air dari akar di atas. Mereka istirahat.

Namun keheningan di dalam lubang akar itu hanya bertahan beberapa menit.

Maira baru saja selesai mengencangkan perban di kaki Elina. Elina sudah terlihat sedikit lebih baik setelah minum, tapi wajahnya masih pucat pasi, bibirnya kering.

Lalu tiba-tiba terdengar suara lemah Elina. Suaranya hampir tidak terdengar, serak dan kecil, seperti anak kecil yang baru bangun tidur.

"Maira... aku... lapar..."

Semua kepala langsung menoleh ke arah Elina.

Bima yang sedang bersandar langsung membuka matanya. Gilang dan Arga yang lagi minum langsung berhenti. Lapar. Di tengah dunia monster, di dalam lubang akar yang gelap, perut mereka semua sebenarnya sudah berbunyi sejak tadi, tapi mereka tahan karena takut dan tegang. Elina yang baru saja kehilangan banyak darah, tentu saja tubuhnya butuh tenaga paling banyak.

Maira tanpa ragu langsung menarik ranselnya yang ia jadikan bantal untuk Elina tadi. Ransel pink kusam itu kotor penuh lendir kering.

Maira membuka ranselnya dan mengeluarkan beberapa bungkus roti yang ia bawa sebelum mereka kembali ke perut itu. Sebelum berangkat lagi, Maira menyiapkan semua yang bisa ia bawa seperti makanan instan.

Tangannya merogoh ke dalam. Ia keluarkan tiga bungkus roti sobek coklat yang masih dalam plastik, dua bungkus biskuit roma kelapa, dan satu bungkus kecil permen jahe.

Maira yakin mereka pasti membutuhkannya dan ternyata dugaannya benar.

Ingatan beberapa jam lalu muncul lagi. Saat mereka semua sudah mau naik lagi untuk mencari Elina, saat yang lain panik dan hanya membawa senter, Maira malah lari ke tenda logistik.

"Tunggu! Jangan langsung jalan! Kita gak tau bakal berapa lama di atas! Bawa makanan! Bawa yang manis-manis!" teriaknya waktu itu.

Bima sempat bilang, "Ra, kita mau nyelametin orang, bukan piknik!"

Tapi Maira tidak peduli. Ia masukkan roti-roti itu, ia masukkan biskuit, ia masukkan permen jahe untuk menghangatkan badan. Ia bilang, tenaga adalah senjata utama.

Dan sekarang, di dalam lubang akar yang remang-remang karena jamur bercahaya itu, dugaannya benar-benar terjadi.

Maira membuka bungkusan itu dan memberikannya pada Elina. Ia sobek plastik roti sobek coklat itu dengan giginya karena tangannya gemetar.

"Makanlah, Lin. Lo perlu mengisi tenaga," bisik Maira sambil menyodorkan roti itu ke tangan Elina yang lemah. Suaranya lembut, seperti kakak ke adiknya. "Pelan-pelan aja, kunyah pelan-pelan. Biar gak mual."

Elina menerimanya dengan gerakan pelan. Tangannya yang diperban itu bergetar saat memegang roti. Ia tatap roti itu sebentar, lalu ia gigit kecil.

Gilang yang melihat itu, perutnya langsung berbunyi keras.

Kruuuk...

Suasana yang tadinya tegang karena horor, jadi sedikit mencair karena bunyi perut Gilang.

Maira langsung menoleh dan melempar satu bungkus biskuit ke arah Gilang, satu ke Arga, satu ke Bima.

"Semua makan. Kita bagi rata. Kita harus isi tenaga dulu sebelum mikirin cara keluar dari sini," kata Maira pelan tapi tegas.

Bima menerima roti itu, ia tatap Maira dengan rasa terima kasih yang dalam. "Makasih, Ra. Serius... kalo gak ada lo..."

Maira hanya mengangguk. Ia ikut duduk bersandar, membuka permen jahe dan memakannya sendiri, sambil tetap memantau Elina yang makan pelan-pelan.

Di dalam lubang akar yang lembab itu, dengan cahaya jamur biru yang berkedip-kedip, lima remaja itu makan dalam diam. Tidak ada yang bicara. Hanya suara plastik dibuka dan kunyahan pelan.

Mereka istirahat. Mereka mengisi tenaga.

Mereka tidak sadar, aroma roti coklat yang manis itu... menyebar keluar dari celah-celah akar. Menyebar ke hutan pohon raksasa yang sunyi.

Dan di luar, sesuatu yang tadi sudah pergi... berhenti berjalan. Hidungnya yang tanpa wajah mengendus lagi.

Kali ini bukan bau darah. Tapi bau manis. Bau makanan manusia yang terasa asing bagi mereka.

Ia berbalik arah. Kembali menuju lubang akar itu.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!