NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Tanpa melepas pagutan bibir mereka, Moreno mengangkat tubuh mungil Luna dengan mudah, merubah posisi hingga gadis itu terbaring di atas sofa empuk. Ciumannya perlahan menyusuri rahang lalu berpindah memagut ceruk leher jenjang Luna, meninggalkan jejak hangat dan basah.

​Sementara itu, jemari Moreno mulai merayap naik menelusuri paha mulus Luna, menyusup masuk ke balik gaun tidur satin yang makin tersingkap.

​Luna memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan desiran aneh dan panas menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Kedua tangannya meremas rambut Moreno, pasrah pada sentuhan pria itu. Namun, di tengah gairah yang makin memuncak, Luna mendadak merasakan ada tetesan cairan hangat yang jatuh di kulit perutnya—tepat di mana lengan Moreno sedang bergerilya.

​Dahi Luna berkerut halus. Mengabaikan sensasi liar di tubuhnya, Luna menahan pergelangan tangan Moreno.

"Ren... stop dulu sebentar," bisiknya memohon dengan napas terengah.

​Moreno menghentikan pergerakannya, menaikkan wajahnya dari leher Luna dengan tatapan sayu yang sarat akan gairah.

"Kenapa?" tanyanya rendah, sedikit serak.

​Luna bangun dari posisinya, menarik keluar tangan Moreno dari balik gaun tidurnya. Begitu melihatnya, mata luma membulat sempurna—dari lengan Moreno mengalir cairan merah pekat yang terus menetes!

​"Astaga, Ren! Tangan lo kenapa bisa berdarah begini?!" seru Luna panik, hilang sudah rasa canggung di antara mereka.

​Moreno melirik lukanya asal-asalan, seolah rasa sakit itu tak ada artinya.

"Kena pecahan kaca tadi. Enggak sengaja."

​"Enggak sengaja gimana kalau darahnya sebanyak ini?!" ujar Luna.

​Tanpa berpikir panjang, Luna berdiri dan menggenggam tangan Moreno yang tidak terluka, menarik pria bertubuh atletis itu menuju area meja makan yang penerangannya jauh lebih terang.

​Moreno seperti terhipnotis. Dia yang biasanya keras kepala dan tak tersentuh itu hanya menurut pasrah sewaktu Luna menuntunnya. Di bawah sorotan lampu gantung, nampak darah masih terus menetes merembes ke kain kemeja Moreno yang robek, bahkan sempat menodai bagian depan gaun tidur Luna.

​Luna bergegas mengambil kotak P3K dari lemari kecil. Dengan jemari yang sedikit bergetar namun cekatan, ia menggulung kain kemeja Moreno, membersihkan sisa wiski dan noda darah dengan alkohol, lalu memberikan obat penawar infeksi.

​Sepanjang proses itu, Luna tak berhenti mengomel layaknya seorang ibu pada anaknya yang nakal.

"Lo tuh udah gede, tapi kok seceroboh ini sih?! Kena kaca sampai lukanya menganga kayak gini... kalau infeksi gimana coba? Bisa-bisanya lo santai aja dari tadi!"

​Moreno sama sekali tidak membalas omelan itu. Pria itu hanya diam membisu di kursinya, dengan pandangan yang tak lepas sedikit pun dari wajah Luna.

​Melihat bagaimana ekspresi Luna yang terlihat cemas, sudut hati Moreno yang paling dingin dan keras seketika meleleh. Sebuah perasaan hangat yang asing menelusup di dadanya, menghadirkan rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Moreno tersenyum geli menatap wajah Luna yang serius di hadapannya.

"Udah selesai ngomelnya? Lo kalau lagi begini makin mirip ibu-ibu komplek, tahu enggak?"

​Luna melotot tajam. "Enak aja! Gue itu khawatir, tahu!"

​Gadis itu kemudian menarik telapak tangan Moreno untuk membalutkan perban. Namun, begitu pandangannya jatuh pada area punggung tangan dan buku-buku jari Moreno yang tampak memar kebiruan, Luna mendadak tertegun.

Luka sayatan kaca dan buku jari yang memar... ini bukan cuma sekadar kecelakaan biasa.

​"Reno... lo habis berantem, kan?" tebak Luna menatap penuh selidik.

​Moreno mengalihkan pandangan, menjawab santai,

"Enggak. Sotoy banget lo."

​"Nggak usah bohong! Ini buktinya jelas banget!" Luna menunjuk memar di tangan Moreno. Bukannya takut, Luna justru kembali mengoceh gemas.

