Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun yang Menyembuhkan
Pondok Dokter Mo tidak terlihat seperti tempat tinggal seorang tabib legendaris. Ia lebih mirip sarang burung raksasa yang dibangun secara ceroboh dari akar pohon purba, ranting kering, dan tumpukan buku-buku medis yang sudah menguning. Atapnya bocor di beberapa titik, ditambal dengan daun talas raksasa yang layu. Di halaman depan, terdapat kebun tanaman aneh—bunga berwarna ungu pekat yang berdenyut seperti jantung, dan semak berduri yang mengeluarkan asap tipis berwarna hijau.
Udara di sini berbeda dari bagian lain Lembah Pengasingan. Tidak ada aroma herbal yang menenangkan seperti di lembah bawah. Sebaliknya, udara di sekitar pondok ini berbau tajam, menyengat, campuran antara belerang, cuka, dan sesuatu yang manis namun memualkan—aroma obat kuat yang belum matang.
Ren Zexian mengetuk pintu kayu yang retak tiga kali. Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban. Hanya suara gemericik air dari dalam, dan desisan uap.
"Dokter Mo?" panggil Ren, suaranya hati-hati. "Saya dikirim oleh Master Wei."
Hening sejenak. Lalu, terdengar suara ledakan kecil dari dalam, diikuti oleh umpatan kasar.
"Siapa lagi yang mengirim korban ke pintuku?! Aku bilang aku pensiun! Pensiun!"
Pintu terbuka dengan hentakan keras. Seorang pria tua berdiri di ambang pintu. Ia pendek, botak, dengan kumis putih lebat yang tampak seperti sikat botol. Matanya kecil namun tajam, dikelilingi oleh lingkaran hitam tebal akibat kurang tidur. Ia mengenakan celemek kulit yang penuh noda berbagai warna—merah darah, hijau empedu, hitam tinta.
Dokter Mo menatap Ren dari ujung kepala hingga kaki, lalu matanya tertuju pada Lin yang bersembunyi di belakang punggung kakaknya. Ekspresi kesalnya berubah menjadi ketertarikan klinis yang dingin.
"Bawa masuk," perintahnya singkat, lalu berbalik masuk ke dalam tanpa menunggu izin.
Ren dan Lin saling pandang, lalu mengikuti pria tua itu masuk.
Bagian dalam pondok jauh lebih luas daripada kelihatannya dari luar. Ruangan utama dipenuhi oleh rak-rak botol kaca berisi cairan berwarna-warni, tengkorak hewan kecil, dan gulungan resep yang berserakan di setiap permukaan. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tungku besar yang mendidih, mengeluarkan uap berwarna ungu. Bau di sini begitu pekat hingga membuat mata Ren perih.
"Duduk," tunjuk Mo ke arah bangku kayu panjang yang tertutup debu. "Jangan sentuh apa-apa. Jangan minum apa-apa kecuali aku yang memberikannya. Dan jangan bertanya bodoh."
Lin duduk dengan patuh, tangannya masih mencengkeram baju Ren. Ren tetap berdiri, waspada. Ia meletakkan buku catatan curian dari Klan Naga di atas meja, di samping tumpukan tulang tikus.
Mo melirik buku itu sekilas, alisnya terangkat. "Kau mencuri dari Klan Naga? Kau punya nyali besar, atau otak kecil. Biasanya kedua-duanya salah."
"Saya butuh bantuan untuk adik saya," kata Ren langsung pada intinya. "Dia terkena efek samping Eksperimen Tinta Inti. Meridiannya terbalik, dan jiwanya mulai pudar."
Mo berhenti mengaduk kuali besarnya. Ia berbalik perlahan, mengelap tangannya dengan celemek kotor. Tatapannya kini serius, menyelidik. Ia mendekati Lin, mengangkat dagu gadis kecil itu dengan jari-jarinya yang kasar namun stabil.
"Buka mulut," perintahnya.
Lin membuka mulutnya. Mo memeriksa lidahnya, lalu menekan titik-titik tertentu di leher dan pergelangan tangan Lin. Lin meringis kesakitan, tapi tidak menangis.
"Hmm," gumam Mo. "Meridian terbalik kelas tiga. Kerusakan jiwa tingkat dua. Dan... oh, ini menarik."
Jari Mo berhenti di dada Lin, tepat di atas jantung. "Ada residu Tinta Murni di sini. Mereka tidak hanya menyuntikkannya. Mereka menanam benih."
Ren merasa darahnya membeku. "Benih?"
"Ya," jawab Mo datar, kembali ke kuali nya. "Tinta Inti bukan sekadar cairan. Itu adalah esensi konsentrasi dari realitas yang dipadatkan. Jika ditanam di tubuh anak-anak yang meridiannya kompatibel—atau dalam kasus ini, terbalik—ia akan tumbuh. Mengambil alih sistem energi mereka. Pada akhirnya, tubuh anak itu akan menjadi wadah kosong, dan Tinta itu akan menetas menjadi... sesuatu yang lain."
"Apa yang akan menetas?" tanya Ren, suaranya tegang.
Mo tersenyum sinis. "Seekor monster. Atau dewa. Tergantung seberapa banyak rasa sakit yang bisa ditahan inangnya sebelum pecah."
Ren mengepalkan tinjanya. "Bisakah Anda menyembuhkannya?"
"Menyembuh?" Mo tertawa terbahak-bahak, suara yang kering dan pahit. "Anak muda, kau pikir ini penyakit flu? Ini adalah rekonstruksi fundamental dari jiwa dan daging. Untuk menghilangkan Tinta Inti, aku harus membedah meridiannya, membersihkan setiap sel dari residu itu, dan membangun ulang jalurnya dari nol. Itu proses yang menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada kematian."
