NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Pagi hari dengan sinar matahari pagi yang menerobos melalui jendela kamar tidur Asri yang terbuka, menciptakan udara yang segar dan masuk melalui jendela.

Suasana kamar itu nampak sibuk dengan penuh tumpukan pakaian yang di letakkan----tepat di atas ranjang kayu.

Sementara koper besar yang lebar di letakkan di atas lantai, setelah semalam Asri melewati mimpi-mimpi buruk---dirinya berhubungan dengan Angga.

Kini, wanita itu telah memantapkan tekadnya untuk segera pergi meninggalkan tanah airnya, demi menyembuhkan luka batin yang di alaminya saat ini.

"Ya allah semoga keputusan hamba benar untuk pergi ke UK," batin Asri memejamkan matanya.

Asri tengah terduduk bersimpuh dengan tangannya yang sibuk berkemas.

Pagi ini tampilannya sangat santai, dengan mengenakan kaos lengan pendek warna lavender, bawahnya mengenakan celana kulot panjang warna biru tua.

Rambutnya yang hitam legam panjang dibiarkan terurai indah, tangannya dengan gerakan teratur----namun terburu-buru tengah mengemas barang-barangnya.

Melipat kemeja bermotif kotak-kotak kecil warna ungu dan di masukannya ke dalam koper coklat di depannya, sementara tepat di sampingnya ada sebuah tas ransel carrier bag berukuran besar warna kehijauan dengan gradasi orange.

Selain itu koper tersebut siap menampung perlengkapan riset dan dokumen penting miliknya.

Setiap helai pakaian yang di masukkan ke dalam koper adalah peleburan rasa trauma dan amarahnya---terpendam karena mahkotanya di ambil paksa oleh Angga.

Dirinya tak mendapatkan keadilan, jadi wanita ini lebih memilih ke London demi menata kembali hidupnya yang hancur.

Asri berusaha membuktikan, jika dirinya bisa bangkit kembali setelah di nodai---menjadi seorang peneliti dan sejarawan muda berprestasi.

Tiba-tiba di tengah kesibukannya merapikan pakaian itu, ponsel yang di letakan di atas kasurnya mendadak bergetar.

Hal yang menandakan ada panggilan masuk yang memecah kesunyian kamar.

Sontak Asri segera meraih ponselnya yang terletak di atas ranjang tepat di belakangnya, sejenak Asri menghentikan sesi berkemasnya.

Keningnya berkerut dan jantungnya berdegup kencang saat melihat nama Profesor Willy Leington tertera di layar ponselnya.

Segera Asri mengangkat panggilan itu, dan menempelkan ponselnya di telinganya.

"Halo, selamat pagi, Profesor Willy..." sapa Asri dengan nada suara yang bergetar penuh harapan, berharap mendengar kabar baik mengenai visa keberangkatannya yang sempat tertahan.

Namun, Asri malah mendapatkan kabar yang tak mengenakan.

Senyum tipis di wajahnya yang sempat terukir, perlahan memudar---raut wajah Asri menjadi kecewa, sedih dan di penuhi rasa putus asa.

Matanya menatap kosong ke arah koper di depannya, tangan kirinya menjadi lemas saat menggenggam tumpukan pakaian.

"Maafkan saya Asri...saya baru mendapatkan konfirmasi dari pihak imigrasi dan maskapai penerbangan. Riset kita ke London terpaksa harus ditunda hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Cuaca ekstrem badai salju di wilayah Eropa Barat membuat beberapa bandara ditutup sementara," jelasnya dengan nada kecewa.

Asri menghela napas, dan hatinya harus menelan rasa kecewa, sedih dan frustasi.

Dirinya ingin pergi dari tempat ini, namun jika penerbangannya di tunda---bagaimana dirinya bisa melupakan masalahnya.

"Terlebih lagi, pemerintah United Kingdom saat ini sedang memperketat aturan administrasi imigran pasca-regulasi baru, membuat proses verifikasi visa risetmu kembali tertahan di kedutaan," lanjutnya.

