Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023
Pintu yang Terkunci
Yang masuk adalah Marco Wijaya.
Yola langsung berdiri.
"Ini ruang ganti perempuan," katanya.
Marco menutup pintu di belakangnya. Tidak keras. Justru pelan sekali, sampai bunyi klik kuncinya terdengar lebih jelas daripada musik dari ruang acara.
Yola merasakan darahnya turun dari wajah.
"Saya tahu," jawab Marco.
Ia berjalan masuk seperti seseorang yang punya hak berada di sana. Jasnya masih rapi, senyumnya masih sama seperti di ruang acara, tetapi matanya tidak lagi berpura-pura sopan.
Yola menggenggam ponsel di tangan. Sinyal tetap satu bar.
"Tolong keluar."
"Galak juga." Marco melirik gantungan dress ivory di samping cermin. "Celine bilang kamu lembut."
Nama Celine membuat semuanya jelas.
Yola tidak membuang waktu bertanya.
Ia menekan tombol panggil Sari.
Marco bergerak cepat, merebut ponsel itu sebelum panggilan tersambung. Yola menahan napas, tetapi tidak berteriak. Ruangan ini terlalu jauh dari area utama, musik masih terdengar samar, dan pintunya terkunci.
Berteriak tanpa strategi hanya akan membuat Marco lebih cepat bertindak.
"Kembalikan ponsel saya."
Marco melihat layar. "Sari? Asisten?"
"Kembalikan."
"Tenang. Aku cuma mau ngobrol."
"Orang yang mau ngobrol tidak mengunci pintu."
Marco tertawa pendek. "Kamu pintar. Pantas Daniel suka."
Yola memegang tepi meja rias di belakangnya. Di atas meja ada sisir, kotak tisu, beberapa penjepit rambut, botol kecil hair spray, dan gelas air mineral yang belum dibuka.
Benda kecil.
Tapi lebih baik daripada tangan kosong.
"Saya tidak punya urusan dengan Anda."
"Sekarang punya." Marco memasukkan ponsel Yola ke saku jasnya. "Kamu tahu, aku agak tersinggung waktu kamu menatapku seperti penyakit menular tadi."
"Kalau Anda tidak ingin ditatap seperti itu, jangan bertingkah seperti ini."
Senyum Marco hilang sedikit.
Ia maju satu langkah.
Yola bergerak menyamping, menjaga meja di antara mereka.
"Celine ingin apa?" tanya Yola.
"Celine?" Marco mengangkat bahu. "Dia cuma bilang ada perempuan yang terlalu percaya diri karena dilindungi banyak nama besar. Katanya, kalau perempuan itu terlihat masuk ruang ganti dengan pria, orang akan mulai bertanya."
Perut Yola mengeras.
Jadi ini bukan hanya untuk menakutinya.
Ini untuk membuat cerita.
Cerita yang bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Janda kakak. Tunangan adik. Pria lain di ruang ganti. Semua bahan gosip yang Celine butuhkan.
Yola melirik cermin besar di belakang Marco. Dari pantulan itu ia bisa melihat separuh pintu, meja rias, dan sudut ruangan yang sengaja kosong dari kamera. Tidak ada tas tamu lain. Tidak ada staf yang mondar-mandir. Ruang ini memang sudah disiapkan agar satu suara perempuan terdengar seperti panik, sementara satu senyum laki-laki bisa dijadikan alibi.
"Anda akan merusak diri sendiri juga," kata Yola, berusaha menjaga suara tetap stabil. "Hotel punya CCTV."
Marco tersenyum lagi. "Koridor utama, iya. Koridor servis dekat ruang ganti, tidak semuanya aktif. Lagi pula, kalau nanti kamu keluar berantakan dan aku bilang kamu yang mengajakku bicara pribadi, siapa yang akan lebih dipercaya?"
Yola merasakan jari-jarinya dingin.
Marco menikmati itu.
"Kamu kan cuma janda yang terlalu lama tinggal di rumah orang."
Kalimat itu mendarat seperti salinan kata-kata Celine.
Yola menarik napas pelan.
Takut boleh.
Panik jangan.
Ia mengambil gelas air mineral dengan tangan kiri, seolah hanya butuh pegangan. Marco tidak menghentikannya. Ia mungkin mengira tangan Yola gemetar karena takut.
Memang.
Tapi tangan gemetar masih bisa bergerak.
