Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
032
`⚠️ _alarm berbunyi_ 18+ Konten Dewasa Terdeteksi ⚠️`
Suasana di koridor lantai dua mansion Valerio-Desmon begitu hening ketika jarum jam bergerak melewati angka dua belas malam. Hanya ada dengungan lembut dari sistem pendingin udara sentral dan pendar redup dari lampu dinding klasik yang menyinari ukiran kayu di sepanjang lorong.
Di dalam kamar tamu yang luas dan bernuansa hangat, Lynzzie duduk bersandar di tepi ranjang. Ia telah membersihkan wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur polos yang disediakan oleh pelayan mansion.
Meskipun tempat tidur itu terasa sangat empuk dan kain sprei yang membalutnya beraroma harum lavender yang menenangkan, pikiran Lynzzie sama sekali tidak bisa beristirahat.
Pikirannya terus berputar pada kejadian di ruang keluarga beberapa jam lalu. Kalimat tegap yang diucapkan oleh pria dingin itu di hadapan ibunya terus bergema tanpa henti di kepalanya: "Dia kekasihku, Mom."
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorang mahasiswi beasiswa dengan latar belakang kelam, anak dari seorang wanita penginapan dan pria narapidana yang berada di balik jeruji besi, diakui sebagai kekasih oleh pewaris tunggal dinasti Desmon?
Apakah ini hanya bagian dari permainan gila Draco untuk mengelabui ibunya, atau ada maksud terselubung lain di balik topeng tampannya?
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pelan dan teratur di pintu kayu tebal itu mengejutkan Lynzzie dari lamunannya. Tubuhnya seketika menegang. Lynzzie tahu betul ia sudah memutar kunci pintu itu dari dalam saat masuk tadi.
Dengan langkah perlahan dan dada yang bergemuruh cemas, ia mendekati pintu.
"Siapa?" bisiknya halus.
Tidak ada jawaban suara, hanya ketukan pelan satu kali lagi yang mengisyaratkan ketidaksabaran yang halus.
Lynzzie memutar kunci kayu itu dan membuka pintu sedikit. Belum sempat ia menanyakan maksud kedatangan sosok di luarnya, sebuah dorongan kuat namun terukur membuat pintu terbuka lebar.
Draco melangkah masuk dengan cepat, menutup pintu di belakangnya, dan memutar kunci hingga terdengar bunyi klik yang mengunci mereka kembali di dalam kegelapan yang tenang.
Sebelum Lynzzie sempat memprotes, jemari tegap Draco sudah menyusup ke belakang lehernya, menarik wajah gadis itu mendekat.
Bibir Draco mendarat tepat di atas bibir Lynzzie dengan dorongan yang dalam, menuntut, dan penuh dengan kehangatan yang tertahan. Ciuman itu tidak terburu-buru seperti biasanya, melainkan terasa begitu pekat, seolah pria itu sedang menyerap seluruh napas dan keberadaan Lynzzie ke dalam dirinya sendiri.
"Ummph..." Lynzzie menepuk dada tegap Draco pelan, berusaha menarik napas saat ciuman itu terlepas sesaat.
Mata cokelat gelap Draco menatap lurus ke dalam iris Lynzzie yang berkaca-kaca di bawah pendar redup lampu tidur. Dahi mereka saling menempel, membiarkan deru napas hangat bercampur di udara malam.
"Aku menginginkanmu," bisik Draco.
Suaranya serak, rendah, dan dipenuhi oleh desakan gairah yang tidak bisa lagi dipendamnya setelah berjam-jam berada di ruang yang sama tanpa bisa menyentuh gadis itu secara utuh.
Lynzzie melirik cemas ke arah pintu yang terkunci. Keberanian pria ini benar-benar berada di luar nalar sehatnya. "Bagaimana jika seseorang melihatmu masuk ke sini? Ini mansion orang tuamu, Draco! Jika ibumu atau adiknya terbangun dan membukakan pintu..."
"Aku tidak peduli," potong Draco cepat, suaranya dingin namun penuh ketetapan yang tak tergoyahkan. "Pintu ini terkunci, dan tidak ada satu orang pun di rumah ini yang berani mengusik kamarku atau tamu yang kubawa."
Tanpa menunggu bantahan susulan, Draco menggendong tubuh Lynzzie dengan mudah, membawanya melangkah menuju ranjang king-size di tengah ruangan. Ia membaringkan gadis itu di atas kasur yang empuk dengan kelembutan yang sangat kontras dengan dominasinya selama ini.
Draco merayap naik ke atasnya, menopang tubuh tegapnya agar tidak sepenuhnya menindih Lynzzie, lalu mulai menanggalkan kemejanya sendiri.
Penyatuan mereka malam itu tidak diawali dengan paksaan yang kasar atau kecemasan akan kamera tersembunyi. Di dalam kamar tamu kediaman Desmon ini, atmosfer di antara mereka berubah menjadi sebuah ritual penyatuan yang sarat akan pemujaan fisik yang mendalam.
Bibir Draco turun menyusuri rahang Lynzzie, memburu titik sensitif di lehernya, lalu menelusuri tulang selangka gadis itu dengan kecupan-kecupan halus yang membuat Lynzzie memejamkan mata rapat-rapat.
Setiap sentuhan jemari Draco pada kulit mulusnya terasa begitu hangat, seolah pria itu sedang mengagumi setiap jengkal bagian tubuh Lynzzie tanpa ada sisa keangkuhan yang biasanya ia tunjukkan di luar.
