Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buah Pertama Desa
Pagi buta belum sepenuhnya melepas dekapannya ketika Luna sudah berdiri terpaku di depan kebun sayur. Bahkan sebelum Haruto membuka pintu rumahnya untuk menyambut hari baru, gadis kecil Ras Kelinci itu telah bolak-balik memeriksa setiap jengkal tanaman, mengamati perubahan warna pada kulit buah yang perlahan matang dengan tatapan penuh damba.
Begitu Haruto melangkah keluar rumah sambil meregangkan ototnya, Luna langsung berlari kecil dan menarik-narik ujung bajunya. "Haruto! Cepat lihat! Yang ini warnanya sudah berubah, apa sudah matang belum?" serunya antusias.
Haruto tertawa kecil melihat semangat pagi sang gadis. Ia berjongkok, memeriksa kondisi sayuran dan buah-buahan satu per satu dengan teliti—mulai dari tomat yang merona merah, mentimun yang segar, selada yang renyah, hingga buah-buahan dari pohon yang baru saja berbuah untuk pertama kalinya setelah ditanam berbulan-bulan lalu. Haruto mengangguk mantap.
"Hari ini," ucap Haruto tersenyum. "Kita panen."
Mendengar kata itu, mata Luna berbinar lebar. Ia langsung berlari keliling desa, berteriak riang memberitahu seluruh warga bahwa hari panen raya telah tiba. Semangat itu menular begitu cepat; Fira dan Fina bahkan sampai meninggalkan pekerjaan rutin mereka lebih cepat untuk segera berkumpul di kebun. Brom, yang keluar dari pintu bengkel dengan wajah belepotan sisa arang, tersenyum kecil dari kejauhan. Ia belum pernah melihat sekelompok orang begitu bersemangat hanya karena urusan bercocok tanam.
Pekerjaan dimulai dengan pembagian tugas yang terorganisir. Mira, dengan kelincahannya, memanjat dahan pohon untuk menjangkau buah-buahan tertinggi. Kaelin dengan cermat memeriksa buah mana saja yang benar-benar berada di tingkat kematangan sempurna. Hana menyiapkan keranjang-keranjang kosong, sementara Fina dan Luna bertugas mengangkut hasil petikan itu ke dalam lumbung.
Di tengah kesibukan itu, Haruto sempat menghentikan tangan Luna yang hendak memetik sebuah buah di sudut kebun.
"Eh? Yang ini jangan dulu, Luna," cegah Haruto lembut.
Luna mengerjap bingung, memiringkan kepalanya. "Belum matang ya?"
"Besok mungkin baru siap," jawab Haruto.
Jenderal Varkas Vane, yang berdiri tidak jauh dari sana sambil mengawasi proses panen bersama para pengawalnya, merasa penasaran dengan kehati-hatian tersebut. Ia melangkah mendekat dan bertanya, "Bukankah jauh lebih mudah kalau kalian memetik semuanya sekaligus tanpa harus memilih?"
Haruto mendongak, lalu menjawab dengan nada santai sambil tersenyum. "Kalau dipetik terlalu cepat, rasanya kurang manis. Kalau ditunggu terlalu lama sampai terlalu matang, teksturnya juga jadi tidak enak. Tanaman itu punya waktu terbaiknya sendiri, Jenderal. Kita hanya perlu menghormati waktu itu."
Varkas terdiam sejenak, menatap pemuda di hadapannya lekat-lekat. Ia mulai menyadari bahwa Haruto bukan sekadar orang yang bertani untuk bertahan hidup; pemuda ini benar-benar mencintai dan memahami setiap proses dari apa yang ia kerjakan.
Hari itu, atas keputusan bersama, tidak ada pekerjaan berat atau pembangunan yang dilanjutkan. Haruto memutuskan bahwa seluruh warga desa—termasuk para tamu dari kerajaan iblis—boleh beristirahat lebih awal dari biasanya.
"Hari ini kita berpesta," umum Haruto dengan suara riang.
Luna langsung bersorak paling keras, melompat-lompat kegirangan di tempat. Kaelin segera sibuk memilih sayuran dengan kualitas terbaik untuk dimasak, Hana menyiapkan racikan bumbu rahasia dapur mereka, dan Brom dengan sukarela membelah kayu bakar tambahan. Sementara itu, Mira dan Fira berlari ke arah sungai jernih di dekat hutan untuk menangkap ikan segar.
Suasana desa mendadak menjadi jauh lebih hidup dan meriah daripada hari-hari biasanya. Yang mengejutkan, rombongan Jenderal Varkas tidak tinggal diam atau bersantai di tenda; mereka ikut terjun membantu tanpa perlu diminta. Ada prajurit yang membantu mengambil air dari sumur, ada yang dengan sigap membawa tumpukan kayu bakar, bahkan sang ajudan ikut membantu merapikan meja makan panjang di dekat dapur terbuka.
