NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menggoda

"Kamu hamil?"

"Ha? Enggak, Ma."

"Kok enggak? Emangnya belum—"

Liya menghentikan ucapannya dan melirik Affandy.

"Sudah, Ma. Mungkin memang belum rezekinya."

Hulya menatap Affandy. Ada sedikit kebahagiaan di hatinya mendengar ucapan pria itu. Ia berharap suatu hari nanti Affandy benar-benar mau jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

"Mama kira Hulya hamil. Makanya kalian nggak datang."

"Mas Affan sibuk kerja."

"Kalau dia sibuk kerja, terus kamu ngapain? Sendirian di rumah?"

"Hulya juga kerja, Ma."

"Kamu kerja?"

Liya terlihat heran. Tatapannya kembali beralih kepada Affandy. Dari ekspresinya, jelas ia kurang menyukai kenyataan bahwa menantunya membiarkan Hulya bekerja.

"Jadi, Mas Affan sebenarnya melarang Hulya kerja. Tapi karena Hulya bosan di rumah, Hulya tetap memaksa," kata Affandy, berbohong. "Mas Affan bahkan sudah berkali-kali datang ke tempat kerja Hulya. Dia mau Hulya berhenti, tapi Hulya nggak mau."

"Hulya... Nggak baik, tahu, membantah ucapan suami."

"Tapi Hulya bosan, Ma."

Liya mengembuskan napas lega. Ia hampir saja salah paham terhadap menantunya.

"Papa mana?"

"Papa kamu hari ini ke Jakarta. Ada pekerjaan di sana."

"Lho, kalau tahu begitu, lebih baik kita tunggu Papa, dong, Sayang."

Hulya tersenyum ke arah Affandy. Satu kata romantis yang selama ini ia tunggu-tunggu akhirnya keluar juga dari mulut suaminya.

"Berapa hari beliau di sana, Ma?"

"Nggak lama. Sekitar dua atau tiga hari. Tergantung pekerjaannya."

"Mama senang banget. Bahagia karena kamu akhirnya datang."

"Ini semua karena Mas Affan. Dia rela mengambil cuti supaya Hulya bisa ke sini."

"Serius?"

"Iya, Ma."

Lagi-lagi Affandy terkejut mendengar ucapan istrinya. Ia merasa terharu sekaligus bersalah. Hulya rela berbohong demi membuat keadaan menjadi lebih baik untuknya.

Sementara itu, Hulya memang memiliki rencana sendiri. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sedang berpihak kepadanya. Selama berada di rumah orangtuanya, ia akan berusaha mengambil hati Affandy.

"Terus pekerjaan kamu nggak terganggu?" tanya Liya.

"Ada Papi sama Abang di sana."

"Terima kasih, ya, Nak. Kamu sudah membawa putri Mama pulang."

"Nggak usah begitu, Ma. Itu memang kewajiban Andy. Mempertemukan Mama dengan Hulya lagi."

"Mama bangga sama kamu, Affan. Kamu tahu cara membahagiakan Hulya."

Dalam hati, Affandy merasa semakin bersalah. Bukan hanya kepada orangtuanya sendiri, ia juga telah berbohong kepada orangtua istrinya.

"Kalian istirahat dulu sana. Pasti capek, kan?"

"Hulya?" Affandy menoleh.

"Ayo."

[] [] []

Affandy sudah berbaring di atas ranjang, sementara Hulya sedang membereskan barang-barang yang mereka bawa.

"Affan."

"Hmm?" Pria itu masih fokus pada layar ponselnya.

"Aku boleh tanya sesuatu nggak?"

"Apa?"

Hulya menoleh ketika sedang memasukkan pakaian ke dalam lemari. "Emangnya kamu sudah menyentuh aku?"

Affandy langsung meletakkan ponselnya. "Maksud kamu apa?"

"Tadi kamu bilang sama Mama kalau—"

"Aku bohong," potong Affandy.

Hulya menahan senyum. Ia merasa lucu dengan tingkah suaminya.

"Kamu harus ingat. Aku nggak akan menyentuh kamu."

"Serius? Kok aku nggak percaya, ya."

"Kalau kamu nggak percaya, itu urusan kamu."

Hulya kemudian mendekati ranjang. Ia menatap Affandy dengan senyum tipis.

"Jujur aja."

"Ju-jujur apa? Kamu nggak usah mimpi. Aku nggak akan menyentuh kamu sampai kita cerai."

"Hei ... Nggak baik ngomong begitu." Hulya menyentuh bibir Affandy dengan jarinya. "Allah marah kalau mendengar kata itu."

"Kamu ngapain, sih?"

"Lho, salah aku dekat-dekat sama suami sendiri?"

"Aku bukan suami kamu."

Hulya menurunkan tangannya. Jari-jarinya kemudian menyentuh leher Affandy hingga pria itu terlihat semakin gugup.

"Hulya..." lirih Affandy.

Hulya terus menggoda pria itu hingga Affandy kehilangan kesabarannya. Dalam sekejap, posisi mereka berubah dan Hulya kini berada di bawah tubuhnya.

