Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. Tidak Ada Lagi Hadiah
Di aula utama kediaman Jenderal Ling Guojin....
Tampak suasana di sekitarnya begitu hangat dan penuh kedamaian.
Para pelayan sibuk menghidangkan teh dan hidangan yang terenak yang dibuat di hari itu, demi untuk menyambut kembali kepulangan Jenderal Ling di kediamannya dalam keadaan sehat sentosa.
Di ruangan paling tengah aula utama, duduk di kursi utama dengan penuh wibawa Jenderal Ling Guojin.
Meski wajah gagahnya masih menyisakan bekas-bekas kelelahan akibat perang panjang, sepasang matanya masih menyorot tajam tapi penuh kelembutan.
Su Yinfei yang duduk anggun nan elegan di sampingnya, masih saja melepas senyum memawan sekaligus penuh kelembutan. Seolah-olah dia tampil sebagai istri yang setia dan ibu yang penuh kasih sayang.
Duduk di sebelah Su Yinfei, Ling Yaofei, putri kesayangan, tampil penuh semangat dan percaya diri, penuh sikap anggun sebagai putri bangsawan.
Sementara di sisi lain, Ling Yujian dan Ling Yuchen duduk berdampingan. Ling Yujian dengan sikap tenangnya, Ling Yuchen dengan gaya santai namun tetap menjaga kesopanan.
Yang berbeda dari semua itu adalah sosok Ling Qingxue, dia duduk dua kursi jaraknya di sebelah Ling Yujian. Dari pemandangan ini saja sudah mengusik sedikit rasa heran.
Lebih daripada itu, bukannya duduk dengan menonjolkan diri yang membuat orang-orang semakin muak, seperti di kehidupannya yang lalu, dia hanya duduk dengan tenang dalam diamnya. Hampir tidak diperhatikan oleh keluarga lainnya.
Namun justru sikap itu yang mengundang perhatian Jenderal Ling Guojin. Tapi dia memilih mengabaikan untuk sementara.
Di saat suasana telah tenggelam dalam rasa nyaman, Ling Yaofei berdiri penuh semangat tapi dengan sikap hormat dan sopan santun. Lalu melangkah ke hadapan Jenderal Ling sambil menyodorkan sebuah kotak kayu berukir indah.
"Die, ini hadiah dari putri bodohmu ini," ucapnya dengan mata berbinar penuh harap. "Aku membuatnya sendiri khusus untukmu...."
Kemudian Ling Yaofei membuka kotak berukir itu dengan amat hati-hati, memperlihatkan kepada Ling Guojin sebuah jimat giok berukir indah berbentuk naga warna biru cerah, melambangkan kekuatan dan kecerdasan yang tinggi.
Melihat kesungguhan Ling Yaofei tersebut, membuat Ling Guojin tersenyum penuh kegembiraan. Setelah mengambil jimat giok itu, Ling Guojin menatap putri kesayangannya dengan penuh rasa bangga.
"Kamu memang putriku yang amat pintar dan berbakat, Yao'er," tutur Ling Guojin tulus memuji seraya masih tersenyum bangga. "Die bangga padamu."
Pujian yang begitu tulus itu, membuat wajah Ling Yaofei amat berseri-seri, penuh rasa gembira yang tiada terkira. Dengan penuh rasa bangga yang begitu kentara, dia melirik Ling Qingxue, berharap menyaksikan rasa cemburu dan amarah yang membabi-buta pada gadis bodoh itu.
Namun, bahkan Ling Qingxue tidak melihat adegan memuakkan itu. Gadis itu hanya diam laksana patung arca yang sedang duduk. Sepasang mata beningnya begitu dingin menatap ke depan, tanpa ada ekspresi emosi sedikitpun.
Tak lama setelah itu, setelah Ling Yaofei yang memendam kekesalan karena niat liciknya tidak berefek duduk, lalu Ling Yujian dan Ling Yuchen maju secara bergantian, mempersembahkan hadiah mereka masing-masing kepada sang ayah yang amat dihormati.
Ling Yujian mempersembahkan sebuah kotak berisi herbal gingseng panjang umur, yang dia peroleh dari pelelangan beberapa bulan yang lalu.
Sementara Ling Yuchen mempersembahkan sebuah pedang pusaka yang juga diperoleh dari pelelangan bersama kakaknya.
Senyum Ling Guojin semakin lebar, penuh rasa bangga dan kegembiraan yang begitu puas, lalu berkata kepada kedua putra kebanggaannya itu memuji dengan tulus.
"Kalian memang putra-putraku yang amat berbakti. Fu qin bangga kepada kalian...."
Ling Yujian dan Ling Yuchen menyembah penuh rasa hormat, merasa senang telah membuat ayah mereka senang dan bangga terhadap mereka.
Akan tetapi, setelah semua hadiah anak-anaknya telah diberikan kepada, Ling Guojin akhirnya menyadari sesuatu yang janggal. Kemudian sepasang matanya yang tajam beralih menatap Ling Qingxue.
Namun –lagi-lagi– gadis itu hanya didapati masih dalam keadaan diam, tidak ada riak emosi pada sepasang matanya. Bahkan gadis itu hanya menatap ke depan sedikit menunduk, tidak memandang menghadapnya.
Ini sungguh aneh, semakin aneh!
Biasanya, Ling Qingxue merupakan orang pertama yang berusaha menarik perhatiannya, tapi membuat Ling Guojin merasa muak.
Namun, kenapa sekarang tidak ada gerakan sedikitpun yang datang dari Ling Qingxue. Semuanya sunyi, semuanya diam, semuanya... terasa begitu kaku dan agak canggung.