"Marco," kata Yola, sengaja menyebut namanya agar ia melihat wajahnya, bukan tangannya. "Kalau Anda membuka pintu sekarang, saya tidak akan memperpanjang ini."
"Kamu mengancam?"
"Saya memberi jalan keluar."
"Lucu." Marco maju lagi. "Di ruangan ini, yang perlu jalan keluar itu kamu."
Saat ia melewati sisi meja, Yola melempar air mineral ke wajahnya.
Marco mengumpat dan menutup mata. Pada detik yang sama, Yola meraih hair spray, menekan nozzle sekuat mungkin ke arah wajahnya, lalu menabrakkan kotak tisu dan gantungan pakaian ke tubuh Marco.
"Sial!" Marco berteriak.
Yola tidak menunggu.
Ia menyambar ponselnya dari saku jas Marco yang terbuka karena ia membungkuk menahan mata, lalu berlari ke pintu.
Terkunci.
Tangannya licin oleh keringat.
Kunci putar kecil di bawah gagang macet setengah detik. Setengah detik itu cukup untuk membuat Marco meraih ujung blazer Yola.
Kainnya tertarik keras.
Yola hampir jatuh.
Ia melepas blazer itu dari bahu, membiarkan Marco memegang kain kosong, lalu memutar kunci sampai terbuka.
Pintu terhempas.
Koridor kosong.
Yola berlari.
Ia tidak kembali ke arah ruang acara. Marco pasti akan mengejarnya ke sana dan membuat adegan. Ia memilih arah lain, koridor servis yang tadi ia lihat sekilas saat masuk. Karpet berganti lantai keramik. Lampu lebih putih. Suara musik semakin jauh.
Di belakang, pintu ruang ganti terbuka keras.
"Yola!"
Marco mengejar.
Yola menekan ponsel, mencoba menelepon Sari. Sinyal naik dua bar, lalu turun lagi. Panggilan gagal.
Ia mengetik pesan dengan jari gemetar.
`Sari ruang ganti Marco`
Pesan tidak terkirim.
Ia berbelok ke kiri, hampir menabrak troli linen. Seorang staf hotel terkejut, tetapi sebelum staf itu bertanya, Yola sudah berkata, "Tolong panggil security."
Staf itu membeku melihat wajahnya.
"Sekarang!" suara Yola pecah.
Baru saat itu staf bergerak.
Marco muncul di ujung koridor, mata merah dan rambutnya berantakan. Wajah sopannya hilang.
"Berhenti!"
Yola mendorong troli linen ke tengah koridor.
Marco menabraknya cukup keras hingga beberapa handuk jatuh. Yola menggunakan detik itu untuk membuka pintu darurat di sisi kanan.
Tangga servis.
Udara pengap menyergap.
Yola menuruni dua anak tangga, lalu berhenti. Jika ia turun terus, ia bisa terjebak di area parkir yang tidak ia kenal. Jika ia naik, mungkin ada akses ke lantai acara lain.
Suara langkah Marco mendekat ke pintu.
Yola memilih naik.
Satu lantai.
Dua lantai.
Napasnya terbakar. Bahu yang memar sejak insiden Hartono berdenyut lagi. Dress ivory-nya kusut, satu sisi blazer tertinggal, rambutnya lepas dari jepit.
Di lantai berikutnya, ia mendorong pintu dan masuk ke koridor hotel yang lebih terang.
Ada suara orang.
Pria berbicara di telepon.
Yola hampir menangis karena lega, tetapi ia menahannya. Ia berlari ke arah suara itu.
Di tikungan, seseorang menoleh.
Daniel Wijaya berdiri dengan ponsel di tangan, wajahnya berubah seketika saat melihat Yola.
"Kak Yola?"
Yola ingin menjawab, tetapi suaranya tidak keluar. Ia baru sadar penampilannya seperti bukti yang tidak sempat ia susun: blazer hilang, rambut lepas, pergelangan tangan merah karena ditarik, dan ponsel tergenggam begitu kuat sampai jarinya sakit. Daniel melihat semuanya dalam satu tarikan napas.
Wajahnya yang biasanya lembut berubah pucat.
"Siapa?" tanyanya pelan.
Yola hanya bisa menggeleng, bukan karena tidak mau menjawab, melainkan karena langkah di belakangnya sudah terlalu dekat.
Yola berhenti di depannya, napas putus-putus.
Di belakangnya, pintu tangga servis terbuka lagi.
Marco muncul di ambang pintu.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