Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mangkuk porselen di tangan Presiden Gu terhenti hanya beberapa sentimeter dari bibirnya. Teh herbal di dalamnya masih mengepulkan asap tipis yang berbau sedikit aneh.
Brak!
Pintu kayu berukir itu hancur berkeping-keping menghantam lantai ruangan. Yang Zhen melangkah masuk dengan tangan bersedekap dan senyum rubah yang sangat menyebalkan.
"Kau... bagaimana kau bisa kembali dari hutan itu?!" teriak Lu Feng dengan suara melengking panik.
Tubuh alkemis muda itu bergetar hebat hingga nampan perak di tangannya jatuh bergemerincing. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak rak buku di sudut ruangan.
"Maaf mengecewakanmu, tapi tiga ekor tikus bayaran majikanmu itu terlalu lemah." jawab Yang Zhen sambil membersihkan debu dari kerah bajunya.
"Mereka sudah menjadi pupuk yang bagus untuk tanaman di Hutan Kabut Kematian." lanjut pemuda itu santai.
Presiden Gu meletakkan mangkuk supnya kembali ke atas meja dengan kening berkerut. Matanya menatap bergantian antara Yang Zhen dan murid kesayangannya yang terlihat pucat pasi.
"Apa maksud dari semua keributan ini, Tuan Muda Yang Zhen?" tanya Presiden Gu menuntut penjelasan. "Tikus bayaran apa yang Anda maksudkan?"
Yang Zhen berjalan mendekati meja kerja Presiden Gu dan mengambil mangkuk sup yang masih panas tersebut.
"Murid kesayanganmu ini baru saja mencampurkan Bubuk Peluruh Organ ke dalam supmu, Pak Tua." ucap Yang Zhen datar.
"Omong kosong!" bantah Lu Feng dengan suara bergetar mencoba menutupi kebohongannya. "Guru, jangan dengarkan bocah gembel ini, dia sedang mencoba mengadu domba kita!"
"Aku meracik sup itu dengan herbal ginseng merah terbaik khusus untuk memulihkan stamina Anda!" lanjut Lu Feng membela diri.
Presiden Gu menatap mata Lu Feng mencari sedikit saja kebenaran di sana. Namun ia adalah seorang alkemis veteran yang telah hidup puluhan tahun.
Kepanikan dan keringat dingin di wajah Lu Feng sudah cukup membuktikan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Jika kau memang menggunakan ginseng merah terbaik, haruskah aku meminumnya sendiri untuk membuktikannya?" tantang Yang Zhen sambil mendekatkan mangkuk itu ke mulutnya sendiri.
"Jangan!" teriak Lu Feng refleks sambil mengulurkan tangannya.
Yang Zhen tersenyum sinis melihat reaksi bodoh dari alkemis berhati busuk itu.
Byur!
Yang Zhen menyiramkan seluruh isi mangkuk panas itu ke arah pot tanaman spiritual yang ada di sudut meja.
Cesss!
Suara mendesis keras terdengar saat cairan sup itu menyentuh daun tanaman. Hanya dalam hitungan tiga detik, tanaman spiritual yang subur itu layu, menghitam, dan hancur menjadi abu berbau busuk.
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap dan mencekam. Presiden Gu mematung menatap abu hitam di dalam pot itu dengan mata berkaca-kaca.
"Lu Feng... aku memungutmu dari jalanan saat kau masih berusia lima tahun." ucap Presiden Gu dengan suara bergetar menahan kesedihan yang mendalam. "Aku merawatmu dan menurunkan seluruh ilmuku padamu."
"Tapi kau justru memilih menjadi anjing peliharaan Zhao Tian demi sebuah kursi jabatan?" tanya pria tua itu dengan raut wajah patah hati.
Lu Feng menyadari bahwa sandiwaranya telah hancur berantakan tanpa sisa. Wajah pucatnya seketika berubah menjadi merah padam dipenuhi amarah dan keputusasaan.
