Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pukulan keras dari Langit, kakak kandung Bulan mendarat telak di pipi kiri Bintang, dan akhirnya jatuh tersungkur ke lantai teras, sudut bibirnya pecah hingga mengeluarkan darah segar. Tetapi rasa perih dan nyeri itu belum sebanding dengan rasa terkejut saat kakak iparnya meradang.
"Den Langit, sudah, Den!" Bibi menghalangi tubuh Bintang yang tidak berdaya dengan perasaan takut, ketika Langit ingin memukul ulang. Bibi takut kepada Langit yang sedang emosi, tapi lebih takut Bintang babak belur.
"Brengsek kamu, Bintang!" raung Langit, tangannya masih mengepal tapi terhalang tubuh bibi. Dia menahan amarah yang sudah sampai di puncak kepala. Napasnya naik-turun, matanya merah padam menatap Bintang yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Mas Langit..." Bintang meringis, memegang pipinya yang mulai membiru sembari mencoba bangkit.
"Apa loe? Mau gua hajar lagi!" Bentak Langit, maju satu langkah, hanya sekali dorongan tubuh bibi sudah menjauh. Langit mencengkeram kerah baju Bintang dan menariknya hingga berdiri sejajar.
Bintang benar-benar tidak berani berkutik dalam cengkeraman kakak ipar.
"Gara-gara loe, adik satu-satunya yang gua jaga dari kecil sekarang ini pasti sedang menanggung malu. Videonya sudah beredar luas, ini pasti ulah loe kan?!"
Langit mendorong Bintang hingga punggungnya menabrak tiang teras. Langit mengira Bintang yang sengaja merekam video itu dan menyebarkan karena tidak menyukai Bulan.
"Deeenn... tolong, jangaaannn..." bibi berteriak sambil menangis, tapi tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
"Bibi diam!" ucap Langit, melirik bibi sekilas, tapi tidak melepaskan tangannya dari leher Bintang.
"Ma-mas, bukan sa-saya yang menyebarkan video itu," jawab Bintang terbata-bata.
"Tapi loe yang merekam, bukan?!" Langit mencengkeram lebih kuat.
"Bukan, Mas. Sumpah," Bintang mengangkat dua jari.
"Loe suaminya! Harusnya jadi orang pertama yang pasang badan. Dengan kejadian ini gua benar-benar yakin jika loe menikahi Rembulan hanya akan loe jadikan baby sitter."
"Itu tidak benar Mas," Bintang menggeleng cepat.
"Seharusnya loe bergerak cepat menghapus video itu dan mencakar siapa pun yang menyebarkannya! Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu diam saja! malah membiarkan Bulan menanggung malu sendirian dan entah kemana adik gua sekarang."
"Maaf Mas, saya harus mencari Rembulan," Bintang hendak pergi, tatapan mata Langit yang penuh murka dan amarah membuat semua alasan yang ingin Bintang sampaikan mendadak tersumbat.
"Tunggu!" Bentak Langit, tangannya lagi-lagi mencekal tangan Bintang.
"Langit..."
Renata terkejut. Tas kerja yang sudah menyangkut di pundak hampir saja terlepas ketika matanya menangkap adegan memanas di depan rumah. Tanpa berpikir panjang tentang jam kampus atau rekan kerja yang akan rapat jam delapan. Dia meninggalkan tas di atas meja lalu melangkah lebar kemudian menyela di antara Langit dan Bintang.
"Langit, lepaskan Bintang!" Perintahnya cukup tegas untuk memutus ketegangan. Mami Renata berdiri tegak menatap bibir Bintang, lalu beralih ke wajah Langit anak pertamanya.
"Langit, kita bicarakan dengan kepala dingin," ujar mami. Tangan kirinya menahan dada Langit agar tidak maju lagi, sementara tangan kanannya merangkul bahu Bintang untuk menariknya menjauh dari jangkauan Langit. Selanjutnya mendorong tubuh Langit masuk ke dalam rumah, diikuti Bintang dan bibi.
"Duduk kalian," perintahnya tegas.
Langit dan Bintang akhirnya duduk berhadapan.
"Langit, semua bisa kita bicarakan dengan baik-baik. Tindakan kamu memukul Bintang seperti ini hanya akan menambah luka di atas luka. Kalau kamu bertindak pakai otot dan emosi, kamu bukannya menyelesaikan masalah, tapi justru merusak rumah tangga adikmu sendiri."
"Aku kesal Mami, adikku bukan perempuan yang tidak laku, tapi kenapa harus menikah dengan pria macam Dia?" Langit menunjuk wajah Bintang disertai emosi.
"Parahnya lagi, pria ini sudah beristri, padahal banyak teman-teman aku yang masih lajang antri ingin jadi suaminya," lanjut Langit, suaranya meninggi sesuai namanya. Ia menatap sang mami kecewa karena memberi restu tapi tidak berunding dulu.
"Dalam hal ini, bukan Bintang saja yang salah, Nak. Mentari salah karena mempunyai permintaan yang tidak masuk akal. Rembulan salah, karena menerima permintaan itu. Mami juga mengaku salah kok, karena saat itu merestui mereka." jujur Renata.
