NovelToon NovelToon
Resep Terakhir Dari Ibu

Resep Terakhir Dari Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Aldo meletakkan mangkok tanah liat itu dengan sangat hati hati di depan ketiga juri.

Chef Bram langsung mengerutkan dahinya melihat tampilan makanan yang sangat kontras dengan milik Kevin tadi.

"Makanan apa ini? Penampilannya sangat berantakan dan warnanya terlihat sangat keruh," kritik Chef Bram tanpa basa basi.

"Ini adalah Sayur Lodeh Tempe dengan tumisan ikan asin jambal roti dan bunga kecombrang, Chef," jawab Aldo tenang.

Chef Renata memajukan wajahnya sedikit untuk mencium aroma masakan Aldo yang sangat kuat.

"Aromanya cukup menarik, ada wangi citrus yang tajam dari bunga kecombrang."

"Tapi sayur lodeh dan ikan asin adalah makanan warung pinggiran, kenapa kau menyajikannya di galeri Master Chef?" tanya Chef Renata.

"Karena ini adalah satu satunya protein utuh yang tersisa di pantry setelah bahan incaran saya disabotase oleh peserta lain."

Mendengar jawaban jujur Aldo, Chef Arya langsung menatap tajam ke arah barisan peserta.

Dia tahu persis siapa yang dimaksud oleh Aldo karena dia mengawasi semua kejadian di dalam pantry tadi melalui layar monitor.

Namun Chef Arya tidak membahas masalah sabotase itu dan lebih fokus pada hidangan di depannya.

"Alasan yang bagus untuk menutupi kelemahan bahanmu, tapi juri hanya menilai dari rasanya," ucap Chef Arya dingin.

"Ikan asin jambal roti memiliki rasa asin yang sangat merusak lidah jika tidak diolah dengan benar."

"Dan lodeh tempe tanpa kaldu sapi hanyalah air santan hambar yang memuakkan."

Chef Arya mengambil sendok bebek keramik dan menyendok kuah lodeh Aldo terlebih dahulu.

Slurp.

Dia menyeruput kuah kuning kecoklatan itu perlahan lahan dengan wajah tanpa ekspresi.

Namun tiba tiba mata Chef Arya sedikit membesar dan alisnya terangkat ke atas.

Dia menghentikan kunyahannya sejenak lalu menyendok kuah itu untuk kedua kalinya.

Suasana galeri menjadi sangat hening menanti komentar dari mulut sang algojo galeri tersebut.

"Ada rasa kaldu asap yang sangat kuat dan gurih di dalam kuah lodeh tempe ini," ucap Chef Arya perlahan.

"Dari mana kau mendapatkan kaldu umami sekuat ini padahal keranjangmu tidak memiliki tulang sapi sama sekali?"

Semua peserta di belakang langsung berbisik bisik heran mendengar pertanyaan Chef Arya.

Aldo tersenyum tipis dan menjawab dengan nada yang sangat percaya diri.

"Saya menggunakan sisa kepala dan tulang ikan asin jambal roti, Chef."

"Saya membakarnya langsung di atas api kompor sampai sedikit gosong agar lemak asapnya keluar."

"Lalu saya memasukkan tulang bakar itu ke dalam rebusan santan untuk menggantikan peran kaldu daging sapi."

Chef Bram dan Chef Renata langsung saling pandang dengan raut wajah sangat terkejut mendengar teknik tersebut.

"Mengekstrak kaldu asap dari tulang ikan asin buangan?" gumam Chef Bram seolah tidak percaya.

"Itu adalah teknik memasak tradisional tingkat tinggi yang membutuhkan insting rasa yang sangat pekat," puji Chef Renata kagum.

Chef Bram segera mengambil sendok dan ikut mencicipi kuah lodeh buatan Aldo.

"Luar biasa, rasanya benar benar dalam dan gurih."

"Rasa santannya tidak pecah sama sekali dan bumbu halusnya meresap sempurna ke dalam pori pori tempe," tambah Chef Bram.

