Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tap tap tap.
Langkah kaki mereka menyusuri lorong motel tua yang lantainya dilapisi karpet merah berbau apek.
Cklek.
Bayu memutar anak kunci kuningan yang berkarat dan mendorong pintu kamar bernomor dua ratus empat itu hingga terbuka.
Kamar itu sangat sempit, hanya berisi satu ranjang ganda berseprai pudar, sebuah meja rias usang, dan televisi tabung di sudut ruangan.
"Ini adalah tempat persembunyian terburuk yang pernah aku datangi seumur hidupku," keluh Clara sambil menutup hidungnya rapat-rapat.
"Bahkan untuk ukuran buronan, selera tempat tinggalmu benar-benar menyedihkan, cowok udik."
Bayu mengabaikan keluhan gadis berambut merah itu dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang berderit pelan.
"Kalau kamu tidak suka, silakan tidur di luar bersama nyamuk dan preman-preman jalanan tadi," balas Bayu dengan nada malas.
"Kita butuh tempat yang tidak meminta kartu identitas, dan motel pinggiran ini adalah pilihan paling masuk akal sekarang."
Anya berjalan mendekati meja rias dan meletakkan tas selempangnya dengan sangat hati-hati.
"Bayu benar, keamanan kita adalah prioritas utama malam ini," ucap Anya membela keputusan Bayu.
Gadis berkacamata itu kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap Bayu dengan sorot mata penuh pertanyaan.
"Tapi Clara juga punya hak untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di gang sempit tadi, Bayu."
Clara langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan punggungnya ke pintu kamar yang sudah terkunci.
"Tepat sekali, aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu dengan alasan kecepatan super murahan," tuntut Clara menatap tajam ke arah Bayu.
"Tidak ada manusia dengan relik kecepatan yang bisa melumpuhkan lima belas preman bersenjata dalam waktu nol koma sekian detik tanpa menimbulkan suara angin gesekan."
Bayu menghela napas panjang dan mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas kasur.
"Aku memang tidak pernah bilang kalau aku punya kekuatan kecepatan super," jawab Bayu santai memancing reaksi.
"Pembunuh bertopeng itu yang mengambil kesimpulan sendiri saat melihatku berpindah tempat."
Clara berjalan mendekati ranjang dan mencondongkan tubuhnya ke depan wajah Bayu dengan ekspresi sangat penasaran.
"Lalu apa sebenarnya relik yang kau sembunyikan itu? Teleportasi jarak dekat? Manipulasi ruang ilusi?" cecar Clara tidak sabar.
"Atau jangan-jangan... kau memanipulasi aliran waktu di sekitarmu?" Bayu tersenyum tipis mendengar tebakan akurat dari informan bawah tanah yang terkenal cerdas ini.
"Kamu memang pantas menyandang gelar informan terbaik di kota ini, Clara," puji Bayu akhirnya mengakui hal tersebut.
"Relik yang kumiliki bernama Batu Waktu, aku bisa menghentikan dan memutar balik waktu dalam skala terbatas."
Anya membetulkan letak kacamatanya dengan gaya khasnya saat sedang berpikir keras menganalisis sebuah teori fisika.
"Pantas saja tadi aku tidak melihat proses gerakanmu sama sekali, melainkan hanya hasil akhirnya saja," gumam Anya mengangguk paham.
"Kamu menghentikan waktu, memukul mereka semua, lalu kembali ke posisi semula sebelum melanjutkan waktu lagi."
Clara langsung duduk di kursi kayu dekat meja rias dengan wajah yang terlihat sangat pucat dan terkejut.
"Manipulasi waktu... itu adalah mitos tingkat tertinggi di dunia para pengguna relik," ucap Clara dengan suara agak bergetar.
"Sepanjang sejarah dunia bawah tanah, belum pernah ada satu pun orang yang terkonfirmasi memiliki kemampuan mengendalikan dimensi waktu."
