Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bukti Kasih yang Tak Bersuara
Pagi itu, sinar matahari menembus celah daun di taman, membentuk bintik-bintik cahaya yang menari di atas rumput hijau. Argan berdiri di bawah pohon rindang itu, tanpa tongkat penyangga, tanpa bersandar pada siapa pun. Kakinya masih sedikit gemetar, dan napasnya harus diatur perlahan agar tak kehilangan keseimbangan. Namun ia berdiri tegak, menatap lurus ke arah Aruna yang berjalan pelan menghampirinya dari arah teras.
Saat Aruna berhenti tepat di hadapannya, mata mereka bertemu. Di mata Argan tampak kebanggaan yang lembut, namun yang lebih dalam adalah rasa syukur yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
“Lihatlah, Aruna,” ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar namun penuh keyakinan. “Aku berdiri tegak. Bukan karena kursi roda, bukan karena tongkat atau bahumu. Aku berdiri dengan kakiku sendiri.”
Aruna menatapnya lekat-lekat, menahan napas sejenak sebelum senyum bahagia merekah di wajahnya. Air mata keharuan menetes perlahan di pipinya, namun ia tak menyapunya. Ia justru tersenyum begitu lebar, seolah kebahagiaan yang ia rasakan melebihi apa pun di dunia ini.
“Anda melakukannya,” ucapnya lirih, suaranya terbenam dalam haru. “Anda benar-benar melakukannya.”
Argan mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Aruna dan menyeka air mata itu dengan lembut. “Bukan kekuatanku saja yang membawaku sejauh ini. Setiap kali kakiku ingin menyerah, setiap kali hatiku merasa lelah dan ingin berhenti... wajahmu yang terbayang di hadapanku. Suaramu yang mengingatkanku untuk tidak menyerah. Kau adalah alasan kakiku kembali kuat, Aruna.”
Ia meraih kedua tangan Aruna, menggenggamnya erat di antara telapak tangannya yang kini lebih kokoh dari sebelumnya.
“Aku tak pandai merangkai kata-kata indah,” lanjutnya dengan tulus. “Dan aku tak memiliki harta yang cukup untuk membayar semua kesabaran dan ketulusan yang kau berikan padaku. Tapi izinkan aku membuktikan kasihku, bukan dengan janji yang terucap di bibir, melainkan dengan setiap langkah yang kuambil mulai hari ini.”
Argan menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan melangkah maju mendekap Aruna ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, kokoh, dan penuh kasih sayang yang mendalam. Aruna merasakan dada bidang itu menopangnya, merasakan detak jantung pria itu berdetak tenang dan kuat tepat di samping telinganya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Argan memeluknya tanpa dibatasi oleh keterbatasan tubuhnya. Ia berdiri tegak, menopang berat tubuh keduanya, seolah ingin berkata: Lihatlah, aku kini cukup kuat untuk menopangmu sebagaimana kau selalu menopangku.
“Dulu kau yang selalu berjalan di sampingku, menahan tubuhku agar tak jatuh,” bisik Argan di telinganya. “Mulai hari ini... biarlah aku yang berjalan di sampingmu. Biarlah aku yang menahanmu saat kau lelah. Biarlah aku yang menjadi tempatmu bersandar, sekuat tenagaku dan sepanjang sisa hidupku.”
Aruna memeluk pinggang Argan erat, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Air matanya membasahi kemeja yang dikenakannya, namun air mata itu adalah air mata bahagia yang tak terlukiskan.
“Saya tidak menuntut pembalasan apa pun, Argan,” jawabnya pelan. “Cukup Anda berdiri tegak seperti ini, cukup Anda tersenyum dan merasa berharga... itu sudah cukup bagi saya. Itu adalah bukti kasih terindah yang pernah saya terima.”
Argan mengeratkan pelukannya sejenak, lalu melepaskannya perlahan. Ia menatap wajah Aruna lekat-lekat, seolah ingin mengukir setiap jengkal wajah itu di dalam hatinya.
“Kasihku padamu tak akan pernah terucap habis oleh kata-kata, Aruna. Tapi biarlah setiap langkah yang kuambil, setiap detak jantungku, dan setiap hari yang kulalui mulai sekarang... menjadi bukti kasihku yang tak bersuara namun abadi.”
Di bawah naungan pohon yang rindang dan sinar matahari yang menyinari mereka berdua, mereka berdiri saling memandang. Tak ada lagi jarak, tak ada lagi kepura-puraan, dan tak ada lagi rasa takut. Yang ada hanyalah dua jiwa yang telah melewati badai bersama, kini berdiri tegak saling melengkapi, dan berjanji untuk terus berjalan beriringan—selamanya.
bersambung.......