NovelToon NovelToon
Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

Tit... Tit... Tit...

"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.

Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.

Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengacara

"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Ibu Salma pada Aruna sambil mengelus leher menantunya yang tampak memerah.

"Tidak apa-apa, Bu. Cuma nafasnya masih ngos-ngosan," ucap Aruna sambil memejamkan matanya.

Energinya benar-benar terkuras habis hari ini karena tindakan nekat dari Kafka. Sungguh dirinya tak habis pikir dengan Kafka yang gelap mata hanya karena permasalahan rumah. Jika mau selingkuh, silahkan dan tinggal nanti mereka bercerai. Namun untuk rumah, harus dibagi karena pembangunannya memang menggunakan uang Aruna. Apalagi uang itu bisa digunakan untuk biaya kehidupan anak mereka. Namun Kafka yang serakah menginginkan tanah dan bangunannya menjadi milik dirinya seorang.

Para warga langsung mengundurkan diri setelah Kafka digelandang ke kantor polisi. Nanti Aruna akan menyusul setelah pergi ke rumah sakit untuk melakukan visum. Setidaknya Kafka sudah diamankan terlebih dahulu agar tidak melukai dia dan keluarganya. Ibu Salma memeluk Aruna dan Nasya secara bersamaan. Mencoba saling menguatkan dan menenangkan di tengah badai yang menghadang.

"Untung tadi kamu pulang dari rumah Ibu udah nggak pakai hijab. Kalau masih pakai hijab dengan jarumnya itu pasti waktu dicekik udah kena lehermu," ucap Ibu Salma dengan mata berkaca-kaca.

"Ibu tidak bisa membayangkan kalau tadi Nasya tak pulang ke rumah. Pasti kamu..."

"Sudah... Jangan diingat-ingat lagi, Bu. Aruna langsung mau ke rumah sakit ini untuk visum. Aruna juga mau cari pengacara untuk mengurus perceraian dan kasus ini," sela Aruna saat mertuanya tengah membayangkan sesuatu yang lebih mengerikan.

"Maafkan Aruna ya, Bu. Kali ini Aruna harus melibatkan polisi dan tegas pada Mas Kafka. Maaf kalau Aruna harus membuat Mas Kafka jera dengan masuk penjara," lanjutnya.

"Tidak masalah, Aruna. Ibu udah nggak kenal sama Kafka yang sekarang. Jika penjara itu bisa membuat Kafka kembali seperti dulu, Ibu tidak masalah." ucap Ibu Salma dengan yakin.

Aruna menganggukkan kepalanya. Beruntung dia mempunyai mertua yang support dan membela orang secara obyektif. Walaupun Kafka adalah anak kandungnya, tapi Ibu Salma tidak serta merta membelanya. Ibu Salma lebih memilih membela yang benar. Aruna sudah yakin akan membawa Ibu Salma ikut bersamanya walaupun nanti berpisah dengan Kafka. Walaupun hanya mertua, tapi Aruna sudah menganggap seperti orangtua kandung sendiri.

Permisi...

"Mbak Salma, bestiemu yang cantik ini datang." seru seseorang dari arah depan rumah Ibu Salma.

"Itu kaya suaranya Oma Lala, Nenek." ucap Nasya tiba-tiba.

"Iya. Suruh aja ke sini, Nasya." suruh Ibu Salma pada cucunya.

"Ayo kamu bersihkan dirimu dulu. Masa mukanya kucel begini mau ke rumah sakit dan cari pengacara," pintanya pada Aruna.

"Biar meyakinkan menjadi korban penganiayaan, Bu." ucap Aruna sambil terkekeh pelan.

Aruna memilih merapikan penampilannya saja di kamar, tidak mandi terlebih dahulu. Dia harus segera menyelesaikan permasalahan ini. Apalagi dua surat rumah sudah ada di tangan, walaupun satunya masih proses balik nama. Yang penting, Kafka tidak bisa menuntut sesuatu yang bukan haknya. Sedangkan Ibu Salma memilih menunggu cucunya datang bersama tamunya. Dia malas pulang ke rumah karena kakinya kembali nyeri.

"Rumahmu itu sebenarnya yang mana, Mbak Salma? Kata warga sekitar, di sebelah. Kok orangnya ada di sini," oceh Ibu Lala dengan cepat saat melihat keberadaan temannya yang tengah memijit kakinya.

"Salam atau permisi dulu, Mbak Lala. Kok ya main nyelonong," sindir Ibu Salma dengan acuh.

"Enggak nyelonong. Udah dipersilahkan masuk sama Nasya kok," ucap Ibu Lala dengan santainya. Ternyata tamunya adalah Ibu Lala dan Gavin.

"Kok digendong sama Om Gavin to, Nasya? Ayo sini turun," suruh Ibu Salma pada Nasya tapi gadis cilik itu tidak mau. Tampaknya Nasya masih shock dan ketakutan sehingga membutuhkan perlindungan.

"Nggak papa, Bu. Mungkin Nasya lagi ingin digendong. Mau minta Neneknya gendong nggak mungkin, kakinya sakit." ucap Gavin sambil melihat ke arah kaki Ibu Salma.

Ibu Salma hanya cengengesan saja mendengar sindiran dari Gavin. Ibu Lala sudah duduk di samping temannya itu sambil mengeluarkan barang. Padahal tadi siang sudah bertemu, tapi sore ini Ibu Lala malah berkunjung ke rumah. Entah apa yang sedang ingin dibicarakan oleh Ibu Lala sore ini. Namun kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk bicara banyak hal karena suasana rumah ini tengah memanas.

