Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Topeng yang Terbuka
Gema suara berat Rendy yang mengudara lewat mikrofon emas bagaikan petir yang membelah keheningan Grand Ballroom. Di bawah kilauan lampu sorot putih yang menyilaukan, setelan jas tuxedo berbalut aksen benang sutra Siberia emas yang membalut tubuh tegapnya tampak memancarkan kilau keagungan yang tiada tanding. Kerah jasnya melingkar sempurna di lehernya yang kokoh, mempertegas garis wajah tegap dan ketampanan dingin seorang penguasa sejati.
Di barisan depan panggung, Ibu Rosma mendadak memegangi dadanya. Pandangannya kabur, tubuhnya yang terbalut gaun mahal terhuyung ke belakang hingga harus ditahan oleh Hendra yang juga gemetaran hebat.
"Re... Rendy...?" bisik Rosma dengan bibir gemetaran, suaranya serak dan nyaris tak terdengar di antara gemuruh tepuk tangan para tamu elit. "Tidak mungkin... Ini tidak mungkin! Dia cuma kuli miskin! Dia cuma sopir sewaan!"
Dion memegangi kepalanya dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar menatap lurus ke atas panggung. Seluruh penganiayaan, makian, dan tuduhan pencuri yang pernah ia lontarkan kepada Rendy berputar kembali di benaknya bagaikan mimpi buruk yang mengerikan. Pria yang jam tangannya pernah ia klaim secara palsu, pria yang diusir di tengah derasnya hujan tanpa uang sepeser pun... kini berdiri di atas takhta tertinggi sebagai pemilik tunggal Pradipta Group.
"Mas Hendra..." desis Dion dengan wajah pucat pasi bak mayat, "kita... kita sudah menghancurkan diri kita sendiri..."
Hendra tidak mampu menyahut. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Seluruh kebanggaan atas perusahaan dan kekayaannya yang selama ini ia pamerkan di depan keluarga Rosma hancur berkeping-keping. Pria yang dianggapnya sebagai benalu melarat ternyata adalah raksasa yang selama ini memegang tali kekang atas hidup dan mati bisnisnya.
Sementara itu, Clarissa berdiri kaku di tempatnya. Gaun backless merah marun yang membungkus erat siluet tubuhnya terasa kian melekat ketat.
Mata bening Clarissa yang sembap mengunci sosok Rendy di panggung. Aura dominan dan wibawa mutlak yang dipancarkan Rendy malam ini begitu dahsyat, membentangkan jarak ratusan tingkatan di antara mereka. Pria itu bukan lagi suaminya yang bersahaja, melainkan seorang raja yang siap menuntut balas atas setiap luka yang diterimanya.
Melihat Rendy yang begitu perkasa dan tak tersentuh di bawah pendar benang emas jas mewahnya, sebuah getaran asing yang amat hebat mendadak merayap naik dari dasar dada Clarissa.
Pemandangan Rendy dalam balutan kekuasaan penuh itu menyalakan desir panas yang menggelora di perut bawah Clarissa. Persendian lututnya mendadak melentur lemas, dadanya naik turun dengan terengah-engah halus saat ingatan fisik akan sentuhan mantan suaminya mendadak membakar kesadarannya.
Ia teringat bagaimana bibir dominan Rendy menyesap bibirnya di parkiran beberapa jam lalu, teringat bagaimana jemari tegap Rendy mencengkeram tengkuknya dengan kepemilikan mutlak. Desir panas di perut bawahnya kian memuncak saat bayangan Rendy menguasai tubuhnya di atas ranjang berbaur dengan ketegasan sang Presdir malam ini. Kehangatan, dominasi, dan daya pikat fisik Rendy terasa begitu memabukkan hingga membuat Clarissa merinding hebat di tengah ribuan mata yang memandang.
Mas Rendy... bisik Clarissa dalam hati, meremas jemarinya sendiri di depan dada. Jadi ini alasan di balik semua ketenanganmu selama ini...?
Di atas panggung utama, Rendy menyapukan pandangannya yang dingin ke seluruh penjuru ballroom. Senyum tipis berhias kejam terukir anggun di sudut bibirnya yang tegap.
"Malam ini," ujar Rendy seraya menyesuaikan posisi mikrofonnya, suaranya mengalun tenang namun memancarkan daya tekan yang luar biasa, "Pradipta Group secara resmi mengumumkan pengambilalihan penuh atas seluruh aset strategis, lini manufaktur, dan jaringan usaha kecil menengah di kota ini."
Para pengusaha papan atas dan wartawan media bisnis sibuk mengambil gambar, kilatan lampu kilat kamera menyambar-nyambar ke arah panggung.
"Banyak yang bertanya," lanjut Rendy dengan nada santai namun tajam, "mengapa Pradipta Group begitu bermurah hati mengucurkan dana investasi sebesar seratus miliar rupiah untuk menyelamatkan sebuah entitas bisnis yang hampir punah dan dililit utang."
Ibu Rosma dan Hendra seketika menahan napas. Keringat dingin mengucur deras di pelipis mereka.
Rendy perlahan mengangkat tangan kanannya. Lengan jas berbenang emas Siberia itu terangkat anggun, lalu jemari tegap Rendy terulur lurus... menunjuk tepat ke arah keluarga Rosma yang berdiri mematung di tengah aula pesta.
