Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 01
MALAM YANG MENGEJUTKAN
Suara musik berdengung di satu ruangan luas. Sorak-sorai dari mereka yang menikmati DJ sambil melakukan kegiatan dosa lainnya.
Sementara itu, di meja tengah. Seorang wanita menidurkan kepalanya ke meja disaat teman-temannya yang lain asik melepaskan penat mereka.
“Myra!” panggil Erlina penuh semangat hingga wanita bernama Myra itu mendongak, menatapnya malas tanpa semangat. “Ayo! Lepaskan pikiranmu, kita senang-senang dulu!”
“Ck.” Myra berdecak, meneguk sodanya. “Aku mau kembali ke apartemen saja.”
“Ayolah, Myra. Kita di sini ingin mengajakmu rileks.”
Myra memperhatikan teman-temannya di sana terutama Erlina yang paling dekat dengannya. Lalu ia meraih tasnya, “Aku ke toilet sebentar. Kalian lanjutkan saja.”
Dengan pakaian sederhana, jaket putih dan celana hitam, Myra benar-benar bukan tipe wanita yang menarik perhatian para pria, namun dia pemilik senyuman yang manis.
“Myra— ” tak bisa menghentikannya. Wanita rambut pirang itu memberikan waktu sendiri untuk temannya itu.
Ya. Sejak Myra Mahira (29th) tahu tentang hutang mendiang ayahnya mencapai 500 juta, seketika dunia Myra langsung tak ada artinya. Ia benar-benar tak tahu harus mencari ke mana lagi.
Sedangkan Tante dan pamannya terus mendesaknya untuk segera melunasi hutang tersebut, jika tidak, rumah mereka yang akan menjadi tebusan. Itupun kurang.
Namun satu hal yang tidak Myra sadari malam ini. Bahwa seseorang mengamatinya sejak tadi di ujung ruangan, sofa dan meja para VVIP.
“Bagus. Sekarang aku tersesat.” gumamnya pasrah. Langkahnya membawa dia ke halaman belakang club besar yang ada di Bali. Kini dia tak tahu ke mana keberadaan toiletnya.
Myra menoleh ke kanan dan kiri. Hanya ada keheningan dihalaman luas bernuansa Sisilia keramik. Wanita itu mengernyit.
“Kau tersesat.”
Sontak Myra langsung berbalik badan, kaget melihat seorang pria berdiri di hadapannya. Pria paras bule, kemeja hitam dua lengan terlingkis, kumis dan brewok tipis. Dan tatapan... Datar.
“Ah. Tidak.. Hanya mencari toilet.” balas Myra hampir tersenyum namun dia menahannya lalu berjalan melewati pria gagah dan tinggi. Namun anehnya, dia seperti pernah melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya, Myra merasa merinding ketika dia mulai menyadari pria asing itu berjalan mengikutinya dari belakang. Langkah yang tentang menjadi lebih cepat saat Myra mempercepat langkahnya dan sesekali menoleh ke belakang dengan wajah panik, nafas memburu.
Brugh!
Tanpa sadar ia menabrak tubuh seseorang.
Tentu ia langsung menatap pria botak beserta dua temannya yang juga sama berpakaian jas hitam.
Semuanya mencurigakan hingga Myra melangkah mundur dan langsung berbalik badan. Tapi justru pria yang sama, yang mengikutinya tadi sudah berdiri di sana dan langsung memukul wajah Myra tanpa melukainya, namun membuat wanita itu pingsan detik itu juga.
Pria pemilik manik cokelat terang itu membopong tubuh Myra bak karung beras.
“Tutupi semua jejak.” pintanya kepada tiga anak buahnya tadi.
Sementara di dalam club. Erlina menunggu cukup lama, ia mencoba menelepon Myra namun dia tidak mendapatkan jawaban maupun balasan chat. “Tidak seperti biasanya. Apa dia sudah ke apartemen?” gumam Erlina khawatir.
”Hey, Erlina! Come here!” panggil kawannya dari arah pintu masuk.
Wanita itu mengangguk seraya mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat.
Cukup lama dia menatap ponselnya dan berharap Myra baik-baik saja. Secara, uang 500 juta seperti sedang melilit lehernya saat ini.
“Andai saja aku miliader.” Ucapnya menyeringai pasrah lalu masuk lagi ke club.
...***...
Beberapa jam berlalu dengan cepat. Ketika cahaya lampu berwarna putih dan kuning menerpa matanya. Myra mengernyit, merasa sedikit pening hingga ingatannya yang panik membuatnya terbangun saat itu juga.
Nafasnya tersengal, memperhatikan keseluruhan ruangan asing baginya. Kemewahan bergaya keramik elegan. Rambut Myra yang panjang bergelombang itu sedikit berantakan.
“How are you?”
Wanita itu langsung menoleh kaget, melihat pria yang sama. Yang kini duduk di sofa singel warna hitam sembari memperhatikannya entah sejak kapan.
Myra mengernyit. “Who are you?” tanya nya penuh penelitian, sembari mengamati wajah tampan itu.