Haruto sempat ingin melarang mereka karena merasa tidak enak pada tamu, namun Varkas hanya menggeleng pelan sambil mengangkat bahu. "Kami juga ikut makan malam di sini, Haruto. Rasanya tidak adil kalau kami hanya duduk menunggu sementara yang lain bekerja."
Menjelang sore hari, saat matahari mulai menurunkan panasnya dan menghangatkan udara senja, semua orang duduk melingkar di halaman tengah desa.
Menu hidangan hari itu tersaji dengan sangat sederhana namun kaya rasa: nasi putih yang mengepulkan uap hangat, ikan bakar sungai berbumbu rempah segar, irisan daging asap yang gurih, semangkuk besar sayuran segar, tomat merah yang baru dipetik langsung dari kebun, serta buah-buahan manis sebagai pencuci mulut.
Tidak ada jamuan mewah ala istana kerajaan. Namun, justru kesederhanaan dan keotentikan rasa itulah yang membuat Jenderal Varkas terdiam begitu ia menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Ia mencoba seiris tomat segar, lalu beralih ke mentimun renyah, dan terakhir mencicipi buah manis di piringnya. Rasanya begitu murni, segar, dan kaya akan cita rasa alami yang sudah lama tidak ia temukan di kota besar.
Salah satu prajurit iblis yang duduk di dekatnya bahkan berseru takjub, "Aku baru sadar... buah timun ini ternyata bisa semanis dan sesegar ini!" Ia terdiam sejenak, lalu menoleh pada Haruto. "Omong-omong, di wilayah kerajaan kami, tanaman ini biasanya disebut karan, tapi rasanya sama sekali tidak seperti ini."
Haruto tersenyum bingung, menggaruk bagian belakang kepalanya. "Oh, begitu ya. Kalau di tempat asalku namanya memang timun. Bukankah... memang begini rasanya?"
Varkas ikut menggelengkan kepalanya pelan, menyela percakapan. "Tidak, Haruto. Di kerajaan kami, tanaman dengan jenis yang sama juga dibudidayakan di perkebunan bangsawan. Namun, rasanya tidak pernah semurni dan sesegar ini. Ada sesuatu yang berbeda dari cara tanah ini merawat tanamanmu."
Ketika malam mulai merayap dan langit berganti warna menjadi gelap gulita, sebagian besar dari mereka masih duduk melingkar mengelilingi api unggun yang mulai mengecil. Suasana yang hangat mencairkan kecanggungan, membuat Jenderal Varkas mulai melontarkan berbagai pertanyaan teknis yang selama ini mengganjal di benaknya.
Ia bertanya tentang sistem irigasi cerdas yang mengalirkan air dari sungai, bagaimana cara mereka menanggulangi gulma tanpa merusak tanaman utama, rahasia di balik pengaturan jarak tanam, hingga alasan mengapa petak sawah harus selalu tergenang air secara stabil.
Haruto menjawab semua pertanyaan itu dengan sabar dan apa adanya, menjelaskan bahwa apa yang ia lakukan adalah pengetahuan dasar bertani di tempat asalnya. Namun, bagi seorang jenderal militer yang terbiasa memikirkan strategi perang, cara pandang Haruto terhadap alam membuka perspektif baru yang luar biasa.
Bahkan Brom ikut menyela di tengah obrolan dengan nada kagum, "Aku yang hidup bertahun-tahun di pegunungan saja baru tahu beberapa teknik rumit ini setelah tinggal di sini bersama Haruto."
Varkas tertawa renyah, menikmati kehangatan malam itu. "Hari ini, aku merasa belajar lebih banyak hal berguna daripada saat aku mendatangi dan memeriksa beberapa desa pertanian resmi di wilayah perbatasan."
Keesokan paginya, suasana di sudut perkemahan terasa sedikit berbeda. Rombongan Jenderal Varkas mulai membereskan tenda dan merapikan perlengkapan mereka untuk bersiap kembali ke ibu kota. Haruto turut membantu menggulung tali tenda, sementara Luna berdiri di dekat mereka dengan wajah murung—gadis kecil itu tampak sedih karena tamu-tamu yang baru ia kenal sehari kemarin harus segera pergi.
Setelah seluruh barang selesai dikemas, Varkas melangkah mendekati Haruto, menjabat tangan pemuda itu dengan erat. "Terima kasih banyak atas jamuan dan keramahan kalian selama dua hari ini."
Haruto mengangguk ramah. "Terima kasih kembali, Jenderal. Terima kasih karena sudah datang dengan damai dan tidak membawa masalah ke desa kami."
