NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xiaoqi Sakit — Momen yang Mengubah Segalanya

Malam itu, udara berubah menjadi lebih dingin setelah hujan turun sepanjang sore. Su Wan sudah menutup jendela kamar Xiaoqi dan menambah selimut tebal di atas tubuh kecilnya. Yicheng, seperti biasa, membacakan dongeng sampai mata anak itu perlahan terpejam, napasnya menjadi teratur dan tenang. Keduanya merasa lega — hari yang penuh tawa dan kebersamaan berakhir dengan damai. Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang buruk akan datang.

Namun dini hari, tepat saat jam menunjukkan pukul dua pagi, suara rintihan halus membangunkan Su Wan. Ia langsung melompat dari tempat tidur, hatinya berdebar kencang, dan berlari ke kamar Xiaoqi. Di bawah cahaya remang lampu tidur, ia melihat anak itu menggeliat gelisah di atas kasur, wajahnya memerah, keringat bercucuran di dahi, namun tubuhnya menggigil kedinginan.

"Xiaoqi!" panggil Su Wan dengan suara bergetar, menyentuh dahi anak itu dengan punggung tangannya. Panas. Sangat panas.

Yicheng terbangun mendengar panggilan cemas Su Wan, langsung berlari masuk ke kamar Xiaoqi. "Ada apa? Apa yang terjadi?"

"Xiaoqi demam. Sangat tinggi," jawab Su Wan, tangannya gemetar saat meraba leher dan punggung anak itu. "Tubuhnya panas sekali."

Yicheng merasakan dahi Xiaoqi sendiri, dan jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Panas yang menyengat menembus telapak tangannya. Wajah anak itu yang biasanya ceria kini pucat dan lemas, matanya terpejam erat, bibirnya bergetar menahan rasa sakit. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya melanda dadanya — takut kehilangan, takut tidak mampu melindungi, takut melihat orang yang paling ia cintai menderita dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

"Kita harus membawanya ke dokter," kata Yicheng tegas namun suaranya menyembunyikan kepanikan. Ia langsung membungkus Xiaoqi dengan selimut tebal, mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dengan hati-hati seakan memegang kaca yang mudah pecah. "Sekarang juga."

Di perjalanan ke rumah sakit, malam masih gelap, jalanan sepi, namun rasanya waktu berjalan terlalu lambat. Xiaoqi terbaring di pelukan Yicheng, sesekali mengerang pelan, tubuhnya panas dan dingin bergantian. Yicheng memeluknya erat, berusaha menyalurkan kehangatan tubuhnya, sesekali mencium kening anak itu, berbisik di telinganya agar tetap kuat, agar Ayah dan Ibu ada di sini, agar tidak perlu takut. Di sebelahnya, Su Wan memegang tangan Xiaoqi tanpa melepaskannya sedetik pun, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha tetap tenang, mengusap punggung anak itu, menyanyikan lagu lembut yang biasa ia nyanyikan saat Xiaoqi takut atau sakit.

Sesampainya di rumah sakit, suasana di sana tenang namun terasa dingin. Perawat menerima Xiaoqi dengan cepat, mengukur suhu tubuhnya — 39,8 derajat. Dokter memeriksa napas dan tenggorokannya, lalu menjelaskan bahwa Xiaoqi terkena infeksi saluran pernapasan akut, kemungkinan karena kelelahan dan perubahan suhu tubuh setelah bermain di luar saat hujan kemarin. "Tidak terlalu berbahaya," kata dokter itu, "tapi demamnya cukup tinggi, perlu diinfus dan diamati semalam agar tidak terjadi kejang."

Kata-kata itu seolah mengangkat beban berat dari dada Yicheng dan Su Wan, namun kekhawatiran belum sepenuhnya hilang. Melihat Xiaoqi terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, jarum infus menancap di punggung tangan kecilnya, wajahnya pucat dan matanya tertutup lelah — pemandangan itu menyayat hati keduanya.

Xiaoqi membuka matanya perlahan, menatap mereka berdua dengan pandangan yang kabur dan lemas. "Ayah… Ibu…" panggilnya pelan, suaranya serak dan lemah, hampir tak terdengar.

Yicheng langsung mendekat, memegang tangan anak itu yang terasa kecil dan rapuh di genggamannya. "Ayah di sini, Nak. Ayah tidak pergi. Ibu juga di sini. Kita berdua tidak akan ke mana-mana."

"Sakit… kepala Xiaoqi sakit…" rintih anak itu, matanya berkaca-kaca, air mata jatuh membasahi pipinya.

"Aku tahu, Nak. Ayah tahu," bisik Yicheng dengan suara bergetar, mencium punggung tangan Xiaoqi, hatinya terasa hancur melihat anaknya kesakitan. "Tapi dokter sudah memberi obat, nanti perlahan-lahan akan terasa lebih baik. Ayah dan Ibu akan di sini, menjaga Xiaoqi sampai sembuh. Tidak akan meninggalkan Xiaoqi sendirian."

