NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Nyaris, Selalu Nyaris

"Tentu, Pak Handoko."

Renard berdiri sebelum tamunya mencapai sisi meja.

Ia memutar monitor ke arah sofa dan mengambil tablet Pak Handoko dari tangannya dengan gerakan yang begitu wajar sampai tidak terlihat seperti penghalang.

"Layarnya akan lebih jelas dari sana. Cahaya jendela memantul kalau Anda berdiri di sini."

Pak Handoko berhenti. "Benar juga."

Renard berjalan di sampingnya, sengaja mengambil jalur paling dekat dengan meja agar tubuhnya menutup semua sudut pandang. Mereka pindah ke sofa.

Di bawah meja, Liana membuka mata.

Ia tidak berani mengembuskan napas lega. Sepatu Pak Handoko masih terlihat dari celah bawah panel, hanya kini mengarah menjauh.

"Jadi diagram ini menunjukkan proyeksi enam bulan?" tanya pria itu.

"Sembilan bulan. Garis biru untuk distribusi, garis abu-abu untuk produksi."

Renard duduk di kursi sofa yang membelakangi meja. Tatapannya sempat melintas ke bawah, memastikan Liana masih aman.

Pertemuan berlanjut dua belas menit lagi.

Renard sengaja memperpanjang pembahasan di sofa. Ia meminta Pak Handoko mengirim tabel biaya mentah, memeriksa satu angka yang berbeda, lalu merangkum ulang kesepakatan agar tamunya tidak punya alasan kembali ke meja.

Di balik ketenangan suaranya, ia menghitung setiap gerakan dari bawah meja. Gesekan kain pelan berarti Liana masih bisa bergeser. Ketukan satu kali di panel berarti ia baik-baik saja. Ketika tidak ada suara selama hampir satu menit, Renard nyaris menghentikan rapat.

Lalu ujung sepatunya merasakan satu sentuhan ringan.

Liana masih di sana.

Entah mengapa, penanda kecil itu membuat napasnya ikut lega.

Bagi Liana, rasanya seperti dua belas tahun.

Ketika Pak Handoko akhirnya menutup tabletnya, kaki Liana sudah tidak bisa merasakan apa pun. Dimas masuk untuk mengantar tamu ke lift. Pintu tertutup, tetapi Renard menunggu sampai suara mereka benar-benar menghilang dari koridor.

Ia lalu berjalan ke pintu dan menguncinya.

"Sudah aman."

Tidak ada jawaban.

Renard berjongkok di sisi meja. "Liana?"

"Kaki saya mati."

"Mati rasa atau benar-benar mati?"

"Kalau Bapak masih sempat bercanda, berarti belum merasa bersalah."

"Aku sudah melarangmu masuk ke sana."

"Dan saya menyelamatkan reputasi kita."

"Dengan menghabiskan hampir setengah jam di bawah mejaku?"

"Kalau diringkas seperti itu, reputasi kita terdengar lebih buruk."

Renard mengulurkan kedua tangan. "Pegang aku."

Liana meraih lengannya. Renard menarik perlahan, menopang siku dan pinggangnya sampai ia keluar dari bawah meja.

Begitu berdiri, lutut Liana langsung lemas.

Renard menangkapnya sebelum jatuh. Tubuh Liana menempel pada dadanya. Satu tangan pria itu berada di punggung, satu lagi di pinggang.

"Jangan berdiri dulu."

"Saya baik-baik saja."

"Kakimu nggak setuju."

"Sekarang Bapak membela anggota tubuh saya?"

"Mereka tampaknya lebih jujur daripada pemiliknya."

Renard membawanya duduk di sofa. Ia berlutut di depan Liana dan hendak memeriksa pergelangan kakinya, tetapi berhenti sebelum menyentuh.

"Boleh?"

Liana mengangguk.

Ia menekan ringan ujung sepatu dan meminta Liana menggerakkan jari kaki. Setelah memastikan hanya kesemutan biasa, Renard berdiri mengambil air.

"Lima menit. Jangan jalan dulu."

"Pak Handoko bilang sepuluh menit. Saya sudah nggak percaya perkiraan waktu pria kaya."

Renard menyerahkan gelas. "Lima menit sungguhan."

Saat Liana minum, Renard melihat rambutnya. Beberapa helai berdiri di puncak kepala, bagian belakang kusut karena tersangkut rel laci.

Tangannya terangkat tanpa dipikirkan.

Jari Renard menyisir helai yang berantakan ke belakang telinga Liana. Ia merapikan bagian atas dengan telapak tangan, gerakannya lambat dan sangat hati-hati.

Liana membeku.

