Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Bunyi gesekan kursi kayu yang berat terdengar tepat di samping telinga Queen, menandakan bahwa Axel baru saja duduk di meja yang bersinggungan langsung dengan persembunyian mereka.
"Jadi, Dean, bagaimana laporan pengiriman dari pelabuhan pagi ini?" Suara bariton Axel menggelegar, sangat jernih dan berwibawa.
"Semua sesuai jadwal. Kita hanya perlu menunggu konfirmasi dari pihak bea cukai," jawab rekan bisnisnya yang bernama Dean.
Di bawah meja, Queen memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram kemeja Nial hingga buku-buku jarinya memutih.
Nial, yang awalnya hanya bingung, kini telah menyambungkan benang merahnya. Matanya yang tajam berkilat penuh kemenangan saat menyadari bahwa "ular hijau" yang dimaksud Queen tidak lain adalah Axel Arresta yang sedang duduk tenang di atas sana.
Nial menyeringai, sebuah senyum miring yang terlihat sangat berbahaya dalam keremangan. Ia sengaja menggeser posisinya, membuat gesekan kain celananya terdengar cukup jelas di tengah keheningan.
"Nial, sttt!" Queen mendesis panik, telapak tangannya menempel di dada Nial, mencoba meredam setiap gerakan pria itu.
Nial justru menangkap jemari Queen, membawanya ke bibirnya dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan santai.
"Jadi ... ular besarnya bernama Axel?"
Queen membelalak. "Nial, aku mohon, jangan sekarang."
"Oh astaga..." gumam Nial, mengabaikan permohonan Queen. Ia mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga hidung mereka bersentuhan. "Kau menarikku ke bawah sini, duduk di pangkuanku, dan menjadikanku sandera hanya karena kau takut pada kakakmu? Kau membuat harga diriku turun drastis, Queen."
"Aku akan menjelaskannya nanti! Kita bisa dihukum kalau dia melihat kita!"
Nial terkekeh pelan, getaran di dadanya terasa begitu nyata bagi Queen. "Kau yang akan dihukum. Aku hanya perlu berdiri, menyapanya, dan mengatakan bahwa adiknya adalah penculik yang sangat agresif di bawah meja."
"A—apa?"
Nial mulai bergerak seolah ingin bangkit berdiri. Queen yang panik langsung menahan bahu Nial dengan seluruh tenaganya, bahkan tanpa sadar ia merangkul leher Nial agar pria itu tidak beranjak.
"Jangan! Baiklah, apa pun! Kau mau apa? Aku akan turuti, tapi jangan keluar sekarang!" rengek Queen dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Nial kembali bersandar pada kaki meja, menikmati posisi tawar yang sangat menguntungkan ini. Tangannya kembali melingkar di pinggang Queen, kali ini dengan cengkeraman yang lebih posesif.
"Satu syarat," bisik Nial. Ujung jarinya mulai mengetuk - ngetuk pinggang Queen dengan ritme yang menyebalkan sekaligus mendebarkan.
"Apa?"
"Dua hari,"
"Apanya yang dua hari?"
"Kau harus ikut bersamaku. Tinggal bersamaku selama dua hari penuh," bisik Nial dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. "Anggap saja itu kompensasi karena kau telah menjadikanku 'penghuni kolong meja' siang ini."
Queen menggigit bibir, wajahnya merah padam antara malu dan kesal. "Dua hari? Axel akan mengerahkan seluruh pasukannya untuk mencariku, Nial!"
"Itu urusanku," sahut Nial santai. Ia lalu melirik ke arah taplak meja yang sedikit tersingkap. "Pilih dengan cepat, Queen. Setuju, atau aku akan menyapa Axel sekarang dan memberitahunya bahwa adiknya sedang duduk manis di pangkuanku."
Nial sudah membuka mulutnya, seolah benar-benar akan bersuara untuk memanggil pria di atas mereka.
"Oke! Oke, dua hari! Aku setuju!" potong Queen cepat dengan nada frustrasi yang tertahan.
"Bagus." Nial tersenyum puas, sebuah kemenangan mutlak yang sangat ia nikmati. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Queen, menghirup aroma lily yang bercampur dengan rasa panik wanita itu.
