Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: RUMAH KACAU, GADAI EMAS
"Kenapa sih teriak-teriak pagi-pagi begini?" tegur Pak Diki yang baru keluar dari kamar, masih mengenakan baju koko dan sarung.
Belum sempat Ibu Mirna menjawab, Sonia melongok dari pintu kamarnya sambil bersungut-sungut. "Mbak Amira kenapa sih tidak bikin sarapan?!"
"Berisik!" bentak Pak Diki tegas.
"Bapak kenapa malah marah-marah terus sih?" protes Sonia manja.
"Kamu itu sudah gede! Pagi-pagi bukannya bantu masak, cuci piring, atau ngepel, malah teriak-teriak menagih sarapan!"
"Ih! Itu kan memang tugasnya Mbak Amira! Kenapa jadi aku?!" ketus Sonia tidak mau kalah.
Sonia menyenggol lengan ibunya. "Bu, Mbak Amira ke mana sih?"
"Ibu juga tidak tahu," sahut Mirna gusar.
"Amira sudah pergi setelah salat subuh tadi," seloroh Pak Diki sambil merapikan sarungnya.
"Pergi ke mana, Pak?"
"Kerja ke luar kota, katanya."
Ibu Mirna menepuk paha dengan kesal. "Kenapa Bapak tidak tahan dia?! Harusnya dia masak dulu buat kita sebelum pergi!"
Pak Diki menggeleng-gelengkan kepala, menatap istri dan anak gadisnya dengan pandangan miris. "Ada dua perempuan dewasa di rumah ini, tapi masih saja hobinya menyusahkan anak orang lain."
"Bapak kenapa sih belain Amira terus?!" sergah Sonia murka.
"Bapak tidak membela Amira! Bapak cuma khawatir sama kamu... Sudah sekujur badan begini besar tapi tidak bisa apa-apa!" balas Pak Diki menohok.
Sonia menghentakkan kaki dengan wajah cemberut, merasa selalu disalahkan oleh ayahnya.
"Bapak itu harusnya menahan Amira!" timpal Mirna menyalahkan suaminya.
"Buat apa?"
"Si Ridwan mau pinjam uang 5 juta buat bayar SPP anaknya! Sekarang Amira tidak ada, bagaimana coba?!"
Pak Diki mendengus sinis. "Suruh Ridwan bayar sendiri! Kalau tidak sanggup bayar cicilan mobil, ya tidak usah gaya-gayaan beli mobil! Utamakan kepentingan anak dulu!"
"Bapak ini memang dari dulu tidak pernah mau membahagiakan anak!" tuduh Mirna.
"Kamu pikir si Ridwan bisa sekolah sampai sarjana pakai uang siapa, hah?! Kalau sudah tua begini kalian masih tidak bisa atur uang, rasanya saya rugi dulu menyekolahkan dia tinggi-tinggi!" cetus Pak Diki tajam.
"Ngomong sama Bapak cuma bikin pusing saja!"
"Sama! Bapak juga pusing melihat kalian!" Pak Diki melangkah masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Ia memilih mengambil jaket ojek online-nya dan pergi bekerja. Makin hari, kelakuan anak dan istrinya makin tidak masuk akal.
Ibu Mirna duduk di meja makan dengan wajah gelisah.
"Bu, aku lapar..." rengek Sonia.
"Ya masak sendiri sana!" ketus Mirna yang sedang naik darah.
Dengan tangan gemetar menahan amarah, Mirna merengkuh ponselnya dan menelpon Adam untuk mengadukan sikap Amira.
"Adam! Istrimu itu makin hari makin kurang ajar ya! Pagi-pagi begini dia sudah kabur dari rumah!" adu Mirna begitu sambungan terhubung.
"Amira tadi sudah izin kok sama Adam, Bu... Dia mau ke Bali," jawab Adam santai dari balik telepon.
"Apa?! Ke Bali?! Kok dia tidak bilang-bilang ke Ibu?!"
"Memangnya dia tidak bilang?"
"Tidak ada!" semprot Mirna. "Pokoknya kamu harus tegur dia! Oh iya, mulai bulan ini kamu transfer gajimu langsung ke rekening Ibu saja. Amira bilang dia sudah tidak mau mengurus uangmu lagi!"
"Ya... nanti Adam transfer ke Ibu. Nanti Adam tegur juga Amiranya," kata Adam agak gugup.
Ibu Mirna mengernyitkan dahi ketika mendengar latar suara di telepon Adam. "Adam... kamu lagi di mana? Kenapa ada suara musik gamelan begitu?"
"Eh... Adam lagi mendengarkan musik di ponsel, Bu..."
"Ini kan jam kerja kamu? Kenapa kamu malah main ponsel?"