"Jawabannya sangat sederhana," tutur Rendy dengan senyuman dingin yang membuat bulu kuduk keluarga Rosma berdiri seketika. "Karena saya ingin memastikan... orang-orang yang pernah membuang batu di tengah jalan, menyaksikan sendiri bagaimana batu itu hancur menjadi debu di bawah pijakan kaki saya."
Kata-kata dingin yang meluncur dari bibir Rendy menggantung mematikan di udara Grand Ballroom. Sorot lampu utama yang tadinya terpusat di panggung mendadak bergeser cepat, menembakkan pendar cahaya putih terang tepat ke arah tempat keluarga Rosma berdiri.
Seketika, ratusan pasang mata pengusaha papan atas, konglomerat, dan wartawan berpaling serentak. Bisik-bisik keheranan memecah keheningan pesta mewah tersebut. Kamera para jurnalis berkilat-kilat tanpa henti, mengarahkan lensa mereka ke wajah-wajah pucat Rosma, Dion, dan Hendra.
Ibu Rosma menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan yang gemetaran hebat, tak sanggup menahan rasa malu yang amat dahsyat. Tatapan merendahkan dari para tamu VIP menghantam kesombongannya bak cambukan bertubi-tubi. Wanita yang biasanya paling lantang mencaci maki Rendy di depan tetangga itu kini menyusut bagaikan cacing yang terinjak.
"Perhatikan wajah-wajah itu," suara Rendy kembali mengudara melalui pengeras suara, tenang namun sarat akan kehancuran mutlak bagi korbannya. "Mereka adalah contoh nyata dari keserakahan yang membutakan mata. Mereka menjaminkan seluruh sisa harga diri dan aset mereka hanya demi selembar kertas investasi dari Pradipta Group."
Hendra tertunduk dalam-dalam, dadanya sesak oleh penyesalan yang tak tergambarkan. Dion meremas jasnya sendiri dengan napas memburu, meratapi kenyataan bahwa pria yang dulu ia suruh membersihkan sepatunya kini memegang tali jerat di leher keluarganya.
Di tengah sorotan lampu kilat dan pandangan menghina dari seluruh isi ruangan, Clarissa tetap berdiri tegap meski tubuhnya gemetar hebat. Gaun backless merah marun yang membalut tubuhnya seolah menjadi sasaran utama dari tatapan dingin sang Presdir dari atas panggung.
Rendy perlahan menurunkan tangannya. Manik matanya yang gelap dan pekat mengunci wajah Clarissa yang basah oleh genangan air mata.
"Dan untuk wanita yang pernah menukar cintanya demi kepatuhan buta pada keluarga yang salah..." ujar Rendy rendah, pandangannya menguliti rasa bersalah Clarissa dari jarak jauh. "Saksikanlah bagaimana istana pasir yang selama ini kamu banggakan runtuh tanpa sisa."
Clarissa menahan napasnya, air mata meluncur deras membasahi pipi mulusnya. "Mas Rendy..." bisiknya tanpa suara, tenggorokannya begitu kering hingga rasanya terbakar.
Rendy membalikkan badannya di atas panggung tanpa memedulikan ratapan bisu mantan istrinya. Ia melangkah anggun menuju area belakang panggung VIP, diiringi oleh Asisten Bagas dan Siska yang mengekor penuh hormat. Gemuruh tepuk tangan kembali memenuhi ballroom, menyambut penguasa baru yang telah menancapkan kekuasaan mutlaknya di kota tersebut.
Di area koridor VIP yang sepi, Siska melangkah mendekati Rendy seraya menyodorkan segelas champagne kristal.
"Selamat atas pengumuman panggung Anda, Tuan Presdir," tutur Siska dengan suara rendah memikat. Matanya berbinar kagum melihat keanggunan dan dominasi tanpa celah dari pria di hadapannya. "Keluarga itu kini benar-benar berada di telapak tangan Anda."
Rendy menerima gelas tersebut, menyesap sedikit minumannya tanpa mengubah raut wajahnya yang membeku. "Ini baru awal, Siska. Menghancurkan status sosial mereka hanyalah langkah kecil. Aku ingin melihat seberapa jauh keserakahan Rosma dan Dion akan membawa mereka ke lubang kehancuran yang lebih dalam."
Sementara itu, di lantai utama ballroom, kerumunan tamu mulai menyebarkan bisik-bisik sinis. Ibu Rosma tidak sanggup lagi bertahan di bawah tatapan merendahkan para konglomerat. Dengan napas terengah-engah dan langkah kaki yang hampir terseret, wanita tua itu berlari kecil meninggalkan ruangan pesta, disusul oleh Hendra dan Dion yang menunduk malu.
Clarissa berjalan paling belakang dengan langkah gontai. Saat ia melewati lorong keluar menuju pelataran parkir hotel, matanya menangkap bayangan tegap Rendy yang berdiri di lantai dua mezzanine, menatapnya dari kejauhan dengan dingin.
Desir panas yang menyiksa di perut bawah Clarissa belum sepenuhnya reda, berbaur dengan kepedihan mendalam atas penyesalan yang terlambat. Ia menyadari bahwa pria yang pernah berlutut memasangkan sepatu di kakinya yang lelah kini telah menjadi raja yang tak akan pernah bisa ia jangkau lagi.