Ia menatap Ren tajam. "Dan biayanya mahal. Bukan uang. Aku tidak butuh uang di sini. Aku butuh bahan langka. Akar Jiwa Naga dari Gua Kristal Utara. Dan satu tetes Air Mata Phoenix dari Pegunungan Api."
Ren menghela napas. Itu adalah misi bunuh diri. Gua Kristal Utara dijaga oleh beast grade tinggi, dan Pegunungan Api adalah zona larangan bagi manusia biasa.
"Tapi," lanjut Mo, melihat wajah putus asa Ren, "ada cara lain. Cara yang lebih cepat. Lebih berbahaya. Tapi mungkin... hanya mungkin... bisa menyelamatkan nyawanya sekarang."
Mo mengambil sebuah botol kecil dari rak tertinggi. Botol itu terbuat dari kaca hitam, disegel dengan lilin merah. Di dalamnya, terdapat cairan berwarna perak cair yang berputar-putar sendiri.
"Ini adalah Elixir Kebalikan," kata Mo, suaranya rendah. "Obat eksperimental yang kubuat bertahun-tahun lalu. Ia bekerja dengan prinsip paradoks. Alih-alih mengeluarkan Tinta Inti, ia memaksa tubuh inang untuk menerimanya sepenuhnya, lalu membalikkan polaritasnya. Jika berhasil, Tinta Inti itu akan menjadi sumber kekuatan baru, bukan parasit. Meridian terbaliknya akan menjadi stabil, bahkan lebih kuat dari sebelumnya."
"Dan jika gagal?" tanya Ren.
"Gagal berarti tubuhnya meledak," jawab Mo santai, seolah-olah sedang membahas resep sup. "Atau jiwanya hancur total, menjadi sayuran abadi. Peluang keberhasilannya? Lima puluh banding lima puluh."
Ruangan menjadi hening. Hanya suara mendidih kuali yang terdengar.
Ren menatap Lin. Gadis kecil itu menatap balik, matanya besar dan penuh kepercayaan buta. Ia tidak mengerti kompleksitas medis ini. Ia hanya tahu Kakaknya akan melakukan apa pun untuknya.
"Lima puluh persen," gumam Ren. Itu lebih baik daripada nol persen. Itu lebih baik daripada menunggu Lin perlahan-lahan hilang ingatan dan wujudnya.
"Aku setuju," kata Ren tegas.
Mo mengangguk. "Baik. Siapkan dirimu. Proses ini akan memakan waktu tiga hari. Selama itu, kau harus menjaganya agar tidak bergerak. Satu gerakan salah, dan jarum Qi-ku bisa menusuk jantungnya."
Mo memimpin mereka ke ruang belakang. Di sana, terdapat sebuah bak mandi batu besar yang diisi dengan cairan hijau kental. Di sekelilingnya, terdapat ratusan jarum perak tipis yang tersusun rapi di atas kain beludru.
"Keluarkan bajunya," perintah Mo pada Ren. "Masukkan dia ke dalam bak. Cairan ini akan mematikan rasa sakit sebagian, tapi tidak sepenuhnya. Ia akan tetap merasakan setiap perubahan di dalam tubuhnya."
Ren membantu Lin melepas pakaiannya dengan tangan gemetar. Gadis kecil itu menggigil, bukan karena dingin, tapi karena ketakutan instingtif terhadap bau obat yang menyengat.
"Kakak..." bisik Lin. "Apakah ini akan sakit?"
Ren memeluknya erat, mencium keningnya. "Sakit sekali, Lin. Tapi Kakak akan memegang tanganmu sepanjang waktu. Kakak tidak akan melepaskannya. Janji."
Lin mengangguk pelan, air mata mengalir di pipinya. Ia masuk ke dalam bak. Saat tubuhnya menyentuh cairan hijau, ia mengerang kesakitan, tubuhnya menegang.
Mo segera bertindak. Dengan kecepatan yang menakjubkan untuk pria seusianya, ia mulai menusukkan jarum-jarum perak ke titik-titik akupunktur di tubuh Lin. Setiap tusukan presisi, dalam, dan cepat. Lin menjerit, suaranya tertahan oleh cairan yang mulai naik ke lehernya.
Ren memegang tangan Lin erat-erat, jemarinya saling bertautan. Ia menatap wajah adiknya yang memerah karena menahan sakit, hatinya remuk. Tapi ia tidak melepaskan genggamannya. Ia menjadi jangkar Lin di tengah badai rasa sakit ini.
Di sudut matanya, Ren melihat Mo mengambil botol Elixir Kebalikan. Pria tua itu membuka segelnya, dan cahaya perak menyinari ruangan gelap itu.
"Ini saatnya," kata Mo. "Doakan keberuntunganmu, Anak Muda. Karena langit tidak akan mendengarnya."
Mo menuangkan cairan perak itu ke dalam mulut Lin.
Seketika, tubuh Lin melengkung ke belakang. Cahaya perak meledak dari dalam tubuhnya, menerangi kulitnya yang transparan. Garis-garis hitam di tubuhnya mulai berkedip, berubah warna menjadi perak, lalu kembali hitam, berdenyut liar seperti petir yang terperangkap dalam botol.
Jeritan Lin terdengar memilukan, menembus dinding pondok, menggema di lembah yang sunyi.
Ren menutup matanya, air mata mengalir deras, tapi genggamannya pada tangan Lin tetap kokoh, sekuat besi.
* bertahanlah, Lin,* pikirnya, doa yang dikirim ke alam semesta yang tuli. Bertahanlah.
Di luar, angin mulai bertiup kencang, membawa awan hitam yang bergulung-gulung. Badai datang. Dan di dalam pondok kecil itu, pertarungan untuk jiwa seorang gadis kecil baru saja dimulai.