Bayu mengerutkan keningnya tidak mengerti mengapa Clara terlihat begitu ketakutan mendengar penjelasannya.
"Kenapa wajahmu pucat begitu? Bukankah bagus kalau kekuatanku ini sangat langka dan kuat?" tanya Bayu merasa heran.
Clara menggelengkan kepalanya pelan sambil mengusap wajahnya yang tiba-tiba berkeringat dingin.
"Kamu tidak mengerti seberapa berbahayanya informasi ini jika sampai bocor ke telinga para penguasa sindikat besar," jawab Clara dengan nada serius.
"Relik ruang saja sudah membuat Sang Penghapus Jejak dihargai miliaran rupiah oleh para pejabat korup."
"Jika mereka tahu ada artefak yang bisa memanipulasi waktu, seluruh organisasi kriminal di negara ini akan memburumu tanpa henti."
Suasana di dalam kamar motel sempit itu mendadak menjadi sangat hening dan mencekam.
Hanya terdengar suara dengungan mesin pendingin ruangan tua yang berbunyi monoton di sudut atas dinding.
Anya memecah kesunyian itu dengan membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatan hitam milik geng Cobra.
"Kalau begitu kita harus menghancurkan sindikat Kobra Mandiri ini secepatnya sebelum mereka menyadari potensi asli kekuatanmu," usul Anya dengan sangat logis.
Bayu mengangguk setuju dan mengalihkan pandangannya ke arah layar biru sistem yang masih melayang samar di sudut matanya.
[Energi Waktu: 20/25]
"Pemulihan energiku sekarang jauh lebih stabil sejak menyerap kristal dari pasar gelap tadi," batin Bayu merasa sedikit lega.
Clara tiba-tiba merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar yang layarnya menyala berkedip merah.
"Berbicara tentang menyadari kekuatanmu, kurasa kita sudah terlambat selangkah," ucap Clara menunjukkan layar ponselnya ke arah Bayu dan Anya.
"Aku baru saja menyadap saluran komunikasi radio milik keamanan Kobra Mandiri."
Trak.
Clara meletakkan ponsel itu di atas meja dan memperdengarkan rekaman suara yang baru saja ditangkapnya.
Krasak.
Suara statis radio terdengar sebentar sebelum sebuah suara berat yang sangat dingin dan datar muncul dari pelantang suara ponsel.
"Lapor, ini dengan unit penyapu, kami menemukan Leo dan seluruh anak buahnya tergeletak pingsan di sektor selatan," ucap suara pria dari radio tersebut.
Bayu langsung mengepalkan tangannya mengenali suara itu sebagai milik Sang Penghapus Jejak.
"Apakah bocah itu menggunakan trik kecepatan supernya lagi?" tanya sebuah suara serak dan tua yang terdengar penuh wibawa dari ujung radio yang lain.
"Tidak, Bos. Ini jauh lebih mengerikan dari sekadar kecepatan biasa," jawab Sang Penghapus Jejak dengan nada yang sedikit bergetar.
"Luka pukulan pada tubuh mereka muncul secara serentak, dan tidak ada bekas jejak gesekan sepatu di atas tanah berdebu ini."
Terdengar suara helaan napas berat dari pria tua yang dipanggil bos tersebut.
"Lalu apa kesimpulanmu atas fenomena aneh ini?" tuntut sang bos dengan tidak sabar.
"Dia mengendalikan waktu, Bos. Pemuda udik itu baru saja membuktikan bahwa relik dimensi waktu benar-benar ada di kota kita," lapor sang pembunuh bayaran dengan yakin.
Klik.
Rekaman radio itu terputus menyisakan suara statis yang berdengung pelan di dalam kamar.
Bayu mengusap wajahnya dengan kasar merasa rencananya untuk menyembunyikan kekuatan aslinya telah hancur berantakan.