"Iya! Aku memang melakukannya!" raung Lu Feng seperti orang gila. "Tapi semua ini karena anda... Anda sudah terlalu tua dan lambat, Asosiasi ini tidak akan maju jika terus dipimpin oleh orang tua keras kepala seperti Anda!"
"Keluarga Zhao menjanjikan kekayaan dan sumber daya tak terbatas jika aku memimpin tempat ini!" tambahnya penuh keserakahan.
Wush!
Api berwarna merah gelap tiba-tiba meledak dari kedua telapak tangan Lu Feng. Ia berniat membunuh Presiden Gu sekarang juga sebelum bantuan datang.
"Mati kau, Pak Tua!" teriak Lu Feng sambil melemparkan bola api raksasa ke arah meja kerja.
Presiden Gu yang masih syok tidak sempat merapalkan sihir pertahanannya. Namun sebuah bayangan tiba-tiba melesat menutupi pandangannya.
Bum!
Bola api mematikan itu menghantam sesuatu yang keras dan langsung padam menyisakan kepulan asap tipis. Yang Zhen berdiri kokoh di depan Presiden Gu dengan tangan kanan yang telah berubah menjadi warna coklat keemasan.
"Api murahan seperti ini bahkan tidak bisa menghangatkan tanganku di musim dingin." ejek Yang Zhen santai.
Mata Lu Feng membelalak lebar melihat sihir andalannya dihancurkan dengan tangan kosong. Ia belum menyadari bahwa pemuda di depannya ini telah menguasai pertahanan mutlak elemen tanah.
"Sekarang giliranku." bisik Yang Zhen dengan tatapan sedingin es abadi.
Krak!
Yang Zhen menghentakkan kakinya ke lantai kayu ruangan itu. Elemen tanah mengalir deras menembus fondasi gedung dan langsung mencengkeram kedua pergelangan kaki Lu Feng.
Dua bongkahan batu granit melesat dari lantai dan mengunci kaki Lu Feng dengan sangat kuat. Alkemis pengkhianat itu jatuh berlutut sambil menjerit kesakitan karena tulang keringnya retak.
"Aaargh! Lepaskan aku, iblis!" ratap Lu Feng sambil meronta-ronta di lantai.
Tepat pada saat itu, suara derap langkah ratusan sepatu bot baja terdengar menggema dari halaman depan gedung Asosiasi Alkemis.
"Gedung ini telah dikepung oleh pasukan militer kota!" seru sebuah suara bariton yang sangat dikenali dari luar jendela. "Tidak ada satu pun serangga yang boleh keluar masuk tanpa izin militer!"
Chen Fei telah tiba tepat waktu membawa tiga ratus prajurit elit lapis baja.
Yang Zhen menoleh ke arah Presiden Gu yang masih duduk lemas di kursinya. Pemuda itu tersenyum tipis melihat rencananya berjalan dengan sangat sempurna.
"Sepertinya teman-temanku sudah datang untuk menjemput sampah ini, Pak Tua." ucap Yang Zhen santai.
"Bawa dia pergi dari hadapanku." jawab Presiden Gu sambil memalingkan wajahnya dan menutup matanya rapat-rapat. "Asosiasi Alkemis memutuskan semua hubungan dagang dengan Keluarga Zhao mulai detik ini."
Di sisi lain Kota Awan Merah, suasana di kediaman utama Keluarga Zhao justru berbanding terbalik.
Zhao Tian sedang duduk di taman belakang rumahnya sambil menikmati teh krisan yang mahal. Ia sedang bermain catur sendirian dengan raut wajah yang sangat rileks dan tenang.
"Hari ini adalah hari yang indah." gumam Zhao Tian memindahkan bidak kudanya. "Anak ingusan itu pasti sudah membusuk di hutan, dan Presiden Gu pasti sedang meregang nyawa di ruang kerjanya."
Brak!
Pintu taman terbuka dengan kasar, menampilkan sosok Han Sen yang berlari panik hingga tersandung kakinya sendiri. Wajah asisten kepercayaannya itu pucat pasi seperti baru saja melihat malaikat maut.