Garis-garis tubuh mereka menyatu di bawah selimut tebal yang tersingkap sebagian. Draco bergerak dengan ritme yang dalam dan teratur, membawa mereka berdua dalam pusaran hangat yang memabukkan jiwa dan raga.
Suara desahan halus Lynzzie yang tertahan di dalam kamar yang sunyi itu terdengar bagaikan melodi pasrah di tengah keheningan malam.
Saat Draco sedang sibuk mengagumi keindahan tubuhnya, berada di antara kedua pahanya dengan gerakan penyatuan yang makin intens, pandangan Lynzzie mendadak buram oleh lapisan air mata. Rasa hangat yang menjalar di tubuhnya tidak sanggup mengusir rasa getar dan ganjalan yang bertumpuk di dalam dadanya sejak tadi.
"Nghh... Draco..." panggil Lynzzie dengan nada lirih, napasnya terbata-bata di antara desakan gairah yang memanjakannya.
Draco tidak langsung menjawab. Pria itu terus berfokus memberikan kehangatan di bawah sana, membiarkan gelombang nikmat menguasai kesadaran mereka berdua.
Lynzzie menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan yang hampir lolos, lalu memberanikan diri untuk bertanya kembali dengan suara yang bergetar penuh kepedihan.
"Apa maksudmu... dengan kata 'kekasih' tadi?" bisik Lynzzie parau, menatap langit-langit kamar yang remang. "Sejak kapan? Apa yang kau katakan pada ibumu?"
Draco masih tidak menggubris pertanyaan itu, gerakannya makin dalam dan stabil, membuat Lynzzie meremas sprei di bawah tubuhnya kencang.
"Jawab aku, Draco..." bisik Lynzzie lagi, air matanya perlahan menetes menyusuri pelipisnya. "Kau sedang merendahkanku, kan? Sejak kapan... level pelacur seperti ku naik menjadi kekasih pangeran Desmon?"
Gerakan Draco mendadak terhenti sesaat. Pria itu menopang tubuhnya dengan kedua tangannya di sisi kepala Lynzzie, menundukkan wajahnya hingga jarak di antara mata mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
Iris cokelat gelap milik Draco menatap lurus ke dalam matanya yang basah oleh air mata. Tidak ada kilat ejekan di sana. Tidak ada senyum kejam yang biasa pria itu tunjukkan saat mengancamnya.
"Bisakah kau menikmati sentuhanku tanpa membahas hal menjijikkan seperti itu?" tegur Draco dengan suara rendah yang amat tenang, namun sarat akan ketegasan yang menghujam dada. "Aku tidak pernah menganggapmu pelacur, Lynzzie. Aku tahu aku yang pertama menyentuhmu... dan aku serius dengan ucapanku tadi."
DUARRR!!!
Kalimat pendek yang keluar dari bibir Draco terasa bagaikan dentuman petir yang meretakkan seluruh dinding pertahanan di dalam hati Lynzzie.
Gemuruh hebat menghantam jiwanya. Kata-kata itu meluncur begitu jujur dari mulut pria yang selama satu tahun ini selalu ia anggap sebagai iblis pemeras hidupnya.
Draco tidak pernah menganggapnya kotor. Draco tahu ia adalah yang pertama, dan pria itu tidak sedang berbohong di hadapan ibunya.
Sebelum Lynzzie sempat mencerna seluruh keterkejutan yang meremukkan dadanya, Draco kembali menggerakkan pinggulnya, memacu penyatuan mereka dengan ritme yang makin panas dan intens. Ia menarik Lynzzie ke dalam pelukannya, menyatukan dada mereka hingga detak jantung keduanya terdengar berpacu dalam irama yang sama.
"Uhh... Draco... pelan-pelan..." bisik Lynzzie pasrah, melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Draco. Saat bibir pria itu kembali merayap turun ke lehernya dan memberikan bisikan serta gigitan kecil di sana, Lynzzie teringat pada bekas-bekas yang sering membuat monica–temannya curiga.
"Jangan... jangan tinggalkan tanda di situ, Draco!" cegat Lynzzie dengan napas memburu.
Draco menengadahkan kepalanya sedikit, menatap wajah gadis di bawahnya dengan pandangan posesif yang teramat pekat.
"Kau milikku," bisik Draco dengan nada dingin yang sarat akan rasa kepemilikan mutlak. "Dan kau hanya akan jadi milikku. Hentikan omong kosongmu, dan mendesahlah untukku."
Draco membungkam bibir Lynzzie kembali dengan ciuman yang mendalam, menyapu bersih seluruh keraguan, rasa takut, dan pertanyaan yang tersisa di dalam kepala gadis itu.
Di bawah temaramnya lampu kamar tamu mansion Desmon, mereka tenggelam bersama dalam pergumulan panas—sebuah penyatuan yang tidak lagi dilandasi oleh ancaman video atau ketakutan akan rahasia, melainkan oleh ikatan tersembunyi yang telah tumbuh di antara dua jiwa yang saling membutuhkan di tengah kerasnya dunia mereka.
Malam itu, di dalam ruang yang sunyi dan terlindung dari mata dunia luar, Lynzzie akhirnya membiarkan dirinya pasrah sepenuhnya di dalam pelukan sang pangeran Desmon, menerima takdir baru yang menunggunya di masa depan.