Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Tangan Yang Menolong
Pintu mobil meluncur terbuka lebar, memperlihatkan figur Sakti yang langsung melangkah memotong jalur Leo sebelum pria itu sempat menyentuh lenganku.
Kejadian itu berlangsung hanya dalam hitungan detik. Leo yang tadinya sudah berjalan menjauh, mendadak berbalik arah. Amarah dan rasa malu telah menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Pria itu berlari ke arahku dengan tangan terkepal, berniat melampiaskan kekalahannya secara fisik.
Namun, sebelum aku sempat mengambil kuda-kuda pertahanan, tubuh tegap Sakti sudah berdiri menjulang tepat di depanku.
Sakti tidak menggunakan tangannya untuk memukul. Ia hanya menggunakan postur tubuhnya yang mendominasi dan aura kekuasaan absolut untuk menghentikan laju Leo seketika.
Leo menabrak dada Sakti dan terpental mundur satu langkah. Pria kusam itu mendongak, matanya membelalak lebar melihat siapa yang kini berdiri menghalanginya.
Khan sudah berada tepat di belakang Sakti. Kepala keamanan itu memasukkan satu tangannya ke balik jas, siap mencabut senjata atau melumpuhkan Leo kapan saja jika ada pergerakan mencurigakan sekecil apa pun.
"Kau berani menyentuh asistenku, aku pastikan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit dari luar jeruji besi besok pagi."
Suara Sakti mengalun sangat rendah. Sangat tenang. Namun ancaman di dalamnya begitu pekat hingga membuat udara di sekitar kami seolah membeku.
Leo gemetar hebat. Nyalinya menguap tak bersisa. Ia sangat mengenal wajah Sakti dari berbagai sampul majalah bisnis. Ia tahu pria di hadapannya ini sanggup menghancurkan hidupnya hanya dengan satu jentikan jari.
"Sa... saya tidak bermaksud..." Leo terbata-bata, melangkah mundur dengan panik.
"Mundur," titah Sakti tanpa menaikkan volume suaranya sedikit pun.
Leo tidak menunggu perintah kedua. Pria itu berbalik dan berlari sekencang-kencangnya, benar-benar menghilang ke dalam kegelapan malam tanpa berani menoleh lagi ke belakang.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Aku masih berdiri terpaku di tempatku. Ritme napasku sedikit memburu. Jantungku berdebar sangat kencang, bukan karena ancaman Leo, melainkan karena kehadiran Sakti yang begitu tiba-tiba.
Sakti memutar tubuhnya perlahan, membelakangiku dari pandangan jalan raya. Matanya yang tajam di balik kacamata peraknya menelusuri wajahku dari atas ke bawah.
[Memindai Subjek Utama: Sakti.]
[Status Emosi: Protektif, Marah, Khawatir.]
[Tingkat Ancaman terhadap Inang: 0%.]
Teks hijau dari sistem berkedip singkat di sudut mataku sebelum akhirnya meredup.
"Kamu tidak terluka?" tanya Sakti memecah keheningan. Nada suaranya sedikit melunak, meski wajahnya tetap mengeras.
"Saya baik-baik saja, Pak Sakti," jawabku cepat, berusaha menetralkan getaran di suaraku. "Saya bisa mengatasi pria itu sendiri. Anda tidak perlu turun tangan."
Sakti mendengus pelan. Ia menatap lurus ke mataku.
"Mengatasi sendiri? Dengan membiarkan pria mabuk itu berada dalam radius kurang dari dua meter darimu?" sindir Sakti tajam.
Aku mengatupkan rahangku. "Itu urusan pribadi saya, Pak. Saya tidak ingin masalah masa lalu saya mencoreng area gedung Vanguard Corp."
"Masuk ke mobil," perintah Sakti mutlak, mengabaikan seluruh penjelasanku.
Aku mengerjapkan mata. "Permisi?"
Sakti memberikan isyarat melalui pandangannya. Khan segera melangkah maju dan membukakan pintu penumpang bagian belakang mobil sedan hitam mewah tersebut.
"Saya tidak menerima penolakan, Tera. Masuk ke mobil sekarang, atau aku yang akan memaksamu masuk," ulang Sakti dengan ketegasan yang tak memberikan celah untuk berdebat.
Aku menatap Khan yang menunggu dengan postur kaku, lalu menatap Sakti. Menyadari bahwa berdebat di trotoar gedung hanya akan memancing perhatian karyawan lain, aku akhirnya mengalah.
Aku menundukkan kepala dan melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang terasa sangat luas dan mewah. Sakti menyusul masuk dan duduk tepat di sebelahku. Pintu ditutup rapat oleh Khan dari luar.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Suasana di dalam mobil sangat hening saat Khan mengemudikan kendaraan membelah jalanan malam.
Jarak antaraku dan Sakti hanya terpisah beberapa sentimeter. Aku bisa merasakan radiasi kehangatan dari tubuhnya. Pergerakannya yang tenang di sebelahku justru membuat sistem kewaspadaanku terus berbunyi di dalam kepala.