"Patriark! Ada berita erita buruk!" teriak Han Sen dengan napas tersengal-sengal.
"Tenanglah, Han Sen." tegur Zhao Tian mengerutkan kening. "Bukankah aku sudah mengajarimu untuk selalu menjaga martabat di segala situasi?"
"Tiga keping jiwa milik Tiga Iblis Bayangan di pasar gelap... semuanya hancur berkeping-keping setengah jam yang lalu!" lapor Han Sen dengan suara bergetar hebat.
Cangkir teh porselen di tangan Zhao Tian seketika terlepas dan pecah berantakan di atas lantai batu. Ketenangan rubah tua itu langsung hancur seketika.
"Apa kau bilang?! Ketiga pembunuh elit itu tewas?!" raung Zhao Tian berdiri dari kursinya.
"Benar, Patriark." Han Sen menelan ludah dengan kasar. "Dan yang lebih mengerikan lagi, ratusan prajurit militer yang dipimpin oleh Chen Fei baru saja mengepung gedung Asosiasi Alkemis!"
Dada Zhao Tian naik turun dengan cepat menahan emosi yang meluap-luap. Otaknya yang cerdas langsung merangkai semua kepingan kejadian ini menjadi satu kesimpulan yang mengerikan.
"Yang Zhen belum mati... dia justru bersekutu dengan militer dan menggagalkan rencana kudeta Lu Feng." gumam Zhao Tian dengan mata menyalang buas.
"Kita telah meremehkan monster itu, Han Sen." bisik Zhao Tian mengepalkan kedua tangannya hingga berdarah. "Dia bermain dengan kita dari awal hingga akhir."
Di saat yang sama, di kediaman keluarga besar Su.
Su Lin sedang berlatih di halaman belakang rumahnya yang luas. Hawa dingin ekstrem berputar mengelilingi tubuhnya, membekukan embun pagi yang menempel di dedaunan.
Syuut.
Su Lin mengibaskan tangannya dan sebuah pedang es yang sangat jernih terbentuk di genggamannya. Ia mengayunkan pedang itu dengan gerakan yang sangat mengalir dan mematikan.
"Luar biasa." puji sebuah suara berat dari arah beranda rumah.
Seorang pria paruh baya berwajah tegas berjalan menghampiri Su Lin. Pria itu adalah Su Tian, ayah kandung Su Lin sekaligus Patriark Keluarga Su yang sangat dihormati.
"Ayah?" Su Lin segera menghentikan latihannya dan menghilangkan pedang es di tangannya.
"Aliran Qi di meridianmu sangat lancar, dan racun dingin yang selalu menggerogoti dadamu telah sepenuhnya lenyap." analisis Su Tian dengan mata berbinar bangga.
"Siapa ahli bela diri hebat yang berhasil menyembuhkan penyakit bawaanmu ini, Lin-er?" tanya Su Tian penasaran.
Wajah Su Lin sedikit merona saat mengingat kembali wajah menyebalkan Yang Zhen dan mulut usilnya yang selalu memanggilnya istri.
"Dia bukan ahli bela diri veteran, Ayah." jawab Su Lin pelan. "Dia hanyalah teman sekelasku di akademi."
Mata Su Tian membelalak terkejut mendengar fakta tersebut. Teman sekelas berarti usianya baru lima belas tahun, namun mampu memecahkan masalah yang membuat tabib kekaisaran menyerah.
"Teman sekelasmu? Siapa namanya?" selidik Su Tian semakin tertarik.
"Namanya Yang Zhen." jawab Su Lin sambil menatap awan di langit. "Dan dia adalah badai yang akan meruntuhkan seluruh dominasi Keluarga Zhao di kota ini."
Perang besar di Kota Awan Merah kini tidak bisa dihindari lagi. Semua bidak catur terkuat dari setiap faksi utama telah mengambil posisi mereka masing-masing.