Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Mendengar permintaan mahar tersebut, batas kesabaran Ganda yang tersisa seketika habis.
Sorot matanya yang tadi melembut kini berubah menjadi sangat tegas dan dingin.
Sebagai seorang anak kiai yang paham betul hukum fikih pernikahan, ia tidak bisa membiarkan pelanggaran syariat terjadi di depan matanya, sekalipun itu diperintahkan oleh ibunya.
"Maaf, Umi," pangkas Ganda, suaranya rendah namun bergetar oleh ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat.
"Mengenai mahar, itu adalah hak mutlak milik Diaz secara agama. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang boleh mengambil, menyimpan, atau mengutak-atiknya tanpa rida dari Diaz sendiri, termasuk Umi atau bahkan Ganda sebagai suaminya. Ganda tidak akan memberikan mahar itu pada siapa pun."
Umi Maryam terbelalak, terperangah melihat putranya berani menolak perintahnya secara terang-terangan demi perempuan lain.
Tanpa menunggu makian lanjutan dari sang ibu atau tangisan jengkel dari Laura, Ganda langsung bangkit dari duduknya.
Ia membalikkan badan dengan langkah tegap, berjalan meninggalkan ruang tengah yang masih dipenuhi aura kemarahan, lalu melangkah menuju kamar utama untuk menemui istri pertamanya.
Sementara itu, di dalam kamar utama yang tertutup rapat, dinding kayu jati yang tebal ternyata tidak sepenuhnya mampu meredam suara perdebatan sengit di ruang tengah.
Diaz, yang sejak tadi duduk bersandar, mendengar dengan sangat jelas setiap untaian kalimat yang terlontar—mulai dari ancaman gila Umi Maryam, tuntutan Laura, hingga pembelaan tegas dari Ganda mengenai maharnya.
Mendengar bagaimana suaminya berdiri tegak mempertahankan hak agamanya di depan sang ibu, seulas senyum tipis yang sarat akan kesan sinis terukir di bibir pucat Diaz.
Ternyata anak kiai ini masih punya nyali untuk bicara fikih di depan ibunya sendiri, batin Diaz getir.
Namun, hal itu sama sekali tidak mengubah keputusannya untuk tetap menjaga jarak.
Diaz mengalihkan pandangannya dari pintu. Ia melangkah pelan menuju sebuah sofa panjang yang terletak tak jauh dari ranjang utama.
Sesuai dengan perjanjian mereka di rumah sakit—bahwa pernikahan ini tidak akan melibatkan hubungan intim—Diaz dengan sadar memilih sofa itu sebagai teritorinya, menolak untuk menyentuh ranjang pengantin milik Ganda.
Ia merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas di atas permukaan sofa yang empuk, meringkuk pelan mencari posisi nyaman dengan menjadikan bantal kecil sebagai sandaran.
Ceklek.
Suara kunci pintu yang diputar dari luar menandakan Ganda telah masuk menggunakan kunci cadangan.
Namun, Diaz sama sekali tidak berniat untuk berbalik atau menyapa suaminya.
Ia langsung memejamkan kedua matanya rapat-rapat, berpura-pura telah tenggelam dalam tidur yang lelap, membentengi dirinya sendiri dari kehadiran pria yang kini telah sah menjadi suaminya di atas kertas retak itu.
Ganda melangkah sepelan mungkin setelah menutup pintu kamar kembali.
Namun, langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap siluet Diaz yang meringkuk di atas sofa panjang, bukannya di atas ranjang utama yang jauh lebih nyaman.
Ganda menghela napas pendek, lalu melangkah mendekat.
"Diaz, kenapa kamu tidur di sana?" tanya Ganda dengan suara rendah yang lembut.
Tidak ada jawaban. Diaz tetap bergeming, mengatur napasnya seolah ia sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu.
Ia sengaja terus berpura-pura tidur agar tidak perlu berinteraksi lagi dengan suaminya.
Melihat respons dingin itu, Ganda berdiri mematung di samping sofa.
Perasaan serba salah seketika menggunung di dalam dadanya.
Mengingat persyaratan mutlak yang diminta Diaz di rumah sakit, ia benar-benar tidak berani menyentuh tubuh istrinya—bahkan sekadar untuk menggendongnya pindah ke kasur.
Ganda takut tindakannya akan dianggap sebagai pelanggaran janji dan memicu kepanikan psikologis Diaz lagi.
Akhirnya, dengan langkah pasrah, Ganda berjalan mendekati ranjang.
Ia mengambil sebutir bantal dan selembar selimut tebal, lalu membawanya turun ke lantai.
Ganda merebahkan tubuh lelahnya di atas karpet bulu yang membentang di tengah kamar, mencoba memejamkan mata dengan beralaskan fasilitas seadanya.
Mendengar pergerakan di bawah, Diaz perlahan membuka kelopak matanya sedikit.
Ia melirik ke bawah dan mendapati punggung tegap Ganda yang kini meringkuk di atas karpet dingin.
Hati kecil Diaz terusik. Biar bagaimana pun, Ganda sudah membelanya mati-matian di depan Umi Maryam dan merawatnya di rumah sakit.
Melihat seorang anak kiai pemilik pondok harus tidur di lantai yang dingin demi menghormati batasannya, membuat rasa tidak tega menyelinap di dada Diaz.
Memutar otak agar tidak terkesan menurunkan gengsinya, Diaz mendadak bangkit berdiri.
