NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Siang ini deburan ombak di sepanjang hamparan pantai pasir putih Pantai Bali, tepat di bawah langit biru yang benderang tanpa awan.

Di balik keindahan panorama itu ada sebuah penghianatan yang sedang berjalan dalam senyap.

Alina tampak begitu menikmati waktu santainya dengan tikar kain abu-abu yang di gelar di pasir putih itu.

Siang ini Alina tampil dengan tanktop rajut warna cokelat tanah yang memperlihatkan bahunya yang eksotis, bawahnya mengenakan celana pendek warna hitam pekat.

Rambutnya yang panjang yang biasanya di gerai, kini di gulung ke atas dalam Cepol kasual yang memberikan kesan memikat.

Dari belakang tubuhnya di peluk mesra oleh sesosok pria asing berkulit putih dengan rambutnya yang pirang, namanya Mister Robert.

Robert mengenakan kemeja pantai motif bunga-bunga tropis warna-warni, nampak tangannya meraba dengan nakal di dada Alina.

Sementara Alina dengan nyaman menyandarkan kepalanya di pundak kekasihnya, tanpa malu dirinya sudah bertunangan dengan Angga.

Keduanya terlihat seperti di mabuk asmara, seolah mengabaikan fakta kejam, jika Alina sudah memiliki tunangan resmi seorang perwira muda terhormat.

Robert menundukkan kepalanya sedikit, menatap lekat garis wajah manis keturunan Tionghoa-Indonesia---- Wajah Alina yang sedang menatap kosong ke arah lautan lepas.

"Are you already engaged?" ("Apakah kamu sudah bertunangan?") tanya Robert seolah menyatakan keraguannya yang selama ini mengusik hatinya.

Alina menoleh ke arah sang kekasih, sembari menyunggingkan senyum manis tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Yes, of course." ("Ya, tentu saja,") jawab Alina singkat.

Alina mengakui hubungan itu dengan Angga, baginya pertunangannya dengan Angga hanya bagian rencana orangtuanya.

Pertunangannya dengan Mayor Angga di lakukan hanya demi menjaga aliansi status sosial militer---seperti abad pertengahan.

Robert menghela napas panjang, seolah menyimpan rasa cemburu yang mendalam----tangannya semakin mengeratkan dekapannya di pundak Alina seolah tak ingin kehilangan wanita ini.

"Are we going to break up?" ("Apakah kita akan putus?") tanya Robert dengan nada lirih.

Alina hanya terdiam, tangannya membelai lembut rambut Robert yang mendekapnya.

"No," jawabnya.

"I will find a way to cancel her engagement with him." ("Aku akan cari cara membatalkan pertunangannya dengannya,") tekad Alina.

Entah mengapa kemarin malam tingkah Angga, agak berbeda. Seperti menghindarinya atau ada wanita lain, tentu Alina sebagai seorang wanita bisa merasakan apa yang Angga rasakan.

Di Jakarta, hawa panas terasa membakar kulit.

Pusat latihan tempur di kesatuan militer, nampak panas dengan sinar matahari yang menyengat sampai kulit.

Debu kering berterbangan di tanah liat saat puluhan prajurit muda tengah berlari taktis, dengan membawa senjata laras panjang di bawah pengawasan Bima dan Angga sebagai instruktur.

Di sudut lapangan tepat di depan gedung barak tentara, bercat hijau----tepat di atas meja kayu sederhana.

Di jam istirahat, Mayor Angga dan Mayor Bima tengah memeriksa sebuah file rahasia, yang di kirimkan bawahannya.

Angga dan Bima mengenakan seragam dinas lapangan, loreng malvinas yang lengkap dengan emblem kesatuan dan nametag di dadanya.

Di atas meja kayu tepat di depan keduanya, dua buah botol minum dari alumunium warna perak di letakkan di samping dua buah topi rimba loreng hijau keduanya.

