Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 23: Isak Tangis di Antara Kanvas
...MENGULANG LUKA...
...Bab 23: Isak Tangis di Antara Kanvas...
Suara gemericik air hujan yang meluas di luar gedung studio seolah menjadi melodi yang melengkapi keheningan dingin di ruangan tersebut. Begitu tiba dari perjalanan meninggalkan mansion keluarga Edgar, Valencia langsung mengunci diri rapat-rapat di dalam studio lukisnya. Tempat ini seharusnya menjadi perlindungan utama, sebuah tempat di mana dia bisa melarikan diri dari bayang-bayang kehidupan rumah tangganya yang menyesakkan menuju dunia yang paling dia pahami: kanvas, aroma cat, dan guratan warna.
Di tangan kanannya, sebuah kuas meliuk-liuk di atas permukaan kain kanvas yang tebal, mencoba menuangkan bentuk sketsa baru. Namun, semakin keras Valencia berusaha memusatkan seluruh fokus dan pikirannya pada garis, pencahayaan, dan komposisi warna, semakin nyaring pula gaung suara tajam Mami Sita berdentang berulang kali di dalam kepalanya.
“Kalau kamu memang tidak bisa memberikan aku cucu, biarkan wanita lain yang melakukan tugas itu. Biarkan Julian menikah lagi!”
PRANG!
Kuas di jemari lentiknya mendadak terlepas dari cengkeraman, jatuh menghantam lantai marmer dan meninggalkan bercak cat hitam yang pekat mengotori lantai.
Dada Valencia tiba-tiba naik turun dengan cepat dan tidak teratur. Rasa sesak yang amat membedah dada mendadak menyerang paru-parunya, begitu intens hingga membuatnya merasa kehabisan oksigen dan kesulitan hanya untuk meraup sekantong udara. Jemari tangannya gemetar hebat sewaktu meremas kain kemeja di bagian dadanya, berusaha meredakan denyut nyeri yang mendadak menjalar begitu pekat dari dalam ulu hatinya.
"Hah... hah..." Valencia bertumpu payah pada tepi meja tempat adonan cat, menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari memejamkan mata erat-erat.
Topeng ketenangan, sikap dingin, dan dinding es yang dia bangun dengan begitu kokoh sepanjang pagi tadi di hadapan ibu mertuanya mendadak runtuh tanpa sisa. Pertahanan emosional yang selama ini dia bangga-banggakan jebol begitu saja. Air mata yang sejak tadi pagi dia tahan dengan seluruh kekuatannya akhirnya menetes satu per satu, membasahi kain celemek linennya, hingga berubah menjadi tangisan yang begitu pilu, pecah, dan sesenggukan.
Kaki Valencia mendadak kehilangan seluruh tumpuan. Wanita itu merosot perlahan ke atas lantai studio yang dingin dan kaku, memeluk kedua lututnya rapat-rapat ke dada. Suara isak tangisnya yang selama ini selalu dia sembunyikan kini pecah tanpa kendali, menembus setiap sudut keheningan ruangan studio lukis tersebut.
Dua tahun pernikahan yang hampa di kehidupan pertamanya dulu telah sukses menghancurkan seluruh harga diri dan martabatnya sebagai seorang wanita. Di kehidupan lalu, dia sudah mati-matian berjuang, menangis saban malam, merendahkan harga dirinya hingga ke titik terbawah, sampai akhirnya dia menyerah sepenuhnya dan menerima takdir mati dalam kegetiran. Namun, jika ini adalah kesempatan kedua... kenapa dia harus dipaksa memutar kembali waktu ke masa-masa paling kelam ini?
Kenapa kesempatan kedua yang diberikan takdir tidak membawanya ke masa depan yang sudah jauh dan bebas dari Julian Edgar? Kenapa takdir justru melemparnya kembali persis di titik di mana luka-lukanya masih begitu basah, berdarah, dan terasa teramat menyiksa?
"Kenapa..." bisik Valencia di sela isak tangisnya yang makin hebat dan tak terkontrol. Suaranya terdengar amat parau, berat, dan terputus-putus oleh napasnya yang memburu. "Kenapa... kenapa aku harus mengulang momen yang sangat menyakitkan ini lagi...?"
Wanita itu menyembunyikan seluruh wajahnya di balik lipatan kedua belah tangannya, menangis sejadi-jadinya meluapkan seluruh keputusasaan, kemarahan, dan rasa lelah yang tertahan rapat sejak pertama kali dia terbangun di masa lalu.
"Apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan untukku? Apa salahku di kehidupan sebelumnya... sampai aku harus merasakan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya...?"
Pertanyaan-pertanyaan penuh kepedihan itu menguap hampa di udara studio yang pekat. Tidak ada jawaban yang datang; hanya denting halus tumpuan bulir air hujan yang makin deras menetes di balik kaca jendela besar. Di tengah studio lukisnya yang sepi dan dingin, Valencia menangis bukan karena dia merindukan atau mengharapkan belas kasih dari Julian Edgar, melainkan karena jiwanya merasa begitu lelah dan hancur memikul ingatan kelam dari dua kehidupan yang terus-menerus menyiksanya tanpa ampun.