"Adam lagi ambil cuti, Bu," jawab Adam cepat. "Udah dulu ya, Bu, Adam lagi agak sibuk."
"Adam, tunggu dulu! Jangan diputus!"
"Ada apa lagi, Bu? Ini acaranya mau dimulai..."
"Acara apa?"
Hening sejenak. Adam tidak langsung menjawab, membuat Mirna makin bingung.
"Bukan... bukan acara apa-apa, Bu. Sudah dulu ya!"
"Dam, ini Ridwan mau pinjam uang 5 juta buat SPP Lina!" seru Mirna terburu-buru.
"Minta sama Amira dulu, Bu. Uang Adam kan semuanya di Amira."
"Kata Amira sudah tidak ada!"
"Udah dulu ya, Bu, nanti disambung lagi!" Tut... tut... tut... Sambungan diputus sepihak oleh Adam.
Saat Mirna hendak meletakkan ponselnya, hidungnya mendadak menangkap bau sangit yang menyengat. Asap tebal mulai mengepul dari arah dapur.
Ia berlari ke dapur dan menemukan wajan di atas kompor sudah mengeluarkan asap hitam. Mi instan di dalamnya nyaris berubah menjadi arang.
"Soniaaaaaaaaa!" teriak Mirna histeris.
Sonia keluar dari kamar dengan santai. "Apaan sih, Bu? Teriak-teriak terus?"
"Ini kamu masak mi kenapa ditinggal sampai gosong begini?!"
"Astaga, Bu! Aku lupa... Aku langsung mandi tadi," sahut Sonia tanpa rasa bersalah.
"Bereskan sekarang!"
"Ah, sama Ibu saja deh... Nanti tanganku hitam-hitam. Kalau tanganku kasar, nanti tidak dapat menantu kaya!" tolak Sonia lalu ngelosor pergi.
Sambil menggerutu dan mencaci maki Amira, Mirna terpaksa membersihkan wajan gosong itu sendiri. Ia bahkan harus memasak mi baru untuk ganjal perut. Hampir dua tahun lamanya Mirna tidak pernah menyentuh dapur karena Amira selalu melayaninya bak ratu.
Pagi yang kacau tanpa kehadiran Amira membuat kepala Mirna mau pecah. Ia mengirim pesan singkat pada Adam: [Kamu harus beri pelajaran keras sama Amira!]
Selesai makan mi, Mirna berniat rebahan di sofa. Namun, suara derum mobil terdengar berhenti di halaman depan. Mirna membuka pintu dan melihat Ridwan turun dari mobilnya. Anak laki-laki kebanggaannya itu tampil rapi dengan kemeja kantor, terlihat gagah dan mapan.
"Bu, bagaimana? Uangnya sudah ada belum?" tanya Ridwan langsung menyalimi ibunya.
"Si Amira itu ya... malah kabur subuh-subuh! Pusing Ibu!" omel Mirna.
Wajah Ridwan seketika meredup, memasang raut sedih yang dibuat-buat. "Ya sudahlah kalau begitu... Biar Lina aku pindahkan saja ke sekolah biasa. Biar dia tidak usah jadi cucu kebanggaan Ibu lagi."
"Jangan begitu, Wan! Tunggu dua hari lagi ya, pas Adam gajian..." bujuk Mirna panik.
"Si Amira itu keterlaluan sekali sih!" ketus Ridwan berakting kesal. "Dia itu pasti punya banyak tabungan, Bu. Lagipula ingat ya, Bu, uang gajiku kan habis untuk bantu-bantu rumah juga dulu. Jadi sudah sewajarnya Amira dan Adam bantu keluarga kita sekarang!"
"Iya... seharusnya memang begitu..." gumam Mirna terpengaruh.
Ridwan melirik perhiasan yang melingkar di leher ibunya. "Bu... aku pinjam kalung emas Ibu dulu deh. Mau aku gadaikan sebentar. Ibu tidak mau kan Lina menangis gara-gara tidak boleh ikut ujian?"
Dengan menggemeretakkan gigi dan berat hati, Mirna melepaskan kalung emas di lehernya. "Ini... pakai dulu. Tapi kamu harus ganti ya nanti!"
"Minta gantinya sama Adam saja nanti ya, Bu!" jawab Ridwan santai sambil menyeringai puas.
Ia bergegas pergi meninggalkan rumah. Begitu sampai di dalam mobil, ponsel Ridwan berdering. Nama istrinya, Lusi, tertera di layar.
"Mas, nanti sore aku sama teman-teman mau jalan-jalan ke Bali nih... Gimana? Uang jajan buat aku sudah ada belum?" tanya Lusi di ujung telepon.
Ridwan tersenyum lebar. "Ada, Sayang... Ini aku mau gadaikan kalung Ibu."