Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta baru
Ali masih sibuk mematut diri dengan cermin, bukan karena dia tidak percaya diri dengan penampilannya, melainkan karena tidak ingin terlihat jelek di depan calon istrinya dan juga di depan anggota keluarga Fatma nanti.
Malam ini, dia akan bertamu ke rumah Fatma sebagai bentuk dari menjalin tali silaturrahmi.
"Kakak akan berangkat sekarang?" tanya Nisa memasuki kamar kakaknya dengan tongkat walker sebagai penunjuk jalan.
"Iya, ini sudah hampir jam tujuh. Kamu jangan khawatir. Mungkin kakak hanya akan pergi selama satu jam jika tidak ada halangan di jalan. Jadi, kamu baik- baik di rumah ya" pesan Ali singkat namun terkandung makna yang dalam.
Sebenarnya Ali sempat mengajak Nisa untuk ikut dengannya ke rumah Fatma, tapi adiknya itu menolak ikut di karenakan merasa tidak enak dia datang di kunjungan pertama Ali ke rumah calon istrinya, apalagi dia buta. Sungguh rasanya tidak akan nyaman nantinya
"Baik kak. Kak Ali tenang saja, Insha Allah aku akan baik- baik saja di rumah"
"Oh ya, mungkin kakak akan shalat isya di masjid nanti, jadi jangan tunggu kakak untuk shalat berjamaah oke," kata Ali yang kini memandang dalam wajah Nisa. Adiknya sudah mulai terlihat bahagia kembali setelah bercerai dengan Rangga walau kini dunianya gelap, tapi rasanya itu lebih baik dari pada Ali harus melihat mata adiknya sembab oleh air mata tiap harinya. Mata yang tidak bisa melihat jauh lebih baik daripada mata yang terus-terusan mengeluarkan air mata karena harapan pada manusia yang tidak sampai.
"Oke Bos..." jawab Nisa tersenyum
"Baiklah, kakak pergi sekarang. Kamu hati- hati sendirian di rumah." Ali kembali memperingatkan sang adik sembari mengusap pelan kepala Nisa yang berkerudung. Setelahnya dia mengecup pelan dahi Nisa dan melangkah pergi kearah mobilnya. Lalu mulai melajukan mobilnya menjauh untuk menuju tujuannya Rumah Fatma. Sedang Nisa yang kini tinggal sendirian selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan kakaknya itu.
🍀🍀🍀
Setelah perjalanan kurang dari dua puluh menit , akhirnya Ali sampai di pekarangan rumah Fatma. Dirinya merasa begitu gugup karena ini pertama kalinya Ali memasuki rumah Fatma yang hanya di huni oleh Fatma dan adiknya. Kedua orang tuanya Fatma sudah lama pergi. Fatma yatim piatu sama sepertinya.
"Assalamualaikum" salam pembuka Ali haturkan. Tidak lama kemudian terdengar balasan salam dari dalam dan pintu pun terbuka menampilkan Fatma yang terlihat cantik dengan pakaiannya yang sopan. Fatma sudah bersiap untuk menyambut calon suaminya itu.
Tanpa ragu Fatma mempersilahkan Ali masuk ke dalam rumahnya. Fatma juga bersegera memanggil sang adik untuk berkenalan dengan calon suaminya.
"Dek, ayo keluar. Tamu Kakak sudah datang!" seru Fatma dengan suara yang cukup untuk terdengar sampai kamar adiknya. Tak lama kemudian seorang wanita muda tampak keluar dari sebuah kamar dan menghampiri mereka.
"Mas Ali, kenalkan, ini Adikku. Namanya Tiwi," ujar Fatma memperkenalkan saudarinya. Ali dengan perlahan memandang wanita yang berdiri di depannya. Matanya langsung terbelalak, dirinya terpaku
"Aku Tiwi Aurelia, salam kenal Kak." Tiwi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya kearah Ali. Sedang Ali masih terpaku memandang wajah Tiwi. Dia dengan jelas mengenal wanita itu.
"Saya Aliandra, panggil saja Ali. salam kenal." jawab Ali hanya menunduk sedikit tanpa menyambut uluran tangan Tiwi.
"Kenapa Kak Ali tidak membalas uluran tanganku?" tanya Tiwi bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ali.
"Itu karena aku menghormatimu sebagai wanita. Seorang pria muslim haram hukumnya bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya tanpa lapisan." jelas Ali singkat yang nyatanya itu tidak berlaku apabila dia berjabat dengan Fatma. Ali sebenarnya punya alasan sendiri kenapa tidak mau berjabat tangan dengan Tiwi. Ada rasa tidak suka darinya pada Tiwi. Dan kebetulan saja hukum islam memang mempunyai aturan seperti itu. Tapi sekali lagi, bukan hukum dan aturannya yang salah, Ali saja yang terlalu munafik dan dia sendiri pun mengakui itu.
Tiwi yang mendengar penjelasan singkat itu terdiam dan kembali menarik uluran tangannya. Dia memandang wajah tampan Ali. Wajah yang terlihat dewasa dan mapan.
'Pria ini begitu sempurna' batinnya masih memperhatikan Ali walau Fatma sudah mengajak mereka ke meja makan.
Ali memandang takjub barisan makanan yang tersedia di meja makan begitu mereka sampai.
