NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di balik sikapnya yang tegas tersimpan kepedulian

Adrian segera melanjutkan ucapannya dengan nada yang tegas dan memerintah. “Segera ukur dengan tepat lingkar jari Nya sekarang juga, lalu pesankan dan buatkan cincin yang benar-benar pas ukurannya dengan desain yang sama persis seperti ini.”

Namun Yamal tampak ragu menyampaikan sesuatu, ia pun menjawab dengan hati-hati. “Mohon maaf sekali jika saya harus menyampaikan hal ini, Tuan. Model serta desain cincin seperti ini memiliki jumlah yang sangat terbatas, dan stok bahannya sudah habis sama sekali di semua toko perhiasan terkemuka di kota ini.”

Raut wajah Adrian tampak semakin tidak puas mendengar penjelasan itu, namun akhirnya ia hanya menghela napas panjang sejenak, lalu memberi isyarat agar Yamal pergi. “Sudahlah, cukup sampai di sini penjelasanmu. Kau boleh pergi kembali ke tugasmu.”

Tanpa kusadari, pandangan mata Adrian kini beralih menatap lekat pada punggung tanganku yang tergeletak di tepi meja. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya dan menahan pergelangan tanganku dengan lembut namun tegas. “Tunggu sebentar. Apa yang sebenarnya terjadi dengan tanganmu itu?”

Aku pun ikut menunduk melihat ke arah tanganku. Di sana masih terlihat samar bekas memar yang terlihat kemerahan, meski luka lecetnya sudah mulai kering dan tidak lagi seperih kemarin. Dengan cepat aku menarik kembali tanganku dari genggamannya, lalu menyembunyikannya di belakang punggungku secepat mungkin. “Bukan apa-apa… ini hanya bekas terjatuh saja saat berjalan kemarin.”

Adrian sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku, suaranya tetap datar namun menyimpan ketegasan yang tak bisa dibantah. “Yamal, bawalah kotak obat dan perlengkapan pengobatan ke sini sekarang.”

“Tidak usah, terima kasih! Ini hanya luka lecet yang sangat kecil saja dan tidak mengganggu apa pun,” tolakku dengan perasaan panik. Namun Adrian seolah tidak mendengar penolakanku sama sekali, sementara Yamal pun segera berjalan pergi untuk melaksanakan perintah itu tanpa menanyakan alasan lebih lanjut.

Tak berlama-lama, Yamal kembali membawa kotak obat yang tertutup rapat, meletakkannya perlahan di sudut meja makan, lalu segera berpamitan kembali keluar ruangan agar tidak mengganggu kami berdua. Adrian pun membuka tutup kotak itu perlahan, lalu kembali mengulurkan tangannya ke arahku dengan tatapan yang tak bisa ditolak. “Berikanlah tanganmu kepadaku sekarang.”

“Aku bilang tidak perlu…” aku masih berusaha menolak pelayanannya, namun saat ia menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang tajam namun tak menyimpan kemarahan, seketika keberanianku luntur begitu saja. Perlahan dan dengan ragu, aku mengangkat tanganku lalu meletakkannya di atas telapak tangannya yang jauh lebih besar, kokoh, namun terasa hangat dan menenangkan. Ia merawat luka itu dengan sangat hati-hati, bergerak perlahan seolah takut sedikit saja menyakitiku, dan sepanjang waktu itu ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Hening terasa menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara lembut pergerakan tangannya yang membersihkan dan menutup luka itu dengan rapi.

Setelah Yamal benar-benar keluar dari ruangan dan kami berdua kembali sendirian, Adrian perlahan menoleh ke arahku. Nada bicaranya terdengar jauh lebih lunak dan tidak sekeras biasanya saat ia berkata: “Baiklah, nanti kita akan pergi bersama saja. Kita akan memilihkan yang baru, dan pastikan ukurannya benar-benar pas serta nyaman untukmu.”

Belum sempat aku menyusun kata-kata untuk menjawab ucapannya itu, tiba-tiba perutku mengeluarkan suara yang cukup jelas terdengar di tengah keheningan itu: “Kruuk…” Wajahku seketika memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa, aku hanya mampu menundukkan kepala dalam-dalam sambil bergumam dalam hati: Ya Tuhan… sungguh hal yang sangat memalukan terjadi tepat di hadapannya.

Adrian tentu saja mendengar suara itu, matanya pun beralih menatap sejenak ke arah hidangan sederhana yang tersaji rapi di atas meja makan itu. “Makanlah dulu,” ucapnya dengan nada yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. “Aku akan menunggumu.”

Namun entah mengapa hatiku bergerak ingin menawarkannya juga untuk ikut menikmati masakan buatan tanganku itu. Dengan suara yang lembut dan masih terdengar sedikit gugup, aku akhirnya memberanikan diri berbicara: “Tu… maksudku kakak Adrian, apakah kau sudah sempat sarapan sebelumnya? Ini hanyalah masakan yang sangat sederhana, apa adanya dari bahan yang tersedia saja… tapi jika kau berkenan, mari kita makan bersama.”

