Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketraumaan Mutiara
Sebuah mobil hitam terhenti didepan sebuah tempat pemakaman umum. Galih turun dari kendaraan roda empat itu seraya membawa sebuah buket bunga mawar putih ditangannya.
Tujuannya datang ketempat ini untuk berkunjung ke sebuah makam yang berada di ujung sana. Masih dikota yang sama, Galih memakan waktu sekitar dua jam demi bisa sampai ketempat dimana wanita tercintanya itu istirahat dengan tenang.
Dan bunga mawar putih itu yang berada ditangannya saat ini adalah bunga favoritnya. Setiap berkunjung, Galih selalu membawa bunga yang terlihat kalem itu.
Pria itu tidak datang seorang diri, Ada satu orang pria yang telah menunggunya disana. Pria itu adalah seorang pria yang Galih tugaskan membersihkan makam Anjani, Wanita yang ia cintai itu sampai detik ini.
"Tuan.." Galih tersenyum tipis, Pria yang bernama Yusuf itu memberikan jalan untuk pria yang telah banyak membantunya. Galih melewati Yusuf mendekati makan Anjani kemudian berjongkok dihadapan makam tersebut.
Makam itu terlihat sangat bersih, Tak ada satupun kotoran yang hinggap. Karena setiap hari, Yusuf selalu datang ke makam ini untuk membersihkan makam Anjani.
Galih juga membangunkan rumah untuk Yusuf serta keluarganya yang letaknya tak jauh dari makam ini.
Galih meletakkan buket yang ia bawa dibatu nisan itu. Sebelah tangannya terangkat mengusap baru nisan yang tertera nama Anjani Rahayu dihadapannya.
"Assalamualaikum sayang, Apa kabar?" Ucap Galih. Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya.
Kacamata hitam yang bertengger dihidungnya seolah menyembunyikan fakta bahwa dia sedang bersedih sekarang. Andai saja dulu dia tidak meninggalkan istrinya ini mungkin saja sampai sekarang Anjani masih hidup.
"Sayang, Aku datang.. Maaf ya, Aku lama gak mengunjungi kamu.. Akhir-akhir ini aku sibuk banget. Ini sekarang aku sempatkan waktu buat datang.. Karena aku kangen banget sama kamu, hiks.. " Galih membuka kacamata hitamnya. Air mata yang menetes tadi semakin deras mengalir membasahi pipinya.
Dibelakangnya, Yusuf memundurkan langkahnya secara perlahan. Dia tak ingin mengganggu komunikasi Tuannya ini dengan sang istri tercinta.
"Kamu tahu gak? Aku tinggalin putri kita dirumah sakit demi bisa datang kesini. Aku kesini mau minta maaf sama kamu. Aku, Aku gak bisa jaga putri kita. Aku minta maaf sayang.." Suaranya mulai serak. Galih begitu merasa bersalah dengan mendiang istrinya ini. Dia tak mampu menjaga putrinya sampai-sampai Mutiara diculik dan hampir dilecehkan serta mengalami trauma.
"Andai kamu masih hidup, Aku pasti akan lakukan apapun asal kita bisa hidup bahagia bersama.. Tapi takdir justru berkata lain.. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama.." Walaupun Galih dan Anjani beda kehidupan sekarang. Tapi tetap saja, dalam hati pria itu hanya ada Anjani seorang.
Ddrrttt...
Galih segera menghapus air matanya. Dia meraih benda pipihnya kemudian mengangkat panggilan yang ternyata dari Ghazi.
"Halo...
"Papa, Ini Tiara...
"Apa sayang..
"Papa dimana?
"Papa lagi diluar sebentar, Kenapa? Kamu mau sesuatu?
"Pa, Aku mau dessert. Tapi Papa yang buat, Bisa?
"Bisa dong.. Kalau gitu kamu tunggu disitu dulu ya.. Biar Papa bikinin.."
"Okey Papa...
Galih kembali memasukan benda pipihnya kedalam jas. Pria itu tersenyum..
"Sayang, Aku pamit pulang dulu.. Kapan-kapan aku kesini lagi.." Galih berdiri, Dia melihat Yusuf yang masih berdiri disana.
" Yusuf...
"Saya, Tuan..
" Boleh aku numpang membuat dessert dirumahmu?
"Boleh Tuan, Mari..."
Galih mengangguk. Pria paruh baya itupun pergi meninggalkan makam Anjani. Dia akan mampir kerumah Yusuf untuk membuat dessert pesanan putrinya.
Entahlah, Pria itu malas ingin pulang. Sudah tahu sendiri kan kalau dia pulang pasti akan diserang dengan berbagai banyak pertanyaan terutama dari Diandra.
...****************...
Dirumah sakit tempat Mutiara dirawat saat ini. Ghazi baru saja selesai membeli makanan dikantin yang telah tersedia disana.
Sebenarnya sejak tadi Ghazi merasakan lapar, Hanya saja pria itu tahan karena menunggu Mutiara tidur lebih dulu. Mental gadis itu sedang tidak baik-baik saja, Mutiara harus dipulihkan secara perlahan agar rasa takut dan traumanya itu hilang.
