NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

beban batin

1 jam berlalu... keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar yang remang itu. Desir angin siang di luar terasa asing, kontras dengan atmosfer berat yang tertinggal di dalam ruangan. Di atas ranjang, ningsih mulai kembali memakai pakaian nya dengan gerakan yang lambat dan kaku, membetulkan satu per satu kancing kemejanya yang sempat terbuka.

Namun dilantai dia sedikit melihat bercak merah.. Noda kecil yang kontras di atas lantai kayu itu bagai sebuah tanda permanen atas keputusan nekat yang baru saja diambilnya. Ningsih pun mengambil saputangan yg tersimpan di saku bajunya dan mengelap itu.. Dengan teliti dia membersihkan sisa penyerahan dirinya, memastikan tidak ada bukti yang tertinggal di sana.

"Mas karsa.. hanya ini yg bisa aku berikan padamu..." kata ningsih yg masih mengatur rambutnya yg sedikit acak acakan.. Suaranya terdengar lirih, perpaduan antara rasa sedih yang mendalam namun juga ada sedikit nada kepuasan karena berhasil merebut hak atas tubuhnya sendiri dari cengkeraman perjodohan sang ayah.

Ningsih melangkah mendekati Karsa yang masih terpaku di tepi ranjang. Dia mengulurkan saputangan putih yang kini telah ternoda itu ke tangan Karsa.

"Mas aku pamit dulu..." kata ningsih..Dia berbalik menjauh dari ranjang. Dia pun pulang dengan berjalan sedikit tertatih karna ada sesuatu yg mengganjal..

Rasa perih dan tidak nyaman menjalar di tubuhnya, bekas pergumulan yg hebat disiang itu...

yang merenggut segalanya dari dirinya.

Ningsih melangkah keluar dari rumah tua itu, menyusuri jalanan desa dengan memikul rahasia yang teramat besar.

Sementara karsa... dia tidak bergerak sedikit pun dari posisinya sejak Ningsih beranjak.

Dia masih syok... Otaknya masih lumpuh memproses rentetan peristiwa gila yang baru saja menimpanya dalam waktu singkat. Ditangannya ada selembar sapu tangan putih yg ada bercak kesucian dari ningsih...

Kain tipis itu terasa begitu berat dan panas di dalam genggamannya.

Dia pun bertanya dalam hatinya.. menatap nanar ke arah pintu kamar yang kini telah kosong.

Bagaimana ini.. Apakah yg ku lakukan salah..?

Perang batin berkecamuk hebat di dalam kepalanya. Sisi moralitasnya berteriak bahwa ini adalah kekeliruan besar, namun logika bertahan hidupnya kembali mengingatkan ancaman teriakan Ningsih yang bisa menghancurkan sisa hidupnya dalam sekejap. Ketakutan akan dituduh sebagai pemerkosa dan amukan massa desa masih membayangi pikirannya.

Hah hah hah hah nafas karsa masih memburu.. Dadanya naik turun dengan cepat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Karsa terjebak dalam pusaran trauma psikologis dan kepasrahan yang mendalam. Kamar itu kini terasa semakin sempit, mengurung dirinya bersama noda merah di saputangan dan masa depan yang kian abu-abu.

Namun... di tengah deru napasnya yang belum teratur, karsa dikejutkan oleh ketukan pada pintu depan rumahnya. Ketukan itu terdengar santai, sangat berbeda dengan ketukan panik Ningsih satu jam yang lalu.

Jantung Karsa mencelos. Karsa langsung bangkit dan memakai kembali pakaian nya dengan tergesa-gesa. Sementara sapu tangan itu dia simpan dibawah templat tidurnya, menyembunyikannya jauh di sudut dalam agar tidak ada satu orang pun yang bisa melihat bukti pergumulan siang itu.

Karsa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan ekspresi wajahnya sebelum membuka pintu kayu rumahnya.

"Eh kamu bud," kata karsa, sedikit lega begitu melihat sosok sahabatnya yang berdiri di teras.

"Hehe ia .. eh kamu lagi ngapain.." tanya budi, matanya sedikit menyipit melihat pelipis Karsa yang agak berkeringat.

"Habis ketiduran aku bud.. Soalnya bingung juga.. Belum ada panggilan," kata karsa, langsung memasang alasan instan tentang keresahannya menunggu lowongan kerja agar Budi tidak menaruh curiga.

"Hehe padahal aku kesini juga mau nanyain itu," kata budi sambil melangkah masuk setelah Karsa memberi ruang.

"Haha ayo masuk dulu.. Bikin kopi sana, biar kita santai..." cetus Karsa mencoba mengalihkan suasana agar dirinya bisa menenangkan sisa syok di kepalanya.

Budi yang sudah menganggap rumah Karsa seperti rumah sendiri langsung melenggang menuju dapur dengan santai. Tak lama budi pun membawa 2 gelas kopi panas yang asapnya mengepul ke udara, meletakkannya di atas meja ruang tamu.

"Nih bud," kata karsa. Dia merogoh kantong dan menyodorkan 1 bungkus kretek berbungkus kuning yg ada 5 bintang ke hadapan Budi.

Mata Budi langsung terbelalak girang melihat bungkus rokok tersebut. "Widihhhh barang langka ini!" kata budi takjub.

Karsa tersenyum tipis, mencoba mengimbangi banyolan sahabatnya. "Bukan nya langka bud, cuma harganya saja," kata karsa.

"Haha ya langka bagi kita," kata budi sambil terbahak, langsung menyalakan sebatang kretek mahal tersebut dengan cekatan.

Mereka pun tertawa, membiarkan asap rokok mencairkan ketegangan di dalam rumah tua itu. Namun, tawa Budi tidak bertahan lama. Raut wajahnya mendadak berubah serius, mematikan rokoknya sejenak ke asbak. Budi kembali membuka percakapan dengan nada suara yang direndahkan.

"Eh sa.. kamu sudah denger kabar??"

Karsa menatap cangkir kopinya, menahan gejolak di dadanya.

"Apa 'an bud.."

"Si ningsih pacarmu.."

"Ia apa'an bud," tanya karsa, berpura-pura tidak tahu demi menutupi kejadian gila yang baru saja terjadi di kamar belakangnya satu jam lalu.

Budi menghela napas panjang, menatap Karsa dengan pandangan iba. "Tadi malam juragan bowo keumah ningsih, dan mereka sepakat anaknya pa bowo menikah dengan ningsih..

"Padahal ... karsa sudah tau semuanya langsung dari mulut Ningsih yang menangis di rumah ini. Namun demi teman dan demi menyembunyikan kenyataan bahwa dia baru saja merenggut kesucian Ningsih, karsa langsung tertunduk lesu. Dia harus memainkan peran sebagai pemuda miskin yang patah hati karena kalah bersaing dengan SUV putih milik Joni.

"Yah beginilah bud..." kata karsa lirih, menatap lantai semen dengan pandangan kosong. Budi hanya bisa menepuk pundak sahabatnya itu, mencoba memberikan kekuatan yang dia sendiri tahu tidak akan banyak membantu.

Namun saat saat kritis itu, di tengah suasana ruang tamu yang mendadak diselimuti mendung kesedihan, hp karsa mendadak berdering di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nomor asing yang tidak dikenal.

Karsa mengernyitkan dahi, lalu menggeser tombol hijau ke telinganya. "Halo,"

Sebuah suara formal dan tegas dari seorang wanita di seberang telepon terdengar sangat jelas di indra pendengarannya.

"Selamat sore, apakah ini dengan saudara

SALMAN PRAKARSA?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!