"Pembunuh itu ternyata tidak sebodoh yang aku kira, dia bisa menganalisis medan pertarungan dengan sangat teliti," rutuk Bayu merasa frustrasi.
Anya mengetuk-ngetuk jarinya di atas sampul buku hitam mencoba mencari jalan keluar dari situasi mematikan ini.
"Jika sang bos sudah tahu, artinya seluruh pasukan elite Kobra Mandiri akan dikerahkan untuk memburumu besok pagi," analisis Anya membeberkan fakta pahit.
Clara mematikan layar ponselnya dan menatap Bayu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Mulai sekarang kamu bukan cuma buronan polisi karena pencurian dokumen, tapi kamu adalah harta karun berjalan bagi dunia bawah tanah," ucap Clara tersenyum masam.
"Satu-satunya cara agar kita bisa hidup tenang adalah dengan menyerang markas utama mereka terlebih dahulu sebelum mereka membentuk pasukan perburuan."
Bayu mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamar motel yang berjamur dengan sorot mata penuh tekad.
"Di mana lokasi markas utama pria tua yang dipanggil bos tadi?" tanya Bayu langsung pada intinya.
Clara membuka buku hitam di pangkuan Anya dan menunjuk pada sebuah alamat yang tertulis di halaman paling belakang.
"Gedung pencakar langit Kobra Tower di pusat kota, lantai empat puluh lima adalah singgasana pribadi direktur utama mereka," jawab Clara menjelaskan rinciannya.
"Tempat itu dijaga oleh puluhan tentara bayaran elit dan dilengkapi sistem keamanan biometrik tingkat militer."
Bayu turun dari kasur dan mulai melakukan gerakan peregangan otot ringan untuk melemaskan tubuhnya yang kaku.
"Sistem militer secanggih apa pun tidak akan berguna melawan waktu yang membeku," ucap Bayu dengan senyum percaya diri yang sangat provokatif.
"Kita akan menyusup ke gedung itu besok malam dan menyeret bos besar mereka keluar dari sarang nyamannya." Anya menatap Bayu dengan sedikit rasa cemas melihat pemuda itu terlihat terlalu percaya diri.
"Tapi Bayu, durasi kekuatanmu saat ini hanya dua puluh lima detik maksimal, kan?" tanya Anya mengingatkan batasan sistem.
"Itu tidak akan cukup untuk berlari menaiki empat puluh lima lantai sambil menghindari penjagaan yang ketat."
Bayu berjalan ke arah jendela kamar dan menyingkap sedikit tirai kainnya untuk melihat suasana jalanan malam di luar.
"Karena itulah aku butuh informasi dan akses jalur khusus dari informan terbaik kita di sini," jawab Bayu menoleh ke arah Clara.
Clara menyeringai lebar mendengar tantangan dari pemuda yang baru saja diakuinya sebagai monster kecil tersebut.
"Biaya untuk meretas cetak biru gedung sekelas Kobra Tower sangatlah mahal, cowok udik," goda Clara mulai menunjukkan sifat aslinya.
"Jika kamu berhasil meruntuhkan sindikat ini, aku minta sepuluh persen dari total aset haram yang berhasil disita negara nanti."
Bayu mendengus pelan merasa tidak percaya dengan tingkat keserakahan gadis cantik berpenampilan nakal ini.
"Setuju, lagipula aku cuma butuh nyawa orang-orang yang membunuh orang tuaku, bukan uang kotor mereka," sepakat Bayu tanpa ragu sedikit pun.
"Sekarang, ceritakan semua yang kau ketahui tentang kelemahan struktur gedung itu padaku."
Malam itu, di dalam kamar motel yang kumuh dan sempit, rencana gila untuk meruntuhkan sindikat kriminal terbesar di kota mulai disusun.
Ketiga remaja yang memiliki latar belakang berbeda itu terikat oleh satu tujuan yang sama, yaitu bertahan hidup dari buruan sang pengendali ruang.