Tiba - tiba, percakapan di atas terhenti.
"Tunggu sebentar," gumam Axel.
Queen bisa merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat ujung sepatu pantofel Axel yang mengilap bergerak sedikit ke arah meja mereka.
Di atas meja, Axel tampak menyipitkan mata menatap sebuah benda kecil yang tergeletak di dekat vas bunga.
Sebuah jepit rambut perak dengan aksen mutiara kecil. Itu milik Queen yang terjatuh saat ia menarik Nial tadi.
Axel meraih jepit itu, memutarnya di antara ibu jari dan telunjuknya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, menatap kursi-kursi kosong di meja itu dengan dahi berkerut.
"Ada apa, Axel? Kau kelihatan terganggu," tanya Dean sambil menyesap kopinya.
Axel tidak langsung menjawab. Ia menghirup udara di sekitarnya dalam - dalam, matanya menyipit tajam bak elang yang sedang mengintai mangsa. "Kalian mencium aroma ini?"
"Aroma apa?"
"Parfum ini sangat mirip dengan yang biasa dipakai adikku. Campuran lily dan sedikit white musk yang sangat spesifik,"
Dean dan lainnya sontak tertawa renyah, suara tawa mereka terdengar sangat kontras dengan ketegangan di bawah meja.
"Ayolah, Axel. Kita sedang di Paris. Hampir separuh wanita di kota ini menggunakan aroma bunga yang serupa. Mungkin pelanggan sebelumnya baru saja pergi."
"Mungkin," jawab Axel pendek, namun nada suaranya menunjukkan ia tidak sepenuhnya yakin. "Hanya saja, rasanya aroma ini baru saja melintas."
Di bawah meja, Nial justru tampak sangat tenang, seolah ia sedang berada di kursi VIP dan bukan sedang duduk di lantai restoran. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Queen, membiarkan napas hangatnya menggelitik kulit wanita itu.
"Kakakmu punya hidung anjing pelacak, Queen. Haruskah aku menyemprotkan parfumku yang kuat ini ke seluruh tubuhmu agar baunya tertutup?" bisik Nial dengan nada menggoda yang sangat tidak membantu.
"Ssshh, diam!" Queen menggigit bibir bawahnya.
"Relax. Jangan terlalu panik."
Melihat Nial yang masih saja bicara dan bergerak, Queen kehilangan akal sehatnya. Ia tahu pria seperti Nial Percy tidak akan pernah bisa diperintah dengan kata-kata—terutama dalam situasi yang memacu adrenalin seperti ini.
Hanya ada satu cara untuk membungkam pria ini sepenuhnya.
Persetan dengan tempat. Persetan dengan Axel yang hanya berjarak beberapa senti di atas mereka.
Cup!
Queen mencengkeram rahang Nial dan membungkam bibir pria itu dengan sebuah ciuman yang nekat dan penuh tuntutan.
"..."
Mata Nial membelalak sedetik, terkejut dengan serangan mendadak yang sama sekali tidak ia duga dari Queen. Namun, detik berikutnya, keterkejutan itu berubah menjadi gairah yang gelap.
"Oh, aku suka ini," Nial menyeringai dalam tautan bibir mereka, sebuah gumaman rendah yang tertelan di mulut Queen.
Tak tanggung - tanggung, pria itu langsung mengambil alih kendali. Ia menarik tengkuk Queen, memperdalam ciuman itu dengan intensitas berat.
Nial melesatkan lidahnya, mengeksplorasi rongga mulut Queen dengan liar dan penuh penguasaan, seolah ingin menghapus rasa takut wanita itu dan menggantinya dengan sensasi panas yang ia berikan.
Di atas meja, Axel sedang menyesap wine-nya, sama sekali tidak menyadari bahwa tepat di bawah kakinya, adiknya sedang bertarung dengan napas yang hampir habis karena ciuman panas dari pria yang paling ia hindari.
Nial memiringkan kepalanya, mengecup bibir bawah Queen dengan rakus, menciptakan bunyi decapan halus yang membuat Queen hampir mati berdiri karena takut Axel mendengarnya.