"Ada apa, Mbak Lala? Tadi siang udah bertemu kok sekarang malah datang ke rumah," tanya Ibu Salma dengan tatapan penasarannya.

"Mau tahu aja rumahmu dimana. Iseng," jawab Ibu Lala dengan asal.

"Udah lihat kan? Rumahku jelek begitu," ucap Ibu Salma yang mungkin temannya itu sangat penasaran melihat rumahnya sekarang.

"Rumahmu yang mana? Yang ini atau di sana itu?" tanya Ibu Lala dengan tatapan bingungnya.

"Nggak punya rumah aku ini. Cuma numpang sama menantu dan cucu," jawab Ibu Salma dengan santainya.

Benar apa yang dikatakan oleh Ibu Salma, status kedua rumahnya bukan atas namanya. Sudah atas nama menantu dan cucunya sehingga Ibu Salma menganggap dirinya hanya menumpang. Jika berbicara di depan Aruna seperti ini, pasti dia akan diomeli. Menurut Aruna, itu juga rumah Ibu Salma. Sampai bisa mempunyai tanah dan rumah juga karena kerja keras dari Ibu Salma.

"Mak..."

"Bu, Aruna ke rumah sakit dulu ya. Nanti un..."

Eh...

"Ada tamu ya?" Aruna terkejut melihat dua orang asing yang tak dikenalnya berada di rumah. Tadi dia sedang fokus pada beberapa map di tangannya sehingga tidak menyadari adanya tamu yang datang.

"Aruna kan?" tanya Ibu Lala yang seperti mengenal Aruna. Walaupun penampilan Aruna saat ini sudah sedikit berbeda.

"Ibu Lala yang waktu itu kecopetan di pasar?" tanya Aruna dengan tatapan intensnya.

"Iya. Wah... Nggak nyangka kalau kita bertemu di sini," seru Ibu Lala yang langsung menarik tangan Aruna untuk duduk di sampingnya.

"Dia itu menantuku yang mau tak jodohkan sama anakmu, Mbak." ceplos Ibu Salma tanpa filter.

Ibu...

Aruna menutup wajahnya dengan map yang dibawanya karena malu dengan ucapan mertuanya. Padahal dia belum berpisah dari Kafka tapi malah mau dijodohkan dengan laki-laki lain. Memang tidak ada pikirannya itu otak Ibu Salma. Bahkan setelah mengatakan hal itu, Ibu Salma tampak biasa saja. Terlihat santai seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Gavin pun memalingkan wajahnya karena tak habis pikir dengan obrolan dua wanita paruh baya itu.

"Berjanda, Aruna." ucap Ibu Salma sambil cengengesan.

"Bercanda, Ibu." tegur Aruna sambil menghela nafasnya pelan.

"Maaf, saya tidak bisa lama-lama karena ada urusan di luar. Jadi saya permisi dulu," pamitnya.

"Mau kemana emangnya, Aruna?" tanya Ibu Lala dengan tatapan penasarannya.

"Mau cari pengacara dia untuk lapor polisi dan perceraian," jawab Ibu Salma saat melihat Aruna tampak enggan menjawab.

Gavin aja itu yang urus. Dia kan pengacara juga,

Eh...

1
sunaryati jarum
Lha Cerai saja baru proses kok sudah mau dijodohkan
Penulis Eli: Hanya bercanda itu, kak 🙈
total 1 replies
E F
lanjutt thor💪😍
aku
bu salma dan bu lala ini kyk e mudanya bar2 sekali ya 🤣🤣 ceplas ceplos jg 🤣🤣
sunaryati jarum: Kalau sudah ketemu teman sekolah,lupa umur.Termasuk emak dan teman - sekolah .
total 1 replies
aku
dua duanya aja. gongin sama anak. 😁
Suwastika
wah...bener² ad udang d balik bakwan BS pas bgt🥰🥰
Muft Smoker
waaaah duo bestie pda garcep niih ,, tp yg pling garcep yx bu Salma 🤭🤭🤣🤣
aku
mamer dorong mantunya kenceng bgt yakk 🤣🤣 keburu amat 🤣🤣 ketok palu ja blm itu mantu 🤣🤣
E F
lanjutt thor💪😄😍
Muft Smoker
bu Salma semangat banget mau jodohin menantu ny ,,
😁😁😁😁
sunaryati jarum
Nah gitu tegas, segera visum untuk bukti.Dsn bukti perselingkuhannya sekalian
sunaryati jarum
Langsung lapor yang berwenang itu sudah penganiayaan berat mengarah pembunuhan
Puspa Sella
benci cara pikiran Aruna ini
Muft Smoker
penjara kan saja si Kafka. bu ,,
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
uphet
aduuuhhh Bu Salma d sangka mabok abis makan kecubung🤣🤣🤣
E F
tq thor🙏😍
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
aku
kayak mana gk mlongo wong kalimatnya gitu 🤣🤣🤣 aduh nenek ini 🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makin seruu cerita ny
E F
😄😄
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
E F
lanjuttt thor💪😍
smangattt hempasssss cpttttt😄💪
INDRA
Ini Aruna sepupu Callie apa bkn Thor
Penulis Eli: bukan, kak. Cerita keluarga Roberto sudah selesai sampai Callie saja 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!