Selama hidupnya yang kedua ini, ia sudah berjanji tidak akan salah membaca perhatian siapa pun. Pertolongan bukan cinta. Perlindungan bukan kepemilikan. Kedekatan tubuh bisa terjadi karena terapi, keadaan darurat, bahkan ruang meja yang terlalu sempit.

Namun jari Renard tidak sedang melakukan semua itu.

Ia merapikan rambut Liana seperti gerakan tersebut sudah lama menjadi haknya, lalu berhenti justru karena sadar ia belum memiliki hak apa pun.

Kesadaran itu membuat dada Liana lebih hangat daripada sentuhannya.

Renard baru sadar apa yang dilakukannya ketika ujung jarinya menyentuh kulit di belakang telinga perempuan itu.

Ia seharusnya menarik tangan.

Namun mata Liana terangkat, bening dan terlalu dekat. Aroma yang sama dari Bali mengalir di antara mereka.

"Liana, sebenarnya aku..."

Kata-kata itu tertahan.

Ia ingin mengatakan bahwa gejalanya hilang di dekat Liana. Bahwa ia memikirkan kepala yang tidur di dadanya setiap malam. Bahwa dua nama di dalam pikirannya semakin terasa seperti satu orang, dan anehnya perasaan Renard tidak berubah meski dugaan itu benar.

Terlalu banyak untuk hubungan yang bahkan belum punya nama.

Terlalu berbahaya diucapkan saat Liana baru saja keluar dari bawah mejanya dan masih bergantung pada pekerjaan ini.

Renard menurunkan tangan.

"Sebenarnya kamu harus memperbaiki kode pada sampel 03 sebelum dikirim ke tim."

Keheningan satu detik terasa sangat memalukan.

"Itu yang mau Bapak bilang?" tanya Liana.

"Iya."

"Sambil merapikan rambut saya?"

"Rambutmu menghalangi kode."

Liana melihat kotak sampel di meja yang berjarak hampir tiga meter.

"Tentu, Pak Renard."

Nada datarnya adalah hukuman.

***

Liana melarikan diri ke pantry setelah kakinya pulih.

Rizal dan Bayu sedang makan keripik di dekat mesin kopi. Keduanya menoleh bersamaan.

"Mbak Liana," kata Rizal. "Rambutnya kenapa?"

Tangan Liana langsung menyentuh puncak kepala. "Kenapa?"

"Kayak habis masuk lemari arsip," jawab Bayu.

"Saya terbentur rak."

"Rak di kantor Pak Renard?"

"Rak ya rak. Kenapa harus punya alamat?"

Rizal menggigit bibir agar tidak tersenyum. "Nggak apa-apa. Kami cuma khawatir."

"Khawatir atau sedang taruhan?"

Bayu menyembunyikan uang di bawah bungkus keripik.

Liana menyipit. "Mulai besok kalian berdua yang cek ruang arsip lantai dua. Semua rak. Satu per satu."

Ia pergi membawa air dingin.

Rizal menatap Bayu. "Naik jadi makan siang plus es kopi."

***

Di dalam kantor, Renard membuka kembali kotak sampel.

Ia mencium blotter 03. Komposisinya bukan aroma Liana, tetapi ada sentuhan cendana yang mengingatkannya pada kehangatan di ruang terapi. Ia memasukkan vial itu ke laci pribadi, bersama catatan gejala dan formulir evaluasi.

Sebelum menutup laci, Renard memotret nomor kode vial untuk dikirim kepada tim evaluasi. Ia juga menulis keputusan profesionalnya: formula perlu revisi pada pembuka, sedangkan struktur dasar layak dilanjutkan.

Liana harus mendapat kredit untuk rekomendasi awal. Ia menambahkan namanya pada catatan internal sebagai evaluator, lalu mengunci keputusan agar tidak bisa dihapus tanpa jejak.

Baru setelah urusan kerja selesai, Renard menatap vial itu sebagai benda pribadi.

Ia tidak ingin ketertarikannya mengaburkan karier Liana. Kalau suatu hari perempuan itu berdiri di panggung kompetisi, semua orang harus tahu ia sampai di sana karena hidung dan keberaniannya sendiri.

Bukan untuk mengumpulkan bukti diam-diam. Sampel itu memang memerlukan keputusan langsung darinya.

Namun ia tidak bisa menyangkal bahwa tiga hal kini tersusun terlalu rapi: aroma, efek sentuhan, dan pengetahuan Liana tentang setiap respons tubuhnya.

Renard menutup laci.

Sabtu nanti, ia tidak akan membuka penutup mata tanpa izin.

Ia akan meminta Nona Terapis membiarkannya melihat wajahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!