Su Wan duduk di sisi lain tempat tidur, mengusap rambut anak itu dengan lembut, menyeka keringat di dahinya dengan tisu basah. "Istirahatlah, sayang. Tidurlah sebentar, saat kau bangun, demammu pasti sudah turun. Ibu akan selalu memegang tanganmu, jadi kau tidak akan merasa sendirian."

Xiaoqi menutup matanya perlahan, namun tangannya tetap menggenggam erat jari Yicheng dan Su Wan, seakan takut kalau ia melepaskan, mereka akan menghilang. "Jangan pergi… tetap di sini…"

"Kami tetap di sini," janji mereka berdua hampir bersamaan. "Selalu di sini."

Malam itu di ruang rawat inap yang sunyi menjadi momen yang mengubah segalanya bagi Yicheng. Ia duduk di tepi tempat tidur, tidak berani beranjak, tidak berani tidur, hanya menatap wajah anaknya yang terbaring lemah. Di sampingnya, Su Wan juga tidak tidur, sesekali memeriksa suhu tubuh Xiaoqi, mengganti kain kompres, memastikan infus mengalir lancar. Mereka berdua bekerja sama tanpa perlu banyak bicara — saling memberi isyarat, saling menggantikan tugas, saling menyeka air mata satu sama lain saat kepedihan menjadi terlalu berat.

Yicheng menyadari sesuatu yang sangat dalam malam itu — sesuatu yang mengubah cara ia memandang hidupnya selamanya. Selama bertahun-tahun, ia mengira bahwa menjadi ayah dan suami yang baik berarti bekerja keras, menghasilkan uang, memberikan kehidupan yang nyaman dan mewah bagi keluarga. Ia pikir kesuksesan di dunia kerja adalah cara terbaik mencintai keluarganya. Tapi saat melihat anaknya terbaring sakit di rumah sakit, rapuh dan kecil, ia menyadari bahwa semua itu tidak ada artinya. Uang tidak bisa menurunkan demam, jabatan tidak bisa menghilangkan rasa sakit, kekayaan tidak bisa menggantikan kehadiran yang dibutuhkan saat seseorang kesakitan. Yang benar-benar dibutuhkan Xiaoqi bukanlah ayah yang kaya atau sukses — melainkan ayah yang ada di sana, yang memegang tangannya saat takut, yang mencium keningnya saat sakit, yang tidak pergi ke mana-mana.

Ia berpikir tentang masa lalu, tentang bagaimana ia dulu sering pulang larut malam, melewatkan makan bersama, melewatkan momen-momen penting dalam hidup anaknya karena pekerjaan. Ia berpikir tentang lima tahun yang hilang, tentang hari-hari di mana Xiaoqi sakit dan ia tidak ada di sini, tentang saat Su Wan berjuang sendirian merawat anak mereka tanpa ada yang membantu atau menggantikan. Rasa bersalah yang begitu dalam menyeruak di dadanya, membuatnya sulit bernapas. Ia hampir kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya hanya karena ia terlalu sibuk mengejar hal yang sebenarnya tidak penting.

Dan saat ia menatap Su Wan yang lelah namun tetap tegar, yang selama lima tahun memikul beban sendirian tanpa pernah mengeluh, hatinya dipenuhi rasa hormat dan cinta yang semakin dalam. Ia melihat betapa kuatnya wanita ini, betapa besar pengorbanannya, dan betapa banyak hal yang harus ia perbaiki untuk membayar semua kesepian yang pernah ia berikan padanya.

Malam itu, di ruang rawat yang dingin dan sunyi, di samping tempat tidur anaknya yang sedang berjuang melawan demam, Yicheng membuat keputusan yang mengubah arah hidupnya. Ia tidak akan lagi membiarkan pekerjaan mengambil alih hidupnya. Ia tidak akan lagi melewatkan momen-momen penting dalam hidup keluarganya. Ia tidak akan lagi membiarkan dirinya menjadi orang asing di rumahnya sendiri. Ke depan, keluarganya akan selalu menjadi prioritas utama — di atas pekerjaan, di atas ambisi, di atas segalanya. Karena satu momen kehilangan cukup untuk mengajarkan bahwa waktu tidak bisa dibeli kembali, dan kehadiran adalah hadiah paling berharga yang bisa diberikan orang yang dicintai.

Pagi pun tiba, cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai jendela ruang rawat. Suhu tubuh Xiaoqi perlahan turun, wajahnya terlihat lebih tenang, napasnya lebih teratur. Saat anak itu membuka matanya dan melihat mereka berdua masih ada di sana, tersenyum lemah namun lega, Yicheng berjanji dalam hatinya — tidak peduli apa pun yang terjadi di masa depan, ia tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya terlambat hadir dalam kehidupan mereka. Karena momen seperti ini, saat melihat anaknya tersenyum kembali setelah sakit, adalah kebahagiaan yang jauh lebih berharga daripada semua kesuksesan di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!