NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:47.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​

​Restoran Sunda berkonsep saung lesehan di atas kolam ikan itu terasa begitu menenangkan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma terapi kayu mentah dan keharuman rempah-rempah yang menggugah selera. Dari kejauhan, gemericik air kolam serta kibasan ekor ikan koi berukuran besar memberikan ketenangan alami, sangat bertolak belakang dengan ketegangan yang baru saja terjadi di kantor pusat distributor bahan bangunan milik Husna satu jam lalu.

​Husna melangkah anggun menyusuri jembatan kayu kecil, dibimbing oleh seorang waitress menuju saung paling ujung yang lebih privat. Di sana, Rafli sudah duduk menunggu. Pria itu mengenakan kemeja katun berwarna biru navy yang digulung rapi hingga siku. Wajahnya yang matang memancarkan aura kedewasaan yang hangat.

​Saat melihat Husna mendekat, Rafli berdiri dengan senyuman ramah yang tulus. "Selamat siang, Husna. Syukurlah kamu bisa datang."

​"Selamat siang, Rafli. Maaf ya kalau menunggu agak lama, jalanan di sekitar kawasan distributor tadi lumayan padat," jawab Husna seraya menduduki kursi kayu berlapis bantalan empuk di seberang Rafli.

​"Tidak masalah sama sekali, Na. Aku juga baru sampai sepuluh menit yang lalu," balas Rafli lembut. Ia memberi isyarat kepada pelayan untuk menyajikan teh melati hangat dan hidangan khas Sunda yang sudah ia pesan sebelumnya gurame terbang, sambal terasi dadak, lalapan segar, serta tumis kangkung yang asapnya masih mengepul.

​Setelah pelayan meninggalkan saung dan membiarkan mereka dalam suasana privat, Rafli menatap Husna dengan binar mata yang dipenuhi simpati mendalam. Keheningan sejenak mengudara, diisi oleh desir angin dan gemericik air.

​"Husna..." suara Rafli mengalun rendah dan hangat. Tangannya terangkul di atas meja. "Sebelum kita mengobrol lebih jauh, aku ingin menyampaikan ini secara langsung... Aku turut berduka cita ya, Na, atas masalah perceraianmu dengan mantan suamimu."

​Husna agak tertegun sejenak. Namun, senyuman tipis nan matang perlahan terukir di bibirnya. Tidak ada raut wajah patah hati atau kerapuhan di sana; yang ada hanyalah ketenangan seorang wanita yang sudah berdamai sepenuhnya dengan takdir.

​"Terima kasih, Rafli," jawab Husna tulus. "Tapi kamu tidak perlu merasa enak atau sungkan. Buatku, perceraian ini bukan musibah, melainkan pintu kebebasan. Rumah tangga itu sudah lama runtuh dari dalam. Justru setelah berkasnya resmi diproses dan seluruh ikatan bisnis dengannya diputus total, hatiku dan hidup anak-anak terasa jauh lebih lapang."

​Rafli mengangguk pelan, memahami kekuatan emosional wanita di hadapannya. Ia sangat tahu betapa tangguhnya Husna sejak zaman kuliah dulu. Husna bukanlah tipe wanita yang mudah menyerah pada keadaan.

​"Aku mengerti," tutur Rafli lembut. "Kamu wanita yang hebat, Na. Sejak dulu kamu memang selalu punya cara untuk berdiri tegak di atas kakimu sendiri. Tapi tetap saja, mendengarnya secara langsung membuatku prihatin. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih baik daripada apa yang pernah kamu lewati."

​"Alhamdulillah, sekarang aku sudah sangat bahagia bersama Devan dan Deka," balas Husna tersenyum hangat. Ia meraih cangkir tehnya, menghirup aromanya sebentar sebelum meminumnya perlahan.

​Husna meletakkan cangkirnya kembali, lalu menatap Rafli dengan pandangan penasaran yang sudah lama terkubur.

​"Oiya, Rafli... kalau boleh jujur, aku sering bertanya-tanya. Ke mana saja kamu selama ini setelah miskomunikasi besar di antara kita puluhan tahun lalu?" tanya Husna dengan nada santai tanpa penghakiman. "Setelah wisuda dan kita berpisah jalan, kamu seolah hilang ditelan bumi. Aku bahkan sempat mengira kamu sengaja memutus komunikasi total dari semua teman-teman angkatan kita."

