tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Clang!
Revangga menjatuhkan sendoknya karena terkejut melihat Maxime berada di mansion tersebut.
"Jadi mansion ini milik Max? Aduh, kenapa gue gak tahu, sih!" ucap Revangga sambil mengetuk kepalanya sendiri karena merutuki kebodohannya.
Maxime yang mendengar suara benda jatuh langsung menoleh. Dia mendapati pemuda yang dikenalnya sedang duduk di meja makan.
"Revan?" Maxime menghampiri Revangga. "Kamu kenapa bisa ada di mansion Daddy saya?"
"Abang kenal dengan Kak Revan?" tanya Bian dengan mulut yang belepotan krim kue.
"Abang kenal. Kak Revan ini sahabatnya Kak Elvian," ucap Maxime. "Pacarnya Bang Max," lanjut Maxime sambil mengangguk.
Maxime kembali menatap Revangga dengan tajam. "Jawab saya, kenapa kamu bisa berada di mansion ini?"
"Cael yang bawa. Cael tidak sengaja melihat Revan tergeletak di jalan dengan bersimbah darah, jadi Cael membawanya ke sini," jelas Louis yang baru saja datang dari arah dapur. "Max kenal dengan Revan?" tanyanya kemudian.
"Kenal, Mom. Dia sahabat Elvian," jawab Maxime.
Maxime lalu menatap Revangga kembali. "Kamu sudah memberi tahu Elvian tentang keberadaan kamu di sini?"
Revangga menggeleng pelan. "Ponsel aku hilang saat kecelakaan itu, jadi aku belum bisa kasih tahu mereka."
Maxime menyodorkan ponselnya kepada Revangga. "Pakai ini. Hubungi Elvian."
Revangga mengambil ponsel tersebut lalu mencari nama kontak: Elvian.
Tut... tut...
Tak lama kemudian, sambungan telepon langsung terhubung.
"Halo, ada apa, Max?" ucap Elvian di seberang sana.
"Halo, El. Ini gue, Revangga," sahut Revangga.
"Woi! Elo kemana aja?! Kita cariin dari semalam! Terus kenapa lo bisa hubungi gue pakai ponsel Max? Jawab, Revan! Jangan diam aja!" rentetan pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Elvian.
"Satu-satu, El, nanyanya. Gue ada di mansion Max."
Revangga akhirnya menceritakan alasan dia bisa berada di mansion Maxime serta kronologi kecelakaan yang dialaminya. Elvian yang mendengar cerita itu langsung naik pitam karena ada orang yang tega mencelakai sahabatnya.
"Gue, Brian, dan Kak Tian ke sana sekarang!" tegas Elvian.
"Iya." Sambungan telepon pun diputuskan.
"Makasih." Revangga mengembalikan ponsel tersebut kepada Maxime.
Sementara itu, Brian, Elvian, dan Tian telah sampai di depan mansion mewah milik keluarga Maxime.
"Wooooo! Ini mansion apa istana? Gede banget, Bro!" puji Brian takjub.
"Kampungan. Elo kan punya mansion juga," cibir Elvian.
"Gue memang punya, tapi gak sebesar ini! Ini mah sepuluh kali lipat lebih besar dari mansion gue dan mansion lo!" balas Brian tidak mau kalah.
"Permisi, apa Tuan Max ada di dalam?" tanya Tian dengan nada sopan kepada penjaga.
"Maaf, kalian ada keperluan apa mencari Tuan Max?" tanya penjaga itu dengan tegas namun sopan.
"Ini Elvian, pacarnya Tuan Max, ingin bertemu," jawab Tian.
"Tuan Elvian, ya? Silakan masuk, Tuan Max ada di dalam," ucap penjaga itu ramah. Dia mengenali Elvian karena Maxime pernah membawanya ke mansion sebelumnya.
"Makasih, Pak."
Ketiga pemuda itu masuk sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mengagumi isi mansion yang super luas tersebut.
Di ruang tengah...
"Kakak bisa pasang lego-na?" tanya Tio cadel.
"Ini sudah Kakak pasang legonya, sebentar lagi jadi. Nah, sudah selesai!" ucap Revangga riang setelah menyelesaikan rakitan legonya.