Mendengar penjelasan logis itu, batin Asri terasa di hantam palu tak kasat mata.

"Lalu... bagaimana dengan riset saya, Profesor? Saya... saya sangat butuh untuk segera pergi dari kota ini," rintih Asri lirih dengan suara parau yang menahan tangis.

Profesor Willy menghela napas panjang di seberang telepon, menyadari beban berat yang sedang dipikul oleh anak didiknya tersebut.

"Saya mengerti kondisimu, Asri. Oleh karena itu, saya sudah berdiskusi dengan rekan sejawat saya di Indonesia, Profesor Bagas Ibrahim Halim. Sementara waktu, kami memutuskan untuk mengalihkan fokus riset kebudayaanmu," ucap Profesor Willy.

Asri langsung mengerutkan dahinya dengan bingung, lalu mempertanyakan soal keputusan sang Profesor.

"Dialihkan kemana, Prof?" tanya Asri dengan nada bingung.

"Kami sudah mendiskusikannya...kamu bisa pergi ke pedalaman wilayah Tasikmalaya di Jawa Barat. Di sana, terdapat sebuah desa adat yang masih sangat murni, sangat cocok untuk penelitian lanjutan mengenai komparasi cagar budaya yang sedang kamu susun."

Profesor Willy mengatakan hal demikian, lalu melanjutkan pembicaraannya.

"Kamu tenang saja, tugasmu di sana adalah mengajar anak-anak di sekolah darurat desa adat tersebut, sekaligus melakukan observasi penelitian lapangan."

Pria itu juga menjelaskan mengenai tugas Asri nanti di sebuah desa terpencil, yang nanti akan menjadi tempat Asri bertugas.

"Seluruh biaya hidup, transportasi, dan kebutuhan risetmu selama di sana akan ditanggung sepenuhnya secara kolaboratif oleh Profesor Bagas Ibrahim Halim dan saya pribadi," ujarnya lagi.

Asri memejamkan matanya menahan rasa kecewa, karena dirinya tak bisa keluar dari bayang-bayang traumanya---namun apakah di desa terpencil itu---dirinya bisa menemukan kedamaian.

"Baiklah sampai sini, apa ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya Profesor Willy Leington.

Asri menghela napas lalu menelan salivanya, meski penuh rasa kecewa dirinya berusaha tersenyum.

"Tidak Prof," jawab Asri singkat dengan napas tertahan.

Setelah profesor Willy menutup sambungan teleponnya, Asri perlahan menurunkan benda pipih itu dari telinganya---terduduk lemas di lantai kamarnya.

Matanya menatap nanar koper dan tas ranselnya, di sela rasa kecewanya sebuah desiran aneh yang teramat sangat mengerikan tiba-tiba merayapi tulang belakang Asri.

Entah kenapa saat dirinya dinyatakan akan bertugas di wilayah terpencil di Tasikmalaya, hatinya menjadi menghangat.

"Perasaan apa ini? kenapa dengan hatiku?" pikir Asri memegang dadanya.

Seolah ada sesuatu di desa itu, sebuah takdir untuk riset penelitiannya---takdir yang menunggunya untuk sebuah langkah jauh lebih besar.

Wanita yang mengenakan kaos warna lavender itu segera menggelengkan kepalanya, lalu berusaha kembali berfikir optimis.

"Mungkin di desa itu, aku bisa melupakan trauma yang aku rasakan. Tentu dengan anak-anak yang lucu...traumaku akan hilang," ujar Asri tersenyum.

Asri mengingat dirinya bukan hanya kali ini saja mengajar di pedalaman, ini udah sekian kalinya---dirinya tak keberatan selama di gaji.

Di tambah nanti disana, Asri akan kedatangan perwakilan UNESCO.

"Ya allah setelah solat subuh tadi...hamba berdoa padamu, dan apa ini garis takdir yang kau berikan untuk hamba?" tanya Asri dalam hatinya, dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
Putri Sabina: udah lanjut kak, sehari sekali yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!