Dengan kedua mata yang sengaja dibuat setengah terpejam dan tatapan kosong, ia berpura-pura sedang tidur berjalan (sleepwalking).
"Dingin... kamarnya dingin..." gumam Diaz lirih, berakting dengan suara sengaja diseret seolah ia berbicara di dalam mimpi.
Dengan langkah kaku yang dibuat-buat, Diaz melangkah meninggalkan sofa, berjalan menuju ranjang utama, lalu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan menarik selimut hingga ke dada.
Semua itu ia lakukan dengan rapi agar Ganda merasa bebas untuk naik dan tidur di sofa yang sudah kosong, tanpa perlu kedinginan lagi di bawah lantai marmer.
Melihat pemandangan sekilas itu, Ganda yang sejak awal belum benar-benar tidur langsung terduduk.
Ia menatap Diaz yang kini sudah berganti posisi ke atas ranjang dengan senyum tipis yang mendadak terukir di sudut bibirnya.
Ganda tentu tidak bodoh; ia tahu betul istrinya hanya sedang bersandiwara demi kebaikannya.
Ganda bangkit dari lantai, membawa bantalnya, lalu berjalan menuju sofa yang baru saja dikosongkan oleh Diaz.
Setelah memosisikan dirinya dengan nyaman di atas sofa, Ganda menopang kepalanya dengan satu tangan, lalu menoleh ke arah ranjang dengan kilat jenaka di matanya.
"Terima kasih ya, Diaz," ucap Ganda, suaranya terdengar sedikit menggoda di tengah keheningan kamar.
"Dan tolong, jangan berpura-pura tidur lagi, nanti kalau kelamaan menahan akting, kentut kamu bisa keluar sendiri. Ayo, buka matamu, kita bicara sebentar."
Mendengar celetukan spontan suaminya yang di luar dugaan itu, Diaz yang tadinya bersiap menahan tawa dan gengsi, mendadak merasa tubuhnya benar-benar dihantam oleh rasa lelah yang luar biasa.
Efek sisa obat penenang yang masih bekerja di dalam darahnya ditambah kelelahan emosional seharian ini mendadak menyerang pertahanannya seketika.
Alih-alih menyahut atau membalas godaan Ganda, kesadaran Diaz justru tumbang begitu saja dalam hitungan detik. Ia benar-benar terlelap masuk ke alam mimpi.
Khhh... fffuuu... khhh...
Ganda yang tadinya menunggu Diaz membuka mata, seketika tertegun mendengarkan suara dengkuran halus dan pulas yang mulai terdengar berirama dari arah ranjang.
Diaz benar-benar tertidur sangat nyenyak hingga mendengkur kecil karena kelelahan yang teramat sangat.
Ganda menggelengkan kepalanya pelan, tawa kecilnya tertahan di tenggorokan.
Ketegangan yang membakar ndalem sejak siang tadi seolah menguap begitu saja digantikan oleh momen absurd malam ini.
Ia membenarkan posisi tidurnya di atas sofa, lalu menarik selimutnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Malam itu di kamar kamar, badai di luar pesantren seolah tidak lagi penting bagi mereka berdua.
Sementara itu, di sisi lain ndalem, kamar pengantin baru milik Laura diselimuti oleh aura kegelapan dan keputusasaan yang pekat.
Lampu kamar sengaja dimatikan, hanya menyisakan cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah jendela.
Laura berbaring miring, memeluk gulingnya dengan teramat erat seolah benda itu adalah pelampung di tengah badai.
Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi kain katun seprai mahal yang seharusnya menjadi saksi kebahagiaannya.
Dadanya terasa sesak, naik turun oleh napas yang memburu menahan amarah yang teramat sangat.
"Aku benci kamu, Diaz. Aku benar-benar benci kamu!" desis Laura dengan suara tertahan di balik tangisnya, jemarinya mencengkeram kain guling hingga kukunya memutih.
Rasa malu ditolak Ganda di depan mertua, ditambah penghinaan terang-terangan dari Diaz di ruang tengah tadi siang, terus berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak.
Baginya, Diaz adalah parasit yang tiba-tiba datang dan meracuni kehidupan indahnya dalam sekejap mata.
Laura menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan.
Ia membalikkan tubuhnya menatap langit-langit kamar dengan sepasang mata yang kini berkilat tajam, dipenuhi oleh ambisi dan kecemburuan yang membakar habis akal sehatnya.
"Menangis tidak akan menyelesaikan apa pun," bisik Laura pada kegelapan malam, suaranya mendadak berubah menjadi dingin dan penuh tekad.
Ia menegakkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang sambil menatap ke arah pintu kamar yang menghubungkan koridor ndalem. Tangannya mengepal kuat.
"Sekarang kamu boleh menang, Diaz. Kamu boleh mengambil Mas Ganda dengan status istri pertamamu yang penyakitan itu," desis Laura, senyum getir sekaligus sinis terukir di wajahnya yang sembap.
"Tapi, besok adalah giliranku. Besok aku harus memiliki Mas Ganda seutuhnya. Aku yang akan membuat dia berpaling dan melupakan keberadaanmu di rumah ini!"
Dengan sumpah serapah yang tertanam di dalam dadanya, Laura kembali merebahkan diri.
Ia memejamkan mata bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menyusun rencana bagaimana cara merebut kembali perhatian Ganda.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