[Peringatan: Detak Jantung Inang Meningkat 20%. Jaga Jarak Aman.]
Aku menggeser tubuhku sedikit lebih dekat ke arah pintu, mencoba memberi ruang.
"Siapa pria tadi?" tanya Sakti tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah jalan raya di depan, tidak menoleh kepadaku.
"Hanya... seseorang dari masa lalu," jawabku enggan. "Mantan kekasih."
Sakti menoleh ke arahku dengan pergerakan lambat. Tatapannya berubah menjadi jauh lebih gelap dari sebelumnya.
[Pemindaian Mikro Ekspresi: Subjek menahan amarah tingkat tinggi. Ketidaksukaan terhadap informasi masa lalu Inang.]
"Dan pria sampah itu berani memeras asisten utamaku di depan gedung kantorku?" Suara Sakti menekan setiap suku kata dengan tajam. "Berapa banyak hutang yang kamu tanggung karena dia?"
Aku memalingkan wajahku, menatap ke arah jendela luar. "Saya sudah tidak menanggung hutangnya lagi. Semuanya sudah selesai. Saya pastikan dia tidak akan pernah datang lagi kemari."
Sakti tidak langsung merespons. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit, melipat tangannya di depan dada.
"Aku membaca data latar belakangmu, Tera," ucap Sakti dengan nada yang mendadak berubah menjadi jauh lebih serius.
Tubuhku menegang seketika. Aku memutar kepalaku kembali ke arahnya. "Anda menyelidiki saya?"
"Tentu saja. Kamu adalah asisten khususku. Aku harus tahu segala hal tentang orang yang berdiri di depan pintu ruang kerjaku setiap hari," balas Sakti tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Kamu membutuhkan pekerjaan ini dengan sangat mendesak. Gajimu yang sebelumnya tidak cukup untuk makan layak, apalagi untuk membayar perawatan ibumu di rumah sakit."
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Harga diriku terasa dikoyak secara paksa. Menyadari bahwa pria berkuasa ini mengetahui seluruh kemiskinan dan penderitaanku membuat dadaku sesak.
"Itu alasan saya berjuang mendapatkan posisi ini," jawabku dingin, mencoba mempertahankan lapisan pertahananku. "Saya tidak akan membiarkan urusan finansial pribadi saya mengganggu kualitas pekerjaan saya, Pak."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Sakti menatapku dalam diam. Sorot matanya yang biasanya sedingin es perlahan memancarkan sesuatu yang menyerupai simpati. Sesuatu yang sangat jarang ditunjukkan oleh seorang eksekutif kejam sepertinya.
Tangan Sakti terangkat perlahan dari pangkuannya. Ia tidak menyentuhku, melainkan meletakkan sebuah kartu tebal berwarna hitam di atas konsol tengah pembatas kursi kami.
"Ibumu dirawat di fasilitas umum dengan peralatan yang jauh dari kata layak. Penanganannya lambat, dan dokter di sana tidak memiliki kapasitas untuk menyembuhkan penyakit komplikasi berat," ucap Sakti membeberkan fakta menyakitkan itu dengan lugas.
Aku menatap kartu hitam di atas konsol itu, lalu menatap wajah Sakti dengan dahi berkerut.
"Aku tidak suka melihat asistenku menghabiskan kapasitas otaknya untuk mencemaskan tagihan rumah sakit," lanjut Sakti.
Pria itu menatap lurus ke mataku dengan intensitas yang melumpuhkan logikaku.
"Mulai malam ini, seluruh biaya pengobatan ibumu berada di bawah tanggunganku."
Napasku tercekat di tenggorokan. Mataku membelalak lebar.
"Aku sudah memerintahkan Khan untuk mengurus pemindahan ibumu ke kamar VIP di rumah sakit spesialis terbaik milik jaringan medis keluarga Vanguard. Dokter Hindan, pakar medis pribadiku, yang akan langsung menangani ibumu."
"Pak Sakti... Anda tidak bisa melakukan ini," balasku panik. "Itu menelan biaya miliaran. Saya tidak bisa menerima—"
Sakti memotong ucapanku dengan cepat. "Aku tidak sedang menawarkan pinjaman yang harus kamu bayar, Tera."
Pria itu memangkas jarak di antara kami, mencondongkan wajahnya hingga aku bisa melihat kilat tekad mutlak di matanya.
"Anggap ini sebagai investasi perusahaanku terhadap aset paling berharga yang pernah kumiliki di lantai lima puluh lima. Atau anggap saja sebagai perlindungan pribadiku untukmu."
Sakti menatap bibirku sekilas, lalu kembali mengunci pandanganku.
"Kamu tidak perlu lagi memikirkan uang atau pria sampah seperti tadi. Fokusmu sekarang hanya satu."
Jantungku berdebar semakin liar saat Sakti mengakhiri kalimatnya dengan nada posesif yang sangat pekat.
"Tetaplah berada di sisiku, Tera."
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?