"Affan ... Lepasin tangan aku."

Kedua pergelangan tangan Hulya sudah ditahan Affandy. Napas pria itu terdengar berat.

"Lepasin."

"Kamu yang pancing aku, Hulya."

"Affan, aku mohon."

Affandy terdiam beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan tangan wanita itu. Ia segera bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar. Jika terus berada di sana, ia takut tidak mampu mengendalikan dirinya.

"Aku akan membuat kamu jatuh cinta sama aku."

Hulya Anindita tersenyum penuh semangat.

Selama mereka berada di rumah itu, ia merasa memiliki kesempatan untuk membuat Affandy perlahan jatuh ke dalam pelukannya.

[] [] []

Malam itu, keluarga mereka berkumpul di ruang tamu sambil menonton televisi. Affandy berusaha bersikap semesra mungkin kepada istrinya, terutama karena kedua orangtua Hulya berada di sana.

"Berapa lama kalian di sini?" tanya Liya.

Hulya meletakkan telapak tangannya di atas paha Affandy. Pria itu langsung terkejut ketika merasakan tangan istrinya bergerak pelan.

"Hulya ngapain, sih?" batinnya.

"Nggak tahu, Ma. Tergantung sama suami Hulya," jawab wanita itu. "Gimana, Mas?"

"Ha? Gimana apanya?"

Affandy tidak fokus. Perlakuan Hulya benar-benar membuatnya gelisah.

"Kenapa?" tanya Hulya.

"Mungkin sekitar satu mingguan," jawab Affandy.

"Memangnya nggak apa-apa? Kamu malah meninggalkan pekerjaan. Nanti abang kamu repot lagi."

"Argh... Hulya ngapain, sih?"

"Nggak kok, Ma."

Affandy langsung berdiri. "Eumm ... Aku mau ke kamar dulu, Ma."

"Ya sudah. Pasti masih capek, kan? Mama maklum."

Hulya tersenyum kecil. Dalam hati, ia kembali menyusun rencananya. "Aku akan pastikan kamu yang memintanya sendiri."

"Papa sendirian ke sana, Ma?"

"Iya. Katanya rekan kerjanya itu teman lamanya."

"Oh..."

Hulya mengangguk pelan.

"Hulya."

"Kenapa, Ma?"

"Kalian sudah periksa?"

"Periksa apa?" tanya Hulya bingung.

"Eumm ... Mama takut saja kalau kamu belum hamil. Nanti apa kata mertuamu?"

"Enggak, kok, Ma. Mami juga nggak pernah membahas itu."

"Belum. Tapi mungkin besok-besok."

"Mama tenang saja. Hulya sama Mas Affan sehat-sehat aja."

[] [] []

Hulya masuk ke kamar setelah beberapa jam mengobrol dengan orangtuanya. Sekilas, ia dan Affandy saling berpandangan. Wanita itu melihat Affandy seperti sedang gelisah. Ia kemudian mendekati suaminya dengan tatapan khawatir.

"Affan, kenapa?"

"Aku nggak apa-apa. Kamu sana, jangan dekat-dekat."

"Kamu sakit?" tanya Hulya. "Kok keringat dingin?" Hulya mengusap kening pria itu.

Affandy segera menepis tangannya. "Kamu nggak usah pegang aku."

"Oke."

Hulya berjalan menuju meja rias. Ia duduk di sana sambil menatap suaminya melalui pantulan cermin.

"Aku tahu, Affan. Kamu pasti menginginkannya. Aku akan membuat malam ini kamu mengakui semuanya."

Hulya menyisir rambutnya ke samping. Kemudian ia membiarkan rambut panjangnya jatuh ke depan, memperlihatkan leher jenjangnya.

Dari pantulan cermin, Hulya melihat Affandy beberapa kali mencuri pandang.

"Sampai kapan kamu akan bertahan, Affan?"

Sesekali Hulya bergerak pelan, membuat Affandy semakin gelisah.

"Ayo, Affan. Akui saja. Jangan gengsi terus."

Hulya membelai tengkuknya sendiri. Hal itu membuat Affandy semakin tidak nyaman.

"Hulya!" Suara Affandy terdengar seperti teguran.

"Apa, Sayang?" tanya Hulya.

"Kamu ngapain, sih?"

"Aku ngapain?"

"Kalau mau menyisir rambut, ya sudah. Nggak usah gerak-gerakin badan begitu." Affandy menghela napas.

"Kan bukan lagi senam."

"Terserah aku, dong. Kok kamu malah marah?"

Affandy bangkit dari tempat duduknya. Sekilas Hulya melihat pria itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

"Lho, kok dia malah keluar?"

Hulya mengerutkan kening. "Gagal."

Ia kembali duduk sambil menghela napas.

"Dia pasti mau menghubungi Tiffany."

1
azzura faradiva
Thor..., please pemain perempuannya jgn di bikin lemah/menye².harus ambil sikap tegas menghadapi suami durjana macam dia,cerai aja udah!!!!
Mardzan J.: sabar sabar, baru juga beberapa part
total 1 replies
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!