"Wah, banyak sekali makanannya. Apa kamu memasak semuanya?" tanya Ali. Fatma hanya tersenyum malu dalam anggukan dan itu sudah cukup sebagai jawaban tanpa Fatma perlu mengeluarkan suara. Lalu ketiganya mulai menduduki kursi, bersiap untuk makan dan yang terjadi selanjutnya adalah Ali selalu memuji-muji masakan Fatma dan mereka juga saling suap-suapan.
"Oh ya, Kak Ali punya saudara tidak?" tanya Tiwi berusaha andil dalam pembicaraan saat dia hanya dianggap obat nyamuk oleh pasangan itu.
"Saya punya dua saudara." jawab Ali singkat
"Mas Ali punya dua adik perempuan, salah satunya sedang menempuh pendidikan di Belanda" jelas Fatma yang menjawab. Tiwi terkejut mendengarnya hingga hampir tersedak.
"Pendidikannya beasiswa atau mengurus sendiri?" Tiwi mulai merasa penasaran dengan sosok pria di depannya sekarang. Kakaknya Fatma sering menceritakan tentang calon suaminya pada dirinya, dan baru kali ini Tiwi bertemu langsung dengan sosok mengagumkan yang selalu diceritakan kakaknya itu.
"Sebenarnya Anita siswa yang pintar namun kurang diperdalam dan soal biaya pendidikannya, Insyaallah saya yang mengurus semuanya" jawab Ali yang kembali membuat Tiwi terpana.
"Pekerjaan Kak Ali sebenarnya apa?" tanya Tiwi lagi semakin penasaran dan semakin tertarik pada pria tampan yang dewasa di depannya.
Fatma memandang sang adik dengan kesal. Bagaimana dia bertanya tidak sopan seperti itu pada calon suaminya.
"Ya Alhamdulillah, saya menjalankan sebuah perusahaan properti kelas menengah peninggalan almarhum ayah saya"
"Kelas menengah apanya? Kemarin Mas ali membuka cabang di Cina dan bulan lalu di London" sahut Fatma cepat walau dia cukup kesal dengan pertanyaan adiknya sebelumnya yang seakan sedang menginterogasi Ali tentang segala seluk beluk kehidupannya.
"Itu kan hanya cabang kecil. Lagian cabang yang di London juga bantuan dari temanku, Jimmy" tambah Ali memandang Fatma lembut. Tiwi masih terpana dan berusaha menutupi wajahnya yang terkagum-kagum pada Ali
"Oh ya! Kamu sekarang bekerja atau sekolah?" tanya Ali pada Tiwi berusaha untuk bersikap biasa saja walau dirinya ada rasa tidak suka pada wanita yang akan segera menjadi adik iparnya itu.
"Aku bekerja sebagai Pelakon teater. Sebenarnya aku bercita- cita jadi artis." jawab Tiwi antusias saat Ali mulai bertanya padanya
"Oh iya Kak Ali! Adik kakak yang satunya lagi kenapa tidak diajak kemari?"
"Dia tunanetra. Dia hancur setelah memberi semua pada mantan suaminya," kata Ali memandang intens wajah Tiwi. Wajah wanita yang dicintai mantan adik iparnya yang membuat adiknya hancur.
"Kamu jangan bertanya tentang calon suami kakak terus. Kamu sendiri bagaimana dengan Rangga? Kapan dia akan melamarmu?" tanya Fatma yang membuat Ali memandang wajah calon istrinya itu.
"Rangga..." gumamnya tidak percaya Fatma mengenal pria itu. Tapi gumamannya itu terdengar lain bagi Fatma. Dia berpikir Ali penasaran tentang siapa itu Rangga.
"Iya, dia kekasihnya adikku. Mereka sudah menjalin hubungan selama 5 tahun dan sampai sekarang Rangga belum memberikan keputusan pasti hubungan mereka." jelas Fatma dengan tenang dan lancar.
"Lima tahun. Jadi Nisa sudah terluka selama 5 tahun." batin Ali tidak percaya
"Kami sudah berpisah Kak. Sudah tiga minggu kami tidak mengetahui kabar masing-masing." jawab Tiwi yang kembali membuat Ali terkejut. Jadi selama ini Tiwi tidak tahu kalau Rangga mengalami kebutaan setelah kecelakaan dan dia juga sudah bercerai dengan Nisa.
"Apa maksudmu? Bagaimana kalian bisa pisah" tanya Fatma lagi cukup bingung dengan jawaban sang adik.
"Dia mencintai wanita lain dan aku tak bisa bersamanya lagi" ujar Tiwi menundukkan kepalanya ragu.
"Tidak, kalian sudah menjalin hubungan selama 5 tahun, bagaimana bisa kalian berakhir begitu saja? Tidak, kakak tidak ingin kamu menyerah. Satu-satunya yang membuatnya berakhir adalah dia sudah menjadi suami wanita lain. Selama itu belum terjadi, kamu masih punya kesempatan" kata Fatma yang kembali membuat Ali terkejut. Jadi, selama ini Fatma tidak tahu kalau Rangga sudah menikah dan wanita yang menjadi istri pria sialan itu adalah adiknya, Nisa.
'Rangga dan Tiwi benar- benar pandai menyembunyikan keadaan dan fakta' batin Ali yang sudah dapat menyimpulkan semuanya.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean