Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Sosok lain di ruangan itu perlahan muncul dari balik kegelapan di mana hanya tempat Damian saja yang tersorot cahaya matahari.
Sosok itu terlihat tua, tapi masih berdiri gagah meskipun wajahnya telah di makan usia. Pakaiannya terlihat serba hitam dengan sorban batik hitam melingkar di kepalanya.
Pria itu ikut menatap keluar di mana tatapan Damian tertuju. Lalu tersenyum kecil. “Dia gadis ceria dan baik hati, cantik dan juga auranya sangat bersih. Kamu tega membuat aura dia suram?“ tanya pria itu lalu perlahan-lahan menoleh menatap pada mata Damian yang kini berwarna hitam.
“Jangan sentuh dia, kau hanya perlu membersihkan rumah ini dari kotoran dan debu sesuai perintahku sebelumnya. Sisanya itu urusanku,” suara dingin dan dalam membuat suasana di ruangan itu makin dingin lagi namun pria tua itu malah tertawa dengan keras seolah-olah mengejek ucapan Damian.
“Kekuatanmu memang sangat kuat, dan aku mengakui hal itu, tapi….saranku jangan terlalu dekat dengannya atau kau akan benar-benar hilang untuk selama-lamanya. Ku lihat juga aura gadis itu bersih dan tentu saja wangi…” pria itu terdiam sejenak lalu menatap ke arah rumah Cindy lagi. “Yaaah meskipun jika ada kau, cecunguk itu tak akan bisa mendekati gadis itu,” lanjutnya lagi sambil melirik ke arah belakang pagar rumah Cindy yang ternyata di sana ada rawa-rawa dan di atasnya banyak makhluk dengan rupa dan bentuk beraneka ragam yang memenuhi tempat itu dan ingin menerobos masuk ke rumah Cindy.
“Cecunguk-cecunguk itu tahu mana mangsa yang lezat,” pria tua itu terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya pada pilar kayu yang tampak kokoh. “Gadis itu tinggal sendiri di rumah peninggalan kolonial yang penuh rongga gaib. Tanpa perlindungan, dia sudah habis sejak tahun lalu. Beruntung baginya, kau memilih bangun tepat waktu, Tuan Muda Van der Van.”
Damian tidak bergeming. Tatapannya masih terkunci pada jendela dapur di seberang sana, di mana siluet Cindy sesekali terlihat bergerak lincah, ditemani bayangan pria lain yang tidak lain tidak bukan adalah Mahen. Rahang Damian mengeras. Kilatan hitam di matanya perlahan memudar, kembali menampilkan warna biru samudra yang dingin sekaligus mematikan.
“Aku tidak membutuhkan saranmu, Ki Renggo,” sahut Damian, suaranya mengalun rendah namun bergetar hebat penuh penekanan. “Urus saja bagianmu. Jaga perbatasan rawa itu. Jika ada satu saja dari makhluk-makhluk kotor itu yang berani melompati pagar rumah Cindy, aku sendiri yang akan mencabik jiwamu hingga tak bersisa.”
Ki Renggo, seorang dukun perekayasa bangunan yang disewa secara rahasia untuk menjembatani wujud fisik rumah itu dengan dimensi mistisnya, menunduk sedikit. Setengah patuh, setengah waspada. “Tentu, Tuan. Kontrak darah kita masih berlaku. Tukang-tukang manusia yang di depan itu hanya kedok agar mata gadis itu tidak curiga. Tapi, bagaimana dengan pemuda yang di dalam sana? Pemuda hidup itu... dia memiliki jimat pelindung kecil di dompetnya. Itulah kenapa dia bisa merasakan aura beringin milikmu.”
Mendengar hal itu, Damian membalikkan badannya lambat. Jubah gaibnya berdesir tanpa suara. “Mahendra tidak lebih dari sekadar lalat yang mengganggu. Dia mengira dia bisa menjaga Cindy? Manusia lemah seperti dia bahkan tidak akan tahu apa yang mencabut nyawanya di tengah malam.”
“Kau cemburu?” Ki Renggo memprovokasi dengan berani, senyum ompongnya tersungging di bawah kumis putihnya yang tebal. “Seorang bangsawan Belanda dari abad ke-19, mati mengenaskan di tanah jajahan, kini cemburu pada anak muda zaman sekarang yang membawa motor bising?”
BUM!
Mendadak suara dentuman keras terdengar, pintu lemari ek tua di sudut ruangan mendadak terbanting keras hingga engselnya patah, padahal tidak ada angin yang berembus di dalam ruangan remang itu. Membuat suhu udara merosot tajam hingga uap putih keluar dari sela-sela bibir Ki Renggo yang bernapas.
