Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Alice masih berdiri di depan lemarinya. Bagaimana mungkin hanya di tinggal beberapa jam saja isi lemarinya sudah berubah begini?
Dia tau apa itu. Jika waktu masih muda dulu dia sangat suka memakai pakaian seperti itu untuk menggoda Rendra, maka saat ini dia merasa malu.
Alice ngeri sendiri melihatnya. Benar-benar tidak masuk akal baginya.
"Astaga, jika begini apa yang harus ku pakai?" gumam Alice yang masih belum berganti pakaian.
Padahal ini sudah malam. Bahkan Rendra saja pun sudah pulang.
"Alice, tolong pijat punggung ku!" seru Rendra memanggil wanita itu.
"Iya, sebentar." kata Alice dari dalam ruang ganti. Alhasil, dia memilih yang paling masuk akal baginya.
"Apa yang kau lakukan di dalam sana?" tanya Rendra lagi.
Hingga akhirnya Alice keluar dari ruang ganti.
"Jangan menatapku begitu. Ini pasti kerjaan kamu kan?" Alice mending Rendra, yang terus saja menatap ke arahnya sejak tadi.
"Bukannya dulu kau menyukai pakaian seperti itu untuk menggodaku?"
"Itu dulu, waktu aku masih muda. Masih merasa penasaran, sekarang umurku sudah 27 tahun. Anakku sudah berusia hampir 8 tahun, rasanya aku sangat malu jika harus memakai pakaian seperti ini." keningnya berkerut mendengar apa yang Alice katakan.
Malu? kenapa harus malu?
"Kemari cepat!" titah Rendra padanya.
"Jangan malam ini, tolong. Akh benar-benar sangat lelah." ujarnya, karena seharian ini dia full berada di luar bersama dengan Rendra dan juga anak mereka.
"Apa tidak bisa istirahat satu hari saja?" katanya meminta negosiasi pada Rendra.
"Tidak! Hutangmu masih banyak, jadi kau harus mencicil nya!" jawab Rendra.
"Astaga, benar-benar tidak berbelas kasih." gumam Alice, mendekat pada Rendra.
Namun, siapa sangka jika tangannya di tarik laki-laki itu, hingga sesuatu tersemat di jarinya.
"Apa ini?" tanya Alice padanya.
"Kau lihat memangnya apa itu?" tanya Rendra balik.
"Aku tau ini cincin, tapi apa maksudnya memberikanku cincin seperti ini? sudah seperti membawa batu saja." gumamnya lagi.
"Anggap itu sebagai cincin lamaranmu. Karena setelah semua pekerjaan selesai kita akan menikah dan kembali ke Amerika."
Uhuk!
Alice tersedak setelah mendengar apa yang laki-laki itu katakan. Apa-apaan ini? kenapa tiba-tiba sekali. Bahkan tidak ada kata-kata manis sedikit pun yang keluar dari bibirnya tadi.
"Maksudnya?" tanya Alice yang masih berusaha mencerna.
Sungguh, dia benar-benar tidak habis pikir dengan Rendra. Bagaimana bisa laki-laki itu melamar dengan kata-kata yang, ah sudahlah.
"Kau mengetahuinya sejak dulu jika aku bukan laki-laki yang bisa bermulut manis pada siapapun. Intinya, kita akan menikah setelah semua pekerjaan di sini selesai. Jadi, jangan halangi aku jika bekerja agar aku bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat." ujarnya pada Alice yang hanya menatap biasa saja.
"Cincin doang nih? Satu set kek." goda Alice, yang sengaja mengatakan hal seperti itu.
"Lagian kaya juga. Dulu mantan istrinya di kasih apa, sampai tergila-gila begitu? Pasti di kasih yang lebih banyak lagi." gumam Alice ingin tau.
"Aku bahkan tidak tau apa yang aku berikan padanya. Biar kau tau, selama dengan mu apa aku pernah memakai cincin pernikahan?" tanya Rendra menjelaskan.
"Tidak bukan? aku juga tidak tahu di mana kirim pernikahan itu. Bahkan sampai bercerai pun aku hanya sekali memakainya. Jadi Jangan tanyakan apapun lagi padaku tentang wanita itu. Karena dia adalah salah satu hal yang ingin kulupakan dalam hidup." ujarnya panjang lebar, membuat Alice terdiam.
Apalagi melihat Rendra yang menatap kosong ke arah depan. Seolah-olah pemandangan di depan sana begitu jauh dan menyakitkan.
"Maafkan, aku." ucap Alice mendekat pada Rendra.
Dia berpikir jika laki-laki ini juga menyimpan begitu banyak kesakitan. Tapi, siapa sangka perhatiannya disalah artikan.
Brugh!
"Hey! apa-apaan ini?" pekik Alice ketika tubuhnya di hempaskan ke tempat tidur.
"Jangan berpikir, karena kau perhatian aku bisa lupa. Tidak! Kau harus tetap membayar hutangmu malam ini!" ucap Rendra sebelum memulai pertempuran mereka malam itu.
Sementara di tempat lain, Alana terlihat tidak baik-baik saja. Dia menatap foto pernikahan mereka. Dimana dia memakai gaun putih, dan Rendra memakai jas hitam yang begitu sempurna.
Sayangnya, tidak ada yang istimewa dari foto itu. Karena Rendra sama sekali terlihat tidak bahagia.
"Apa aku tidak layak berada di sisimu? Apa aku jauh lebih rendah dari wanita murahan mu itu, hingga kau bahkan memiliki putra dengannya." gumam Alana yang terlihat begitu kosong.
Setelah berjuang selama ini, akhirnya dia benar-benar kalah dari wanita murahan itu. Luar biasa bukan? seorang Alana, model terkenal bisa kalah dengan seorang wanita rendahan seperti Alice itu.
***