Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Haruskah jujur?
Sore harinya, kediaman baru Fadil dan Aura dipenuhi atmosfer yang berat dan canggung. Syukuran sederhana yang diadakan keluarga besar hanya dihadiri oleh kerabat inti.
Di hadapan para sepupu dan paman yang tak henti-hentinya melontarkan pertanyaan terselubung mengenai ketidakhadiran Keisya, Fadil tampil begitu lihai.
Dengan senyum berwibawa dan bahasa tubuh yang tenang, pria itu menyusun narasi bahwa Keisya terpaksa mundur di detik-detik terakhir karena masalah kesehatan mendadak yang serius, dan demi menjaga komitmen dua keluarga besar, Aura bersedia menggantikan posisi sang kakak.
Aura hanya bisa mengangguk pelan, sambil menyunggingkan senyum tipis yang terasa kaku di bibirnya setiap kali ada kerabat yang menepuk bahunya seraya memberi ucapan selamat.
Di balik keramahan formal Fadil saat merangkul pinggangnya di depan umum, Aura bisa merasakan sentuhan jari-jari yang dingin dan kaku, sebuah kepura-puraan sempurna yang dirancang agar tak ada satu pun desas-desus liar yang mencoreng nama baik bisnis dan keluarga.
Usai acara syukuran yang menguras emosi itu selesai dan para tamu kembali ke kediaman masing-masing, suasana di dalam ruang tamu rumah baru itu terasa bagaikan medan perang yang hening.
Kini, dua pasang orang tua duduk berhadapan. Di satu sisi, Wijaya dan Kirana duduk dengan wajah kuyu, guratan penyesalan dan rasa malu tercetak jelas di raut muka mereka.
Di sisi lain, kedua orang tua Fadil yaitu Bambang dan Melati, duduk dengan menyilangkan tangan. Tatapan Bambang tajam menembus lantai, sementara Melati tak henti-hentinya mengusap keningnya yang berkerut.
Adapun Fadil, ia duduk terpisah di sofa tunggal. Pria itu menyandarkan punggungnya, pandangannya dingin menatap cangkir teh yang telah mendingin. Sedang di sampingnya, Aura berdiri pasrah sebelum akhirnya Kirana menarik lembut tangannya untuk duduk di sisi sofa.
"Jadi... sampai detik ini, tidak ada satu pun dari kalian yang tau ke mana Keisya pergi?" suara Bambang memecah keheningan. Nadanya berat, dalam, dan sarat akan penekanan seorang kepala keluarga yang menuntut jawaban.
Wijaya mendesah berat. Pria paruh baya yang biasanya selalu memancarkan aura wibawa sebagai pengusaha sukses itu kini tampak menua sepuluh tahun dalam semalam.
"Kami sudah mengerahkan semua orang, Bambang," ujar Wijaya. "Teman-teman dekatnya, studio tempatnya biasa bekerja, bahkan bandara. Semua nihil. Keisya mematikan seluruh akses komunikasinya. Dia... dia benar-benar menghilang."
"Menghilang?!" Melati menaikkan suaranya satu oktav, karena tak mampu lagi membendung amarah yang ditahannya sejak memasuki rumah itu.
Matanya berkaca-kaca menatap Kirana lalu melanjutkan perkataannya, "Jeng Kirana, ini bukan soal anak remaja yang kabur dari rumah karena merajuk! Ini soal pernikahan! Ratusan undangan hadir, nama baik keluarga kami dipertaruhkan, dan anakmu pergi begitu saja meninggalkan Fadil!"
Kirana hanya menunduk, sementara air matanya menetes membasahi jemarinya yang saling bertaut erat. "Maafkan kami, Melati... Maafkan keluarga kami. Kami sendiri tidak pernah menyangka Keisya tega melakukan ini..."
"Pasti ada alasannya!" potong Bambang seraya menepuk lengan sofa hingga menimbulkan dentuman yang pelan. Pria itu lalu menatap lurus ke arah Aura. Pandangan mata dari mantan calon mertua kakaknya itu kini terkunci padanya.
"Aura," panggil Bambang dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Kamu adalah orang terakhir yang bersama Keisya di kamar rias sebelum dia menghilang. Kamu yang keluar dari kamar itu membawa kabar bahwa pernikahan ini harus digantikan olehmu."
Seluruh pasang mata di ruangan itu langsung tertuju pada Aura. Bahkan Fadil, yang sejak tadi bersikap acuh tak acuh, kini menolehkan kepalanya perlahan, dan menatap wajah adik ipar yang kini menjadi istrinya itu dengan sorot mata yang menuntut.