“Jaga bicaramu, orang tua,” desis Damian. Sosoknya mendadak bergeser cepat bukan melangkah, melainkan berpindah tempat dalam sekejap mata hingga kini wajah pucatnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ki Renggo. Tatapan matanya begitu kosong dan memancarkan keputusasaan yang pekat. “Aku tidak cemburu. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dua puluh tahun aku terkekang di bawah tanah ini, dan gadis itu... setiap malam dia menyeduh kopi, merajut selimut, dan mengeluh kesepian. Dia memanggilku lewat kesepiannya, Ki. Jiwanya selaras dengan nisan yang terkubur di bawah rumah ini.”
Ki Renggo menelan ludah dengan susah payah, merasakan hawa kematian yang begitu mencekik dari energi Damian. “Baik, baik... saya mengerti, Tuan Muda. Tapi ingat, siang ini pemuda itu akan berada di sana sampai larut. Energi manusianya yang hangat bisa memicu gejolak di rawa belakang. Saya harus memperkuat pasak gaib di sudut pagar.” ujarnya mencari alasan lain agar bisa menjauh dari sosok kuat itu.
“Lakukan,” perintah Damian dingin, mundur selangkah dan membiarkan sosoknya kembali perlahan menyatu dengan remang ruangan. “Dan pastikan para pekerja manusia itu pulang sebelum matahari terbenam. Sisa malam ini... adalah milikku dan Cindy.”
Sementara itu, di dapur rumah Cindy, suasana terasa jauh lebih hangat dan hidup. Aroma sup ayam yang kaya akan rempah kapulaga dan pala memenuhi ruangan, beradu dengan tawa renyah Mahen yang sedang lahap menyantap perkedel kentang kedua di piringnya.
“Gila, Cin! Sup lo gak pernah gagal. Ini bener-bener penyeamat hidup gue yang masuk angin gara-gara semalem begadang,” ujar Mahen sambil menyeka sedikit kuah di sudut bibirnya dengan tisu.
Cindy tersenyum senang, namun pikirannya agak melayang. Ia menatap piring kosong yang tadinya ia siapkan untuk Damian. “Eh, Hen... lo tadi pas parkir motor, sempat lihat tetangga sebelah gue gak?”
Mahen mengunyah perkedelnya lebih lambat, dahinya mengernyit berpikir sejenak. “Tetangga baru lo? Pria bule yang lo ceritain itu? Kagak ada. Cuma ada bapak-bapak tukang lagi ngaduk semen di depan gerbangnya. Emang kenapa?”
“Tadi gue samperin ke rumahnya, niatnya mau ngajak sarapan bareng kita,” jawab Cindy pelan, jemarinya memainkan ujung taplak meja. “Tapi dia nolak. Pas gue sebut ada lo, mukanya langsung berubah drastis gitu. Dingin banget, katanya dia gak suka tempat bising.”
Mahen meletakkan sendoknya, ekspresi jenakanya berubah sedikit serius. Ia menatap Cindy dengan pandangan menyelidik. “Cin, gue bukannya mau berprasangka buruk ya. Tapi dari pertama lo cerita soal si Damian-Damian ini... gue ngerasa ada yang aneh. Kompleks kita ini kan komplek tua, jarang ada orang asing tiba-tiba beli rumah kolonial segede gaban gitu sendirian, terus langsung akrab sama lo.”
“Dia gak aneh, Hen. Dia cuma... yah, pembawaannya emang kaku kayak bangsawan lama. Mungkin kultur di Belanda sana beda,” bela Cindy, meskipun di dalam hatinya ia juga mengingat betapa pucatnya kulit Damian dan bagaimana wangi bunga kenanga selalu mengikuti pria itu.
“Kultur apa kultur,” cibir Mahen, berusaha mencairkan suasana meskipun bulu kuduknya sendiri mendadak meremang saat melirik ke arah jendela samping yang menghadap rumah Damian. “Pokoknya lo harus tetap hati-hati. Nanti siang pas kita edit video di studio, pintu depan jangan dikunci rapat. Biar kalau ada apa-apa, gue bisa langsung bertindak. Oh ya, ngomong-ngomong... lo ngerasa bau bunga gak sih dari tadi? Kayak bau kenanga kuburan gitu.”
Cindy tertegun. Ia menghirup udara di dapur, dan benar saja, wangi kenanga itu kembali mengalir pelan lewat celah pintu belakang, padahal matahari sudah meninggi di langit timur.