Tangan Nial merayap masuk ke balik rambut Queen, menekan kepala wanita itu agar semakin dalam masuk ke dalam dunianya.
•••
Bunyi langkah kaki Axel yang tegas dan berwibawa akhirnya menjauh, diikuti oleh gumaman rendah Dean dan lainnya yang menanggapi perkataannya.
"Sopir sudah menunggu di depan sekarang. Aku harus segera kembali ke kantor." suara Axel terdengar samar dari arah pintu masuk, sebelum akhirnya denting lonceng pintu restoran menandakan kepergian mereka.
"Ya, sampai bertemu lagi."
Queen masih mematung di bawah meja, napasnya tertahan di tenggorokan sampai ia benar - benar yakin suasana di atas sudah aman.
Begitu keheningan kembali menyelimuti area meja mereka, Queen langsung mendorong dada Nial dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Ia melepaskan tautan bibir mereka dengan napas tersengal, wajahnya merah padam—antara kekurangan oksigen dan rasa malu yang meledak.
Tanpa mempedulikan penampilannya, Queen merangkak keluar dari bawah meja secepat kilat, disusul oleh Nial yang bangkit dengan gerakan yang jauh lebih elegan, seolah ia baru saja bangun dari sofa mewah daripada lantai restoran.
"Nial Percy, kau gila! Kau benar - benar gila." Omel Queen tanpa henti sambil merapikan dress-nya yang sedikit berantakan. "Bagaimana kalau dia mendengar suara tadi? Kau sengaja, ya? Kau ingin kita tertangkap?!"
Nial berdiri tegak, membetulkan letak kancing jasnya dengan tenang. Ia menggunakan ibu jarinya untuk menghapus sisa saliva di sudut bibirnya dengan gerakan perlahan yang sangat provokatif.
"Kenapa marah-marah?" Nial menatap Queen dengan binar jenaka yang jarang terlihat di matanya. "Kau yang melumat bibirku lebih dulu, sayang. Harusnya aku yang protes karena kau membungkamku dengan cara yang sangat ... agresif."
Queen yang hendak menuju pintu keluar langsung terhenti. Ia berbalik, menatap tajam pria di hadapannya dengan mata yang melotot.
"Tindakanmu tadi justru tidak menunjukkan tanda - tanda seseorang yang keberatan atau ingin protes, Nial!"
Nial berdeham pelan, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya sebelum memakai kembali kacamata hitamnya.
"Mau bagaimana lagi? Rasanya terlalu lezat untuk ditolak. Aku hanya mencoba menjadi pria yang menghargai 'hidangan' pemberianmu."
"Ihh! Dasar mesum!" Queen merasa kesal luar biasa. Ia melangkah maju dan memukul dada bidang Nial dengan tas tangannya.
Bugh.
"Kau benar - benar memanfaatkan situasi!"
Nial tertawa rendah, suara baritonnya yang berat bergema halus di sudut ruangan. Beberapa pasang mata pelanggan yang masih tertinggal di restoran mulai memperhatikan mereka.
Bukannya melihat itu sebagai pertengkaran, para bangsawan Paris itu justru tersenyum tipis, menganggap mereka sebagai pasangan muda yang sedang dimabuk asmara.
"Pukul saja terus. Semakin kau memukul, semakin terlihat kau merindukan ciuman itu," goda Nial sambil menangkap pergelangan tangan Queen.
"Jangan harap!" desis Queen, meski wajahnya semakin panas.
Nial tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merengkuh pinggang Queen dengan posesif, menarik wanita itu ke dalam dekapannya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dalam jumlah besar dan meletakkannya begitu saja di atas meja sebagai ganti rugi atas keributan kecil mereka.
"Ayo pergi," bisik Nial di dekat pelipis Queen, suaranya kini kembali serius namun tetap hangat. "Jangan lupa, kau sudah menyetujui kontrak dua hari. Dan percayalah, hukuman dari Axel tidak akan sebanding dengan apa yang akan kulakukan jika kau mencoba mangkir dari kesepakatan ini."
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