Deg deg deg deg!
Jantung Aura berdegup kencang bagaikan genderang perang. Tangannya yang berada di atas pangkuan meremas kain roknya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Udara di sekitarnya terasa menyempit, hingga membuatnya sulit untuk sekadar menarik napas.
"Katakan pada Papa dan Mama, Ra," pinta Kirana seraya memegang bahu putrinya dan menahan tangis. "Apa yang sebenarnya terjadi di kamar itu? Kenapa kakakmu tega melakukan ini pada kita semua? Tolong jujur sama Mama..."
Aura menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering dan menyengat.
Di dalam benaknya, memori hari pernikahan itu berputar kembali dengan sangat jelas. Bayangan Keisya yang menangis histeris di lantai kamar rias, tubuh kakaknya yang bergetar hebat, dan bisikan pengakuan yang meremukkan dadanya: “Kakak hamil, Ra... Ini bukan anak Fadil...”
Rasa takut langsung menyergap seluruh persendian Aura. Bayangan reaksi orang-orang di ruangan ini jika kebenaran itu terungkap membuat bulu kuduknya berdiri.
Jika ia jujur bahwa Keisya hamil anak pria lain, kehormatan Keisya akan hancur lebur. Ayahnya yang memiliki riwayat penyakit jantung bisa saja ambruk seketika karena menanggung rasa malu yang sangat besar.
Keluarga Fadil tidak akan pernah memaafkan hinaan ini, dan nama baik kedua keluarga akan hancur tanpa sisa.
‘Tidak...’ batin Aura menjerit. ‘Ini bukan wewenangku untuk membongkar aib Kak Keisya. Kakak yang harus mengatakannya sendiri jika dia kembali... Aku tidak boleh membunuhnya di mata semua orang.’
"Aura, jawab Papa!" tegur Wijaya, suaranya meninggi menembus kecemasan yang membumbung. "Kenapa kamu diam saja?! Apa yang Keisya katakan padamu sebelum dia pergi?!"
Aura mendongak dengan perlahan, menatap mata ayahnya, lalu beralih menatap Kirana, dan akhirnya beradu pandang dengan Fadil. Pria itu menatapnya dengan alis bertaut rapat, seolah bersiap membongkar kebohongan apa pun yang keluar dari bibir Aura.
Aura menarik napasnya dengan sangat panjang, untuk meredam getaran di dadanya. "Kak Keisya... Kak Keisya cuma bilang kalau dia belum siap, Pa... Ma..."
"Belum siap?!" Melati terkekeh sinis, penuh kecurigaan dan rasa tak percaya. "Hanya karena 'belum siap' lalu dia mengorbankan kamu untuk menggantikannya?! Logika mana yang bisa menerima alasan sefantastis itu, Aura?!"
"Aura, jangan bohongi kami!" desak Bambang dengan nada yang sedikit membentak. "Kamu mengorbankan masa depanmu sendiri, hanya karena kakakmu bilang 'belum siap'? Ada hal besar yang kamu sembunyikan dari kami, kan?! Katakan yang sebenarnya!"
"Iya, Ra! Tolong kasihanilah Mama!" tangis Kirana meledak. Ia lalu mencengkram kedua lengan Aura, dan menguncinya dalam desakan. "Jujur sama Mama, Sayang! Apa Kakakmu punya utang? Apa dia diancam seseorang? Atau... atau ada pria lain?!"
Kata-kata 'pria lain' membuat Aura tersentak kecil. Namun, ia memaksakan matanya menatap sang ibu dengan sorot mata yang pasrah.
"Tidak ada yang lain, Ma..." bohong Aura. "Kak Keisya hanya bilang dia tidak sanggup melanjutkan pernikahan ini. Dia takut membuat Mas Fadil kecewa di masa depan, jadi dia memilih pergi. Dia cuma minta Aura menyelamatkan nama baik keluarga hari itu. Hanya itu yang Aura tau... demi Allah, hanya itu."
Aura menundukkan kepalanya, dan membiarkan air mata keputusasaannya menetes membasahi karpet. Ia memilih menanggung beban kebohongan ini, dan membiarkan dirinya dihujani rasa curiga dan amarah dari semua orang, daripada membongkar rahasia gelap yang bisa menghancurkan hidup kakaknya secara permanen.
"Bohong!"
Sebuah suara dingin dan tajam menggelegar. Fadil berdiri dari sofanya. Pria itu melangkah mendekat, dan berdiri tegap tepat di hadapan Aura yang sedang menunduk.