Kini giliran Chef Arya yang memotong sedikit tumisan ikan asin dan bunga kecombrang lalu memakannya bersamaan dengan tempe.

Kres.

Suara renyah dari bunga kecombrang terdengar jelas saat Chef Arya mengunyahnya.

"Rasa asin dari jambal roti ini sudah berkurang drastis dan teksturnya sangat lembut," analisa Chef Arya.

"Kau pasti merendamnya dengan air panas cukup lama sebelum menumisnya."

"Benar, Chef. Saya merendamnya untuk membuang kadar garam berlebih," jawab Aldo.

"Lalu kau menggunakan irisan bunga kecombrang ini untuk menetralkan bau amis yang tersisa dari ikan asinnya."

"Tepat sekali, Chef Arya. Kecombrang memiliki fungsi sebagai pembersih rongga mulut alami."

Chef Arya meletakkan sendoknya kembali ke atas mangkok dan menghela nafas panjang.

Dia menatap Aldo dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat tajam.

"Kau memiliki penampilan luar seperti gembel jalanan yang tidak tahu apa apa."

"Tapi isi kepalamu dipenuhi dengan perpustakaan rasa dan teknik substitusi bahan yang sangat mengerikan."

"Menyelamatkan hidangan dari bahan sisa dan mengubahnya menjadi mahakarya rasa adalah ciri khas seorang pemenang."

Mendengar pujian tingkat tinggi dari Chef Arya tersebut, raut wajah Kevin di barisan belakang langsung berubah sangat pucat.

Pemuda sombong itu menggigit bibir bawahnya menahan rasa iri dan benci yang meledak ledak di dadanya.

Kevin sama sekali tidak menyangka sabotase yang dia lakukan justru membuat Aldo bersinar lebih terang dari dirinya.

"Saya tidak menyangka akan mengatakan ini untuk sebuah sayur lodeh dan ikan asin," ucap Chef Bram ikut menimpali.

"Tapi hidanganmu ini adalah hidangan dengan rasa terbaik yang saya makan hari ini."

"Kamu membuktikan bahwa harga bahan makanan tidak akan bisa mengalahkan kejeniusan seorang koki sejati," tutup Chef Renata dengan senyum lebar.

Aldo menundukkan kepalanya dalam dalam untuk menyembunyikan rasa haru yang tiba tiba menyeruak.

"Terima kasih banyak atas pujiannya, para Chef."

"Silakan kembali ke barisanmu, Aldo. Posisi celemek putihmu aman untuk hari ini," perintah Chef Arya.

Aldo berjalan kembali ke barisannya dengan perasaan sangat lega seolah baru saja melepaskan batu besar dari pundaknya.

Saat dia berpapasan dengan Kevin, Aldo menoleh sedikit dan memberikan tatapan tajam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tatapan itu adalah sebuah deklarasi perang terbuka bahwa Aldo tidak akan pernah bisa dijatuhkan dengan cara kotor apapun.

Penjurian dilanjutkan hingga peserta terakhir dan total ada tiga orang yang harus pulang hari ini.

Tiga celemek putih harus ditinggalkan di atas meja penjurian sebagai tanda kerasnya hukum rimba di galeri Master Chef.

"Bagi kalian yang masih berdiri di sini, jangan pernah merasa aman sedikitpun," peringatan keras Chef Arya menggema kembali.

"Kalian hanya beruntung tidak menjadi yang terburuk hari ini."

"Pulanglah ke asrama dan persiapkan mental kalian untuk tantangan yang jauh lebih gila besok pagi."

"Galeri dibubarkan!"

Para peserta menghela nafas lega secara serentak dan mulai merapikan meja masak mereka masing masing.

Rina langsung berlari kecil menghampiri meja Aldo dengan wajah sangat ceria.

"Aldo, kamu hebat sekali tadi! Aku sampai merinding mendengar pujian dari Chef Arya," puji Rina antusias.

"Kamu sendiri bagaimana hasilnya tadi, Rina?" tanya Aldo balik sambil memasukkan wajannya ke dalam tas.