★☆★☆
Setelah menguasai perasaannya yang sedikit merasa aneh melihat penampakan Ling Qingxue sedemikian itu, Jenderal Ling Guojin pertama kali membuka mulutnya berbicara kepada sang putri sulung.
"Mana persembahan hadiah darimu, Ling Qingxue?"
Nadanya begitu datar dan dingin, seolah tidak ingin menunjukkan sifat kasih sayang kepada putri pembuat onarnya itu, meski diucapkan dengan kalem.
Seketika saja suasana ruangan itu langsung dibungkam oleh ketegangan ketika pertanyaan dingin itu terlontar dari mulut kepala keluarga kediaman megah nan mewah itu.
Ling Yaofei yang awalnya selalu tersenyum-senyum, kini berubah menjadi tegang. Sepasang mata indahnya beralih menatap Ling Qingxue dengan ekspresi rumit.
Sedangkan Ling Yujian maupun Ling Yuchen juga segera menoleh ke adiknya dengan cepat nyaris bersamaan, berharap melihat Ling Qingxue yang panik menghadapi pertanyaan ayah mereka.
Namun apa yang terjadi sungguh berbalik dengan apa yang diharapkan dan dipikirkan.
Tampak Ling Qingxue mengangkat kepalanya sedikit. Lalu perlahan menggerakkannya, menoleh pada Ling Guojin, menatap lelaki paruh baya itu dengan tegas penuh ketenangan.
Lalu....
"Apa itu penting, Jiang jun Da ren?" terdengar suaranya berucap dengan tenang, begitu datar begitu dingin.
"Kamu...?!" Ling Guojin, tidak bisa tidak, langsung terkejut heran mendengar ucapan Ling Qingxue.
Ini kali yang kedua dia mendengar ucapan Ling Qingxue sejak kepulangannya kembali. Dan dengan aroma ucapan itu, Ling Guojin merasa jika Ling Qingxue menganggapnya orang lain.
Sementara ucapan Ling Qingxue yang aneh itu membuat suasana semakin menegang, orang-orang langsung terpaku diam.
"Fu qin tanya sekali lagi, Ling Qingxue, mana hadiah darimu?" tanya Ling Guojin dingin setelah dapat menguasai rasa kagetnya, namun tidak dengan rasa herannya.
"Apakah hadiah dariku penting bagimu, Jiang jun Da ren?" sahut Ling Qingxue dengan berani, masih datar dan dingin. "Bukankah... setiap hadiah yang aku berikan, selalu saja berakhir di tempat sampah?"
Keheningan yang menegangkan semakin menyelimuti suasana tempat itu.
Ling Yaofei semakin menegang, menatap tidak percaya pada Ling Qingxue. Su Yinfei yang awalnya selalu tersenyum anggun, kini sedikit tersentak kaget.
Tidak terkecuali Ling Yujian, amat terkejut dengan sikap Ling Qingxue yang begitu berani. Sedangkan Ling Yuchen langsung berdiri, lalu menegur keras dengan sedikit membentak pada Ling Qingxue.
"Ling Qingxue, jaga sopan santunmu di depan Die di!"
Tetap sama saja, Ling Qingxue tidak menunjukkan rasa takut, panik, atau tegang sama sekali. Tatapannya tetap dingin saat menoleh pada Ling Yuchen, lalu berkata dengan datar dan dingin.
"Apakah ucapanku bohong, Ling Er Shao ye? Setiap tahun aku selalu mempersembahkan hadiah untuknya, itu tentu kalian amat mengetahuinya...."
"Hmh! Tapi coba lihat, hadiah itu tetap akan berujung ke tempat sampah, tidak sampai ke hadapannya!"
"Lalu sekaran... dia meminta lagi hadiah dariku.... Apa dia ingin melihat aku mengulangi perbuatan bodoh itu lagi?"
Ling Yuchen langsung terpaku diam, tidak bisa membantah fakta tentang penuturan Ling Qingxue barusan.
Ling Guojin masih menatap putri pertamanya itu dengan ekspresi yang rumit. Dia seketika merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya, membuatnya tidak bisa langsung menegur ketidak sopanan Ling Qingxue yang aneh itu.
Sejurus kemudian, Ling Qingxue sudah berdiri dengan perlahan penuh sikap tenang. Setelah memposisikan diri berhadapan dengan Ling Guojin, dia sedikit menunduk, memberikan penghormatan yang tidak berlebihan.
"Maaf, Jian jun Da ren, aku tidak akan mengulangi tindakan bodoh seperti yang sudah-sudah," kata Ling Qingxue tetap datar meski kalem. "Tidak ada lagi hadiah dariku."
"Jika tidak ada hal lain yang berkaitan denganku, aku mohon diri!" lanjutnya cepat, memohon diri.
Tanpa menunggu persetujuan dari siapa pun, Ling Qingxue segera berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan aula utama dengan ringan penuh ketenangan.
Liu Xui yang sejak tadi menahan napas menyaksikan adegan di aula utama ini, segera mengikuti sang nona muda dengan patuh. Hatinya dipenuhi berbagai perasaan yang campur aduk.
Sementara ruang aula utama masih terbungkus dalam kesunyian dan terpenjara dalam kebisuan, meski sosok bayangan Ling Qingxue sudah hilang.
Satu pikiran yang terukir dalam benak mereka seakan bersepakat, bagaimana bisa Ling Qingxue tampil berani seperti tadi?
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,