Fadil menatap Aura dengan pandangan yang sarat akan kebencian dan rasa tidak percaya. "Kamu pikir kami semua bodoh, Aura? Kamu melindungi Keisya, atau kamu sedang melindungi dirimu sendiri agar tetap berada di posisi ini?"
Aura langsung mendongak dan menatap Fadil dengan mata sembap yang memancarkan rasa sakit luar biasa. "Mas Fadil... demi Tuhan, aku tidak pernah menginginkan posisi ini!"
"Kalau kamu tidak menginginkannya, kamu bisa menolak hari itu!" bentak Fadil, amarahnya yang tertahan akhirnya menyembur di hadapan orang tua mereka. "Tapi kamu tetap diam! Kamu membiarkan dirimu didandani, kamu berjalan ke pelaminan, dan sekarang kamu berakting seolah-olah kamu adalah korban paling teraniaya di sini sambil menyembunyikan kebenaran tentang Keisya!"
"Fadil, jaga bicaramu!" tegur Wijaya sambil berdiri, membela putri bungsunya meskipun dadanya sendiri sesak oleh rasa kecewa.
"Memang benar kan, Om?!" balas Fadil tanpa rasa takut, seraya menatap Wijaya dan ayahnya secara bergantian. "Aura tau sesuatu yang tidak kita ketahui! Tapi dia memilih untuk tutup mulut dan berpura-pura menjadi pahlawan pengorbanan! Jika Keisya memang melarikan diri secara tidak bertanggung jawab, lalu kenapa kamu begitu gigih membelanya, Aura?!"
Aura memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap tuduhan Fadil bagaikan jarum yang menghujam jantungnya.
Namun di balik rasa sakit itu, teguran logis di benaknya menahan bibirnya untuk tetap terkunci. Ia tau, sekali kata 'hamil' keluar dari mulutnya, tidak akan ada jalan untuk kembali.
"Terserah Mas Fadil mau bicara apa..." bisik Aura dengan suara parau yang hampir tenggelam dalam isakan. "Mas boleh membenciku, Mas boleh menyalahkanku atas hilangnya Kak Keisya. Tapi aku tidak punya jawaban lain selain yang sudah kukatakan. Jika Kak Keisya kembali nanti, tanyakan langsung padanya. Biar dia sendiri yang menjelaskan alasannya pada kalian semua."
____
_______
Bambang mendesah panjang, lalu berdiri dari duduknya seraya mengancingkan jasnya. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam atas jalan buntu yang mereka temui.
"Sudahlah," ujar Bambang pada istrinya. "Tidak ada gunanya mendesak orang yang sudah memutuskan untuk bungkam. Nasi sudah menjadi bubur. Pernikahan ini sudah terjadi di mata publik dan hukum."
Bambang lalu menatap Fadil dengan tajam. "Fadil, jagalah rumah tanggamu. Jangan sampai ada rumor liar di luar sana. Soal Keisya... Papa akan tetap menyuruh orang untuk mencarinya sampai ketemu."
Melati pun berdiri dengan wajah yang masam, dan sama sekali tidak menoleh ke arah Kirana yang masih menangis terisak. Tanpa menguarkan sepatah kata pamit yang hangat, kedua orang tua Fadil langsung melangkah keluar dari rumah itu.
Wijaya merangkul bahu istrinya yang terkulai lemas, kemudian hendak melangkah pergi meninggalkan rumah baru putri bungsunya. Wijaya menatap Aura dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa kasihan, kecewa, dan beban berat yang tak terucapkan.
"Papa dan Mama pulang dulu, Ra," bisik Wijaya pelan. "Jaga dirimu baik-baik di sini."
Aura hanya bisa mengangguk pasrah. Bahkan orang tuanya tidak bisa membantunya dalam situasi ini.
Setelah orang tua mereka pergi dan pintu depan tertutup rapat, tersisa Fadil dan Aura di ruang tamu yang luas itu. Fadil melangkah mendekati Aura, berdiri begitu dekat hingga bayangannya menutupi tubuh wanita itu.
"Kamu berhasil menyimpan rahasianya hari ini, Aura," bisik Fadil. "Tapi ingat... kebohongan tidak akan pernah bertahan selamanya. Suatu hari nanti, ketika kebenaran itu terbongkar, aku pastikan rasa sakit yang kamu rasakan akan berlipat ganda dari apa yang kamu rasakan hari ini."
Fadil berbalik dan melangkah cepat menuju kamar kerjanya, lalu membanting pintu dengan keras hingga menggetarkan seluruh isi rumah.
BAM!
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