"Lagian lo tuh kurang kerjaan banget ya?! Udah gede, badan bongsor gini tapi sukanya masih berantem kayak anak kecil! Nanti kalau kenapa-kenapa gimana?!"

​Mendengar cecaran tanpa henti itu, Moreno bukannya marah, malah tertawa lepas—suara tawa yang jarang terdengar dari mulut pria dingin itu.

​"Serius lo enggak cocok jadi dokter,,soalnya galak." goda Moreno seraya terkekeh pelan.

​"Gue enggak galak! mengomel itu beda sama galak!" Luna melotot lagi. Karena merasa gemas setengah mati dengan sikap santai Moreno, tanpa sadar Luna mencubit lengan Moreno di bagian yang tidak terluka.

​"Aww!" Moreno meringis kesakitan, meski senyum di bibirnya tak juga pudar.

​Dua insan yang biasanya selalu diselimuti ketegangan itu kini larut dalam suasana hangat, yang mengikis perlahan benteng di antara mereka.

Setelah selesai mengoleskan obat dan membalut luka di tangan Moreno, Luna mulai membuka kancing kemeja pria itu yang sudah ternoda darah dan wiski.

​Moreno reflek menahan pergelangan tangan Luna, menyunggingkan senyum jahil yang mengoda.

"Mau ngapain lo? Jangan-jangan lo mau mencabuli gue ya?"

​Luna memutar matanya malas, menepis pelan tangan Moreno.

"Narsis banget sih! Gue cuma mau bantu lo ganti baju yang kotor ini, enggak usah kegeeran!"

​Belum sempat Luna menarik tangannya kembali, Moreno dengan cepat menyambar pinggang mulus gadis itu dan menariknya rapat. Dalam sekejap, Luna kembali terduduk tepat di atas pangkuannya.

​Sebelum Luna sempat memprotes, Moreno menyandarkan kepalanya yang terasa berat di dada Luna, memejamkan mata seraya menghirup aroma manis khas tubuh gadis itu.

​"Dada lo empuk banget, Lun..." gumam Moreno dengan suara berat dan serak.

​Wajah Luna seketika memerah padam sampai ke telinga.

"Reno! Mesum banget sih lo!" makinya malu setengah mati.

​Moreno kembali tertawa renyah, mempererat pelukannya di pinggang Luna seolah tak rela melepaskannya sedikit pun.

"Malam ini gue mau tidur berpelukan sama lo."

​Luna mendesah pasrah. Ada-ada saja memang permintaan bule tantrum satu ini, batinnya geli bercampur heran.

​"Cuma pelukan aja, kan? Enggak aneh-aneh?" tegas Luna memastikan.

​Moreno mengangkat wajahnya sedikit, menatap Luna dengan senyum tipis yang penuh maksud terselubung.

"Iya, cuma pelukan. Tapi kalau gue khilaf... ya enggak apa-apa dong kalau tangan gue ikut kelayapan?"

​"Tuh kan! Bilang aja lo emang mau mengambil kesempatan dalam kesempitan!" decak Luna kesal seraya menepuk bahu Moreno.

​Moreno menyusupkan wajahnya kembali ke ceruk leher Luna, lalu berbisik rendah yang sanggup menghentikan aliran darah gadis itu.

"Harusnya lo bersyukur, Lun... gue masih cukup berbaik hati karena belum meniduri lo sampai detik ini."

​Jleb.

​Perkataan bernada ancaman halus itu sukses membuat bulu kuduk Luna berdiri seketika. Mengingat sisi liar dan berbahaya dari pria di hadapannya ini, Luna memilih mengalah daripada Moreno mendadak berubah pikiran dan bertindak lebih jauh.

​"I-iya, terserah lo deh..." cicit Luna pasrah.

Sesuai kesepakatan mereka, Luna berdiri kaku di depan pintu kamar utama milik Moreno. Ia menghela napas panjang beberapa kali untuk menenangkan degup jantungnya yang tak karuan, lalu mengetuk pintu perlahan.

​"Masuk," terdengar suara Moreno dari dalam.

​Luna memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia berada di kamar bernuansa maskulin itu—lagipula, Luna yang setiap hari membersihkannya. Namun, berada di sini pada larut malam untuk tidur bersama tetap saja membuat sekujur tubuhnya menegang.