"Wahhh! Kakak Levan hebat bica pacang lego-na!" puji Tio dengan mata berbinar-binar. "Ini lego bentuk-na apa, Kakak?"
"Bentuk pesawat," jawab Revangga lembut.
"Pesawat telbang, yeeee!" sorak Tio kegirangan.
Brian, Elvian, dan Tian yang baru masuk melihat Revangga sedang asyik bermain dengan anak kecil di ruang tengah tersebut.
"Revan!" panggil Tian.
Revangga menoleh dan mendapati Tian beserta dua sahabatnya telah datang.
"Kak, sini!" panggil Revangga.
Tian langsung menghampiri Revangga dengan panik. "Kamu baik-baik saja, kan? Gak ada luka serius? Kening kamu gak sakit lagi, kan?"
"Aku baik-baik saja, Kak. Dan ini..." Revangga menyentuh keningnya yang diperban, "...baik-baik aja, kok. Gak sakit lagi," tenangnya.
"Haaaa... Kakak khawatir banget sama kamu, Revan. Dari semalam kamu gak pulang dan susah dihubungi. Kakak lega melihat kamu baik-baik saja," ucap Tian sambil mengembuskan napas lega.
"Ponsel aku hilang, Kak, saat kecelakaan itu. Makanya aku gak bisa menghubungi kalian."
"Gue mau tanya sama lo," potong Brian serius. "Elo tahu gak siapa yang nabrak elo? Seenggaknya nomor plat mobilnya, biar gue cari pelakunya! Enak aja dia kabur gitu aja setelah menabrak lo. Bukannya dibawa ke rumah sakit, malah ditinggal!" omel Brian emosi.
"Gue gak apa-apa, Brian. Lagian gue gak tahu nomor plat mobilnya karena jalanan waktu itu gelap banget, jadi gak kelihatan," jawab Revangga.
"Gue gak terima, Revan! Untungnya elo hanya luka ringan. Coba kalau... haaaa, sial! Gue akan benar-benar cari tuh orang, awas aja! Kalau ketemu, gue jadiin rempeyek tuh orang!" ucap Brian dengan napas naik-turun menahan amarah.
Tap... tap... tap...
"Loh, ada tamu? Elvian, kok gak bilang ke Mom kalau mau ke sini? Kan Mommy bisa buatkan kue kesukaan Elvian," ucap Louis yang baru saja lewat.
"Gak usah, Mom, takut merepotkan. Lagian aku ke sini cuma mau menjemput Revan," jawab Elvian. Louis pun mengangguk paham.
Namun, pandangan Louis beralih kepada seorang pemuda yang terlihat kesal dengan napas yang masih memburu.
"Dia kenapa terlihat kesal begitu?" tanya Louis kepada Elvian.
"Dia sedang kesal dengan orang yang menabrak Revangga, Mom. Soalnya pelaku kabur begitu saja," jelas Elvian.
Louis menghampiri Brian lalu menepuk pundaknya pelan. "Sabar, jangan terbawa emosi. Michael sekarang juga sedang mencari pelaku yang menabrak Revangga," hibur Louis.
"Gue hanya kesal saja, dia menabrak orang tapi kabur begitu saja tanpa bertanggung jawab," sahut Brian yang matanya masih menyalang emosi.
Brian membalikkan tubuhnya menghadap Louis dan...
Deg!
Mereka berdua seketika terpaku saat saling memandang. Ada rasa familier yang kuat ketika mata mereka saling bertemu.
"Brian?" / "Bang Louis?" ucap Louis dan Brian secara serempak.
"Brian? Kamu benar Brian?" tanya Louis memastikan.
Brian mengangguk pelan. "I-iya, Bang. Gue Brian."
Tanpa babibu, Louis langsung memeluk Brian dengan sangat erat. Air matanya tidak bisa ditahan karena dia sangat merindukan adik pertamanya ini.
"Kamu kemana aja, Brian? Abang... Abang cari kamu kemana-mana," ucap Louis dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
"Gu—aku gak kemana-mana, Bang. Abang apa kabar? Abang terlihat sehat dan tambah sexy ya," canda Brian dengan sisa energinya demi mencairkan suasana haru.
"Masih aja bercanda elo mah, Bri," sahut Elvian sambil tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya.