Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Wanita yang Seharusnya Mati
Raven masih berdiri di balkon, menatap ke arah gelap tempat penyusup itu menghilang.
Angin malam berembus kencang, tetapi pikirannya jauh lebih kacau daripada cuaca di luar.
Wajah wanita bertopeng itu terus terbayang di benaknya.
"Itu tidak mungkin..." gumamnya pelan.
Leo berdiri di sampingnya.
"Tuan, apa Anda benar-benar mengenalnya?"
Raven mengangguk perlahan.
"Kalau aku tidak salah..."
"...dia adalah Elena."
Leo langsung membelalakkan mata.
"Putri kandung Matteo Alvaro?"
"Ya."
"Tapi bukankah dia meninggal dalam kebakaran dua puluh tahun lalu?"
"Itulah yang selama ini aku percaya."
Aurora yang mendengar percakapan mereka ikut terdiam.
Nama Elena baru pertama kali ia dengar.
"Siapa Elena?" tanyanya.
Raven memandangnya sesaat.
"Anak perempuan ayah angkatku."
"Apa yang terjadi padanya?"
"Semua orang mengira dia ikut tewas ketika rumah kami dibakar."
Aurora mulai memahami mengapa Raven tampak begitu terguncang.
Jika Elena masih hidup, berarti ada banyak rahasia tentang malam pembantaian itu yang belum terungkap.
Leo segera memberikan perintah kepada seluruh penjaga.
"Cari ke seluruh area!"
Namun hingga fajar menyingsing, penyusup itu tak ditemukan.
Seolah ia menghilang ditelan malam.
Keesokan paginya...
Suasana mansion terasa lebih tegang dari biasanya.
Keamanan diperketat.
Semua orang diperiksa.
Tidak ada satu pun kendaraan yang boleh keluar atau masuk tanpa izin Raven.
Aurora sedang berada di ruang medis ketika Raven datang.
"Duduk."
Aurora mengangkat alis.
"Aku sedang bekerja."
"Ini penting."
Aurora akhirnya mengikuti Raven menuju ruang kerjanya.
Di atas meja telah tersedia beberapa berkas.
"Aku ingin kau melihat ini."
Aurora membuka map pertama.
Isinya adalah foto-foto lama keluarga Alvaro.
Di salah satu foto terlihat Raven kecil berdiri di samping seorang gadis berusia sekitar delapan tahun.
Gadis itu tersenyum ceria sambil memegang tangan Raven.
"Itu Elena?"
Raven mengangguk.
"Dia menganggapku kakaknya."
Aurora memperhatikan foto itu lebih lama.
Senyum gadis kecil tersebut terlihat begitu tulus.
Sulit membayangkan bahwa ia mungkin kini menjadi penyusup yang mematikan.
"Apa kau yakin itu dia?"
"Aku tidak mungkin salah mengenali orang yang tumbuh bersamaku."
Aurora mengembalikan foto itu.
"Kalau memang Elena masih hidup, kenapa dia menyerangmu?"
"Itulah yang harus kucari tahu."
Belum sempat percakapan mereka selesai, suara ponsel Raven berdering.
Leo langsung menjawab.
Wajahnya berubah serius.
"Tuan..."
"Ada apa?"
"Gudang senjata kita di pelabuhan diserang."
"Korban?"
"Lima belas orang tewas."
Raven mengepalkan tangan.
"Vittorio."
"Tidak hanya itu."
Leo menyerahkan ponselnya.
"Dia meninggalkan pesan."
Di layar terlihat sebuah video.
Vittorio De Luca duduk santai di sebuah kursi besar sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Raven."
"Kalau kau sedang menonton video ini, berarti salah satu gudangmu sudah menjadi abu."
Ia tertawa kecil.
"Ini baru permulaan."
"Sebentar lagi aku akan mengambil semua yang kau miliki."
Video berhenti.
Ruangan menjadi sunyi.
Aurora dapat melihat amarah yang mulai memenuhi wajah Raven.
Namun pria itu tetap mampu mengendalikan emosinya.
"Siapkan mobil."
Leo mengangguk.
"Anda mau ke pelabuhan?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku akan mengunjungi Vittorio."
Leo tampak terkejut.
"Itu terlalu berbahaya."
Raven tersenyum tipis.
"Kalau dia berani mengirim pesan, berarti dia juga siap menerima balasannya."
Aurora melangkah maju.
"Kau benar-benar mau datang ke markas musuh?"
"Ya."
"Itu sama saja bunuh diri."
Raven menatapnya tenang.
"Kalau aku takut mati, aku tidak akan menjadi Don."
Aurora menggigit bibir.
Ia tidak mengerti mengapa dirinya mulai mengkhawatirkan pria itu.
Padahal beberapa hari lalu ia bahkan berharap bisa terbebas darinya.
Saat Raven hendak pergi, Aurora tanpa sadar memanggilnya.
"Raven."
Pria itu berhenti.
"Hati-hati."
Kalimat sederhana itu membuat seluruh ruangan mendadak hening.
Leo menoleh ke arah Aurora.
Begitu pula Raven.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Aurora memanggil nama Raven tanpa kebencian.
Raven tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi.
Dari balik jendela, Aurora memperhatikan iring-iringan mobil hitam yang meninggalkan mansion.
Entah mengapa, hatinya dipenuhi firasat buruk.
Sementara itu, jauh di sebuah gedung tua di pusat kota, Vittorio De Luca berdiri di depan jendela sambil memegang segelas anggur.
Seorang wanita bertopeng berlutut di hadapannya.
"Dia mulai mencarimu," ujar Vittorio.
Wanita itu perlahan melepas topengnya.
Wajahnya adalah wajah yang sama dengan penyusup semalam.
"Aku memang ingin ditemukan."
Vittorio tersenyum puas.
"Kalau begitu bersiaplah."
"Pertunjukan yang sebenarnya baru akan dimulai."
Wanita itu mengangkat wajahnya.
Tatapannya dipenuhi kebencian.
"Raven Alvaro..."
"Aku akan membuatmu membayar semua dosa keluargamu."