Masih dalam masa berkabung karena ayah dan semua saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Bai Ningyuan, putri sulung jenderal Bai harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyakitkan.
Putra mahkota, suaminya telah diangkat menjadi kaisar. Tapi titah pertama yang kaisar itu tulis adalah menurunkan pangkat Bai Ningyuan menjadi selir.
Tangan Bai Ningyuan gemetar, suaminya telah menjadikannya selir. Karena harus mengangkat putri perdana menteri Su menjadi permaisuri.
"Nyonya, silahkan berkemas. Dan pindah dari istana timur ini menuju istana Hanzi!" seru Kasim Wang.
"Nyonya..." pelayan di sisi Bai Ningyuan tampak sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lin'er, bereskan barang. Yang mulia ingin aku menjadi selir... " Bai Ningyuan terkekeh lirih, "maka aku akan menjadi selirnya!"
'Xuan Pingyan! jangan menyesali keputusanmu ini!' geram Bai Ningyuan dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Lin'er, yang baru Raja mendengar bahwa Kasim Chen datang ke istana Juhua segera memberi tahu Bai Ningyuan.
"Nyonya, kaisar akan mengunjungi istana Juhua malam ini!"
Bai Ningyuan yang sedang minum teh di teras istana, menoleh sekilas ke arah Lin'er. Tapi kemudian, pandangannya kembali ke tempat dia memandang semula. Di langit malam yang tak ada bintang sama sekali disana.
"Malam ini begitu mendung, Lin'er. Guqin ku tertinggal di taman istana timur. Aku ingin mengambilnya!"
Lin'er terdiam, tapi kemudian dia bicara dengan cepat.
"Nyonya, aku akan minta pelayan yang mengambilnya. Tampaknya akan segera turun hujan, nanti nyonya sakit..."
"Sudah malam, pada pelayan seharusnya sudah beristirahat. Lagipula, taman istana timur letaknya cukup jauh dari tempat ini. Kalau mereka jalan kaki, mereka juga butuh waktu yang lama. Kita naik kereta saja, bagaimana?" tanya Bai Ningyuan.
Sebenarnya Lin'er tidak mengerti, Guqin itu juga biasanya di tinggalkan di ruang penyimpanan yang ada di tempat itu. Tapi, kenapa malam ini nyonya nya ingin mengambilnya. Bahkan di saat cuaca sedang mending begini. Kemungkinan juga pasti akan hujan sangat deras malam ini.
"Nyonya, maafkan aku! tapi apa tidak sebaiknya kita ambil besok saja. Malam ini..."
"Tidak bisa Lin'er. Jika kita ambil besok, bisa saja Guqin itu dirusak oleh seseorang. Lagipula kalau Guqin itu di ambil orang lain, aku akan kehilangan Guqin itu untuk selamanya. Bukan begitu?" tanya Bai Ningyuan.
Lin'er mengernyitkan keningnya, dia masih tidak paham sebenarnya. Ucapan Bai Ningyuan itu penuh dengan kata-kata yang sulit untuk dimengerti otak sederhana Lin'er.
"Siapkan kereta! kita ambil Guqin itu sekarang!" kata Bai Ningyuan yang berdiri dari duduknya setelah meletakkan cangkir teh yang dia pegang tadi.
Lin'er sebenarnya merasa tidak tenang. Dia sungguh khawatir pada nyonya nya itu. Kondisi kemarin saja belum sehat betul. Kalau ditambah kehujanan dan kedinginan, bukankah akan semakin parah saja. Tapi, sebagai pelayan setia yang harus selalu patuh pada majikan. Lin'er pada akhirnya tidak bisa menolak.
"Baiklah nyonya, aku akan minta kusir kereta menyiapkan kereta kuda!"
"Iya" kata Bai Ningyuan dengan suara tenang.
Bukan hanya suaranya, ekspresi wajah Bai Ningyuan juga tampak tenang. Tapi memang biasanya juga Bai Ningyuan selalu tenang.
Dalam sikap tenangnya itu, ada tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ketika matanya kembali melihat ke arah langit.
'Hujanlah yang deras malam ini, sangat deras sampai tak akan terdengar suara apapun selain derasnya air hujan!' batinnya.
Di dalam pikirannya sudah ada sebuah rencana. Begitu dia mendengar kaisar akan pergi ke istana Juhua. Dia setidaknya harus melakukan sesuatu untuk mencegahnya.