​Di atas ranjang berukuran king size, Moreno sudah berbaring santai menyandar pada headboard. Pria itu hanya mengenakan kaos oblong polos dan celana pendek casual, membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai.

Melihat kehadiran Luna, senyum tipis terukir di wajah tampannya.​Moreno menepuk area kosong di sebelahnya.

"Ayo sini."

​Luna menyemangati dirinya sendiri dalam hati. "Cuma tidur biasa, enggak bakal terjadi apa-apa kan..??

​Dengan ragu, Luna menaiki tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Moreno. Pria itu kemudian merosotkan posisi tubuhnya hingga sejajar dengan Luna, lalu berbisik pelan,

"Berbaliklah."

​Luna menuruti instruksi itu tanpa bantahan. Tak butuh waktu lama, lengan kekar Moreno terulur, melingkar erat mengunci pinggang mungil Luna dari belakang. Pria itu menyusupkan wajahnya di antara helai rambut dan ceruk leher Luna.

​"Rambut lo wangi banget..." bisik Moreno serak di ceruk lehernya.

"Aroma tubuh lo juga... bikin gue candu, Lun."

​Moreno menghirup aroma manis itu dalam-dalam, merasakan relaksasi yang seperti obat penenang bagi pikirannya yang brutal. Rasa kantuk yang berat mendadak menyerangnya secara tiba-tiba.

Moreno berbisik pelan di tengkuk Luna, "Lo... kasih gue obat tidur, ya?"

​Luna memutar matanya malas. "Mana ada kayak gitu! Aneh-aneh aja."

​"Kenapa gue mendadak ngantuk banget, coba...?" gumam Moreno serak.

​"Ya kalau udah ngantuk tidur aja, enggak usah banyak ngomong," sahut Luna mencoba menutupi rasa gugupnya.

​Moreno makin mempererat pelukannya.

"Awas ya, lo harus tidur sama gue sampai pagi. Jangan coba-coba lo kabur."

​Luna mendecak kesal. "Iya..bawel banget sih!"

​Bukannya berhenti, Moreno justru mengulurkan tangannya menyingkap helai rambut Luna ke samping, hingga leher belakang dan tengkuk putih mulus gadis itu terpampang jelas di matanya.

Tanpa aba-aba, Moreno mendaratkan kecupan-kecupan lembut di sepanjang area sensitif itu.

​Luna seketika menegang keras, merinding menahan sensasi geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Karena tak tahan, Luna buru-buru berbalik badan dan langsung membekap bibir Moreno dengan telapak tangannya.

​"Katanya ngantuk! Kenapa masih nyium-nyium juga?!" protes Luna dengan napas naik-turun.

​Moreno menyunggingkan senyum miring di balik bekapan tangan Luna, menatap gadis itu dengan jahil.

"Habisnya... tubuh lo terlalu menggoda. Tiba-tiba bikin gairah gue naik lagi."

​Wajah Luna seketika memerah padam sampai ke telinga. Ia menarik tangannya kembali.

"Cepat tidur! Kalau enggak, gue beneran pindah ke kamar sebelah sekarang!"

​Moreno tertawa renyah, berhasil memancing reaksi emosional gadisnya. Tanpa memberi kesempatan Luna untuk kabur, Moreno menarik pinggang Luna hingga tubuh mereka menempel rapat tanpa jarak.

​Pria itu kemudian menurunkan kepalanya, bersandar dan merebahkan wajahnya tepat di dada empuk Luna.

​"Iya, iya, ini gue tidur..." gumam Moreno dengan suara berat, lalu melirik ke atas.

"Peluk gue juga dong."

​Luna mendecak kesal melihat tingkah manja bule tantrum di dekapannya ini. Namun, pada akhirnya, Luna pasrah dan melingkarkan kedua tangannya di bahu tegap Moreno.

​Moreno memejamkan matanya rapat-rapat dengan senyuman tipis yang tak juga pudar. Menikmati kehangatan dari tubuh Luna yang seakan menghipnotisnya.

Visual of Moreno Xander

1
tattoo
aku selalu baca.. sampai tamat ya 🌚
Meow: Thank you supportnya🙏
total 1 replies
tattoo
mayan🌚
tattoo
pas.. 🌚 anak kuliahan
tattoo
suka🌚
tattoo
kirimkan visual luna dan reno 🌚🌚🌚
tattoo
lagiii🌚
tattoo
bernada sekali😭
tattoo
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
tattoo
masih ori ga lu ren? 🐊
tattoo
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
tattoo
cie 🐊
tattoo
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!