NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Bab 7

Jumat sore. Perpustakaan Universitas Adiloka.

Lusi sedang sendirian di lantai dua perpustakaan, mencari referensi untuk tugas Audit Sektor Publik. Rak-rak buku menjulang di sekelilingnya, menciptakan lorong-lorong sempit yang sunyi. Hanya ada beberapa mahasiswa lain yang duduk di meja baca, semuanya sibuk dengan laptop masing-masing.

Tiba-tiba, seseorang muncul di ujung lorong.

Bayu.

Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara. Ia memakai kaos hitam dan celana jeans robek-robek gaya yang selalu ia pakai. Tangannya dimasukkan ke saku. Matanya, seperti biasa, menatap langsung ke arah Lusi.

"Hai, Lus."

Lusi tersentak. Buku yang sedang ia pegang nyaris jatuh. "Kak Bayu? Ngapain di sini?"

"Nyari buku. Sama kayak lo." Bayu berjalan mendekat. Jarak mereka kini hanya satu meter. Lusi bisa mencium aroma tembakau dari tubuhnya. "Lo lagi ngapain?"

"Nyari referensi buat tugas..."

"Tugas apa?"

"Audit..."

"Hm." Bayu mengambil satu buku dari rak, membukanya sekilas, lalu meletakkannya kembali. Matanya tidak melihat buku itu. Matanya tetap tertuju pada Lusi. "Eh, Lus. Lo udah lama ya sama Irawan?"

Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Lusi mengerjapkan mata. "Udah... hampir lima bulan, Kak."

"Lima bulan. Lumayan lama." Bayu mengangguk pelan. "Lo sayang sama dia?"

"Apa?"

"Lo sayang nggak sama Irawan?"

Lusi tidak mengerti arah percakapan ini. "Aku... aku sayang, Kak. Kenapa?"

Bayu tersenyum. Senyumnya tipis, nyaris tidak terlihat. Tapi ada sesuatu di senyum itu yang membuat Lusi ingin mundur selangkah. "Nggak papa. Cuma nanya. Temen gue sendiri kan. Gue cuma pengen mastiin dia bahagia."

"Oh..."

"Dan lo juga bahagia kan, Lus? Sama Irawan?"

Pertanyaan itu seharusnya terdengar manis. Tapi entah kenapa, dari mulut Bayu, kata-kata itu terdengar seperti ancaman terselubung.

"Aku... aku bahagia, Kak."

"Bagus." Bayu mengangguk lagi. "Kalau gitu, jangan pernah tinggalin dia ya. Irawan itu... rapuh. Dia butuh lo."

Dan sebelum Lusi bisa menjawab, Bayu sudah berbalik dan berjalan pergi, menghilang di antara rak-rak buku.

Lusi berdiri mematung. Jantungnya berdebar cepat. Ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ia tidak tahu apa.

Jangan pernah tinggalin dia.

Apa maksudnya?

Sabtu malam. Hotel Kemuning, Jalan Kaktus, Pasuruan. Pukul 19.30.

Hotel itu bukan hotel bintang empat seperti yang Rendy katakan. Bangunannya tua peninggalan era 90-an yang mencoba direnovasi tapi gagal. Cat dindingnya krem kusam, lampu di lobi berkedip-kedip, dan resepsionisnya terlihat seperti sudah seminggu tidak tidur.

Tapi Lusi tidak peduli. Ia sudah berdandan cantik malam ini jilbab warna dusty pink yang baru ia beli dua hari lalu, baju gamis simpel tapi elegan, dan lipstik nude yang katanya cocok untuk kulit sawo matangnya. Ia bahkan meminjam parfum teman sekostnya, Dita, yang harganya selangit.

"Lo mau kencan ya, Lus?" goda Dita saat Lusi berkaca di depan pintu.

"Bukan kencan. Ulang tahun temen."

"Temen? Atau pacar?"

Lusi tersenyum. "Pacar juga ada di sana."

"Ya udah, have fun! Jangan pulang terlalu malem!"

Lusi tidak akan pulang terlalu malam. Setidaknya, itulah rencananya.

Pesta diadakan di lantai tiga, di sebuah suite room yang cukup besar untuk menampung lima belas orang. Tapi begitu Lusi masuk, ia langsung menyadari sesuatu: jumlah orang di sini tidak sampai lima belas.