Sunyi seketika di ruang tamu, Bintang menatap kosong ke arah pintu. Yang ada dalam pikirannya kini cepat ke rumah sakit dan memastikan apakah Bulan saat ini berada di sana dan baik-baik saja. Tidak mempedulikan bibirnya yang masih terasa perih.
"Bintang..." panggil Renata, membuat tubuh Bintang secepatnya duduk tegak menatap mertuanya.
"Kemana Rembulan?" Tanyanya lembut.
"Pria macam Dia mana mungkin peduli dengan Bulan Mih, paling sibuk dengan istri pertamanya!" Sambar Langit sebelum Bintang sempat menjawab. Langit mendelik tajam ke arah Bintang lalu berpaling cepat.
"Langit..." Renata minta anaknya untuk tidak menyela.
"Tujuan saya ke rumah ini awalnya ingin menjemput Bulan Mih. Sejak malam tadi Bulan pergi dari rumah."
"Bulan pergi dari tadi malam, terus loe enak-enakan di rumah bersama istri tua loe, tanpa berpikir untuk mencarinya? Tega sekali loe! Ceraikan adik gua, gua tidak ingin Bulan sakit hati berkepanjangan!" lagi-lagi Langit memotong pembicaraan Bintang dan Renata.
Bintang benar-benar tidak mengeluarkan suara, tampak pasrah meskipun mati ditangan adik ipar.
Sementara Renata, meraup wajahnya dengan satu tangan, tidak berpikir lagi tentang riasan yang luntur.
"Langit, Mami mau bertanya pada Bintang, tolong jangan dipotong dulu, Nak," Renata menatap putranya berharap dikasih waktu untuk bicara.
Langit pun akhirnya diam, menunggu apa yang ingin mami sampaikan kepada Bintang.
"Sebenarnya siapa yang video kalian dan menyebarkan hingga membuat Bulan merasa dikucilkan, Bin?" Inilah yang ingin Renata tahu.
"Sherly adik ipar saya Mami, tapi Mentari sudah menyuruh Dia pergi."
"Satu lagi, Bintang. Semua sudah terjadi, Bulan sekarang sudah menjadi istri kedua kamu. Mami mau tanya dan jawab dengar jujur. Bulan akan kamu buat serius, atau hanya kamu jadikan pengasuh anakmu dan dokter pribadi Mentari? Jika faktanya seperti ini, ceraikan Dia," Tanya Renata menohok.
"Jujur, Mami, saya serius mencintai Bulan dan berjanji akan memperbaiki semuanya, mudah-mudahan Bulan mau memaafkan saya," Bintang menceritakan isi hatinya kepada mami.
"Jika yang kamu katakan itu benar, kamu harus bisa berpikir dewasa Bintang, tidak baik dua istri kamu tinggal dalam satu rumah, apapun alasannya."
"Saya juga sudah berpikir seperti itu Mami," Bintang menekan pelan ujung bibirnya yang berdarah, terasa ada cairan hangat, sesaat ia perhatian tangannya kemudian ambil tisue di meja tersebut untuk mengelap.
"Baiklah kalau begitu," pungkas mami, lalu memanggil bibi agar membuat minuman.
"Tidak usah Mami, saya ingin segera mencari Rembulan ke rumah sakit," pamit Bintang, ia periksa arloji di tangannya, sebentar lagi sudah waktunya Bulan masuk ke ruang periksa. Jika terlambat ia harus menunggu hingga jam istirahat siang.
"Tunggu dulu Bintang, biar Langit mengobati lukamu."
"Dih! Tidak mau Mih," tolak Langit, menatap Bintang sekilas, lalu membuang muka. "Lebih baik aku mencari Bulan Mih," lanjutnya lalu beranjak keluar.
"Saya juga berangkat, Mih..." ucap Bintang membungkuk hormat kepada mertuanya.
"Ya sudah... saling kasih kabar ya..." jawab Renata, menatap Bintang yang hanya mengangguk kepadanya lalu melangkah keluar rumah.
Renata ambil telepon menghubungi rekan-rekanya di kampus bahwa rapat hari ini ditunda hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Tentu saja Renata juga akan mencari Rembulan.
Sementara Bintang sudah tiba di teras, langkahnya berhenti saat menatap Langit yang hendak membuka pintu mobil BMW. Begitu melihat Bintang berjalan ke arahnya, Langit menarik tangannya kembali, melempar tatapan tajam ke arah Bintang.
Bintang yang tidak mau kakak iparnya ngamuk lagi, segera membuka pintu kendaraan sendiri yang diparkir bersebelahan.
"Awas, kalau adik gua sampai lecet seujung kuku pun, loe harus berhadapan dengan gua!" ancam Langit.
...~Bersambung~...
mikir bingung 🤦🤦🤦🤦
kamu masih bisa memperbaiki keadaan usir aj ibu mertua d iparmu itu mereka yg membuat semuanya jd kacau kaku kamu bisa itu juga 😏