Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Brummm.
Suara mesin mobil van hitam itu menderu pelan menembus jalanan berliku di bawah bukit perbatasan utara.
Lampu utama mobil sengaja dimatikan oleh Clara agar kedatangan mereka tidak terdeteksi oleh barisan polisi di atas sana.
"Berapa lama lagi mobil hantu buatanmu itu sampai di titik tabrakan Clara?" tanya Bayu memecah keheningan kabin.
Clara melirik sekilas ke arah layar laptop yang menyala terang di pangkuan Anya.
"Sekitar tiga menit lagi, tiga mobil van Kobra Mandiri itu akan menghantam barikade timur dengan kecepatan penuh," jawab Clara dengan nada santai.
Anya memeluk erat tas ransel cokelat di dadanya sambil menggigit bibir bawahnya karena gugup.
"Bayu, kamu harus berjanji padaku untuk langsung lari setelah mendapatkan energi itu," ucap Anya menatap Bayu dari kursi belakang.
"Jangan bertindak bodoh dengan melawan polisi atau mencari masalah baru di sana."
Bayu menoleh ke belakang dan tersenyum tipis melihat wajah panik mahasiswi fisika tersebut.
"Tenang saja Nona Kacamata, aku cuma mau mampir sebentar untuk mengambil hakku lalu pulang," canda Bayu mencoba mencairkan ketegangan.
"Lagi pula energi waktu milikku sudah penuh, aku bisa kabur kapan saja aku mau."
Ciiit.
Clara menginjak rem perlahan dan memarkirkan mobil van itu di balik semak belukar tebal yang sama seperti sebelumnya.
Mereka bertiga turun dari mobil dengan sangat hati hati sambil mengawasi keadaan sekitar.
Di puncak bukit sana, puluhan lampu sorot merah biru milik mobil polisi menyala terang menyilaukan mata.
Suara bising dari radio komunikasi polisi terdengar samar samar terbawa angin malam yang dingin.
Biiiip.
Layar laptop di tangan Clara mendadak berkedip merah memancarkan peringatan.
"Bersiaplah jagoan, pertunjukan kembang apinya akan dimulai dalam hitungan mundur lima detik," bisik Clara menyeringai lebar.
"Lima, empat, tiga, dua, satu."
Duar. Duar. Duar.
Tiga ledakan keras berturut turut terdengar menggelegar dari arah sisi timur bukit perbatasan.
Api besar langsung membumbung tinggi menerangi langit malam yang gelap gulita.
"Ada serangan di barikade timur! Tiga kendaraan tak dikenal baru saja menabrak blokade kita!" teriak suara kepanikan polisi dari radio penyadap Clara.
"Semua unit segera merapat ke sisi timur sekarang juga! Bawa tabung pemadam api!" perintah komandan polisi yang terdengar sangat kacau.
Suara sirine polisi yang memekakkan telinga langsung meraung raung bergerak menjauhi area helipad utama.
Bayu melihat barisan polisi yang menjaga gerbang depan helipad berlarian panik meninggalkan pos mereka.
"Rencanamu benar benar gila Clara, tapi ini sangat efektif," puji Bayu menepuk pelan bahu gadis berambut merah itu.
"Tentu saja, sekarang cepat pergi ke sana sebelum komandan mereka menyadari bahwa itu cuma mobil kosong," usir Clara mengibaskan tangannya.
"Aku akan memandumu lewat earpiece, pastikan saluran komunikasimu tetap menyala Bayu," pesan Anya dengan nada cemas.
Bayu menganggukkan kepalanya lalu berlari sprint menembus kegelapan malam menuju pagar kawat berduri yang sudah rusak.
Tap tap tap.
Langkah kaki Bayu bergerak sangat cepat tanpa menimbulkan suara yang berarti di atas tanah berbatu.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, Bayu sudah berhasil menyelinap masuk ke area landasan helikopter.
Pemandangan di hadapannya benar benar terlihat seperti zona perang yang baru saja dihancurkan oleh bom raksasa.
Gedung pos pengawas berlantai dua itu sudah rata dengan tanah menyisakan puing puing beton yang masih mengeluarkan asap.
"Anya, aku sudah sampai di reruntuhan gedung utama," bisik Bayu melalui alat komunikasi di telinganya.
"Di mana posisi sisa energi distorsi ruang itu berada?" tanya Bayu sambil merunduk di balik bongkahan dinding beton.