​Rafli terkekeh pelan, menyenderkan punggungnya pada kursi jati saung. Tatapannya menerawang jauh ke masa lalu, mengingat lembaran-lembaran kenangan yang sempat membeku.

​"Aku tidak kemana-mana, Na. Aku tetap di Jakarta, membangun karier di bidang konsultan properti dan konstruksi dari nol," cerita Rafli dengan nada jujur. "Tapi jujur saja... alasan utama kenapa aku seolah menghilang dan tidak berani mencarimu lagi selama bertahun-tahun adalah karena keputusanmu sendiri saat itu."

​Kening Husna berkerut halus. "Keputusanku?"

​Rafli menatap mata Husna lurus-lurus, ada seberkas senyum tipis yang sarat akan nostalgia di wajahnya.

​"Kamu ingat tidak, Na? Beberapa bulan setelah aku menikah dulu, kamu tiba-tiba mengambil keputusan drastis. Kamu memblokir nomor teleponku, menghapus kontakku, dan meminta teman-teman kampus untuk tidak lagi memberikan info apa pun tentangmu kepadaku."

​Husna agak tersentak. Ingatan masa mudanya mendadak berputar kembali seperti pita kaset tua. Wajahnya merona halus karena merasa agak canggung.

​"Rafli... soal itu..."

​"Aku ingat betul momen itu, Husna," potong Rafli dengan suara yang sangat lembut, tanpa ada rasa dendam sedikit pun. "Saat itu aku sempat kaget dan bingung. Tapi setelah aku renungkan, aku sadar betul alasan di balik tindakanmu. Kamu melakukan itu demi menghormati rumah tanggaku, kan? Kamu takut keberadaanmu atau komunikasi kita yang terlalu dekat justru akan memicu kesalahpahaman antara aku dan almarhumah istriku."

​Husna menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. Rasa lega mengalir di dadanya karena Rafli memahami niat tulusnya di masa lalu.

​"Iya, Rafli. Kamu benar," aku Husna jujur. "Waktu itu aku tahu almarhumah istri murni memiliki perasaan yang sangat peka. Aku tidak ingin menjadi benalu atau benih masalah dalam rumah tangga kalian yang baru dibangun. Bagi wanita, komunikasi suaminya dengan sahabat perempuan masa lalu terlebih yang pernah memiliki kedekatan emosional bisa jadi hal yang sangat sensitif. Aku memilih mundur dan memblokir nomormu bukan karena aku benci, tapi karena aku ingin rumah tanggamu baik-baik saja dan harmonis."

​Rafli tersenyum haru. Pengorbanan dan batas tegas yang dibuat Husna puluhan tahun lalu adalah bukti betapa tingginya martabat wanita itu.

​"Aku tahu, Na. Dan jujur, aku sangat menghargai kebaikan hatimu itu," ujar Rafli tulus. "Tapi tahu tidak apa yang ironis? Padahal setelah aku menikah pun, aku tidak pernah berniat macam-macam. Aku bahkan tidak sering menanyakan kabarmu ke teman-teman karena takut merusak ketenangan hidupmu yang waktu itu juga sudah berkeluarga dengan Bian. Kita sama-sama saling menjaga jarak demi menghormati pasangan masing-masing, sampai akhirnya jarak itu benar-benar menjadi tembok besar yang membuat kita kehilangan kontak belasan tahun."

​"Ternyata kita sama-sama terlalu canggung ya," sahut Husna seraya tertawa kecil. Tawa anggun yang membuat suasana semakin cair dan hangat.

​"Sangat canggung," tambah Rafli tertawa. "Tapi aku tidak pernah melupakanmu, Na. Setiap kali aku melewati daerah Cikini dan melihat toko kue semprong wijen itu, aku selalu teringat padamu. Setiap kali melihat mawar putih, aku teringat betapa anggunnya sahabatku yang dulu selalu sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Rasa hormat dan kagumku padamu tidak pernah berkurang sedikit pun."

​Kata-kata Rafli terasa begitu tulus dan menyejukkan. Tidak ada gumpalan kepura-puraan atau intensi tersembunyi seperti yang selalu ditunjukkan Bian selama ini. Di hadapan Rafli, Husna merasa dihargai secara utuh sebagai seorang manusia dan wanita yang berhak dihormati.