Adrian menatapku cukup lama dalam diamnya seolah sedang memikirkan sesuatu, hingga akhirnya ia hanya menjawab dengan singkat namun tegas: “Baiklah.”

Ia pun menarik kursi di hadapanku lalu duduk dengan tenang, menyantap masakan sederhana itu bersamaku. Meskipun hidangan kami hanya berupa tumisan sayur dan udang tanpa nasi atau lauk yang lain, ia melakukannya dengan sikap yang tenang dan sopan. Begitu kami selesai makan dan membersihkan meja seperlunya, kami segera bersiap untuk berangkat. Yamal akan langsung menuju kantor Adrian lebih dulu dengan kendaraan lain, sedangkan Adrian sendiri yang akan menyetir dan mengantarku langsung ke pusat perbelanjaan agar kami bisa memilih serta menyesuaikan cincin kawin yang benar-benar pantas dan pas untukku.

Sesampainya di depan bangunan yang menjulang tinggi itu, terlihat dengan jelas bahwa ini adalah pusat perbelanjaan terbesar, termewah, dan paling terkemuka di seluruh kota ini. Begitu aku melangkah masuk beriringan dengannya, mataku terbelalak takjub melihat betapa luas, bersih, dan teratur setiap sudut tempat ini. Cahaya lampu yang lembut menyebar ke mana-mana, memancarkan kesan kemewahan yang tenang namun terasa nyata menyelimuti setiap langkah yang kuambil. Aku hanya berjalan mengikuti langkah Adrian dari belakang, hingga akhirnya kami menaiki tangga berjalan dan berhenti tepat di hadapan sebuah toko perhiasan yang tampak sangat bergengsi dan mewah—di atas pintu kaca yang besar itu terukir dengan jelas nama mereknya: Romanov.

Dalam hati aku bergumam penuh rasa heran dan takjub: Romanov… bukankah ini toko perhiasan yang sangat terkenal dan harganya pun tidak terjangkau oleh orang biasa seperti aku…

Belum sempat pikiranku melangkah lebih jauh, Adrian sudah meraih pergelangan tanganku dengan lembut namun pasti, lalu mengajakku melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Begitu melihat sosok Adrian yang datang, seluruh staf, pramuniaga, hingga manajer toko yang sedang melayani pengunjung lain seketika berhenti melakukan pekerjaannya. Mereka segera berbaris rapi dengan sikap hormat, lalu membungkuk serempak seiring suara mereka yang terdengar beriringan: “Selamat datang, Tuan Adrian!”

Namun di sudut ruangan yang agak jauh, terlihat seorang wanita yang sedang memeriksa deretan perhiasan di etalase. Ia seolah tidak terganggu sedikit pun oleh keramaian itu, tetap berdiri tenang dan melanjutkan apa yang sedang dilakukannya seolah kedatangan kami bukanlah hal yang istimewa baginya.

Adrian segera melepas cincin yang melingkar rapi di jari manisnya, lalu menyerahkannya dengan hati-hati ke tangan manajer toko itu. “Saya ingin dibuatkan cincin yang persis sama bentuk dan mutunya dengan ini, sebagai pasangan untuk istri saya,” ucapnya dengan nada yang tegas namun tetap tenang dan sopan.

Manajer menerima benda itu dengan sangat hati-hati seolah sedang memegang sesuatu yang paling berharga di dunia, lalu mengamati setiap sudut dan ukirannya dengan saksama sebelum akhirnya menjawab dengan raut wajah yang penuh hormat namun juga tampak ragu dan menyesal: “Mohon maafkan saya, Tuan Adrian… dan mohon maaf juga kepada Nyonya…” Ia terdiam sejenak tampak bingung karena belum mengetahui nama pendamping Adrian, hingga Adrian segera menyebutkan namaku dengan jelas: “Zara. Namanya Zara.”

Manajer pun kembali melanjutkan penjelasannya: “Mohon maaf Nyonya Zara, model cincin ini termasuk dalam edisi khusus yang jumlahnya sangat terbatas di seluruh dunia. Stoknya sudah lama terjual habis di setiap cabang kami, dan pihak pusat sudah memberitahu bahwa desain ini tidak akan diproduksi ulang lagi. Namun saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk mencarikan apakah masih ada satu pasang yang tersimpan khusus atau belum terjual sama sekali.”

Setelah memeriksa seluruh lemari pajangan dan ruang penyimpanan di tempat itu, serta menghubungi kantor pusat dan gudang penyimpanan utama yang berada jauh di luar kota, manajer akhirnya kembali menghampiri kami sambil membawa sebuah kotak perhiasan yang terbuat dari kayu halus berukir indah. Ia meletakkannya perlahan di atas meja kaca yang mengkilap, membuka tutupnya dengan hati-hati, lalu menjelaskan dengan suara yang lembut namun

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!