Selain itu sebuah laptop warna hitam di letakkan di atasnya menyala, menampilkan rekaman video CCTV yang di kirimkan pihak hotel.

Layar laptop menampilkan gambaran CCTV hitam-putih, rekaman terlihat jelas siluet tubuh Angga mengenakan kaos hijau army dan celana pendek warna navy.

Tangannya mencengkram pergelangan tangan Asri Devantara, yang semalam tampil anggun mengenakan kebaya violet.

"Sial!" umpat Angga.

"Berarti bener... cewek yang aku tidurin malam itu Asri..." bisik Angga dengan suara parau yang bergetar hebat.

Angga nampak menatap layar itu dengan napas tercekat di tenggorokan, dengan tangan terkepal di atas meja, hingga buku jari-jarinya yang memutih karena mengepal begitu kuat.

Ketakutan kini membayanginya, dirinya menjadi teringat akan Asri.

Bima yang berdiri di sampingnya segera meletakkan tangan kanannya di pundak sahabatnya ini, mencoba menenangkan Angga.

Agar tak terpancing di depan para prajurit yang sedang berlatih di kejauhan, wajah Bima yang biasanya suka jokes, kini menjadi serius.

Matanya menatap tajam ke arah profil samping Angga.

"Gawat, Ngga. Ini benar-benar bencana besar buat kita," bisik Bima dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan penekanan yang serius.

Angga meremas rambut cepaknya dengan rasa frustasi, matanya tak sanggup lagi---karena sejak bertemu Asri di acara kementerian kebudayaan itu, wajah Asri selalu terbayang di pikirannya.

"Aku harus gimana, Bim? Ini cewek ahli sejarah dan kesayangan kementerian lagi! Kalau kasus ini sampai naik ke Mahkamah Militer,  Matilah aku!" tutur Angga dengan panik.

Bima menarik napas dalam-dalam, dirinya mencoba berpikir taktis dan mencari solusi----atas kepanikan sahabat karibnya sejak pendidikan taruna.

Keduanya adalah anak dari abdi dalem keraton Yogyakarta, dan Bima tahu betul bagaimana nama baik keluarga di junjung tinggi selayaknya harga mati.

"Aha aku punya ide," ucap Bima.

Angga langsung menoleh ke samping, ke arah Bima.

"Apa itu?" tanyanya.

"Dengar gua baik-baik, Angga," bisik Bima tajam

"Kau hancurkan saja CCTV asli di server hotel itu malam ini juga, hubungin orang IT suruh hapus semua cadangan file di server pusat, sebelum kepolisian tahu," jelasnya.

Mendengar itu ANgga langsung tersentak kaget, ucapan Bima ada benarnya, namun dirinya sempat ragu---karena terus memikirkan Asri.

"Menghilangkan barang bukti? Tapi, Bim... itu ilegal!" ucap Angga dengan mengerutkan keningnya.

"Ya nggak ada pilihan lagi, Ga. Pikirkan nasib orang tuamu di Yogyakarta," sanggah Bima.

"Pikirkan juga pertunanganmu dengan Alina! Kau tahu sendiri betapa berkuasanya Letnan Jenderal Ali di Kalimantan dan markas besar. Kalau sampai Jenderal Fadhil Barenyah tahu! Kau menodai perempuan lain, bukan cuma kariermu yang habis dipermalukan, tapi pertunanganmu akan di batalkan!" lanjut Bima yang memikirkan Angga sekaligus masa depannya.

Mendengar nama Alina dan Jendral Fadhil Barenyah, juga pertunangannya di batalkan---entah kenapa Angga bukannya panik, justru merasa lega.

Aneh sekali, sangat aneh. Padahal dulu dirinya yang mengejar Alina, namun sekarang hatinya merasa lega saat Bima mengatakan pertunangannya akan di batalkan dengan Alina.

Jika pertunangannya batal dengan putri seorang Jenderal, bagai tali hukuman mati yang siap mencekik lehernya.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!