​"Terima kasih banyak ya, Rafli," ucap Husna lembut. "Mendengar penjelasannya sekarang membuat semua ganjalan miskomunikasi masa lalu rasanya hilang begitu saja. Aku senang sekali bisa kembali berbincang tenang seperti ini denganamu."

​"Aku juga, Husna. Rasanya seperti menemukan kembali bagian dari masa muda kita yang sempat hilang," balas Rafli dengan binar mata yang hangat. Ia lalu meraih sendok dan garpu. "Nah, sekarang mari kita nikmati makan siangnya sebelum dingin. Dari tadi bau gurame terbang ini sudah menggoda sekali."

​"Silakan, Rafli. Selamat makan," ujar Husna ramah.

​Mereka pun menikmati makan siang bersama diiringi obrolan-obrolan ringan mengenai perkembangan anak-anak mereka. Rafli menceritakan tentang Dita dan Tita yang semakin mandiri, sementara Husna menceritakan ketegasan Devan dan Deka yang kini menjadi pelindung utamanya di kantor dan di rumah.

​Di bawah naungan saung yang sejuk dan riak air kolam yang menenangkan, benang persahabatan yang sempat rekah puluhan tahun lalu kini terajut kembali dengan begitu indah. Tanpa rasa canggung, tanpa bayang-bayang luka masa lalu, hanya ada kehangatan dua jiwa yang saling menghormati dan siap menyambut masa depan yang lebih terang.

1
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍
susi ana
aku geli sama istilah "niat jantan" dr Rafli..... lucu banget 😂
falea sezi
wahh uda end ternyata si bapak durjana
Noey Aprilia
Akhir tragis buat sng pngkhianat....
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
blcak areng: terima kasih Kak
total 1 replies
Muft Smoker
ceritanya seperti biasa ,,
bagus dan banyak pelajaran ny
Muft Smoker
waaah udh tamat kak ,,

yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,

terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,,
karya terbaru ny udh msuk list aq ,,
total 2 replies
Muft Smoker
kn emnk udh jdi ibu ny kak 🤭🤭😁😁🫰
T🥀007
lanjut
Nieta Poedjo
kartu hitam = black card
bukan
kartu hitam black card
Nieta Poedjo
katanya berhijab, kok ada kalimat anak rambut?
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
Muft Smoker: 👌👌👌👌😁😁😁😁
total 3 replies
Noey Aprilia
Buah ksbaran husna d msa lalu,akhrnya ktmu jg dgn kbhgiaan...
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
Noey Aprilia
Mkin meranalh nnti sng mntan...
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
Muft Smoker
semangat truuus kak ,,

lanjuut kak ,,

akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
Muft Smoker
kak sbnrnya yg kk sypa ,, Dita tita atau Devan deka ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,
Rahmawati Amma
awalnya ceritanya menarik tapi setelah aku baca sengaja loncat di bagian bab 38an aku udah malas bacanya pada hal aku ingin melihat bian menderita dan husna walaupun janda tapi berkelas dan tambah sukses tak taunya kawin lagi jadi malas baca soalnya bosan yg cerita cerai tapi kawin lagi😔😮‍💨
Rahmawati Amma
maaf thor saya ke luar dari novelmu paling malas klu ceritanya gini awalnya saya emang suka ceritanya tapi melihat babnya saya langsung berhenti ku kira ngak bakalan kawin lagi soalnya anaknya udah pada remaja tak tahunya malahan kawin lagi sama aja mantan suaminya gila s***n## kukira habis cerai dia akan menjadi lebih sukses dan menjadi janda elegan tak taunya gini ceritanya maaf thor aku keluar maaf tidak beri bintang full😔😢🙏
Muft Smoker
laki2 kayak pak Rafli 1 banding 100000000 ,, bnr2 langka ,,
Rahmawati Amma
pembalasan berkelas🤣🤣🤣
Noey Aprilia
D saat yg lain lbh suka pmer hrta dmi pujian,tp mas rafli lbih mmilih k tnah suci dmi niat yg suci jg....salut plus mkin mnghormati dia krna skapnya...
Nieta Poedjo
ooooo gitu tho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!