"Syukurlah aku lolos dengan hidangan ayam suwir kemangi buatanku, meskipun Chef Bram mengkritik potongannya yang kurang rapi."

"Tidak apa apa, yang penting kita berdua selamat dari eliminasi pertama ini."

Tiba tiba ada sebuah tangan yang menepuk meja masak Aldo dengan sangat kasar dari arah samping.

Brak.

Aldo dan Rina menoleh serentak dan melihat Kevin berdiri dengan wajah memerah karena marah.

"Jangan berbangga diri dulu, gembel," desis Kevin dengan suara tertahan.

"Hari ini kau hanya kebetulan hoki karena lidah juri sedang error."

"Aku berjanji akan menghancurkanmu di tantangan berikutnya sampai kau sujud menangis di depanku."

Aldo menatap Kevin dengan wajah sangat datar dan sama sekali tidak terpancing emosi.

"Seorang pecundang yang menggunakan sabotase murahan tidak punya hak untuk berbicara soal kehancuran, Kevin."

"Lebih baik kau fokus saja pada masakanmu yang membosankan itu sebelum juri benar benar membuangnya ke tempat sampah."

Kevin menggeram marah dan berniat membalas ucapan Aldo namun Rina buru buru menarik lengan Aldo.

"Ayo kita kembali ke asrama, Aldo. Tidak ada gunanya meladeni orang sombong seperti dia," ajak Rina.

Aldo mengangguk setuju dan berjalan meninggalkan Kevin yang masih berdiri kaku menahan amarah di depan mejanya.

Persaingan di antara mereka berdua kini bukan lagi sekadar memperebutkan gelar juara atau uang hadiah.

Ini sudah menjadi pertarungan harga diri dan ajang pembuktian kasta antara seorang anak yatim piatu dan pewaris konglomerat yang arogan.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
makasi crazy up nya
kiyoe: Terimakasih kak Heni selalu atas support nya 🙏
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Was pray
Rina mentalnya tempe ketakutan mesti perut mules. kok gak pusing atau yg lain.. masak hobi kok perut mules. 🤭
Was pray
Aldi sering kalah duluan bangun paginya sama Kelvin
Was pray: si Aldo thooor...
total 2 replies
sitanggang
terlalu monoton, hanya seputaran galery memasak saja. gak ada konteks diluar gallery , sprti org yg pinjamkan uang 50k atw kluarganya yg me onton di tv semisalnya🙄
kiyoe: kan Aldo yatim piatu kak
total 2 replies
ceuceu
di tunggu up nya thor
Was pray
nah benar kan? sejelek apapun hasil masakan Kevin tetap lolos, lama lama jadi kurang greget baca novel ini
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
ceuceu
aneh kok bisa jojo bertahan pdhl ga bisa masak ceroboh,knp ga tereleiminasi dari awal thor,masak apa si jojo selama tanding?
ceuceu
baru tau tehnik membuka kluwek
kiyoe: wkwk berarti belum pernah masak pakai kluwek yaa kak 🤭
total 1 replies
ceuceu
danang sotoy arogan
ceuceu
serakah bgt kevin
ceuceu
perjuangan seorang anak demi masa depan
Was pray
beberapa kali Kevin melakukan kesalahan dalam memasak tapi tetap juga lolos... ini ntar memasak bebek betutu yg amburadul juga lolos lagi kah?
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
kiyoe: Terimakasih kak selalu mensupport saya 🙏
total 1 replies
Was pray
Danang and Jojo selevel Danang sok pintar tapi o'on Jojo berpikir lemot tapi mau belajar walau pelan, kalau Dua koki ini digabungkan satu tim bisa mengundang tim damkar.... 🤣🤣🤣
Was pray
kok bisa lolos audisi si Jojo k as lau masak dop aja keasinan? ntar kalau Jojo bukan warung makan bisa bisa pembelinya bisa pada darah tinggi tuh..... 😄😄😄
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
Was pray
ya salah tim biru sendiri yg memilih Danang jadi kapten tim, kalau udah kacau baru menyesal
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!