Tak ada senyuman dari si pria. Hanya tatapan yang mengintimidasinya. Hingga pria itu bersandar dengan kedua lengan tangannya bertumpu di kedua lengan sofa.
“Seseorang yang kau benci.” ucap pria itu berat, serak dan dingin.
Tentu saja Myra tak tahu. Dia mengamati pria itu, bahkan aromanya pun benar-benar memikat. -‘Siapa dia?’ pikirnya.
Pria itu berdiri dari duduknya dan melangkah maju ke arahnya, sehingga Myra langsung tergopoh mencoba berdiri namun terlambat dan kini ia hanya memundurkan tubuhnya sampai bersandar ke sofa.
Kedua matanya menatap lekat ke pria yang berdiri di depannya.
Tangan kanannya yang besar dan berurat itu menyentuh pipi Myra, namun wanita itu langsung berpaling kesal.
“Don't touch me!” tegasnya menatap tajam.
Bukannya marah, pria itu menyeringai kecil hampir seperti senyuman devil yang begitu memikat.
“Tatapanmu dan ucapanmu selalu berhasil membuatku tertantang.”
“Aku tidak mengenalmu. Lepaskan aku atau kau berurusan dengan polisi, Tuan.” tegas Myra.
Pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat hingga kedua tangannya bertumpu di sofa. Dan Myra semakin mundur, menoleh ke kiri, menghindari tatapan mematikan itu.
“Lakukan saja.” ucapnya penuh sensual hampir dekat dengan telinga Myra sehingga ia bisa merasakan nafas panas pria itu di cerucuk lehernya.
Pria itu membelai rambut panjang Myra kebelakang. “Aku yakin kau masih mengingatku. Secara... kebencian mu begitu besar hanya karena sebuah cincin.”
Myra langsung tertegun. Ia menatap pria itu lekat. Ingatan di masa lalunya mulai berputar di kepalanya, ia menelan ludah, nafasnya semakin memburu memperhatikan paras pria asing itu.
Tanpa pikir panjang, Myra langsung mendorong dan beranjak pergi. Namun pria itu lebih cepat mengejarnya hingga memepetkan tubuhnya ke dinding dan berdiri dekat di belakang tubuh Myra dengan menahan kedua tangan wanita itu ke belakang.
“Sekarang kau mengingatku? Nice to meet you.” bisiknya begitu dekat di telinga kanan Myra hingga hidung mancung pria itu mengendus Dau telinga Myra turun ke cerucuk leher.
Sebisa mungkin Myra mencoba melepaskan dirinya dengan menggeram kesal hingga menggertakkan giginya.
“Lepaskan— ”
Pria itu melepaskannya hingga Myra menjauh, menatapnya tak percaya.
Setelah 18 tahun lebih mereka tidak bertemu. Kini Myra tak percaya anak laki-laki menyebalkan itu kembali lagi, tapi sekarang dia sudah menjadi pria dewasa yang begitu memikat.
“Aku tidak peduli siapa dirimu.” kesal Myra yang tergopoh ia bergegas ke arah pintu. Namun pintu itu tak bisa dibuka, bahkan jendela besar di sana juga paten.
Tentu saja Myra frustasi sampai berteriak saking marahnya.
Dan akhirnya... Ia menunduk, menyisir rambut panjangnya ke belakang dan berbalik menatap pasrah ke pria yang dia kenal dengan nama Al.
“Apa yang kau inginkan?” ucapnya terus terang.
Pria itu masih berdiri di tempatnya. “Not me. But you.”
Kedua alis Myra berkerut.
Pria itu berjalan santai menuju meja, sembari menuangkan sebotol beer di gelas kristal. “Bukankah aku seperti malaikat yang datang kepadamu di saat kau sedang membutuhkan sesuatu yang besar.”
Sejenak mata cokelat itu menatap ke Myra sebelum akhirnya dia meneguk beer tersebut.
Tentu, Myra tak bodoh. Dia tahu apa yang Al maksudkan. Tapi bagaimana bisa pria itu tahu?
“Itu bukan urusanmu. Biarkan aku pergi, aku tidak membutuhkan mu.” ucapnya angkuh hingga gelas kembali mendarat ke atas meja.
“Keangkuhanmu lebih besar daripada kebutuhan mu, Nona.”
Myra terdiam, mengingat kebutuhan yang benar-benar besar dan hampir membuatnya ingin mati. Dan kali ini dia tak bisa menjawab apapun selain diam dan berpaling agar air mata tidak jatuh.
Dan Silas Al Wolfe. Memperhatikannya hingga berjalan mendekat, begitu dekat sampai jarak mereka tak lagi terhitung.
“Aku bisa memberimu 5 juta dolar, asal kau mau menjadi milikku malam ini.” ucapnya terus terang yang tentu saja Myra langsung menatapnya tajam serta lunak.
5 juta dolar bukan uang kecil. Itu bahkan lebih dari 500 juta rupiah.
Tapi di depannya. Bukan sembarangan pria, dia Al. Anak laki-laki menyebalkan yang membuatnya kesal dan kini Myra tidak tahu siapa Al kali ini.