Usai mengisi perutnya, Ghazi kembali masuk kedalam ruang rawat gadis cantik itu. Betapa terkejutnya Ghazi ketika ia melihat Mutiara tidak ada diatas ranjangnya melainkan ada dipojok ruangan dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Mutiara!!" Ghazi segera mendekat. Mutiara duduk dengan memeluk lututnya. Kepala gadis itu sembunyikan dibalik lututnya tubuh yang masih bergetar hebat.
Ingatan ketika dia berada ditoilet, Lalu datanglah tiga orang bertopeng masuk kemudian membiusnya membuatnya tidak sadar.
Bayang-bayang dia yang hendak dilecehkan pun kembali dia ingat. Mutiara merasa takut, Dia takut pergi kemanapun apalagi ditinggal sendirian seperti tadi.
Dia sempat tidur namun mimpi buruk tiba-tiba saja hadir. Dan ketika ia terbangun, Mutiara tidak melihat siapapun disana. Hanyalah Mutiara seorang diri saja..
"Mutiara, Dek,.." Ghazi berjongkok didekat tunangannya itu. Sebelah tangannya terangkat menepuk pelan pundak gadis itu.
"Dek.. Ini Mas..
"Pergi!
"Dek..
"PERGII!!
Praakk!!
"Awwwss..."
Ghazi memejamkan matanya. Ia menyentuh keningnya yang tiba-tiba saja berdarah akibat pukulan dari gadis itu.
Niat hati ingin menenangkan Mutiara yang ketakutan. Kepalanya justru dihantam dengan vas bunga oleh Mutiara. Pukulan itu cukup keras membuat kepala Ghazi terluka. Vasnya pun pecah menjadi berkeping-keping. Sungguh tangan Mutiara secepat kilat meraih vas yang letaknya tak jauh darinya itu.
Beruntung vas nya berukuran kecil sehingga walaupun luka kepala Ghazi tidak terlalu parah.
"M.. Mas.. Mas Ghazi terluka.." Ucap Mutiara dengan gemetar. Ia mulai sadar kalau dia telah membuat kesalahan..
Ghazi tersenyum, Ia menggelengkan kepalanya. Tak dapat dipungkiri bahwa dia sedikit pusing sebenarnya. Namun pria itu harus tahan karena Mutiara juga terluka..
Tangan gadis itu menggenggam erat pecahan vas membuat tangannya berdarah.
"Mas.. Maaf, Aku... Aku gak sengaja.. Aku.."
"Sstt... Udah gapapa. Sekarang lepas pecahan Vasnya, Ya?. Tangan kamu terluka.." Dengan perlahan Ghazi meminta Mutiara agar membuka tangannya. Pria itu tidak peduli dengan luka di keningnya. Yang penting Mutiara lebih dulu..
"Kita bangun, Di obati dulu tangannya.." Mutiara mengangguk, Dia menurut apa kata putra Abi Rafa itu.
Pria angkat tubuh ramping itu kedalam gendongannya lalu membawa Mutiara kembali keatas brangkar.
"Mas..
"Aku panggil dokter dulu ya.. Luka kamu harus diobati.." Ghazi segera pergi memanggil dokter. Seperginya Ghazi, Mutiara melihat tangannya yang terluka itu..
Rasa takut akan ingatannya terhadap kejadian yang telah menimpanya membuat Mutiara tidak sadar. Ia menggelengkan kepalanya..
Tidak! Dia harus lawan rasa takut ini.. Dia tidak boleh lemah. Karena kalau dia lemah orang-orang itu semakin merasa diatas awan.
Ghazi kembali masuk kedalam ruang rawat bersama Dokter serta satu perawat. Dokter berhijab tersebut mulai melakukan pemeriksaan terhadap Mutiara dibantu oleh satu perawat.
"Biar saya obati dulu tangannya.." Ucap Dokter wanita seraya mengobati luka ditelapak tangan Mutiara. Gadis itu hanya diam saja, Sementara perawat yang ikut membantu dokter tadi mendekati Ghazi.
"Mas nya juga terluka, Sini biar saya obati.." Katanya dengan tersenyum manis. Ghazi menatap dingin perawat itu..
"Mana obatnya.. Saya bisa mengobatinya sendiri.."
"Eum.. Tapi..." Ghazi langsung merebut kotak obat yang perawat itu pegang. Ghazi lebih memilih mengobati luka di keningnya seorang diri saja daripada disentuh oleh perawat yang menurutnya genit itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Udah mendingan?" Mutiara mengangguk tersenyum. Matanya tak lepas menatap Ghazi yang begitu perhatian padanya.
"Mas..
"Iya, Kenapa?
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Ucapnya. Dulu selain Papanya Mutiara masih punya sandaran dengan punya sahabat yang sayang dan selalu peduli padanya. Sekarang dia selalu merasa sendiri. Dia lupa segalanya terutama rasa sakit ini.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti. Jadi jangan khawatir." Tanpa keduanya sadari, Galih berdiri dan melihat keduanya. Pria itu melihat dessert yang baru saja ia buat itu khusus untuk putrinya.
Tidak ingin mengganggu waktu berdua antara putri dan calon menantunya. Galih memilih untuk mundur dulu.
"Semoga dia adalah pria yang baik dan bisa membahagiakan putriku...
•
•
•
TBC
lanjut thor ditunggu kelanjutannya, semangattttt💪💪