Terdengar suara ketikan keyboard yang sangat cepat dari ujung earpiece.
"Sistem pelacakku menunjukkan anomali energi itu terkonsentrasi di tengah kawah ledakan," jawab Anya memberikan panduan arah.
"Posisinya sekitar dua puluh meter tepat lurus di depanmu."
Bayu mengintip dari balik tempat persembunyiannya dan melihat sebuah cahaya keunguan yang berpendar redup di tengah kawah.
"Aku melihatnya, cahayanya mirip seperti percikan listrik statis yang melayang di udara," lapor Bayu bersiap untuk berlari.
"Tunggu dulu Bayu! Ada yang tidak beres di sana!" teriak Clara tiba tiba memotong saluran komunikasi.
Bayu langsung menghentikan langkah kakinya dan kembali bersembunyi.
"Ada apa Clara? Apa polisi kembali lagi ke sini?" tanya Bayu dengan nada waspada.
"Bukan polisi, sensor suhu mendeteksi ada satu hawa panas manusia yang berdiri tepat di sebelah anomali energi itu," jelas Clara dengan nada tegang.
"Orang itu menggunakan pakaian anti deteksi termal, makanya dia baru terlihat saat jaraknya sangat dekat."
Bayu mengerutkan keningnya lalu memfokuskan pandangannya menembus asap tebal di tengah kawah.
Benar saja, bayangan seorang pria bertubuh tegap tampak berdiri santai di dekat percikan cahaya ungu tersebut.
Pria itu mengenakan setelan tempur serba hitam yang sangat ketat dengan lambang anjing berkepala tiga di dada kirinya.
"Seekor tikus kecil ternyata berani kembali ke sarang yang sudah terbakar," ucap pria itu dengan suara berat yang menggema.
Pria misterius itu memutar tubuhnya dan menatap lurus ke arah tempat persembunyian Bayu seolah sudah tahu sejak awal.
"Keluar dari tempat persembunyianmu, aku tahu kamu ada di balik beton itu," panggil pria tersebut dengan nada meremehkan.
Bayu mendecakkan lidahnya kesal karena penyamarannya terbongkar begitu saja.
Ia berdiri perlahan dan melangkah keluar dari balik puing reruntuhan menghadap pria tersebut.
"Siapa kamu? Polisi tidak memakai baju ketat seperti tokoh pahlawan super kesiangan," sindir Bayu mencoba memancing informasi.
Pria itu tertawa pelan sambil menyisir rambut cepaknya menggunakan jari tangan.
"Namaku Kael, anggota divisi tiga dari pasukan Anjing Geladak ibu kota," perkenalkannya dengan senyum arogan.
"Tuan Dewa Danuartha mengutusku untuk datang lebih awal dan membersihkan sampah sampah yang ditinggalkan oleh si tua Herman."
Bayu mengepalkan kedua tangannya erat erat mendengar nama musuh utamanya disebut dengan begitu hormat.
"Jadi kamu anjing suruhan si bajingan tua itu ya," balas Bayu menatap tajam mata Kael.
"Jaga mulutmu bocah, Tuan Dewa adalah penguasa mutlak yang tidak pantas dihina oleh warga pinggiran sepertimu," desis Kael mulai emosi.
Kael merentangkan tangan kanannya ke depan dan sebuah gelang logam di pergelangan tangannya mendadak menyala terang.
Sring.
Cahaya ungu dari kawah ledakan itu bereaksi dan membentuk sebuah perisai ruang transparan di sekitar tubuh Kael.
"Bayu hati hati! Gelang itu adalah penyerap energi dimensi buatan!" teriak Anya dari saluran komunikasi.
"Dia bisa memanipulasi sisa distorsi ruang di sekitarnya untuk dijadikan senjata!" tambah Clara memperingatkan.
Bayu menggertakkan giginya melihat musuh di depannya ternyata memiliki perlengkapan teknologi tingkat tinggi.
"Aku cuma butuh sisa energi di belakangmu itu, minggir atau aku akan memaksamu," ancam Bayu memasang kuda kuda bertarung.
"Cobalah kalau kamu bisa, sang penguasa waktu gadungan," tantang Kael mengayunkan tangannya ke depan.
Wusss.
Sebuah bilah angin bertekanan tinggi yang terdistorsi ruang melesat cepat memotong udara ke arah leher Bayu.
Bayu refleks menjatuhkan tubuhnya ke tanah berguling cepat ke arah kanan.