Meski semua orang berpikiran kalau Qao Biyue adalah wanita pendiam yang tidak mau ikut campur perebutan kasih sayang kaisar di istana Harem. Namun semua yang telah dialaminya. Semua yang sudah terjadi padanya, mengajarkan padanya. Untuk tidak percaya pada siapapun selain pada dirinya. Apalagi seseorang yang bahkan tidak dia kenal. Hanya dari kata orang, dari pendapat orang selama ini, dia tidak boleh percaya begitu saja. Dalamnya hati, tidak ada yang bisa mengukurnya.
Meski saat ini Qao Biyue terlihat begitu lemah, terlihat sangat pendiam. Tapi wanita itu juga berada di kubu permaisuri Su. Tidak mungkin, ada satu orang pun yang berada di kubu para arogan itu, yang tidak menginginkan keuntungan untuk diri dan keluarga mereka. Yang diam itu, biasanya memang lebih menghanyutkan.
Tak berselang lama, Lin'er kembali menghampiri Bai Ningyuan.
"Nyonya, keretanya sudah siap!"
Bai Ningyuan mengangguk pelan. Senyum tipis juga terlihat di wajahnya.
"Ayo Lin'er, kita berangkat sekarang ke taman istana timur!"
Begitu mereka berada di dekat kereta. Bai Ningyuan mengatakan pada kusir kereta itu.
"Yang mulia akan melintasi jalan barat, kita lewat timur saja!" kata Bai Ningyuan.
"Baik nyonya!" sahut kusir itu.
Bai Ningyuan dan Lin'er pun masuk ke dalam kereta kuda. Ketika baru beberapa meter meninggalkan gerbang istana Hanzi. Hujan turun perlahan, lama kelamaan menjadi deras.
Rombongan kaisar, tentu saja berhenti sebentar di persimpangan jalan, karena mereka memang berangkat sebelum hujan. Tidak ada persiapan. Baru setelah semua menggunakan payung, kereta kuda kaisar kembali berjalan.
Mendengar suara hujan yang semakin deras, dan melihat rombongan kaisar dari kejauhan. Bai Ningyuan tersenyum tipis.
"Belok sekarang!" kata Bai Ningyuan pada kusir.
Kuda yang awalnya berjalan lurus, mendadak di arahkan untuk belok ke timur. Tentu saja akan mengeluarkan suara ringikan.
Ngihikkk
Dan suara itu membuat kaisar Xuan Pingyan menyadari keberadaan kereta itu.
"Kereta siapa? hujan deras begini mau kemana?" tanya kaisar.
Kasim Wang pun menoleh ke luar jendela. Air hujan membasahi wajahnya. Tapi dia tetap berusaha melihat dengan seksama kereta siapa itu.
"Itu... itu kereta dari istana Hanzi. Dan mereka itu sepertinya mengarah ke arah timur, yang mulia!"
Xuan Pingyan terdiam sebentar.
"Cari tahu, untuk apa kereta itu kesana. Dan siapa yang ada di dalamnya!" kata Xuan Pingyan.
"Baik yang mulia" sahut Kasim Wang.
Dengan segera, Kasim Wang mendekati penjaga yang ada di sebelah kereta. Kasim Wang minta penjaga itu untuk pergi ke istana Hanzi dan mencari tahu apa yang ingin diketahui oleh kaisar.
Sementara itu, Bai Ningyuan dan Lin'er masih ada di dalam kereta. Mereka memang akan benar-benar menuju ke taman timur.
"Nyonya, sepertinya tadi itu kereta kuda yang mulia kaisar" kata Lin'er pelan.
Sebagai pelayan, dia juga tahu. Kalau ada selir yang mendapatkan kasih sayang kaisar. Secara otomatis selir yang tidak seberuntung itu kehidupannya juga akan biasa-biasa saja di istana. Lin'er merasa semua ini tidak adil. Padahal majikannya adalah istri sah, istri pertama kaisar. Tapi malah jadi selir.
"Biarkan saja Lin'er!" sahut Bai Ningyuan dengan suara tenang.
'Biarkan saja Lin'er, keretanya memang menuju kesana sekarang. Tapi, siapa yang tahu pada akhirnya kereta itu akan bermalam dimana?' batin Bai Ningyuan terlihat begitu tenang.
***
Bersambung...
Kalau Bai Ningyuan mah santuy, untuk apa cari perhatian kaisar lagi..
Toh cinta nya saat ini udah mati..
Yg ada di hati nya hanya balas dendam atas keluarga nya yg telah mati & gak dihargai.. 🤭