Hanya ada delapan orang.

Irawan. Dimas. Rendy. Bayu.

Dan empat perempuan yang tidak dikenal Lusi.

Mereka bukan mahasiswi Universitas Adiloka. Setidaknya, Lusi tidak pernah melihat mereka di kampus. Mereka memakai pakaian yang terlalu minim, terlalu ketat, dan dandanan yang terlalu tebal. Satu di antaranya perempuan berambut pirang dengan tato mawar di lengan sedang duduk di pangkuan Rendy sambil tertawa-tawa.

"Oh, Lusi datang!" seru Rendy. Ia bangkit, mendorong perempuan pirang itu dari pangkuannya. "Akhirnya! Tamu paling ditunggu!"

"A... aku telat ya, Kak?"

"Nggak, nggak. Pas banget. Masuk, masuk!"

Lusi melangkah masuk dengan canggung. Ia mencari Irawan dengan matanya. Di sana di sudut ruangan, sedang duduk di sofa sambil memegang gelas.

"Wan!"

Irawan menoleh. Lesung pipinya muncul. "Lus! Sini!"

Lusi berjalan ke arahnya, tapi langkahnya terhambat oleh meja besar di tengah ruangan yang penuh dengan botol-botol alkohol. Vodka. Whiskey. Beer. Bahkan ada sebotol arak Bali yang labelnya sudah mengelupas.

"Wan... katanya ini ulang tahun? Kok..."

"Ulang tahun? Oh, iya, iya. Ulang tahunnya Rendy. Tapi dia bilang, mending sekalian party aja. Santai. Lo duduk sini."

Lusi duduk di samping Irawan. Ia mencoba menenangkan diri. Tenang, Lus. Ini cuma pesta biasa. Temen-temennya Irawan memang begini. Lo harus terbuka. Lo harus belajar bergaul.

Dimas mendekat, membawa dua gelas di tangannya. Satu gelas berisi cairan bening dengan es batu, satunya lagi berisi cairan merah gelap. "Lusi! Minum dulu! Lo mau yang mana?"

"A...aku nggak minum alkohol, Kak."

"Alkohol?" Dimas tertawa keras. "Ini bukan alkohol! Ini sparkling juice. Halal, halal. Lo kira gue berani ngasih alkohol ke pacarnya Irawan? Bisa dibunuh gue nanti."

Irawan tertawa. "Bener, Lus. Itu juice. Aman."

Lusi menatap gelas itu ragu. Ada sesuatu dalam warna merahnya yang terlalu pekat, terlalu kental. Tapi Dimas sudah menyodorkannya ke depan wajahnya, dan Irawan sudah mengangguk meyakinkan.

"Percaya sama gue, Lus. Gue nggak mungkin ngasih lo sesuatu yang aneh-aneh."

Percaya sama gue.

Kalimat itu lagi. Kalimat yang selalu berhasil meluluhkan semua keraguan Lusi.

Ia mengambil gelas itu. Menyesapnya perlahan. Rasanya manis, sedikit asam, dan ada aftertaste aneh yang tidak ia kenali. Tapi ia tetap minum. Sedikit demi sedikit.

"Gitu dong!" seru Dimas. "Pacar Irawan harus bisa bergaul!"

Satu jam berlalu.

Suasana semakin riuh. Musik diputar dari speaker bluetooth lagu-lagu EDM dengan bass yang menggetarkan dinding. Perempuan-perempuan itu semakin liar, menari-nari di tengah ruangan. Rendy sudah membuka bajunya dan menari dengan botol vodka di tangan. Dimas sibuk dengan ponselnya, entah melakukan apa. Bayu duduk di pojok, menonton semuanya dengan mata tajamnya.

Dan Lusi...

Kepalanya mulai pusing. Bukan pusing biasa. Tapi pusing yang membuat penglihatannya kabur, membuat suara-suara di sekelilingnya terdengar seperti dari kejauhan.

"Wan... aku kok..."

"Kenapa, Lus?"

"Aku... pusing..."

"Wajar. Lo cuma kecapean. Sini, minum lagi. Biar seger."

Gelas itu disodorkan lagi ke bibirnya. Dan Lusi, dalam keadaan setengah sadar, meminumnya lagi.

Lima menit kemudian, semuanya menjadi gelap.

\[BERSAMBUNG…\]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!