Varkas tersenyum tipis, namun matanya menyiratkan bahwa ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. "Sebenarnya... ada satu hal yang terus kupikirkan sejak kemarin malam."
Haruto menaikkan sebelah alisnya, meminta kelanjutan kalimat tersebut.
Varkas menoleh sejenak ke arah petak kebun yang hijau subur, lalu kembali menatap Haruto. "Hasil panenmu... kualitasnya luar biasa tinggi. Kalau seluruh panenmu menghasilkan kualitas sebaik ini, rasanya sangat disayangkan kalau hanya dikonsumsi sendirian oleh sembilan orang di tempat terpencil ini."
Haruto menghela napas pelan, mengakui kebenaran ucapan sang jenderal. Sebenarnya, ia dan warga desa juga sudah memikirkan hal yang sama sejak lama. "Masalahnya... seperti yang kau tahu, kami tidak bisa leluasa keluar dari Hutan Kematian."
Brom ikut merapat, menambahkan dengan nada realistis, "Dan lagi, kalaupun kami bisa keluar, kami tidak punya banyak barang berharga untuk ditukar dengan komoditas lain."
Haruto menggeleng pelan, menyela perkataan sang pandai besi. "Sebenarnya ada." Semua mata langsung menoleh tertuju padanya. Haruto melanjutkan dengan tenang, "Kami tidak butuh uang emas yang tidak bisa dimakan. Tapi kalau memang memungkinkan... aku lebih memilih menukar hasil panen dan kelebihan makanan ini dengan besi mentah."
Varkas terdiam cukup lama, mempertimbangkan tawaran tersebut di dalam kepalanya. Sebagai seorang militer, ia tahu persis risikonya. "Aku bukan seorang pedagang, Haruto. Aku juga tidak memiliki wewenang penuh untuk membuat perjanjian dagang resmi atas nama kerajaan."
Haruto mengangguk maklum; ia sudah menduga jawaban tersebut sejak awal.
Namun, Varkas melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih serius, "Tapi... aku bisa menyampaikan usulan ini langsung kepada pihak istana." Ia kembali memandang sekeliling—menatap petak sawah yang terbentang, lumbung yang mulai penuh, hingga bengkel tempat Brom bekerja. "Kalau pihak kerajaan menyetujuinya... mungkin saja kami bisa mengirimkan pedagang resmi yang dikawal khusus untuk datang ke sini."
Brom langsung mengernyitkan dahi, merasa ngeri dengan gagasan itu. "Pedagang biasa masuk ke dalam Hutan Kematian? Itu bunuh diri!"
Varkas tersenyum tipis, penuh keyakinan. "Kalau komoditas yang ditawarkan memiliki nilai yang cukup berharga bagi kerajaan... selalu ada orang-orang di luar sana yang berani mengambil risiko sebesar apapun."
Haruto tersenyum kecil, merasa lega setidaknya ada secercah pintu yang terbuka untuk masa depan desanya. "Kalau begitu... aku akan menunggu kabar baik darimu, Jenderal."
Varkas mengangguk hormat. "Jangan terlalu berharap banyak pada birokrasi istana. Tapi aku berjanji akan berusaha."
Sebelum benar-benar membalikkan badan untuk meninggalkan desa, Varkas menoleh sekali lagi ke belakang. Dari balik pagar kayu sederhana itu, ia memandangi sebuah desa kecil yang eksistensinya sama sekali tidak masuk akal di tempat seberbahaya ini. Asap tipis mengepul tenang dari cerobong dapur, sawah hijau bergoyang lembut ditiup angin pagi, dan suara tawa ceria Luna terdengar samar-samar sampai ke area gerbang.
Pandangan mata Varkas akhirnya berhenti pada sosok Haruto yang sedang berdiri santai, kembali memeriksa tanaman di kebun seolah-olah urusan terpenting di dunia saat ini hanyalah memastikan tidak ada buah yang dipetik sebelum waktunya.
Varkas tersenyum kecil pada dirinya sendiri. "Mungkin... tempat ini pada akhirnya akan mengubah jauh lebih banyak hal di dunia ini daripada yang pernah kusangka."
Rombongan kecil itu kemudian berjalan meninggalkan gerbang desa, melangkah kembali menembus lebatnya pepohonan Hutan Kematian. Sementara itu, Haruto kembali memanggul cangkulnya di pundak—sama sekali tidak menyadari bahwa langkah kecil berupa usulan barter sederhana yang baru saja ia bicarakan perlahan-lahan akan menjadi titik mula yang mengubah jalannya sejarah antara sebuah desa tersembunyi di Hutan Kematian dengan seluruh Kerajaan Iblis.