NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:116k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Makan Malam Pertama

Mobil yang dikemudikan Enzo akhirnya berhenti di depan sebuah rumah makan yang terlihat cukup ramai.

"Kenapa di restoran biasa?" tanya Enzo sambil mematikan mesin. "Kamu istri seorang CEO. Mau makan di restoran mewah manapun aku gak mungkin gak bisa bayarin."

Chantika menggeleng. "Aku lebih suka tempat kayak gini. Makanannya enak, harganya juga masuk akal."

Enzo tersenyum tipis. "Oke. Malam ini kita makan di tempat favorit Bu Polisi."

Mereka pun masuk ke dalam rumah makan sederhana itu. Enzo melihat meja-meja kayu tersusun rapi. Indera penciumannya langsung disambut aroma sate, sup, dan makanan hangat.

Baru beberapa langkah...

"Chantika?"

Langkah Chantika berhenti, lalu ia menoleh. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri dari salah satu meja. Tubuhnya tegap. Rambut dipotong pendek khas polisi. Di pundaknya tersemat pangkat yang lebih tinggi daripada Chantika.

"Bang Arga."

Pria itu tersenyum lebar. "Kebetulan banget."

Arga adalah senior Chantika di Resmob. Salah satu penyidik terbaik di kesatuan mereka.

Sudah hampir dua tahun ia beberapa kali berusaha mendekati Chantika. Namun setiap kali ia mengajak makan, menonton, atau sekadar minum kopi, jawaban Chantika selalu sama.

"Maaf, Bang. Saya masih ingin fokus bekerja."

Tak ada penolakan kasar. Namun juga tak pernah memberi harapan. Karena itu, melihat Chantika datang bersama seorang pria malam ini membuat Arga sedikit terdiam.

Pandangannya perlahan beralih kepada Enzo. Pria yang mengenakan kemeja putih sederhana, celana hitam, dan jam tangan biasa.

Namun...

Entah kenapa pria itu memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan. Tatapannya tenang. Berdiri tanpa berusaha menunjukkan apa pun.

Tetapi kehadirannya saja membuat orang di sekitarnya tanpa sadar menjaga sikap.

Sebagai polisi yang sudah lama menghadapi berbagai macam pelaku kriminal, insting Arga langsung bekerja.

"Pria ini... bukan orang biasa."

Enzo membalas tatapan Arga dengan sopan. Tak ada senyum mengejek apalagi tatapan menantang.

Namun sorot mata yang terlalu tenang itu justru membuat lawan bicara Enzo sulit membaca pikirannya.

"Kenalin, Bang," ucap Chantika. "Ini Enzo."

Arga mengulurkan tangan. "Saya Arga. Seniornya Chantika."

Enzo menyambut uluran tangan itu. "Enzo."

Genggaman keduanya sama-sama mantap. Beberapa detik berlalu, tetapi tak ada yang berbicara.

Arga tersenyum. "Ini pertama kalinya aku lihat Chantika keluar malam sama pria selain ayahnya."

Chantika langsung salah tingkah. "B-Bang...."

Arga terkekeh pelan. "Kirain kamu memang gak tertarik sama laki-laki."

Chantika memutar bola matanya. "Apa-apaan sih."

Arga menatap Enzo lagi. "Jaga dia baik-baik."

Enzo menjawab tanpa ragu. "Itu memang niat saya."

Kalimat singkat itu membuat Arga mengangguk pelan. Tak ada kata-kata manis, namun terdengar sangat meyakinkan.

-

Saat Arga kembali ke mejanya, salah seorang rekan polisi yang sedari tadi memerhatikan bertanya pelan,

"Itu pacarnya Iptu Chantika?"

Arga mengembuskan napas. "Sepertinya."

"Gimana menurutmu?"

Arga menatap punggung Enzo yang sedang menarikkan kursi untuk Chantika. "Aku gak tahu kenapa. Tapi pria itu..."

Ia berhenti beberapa detik. "...membuatku merasa seperti sedang melihat seseorang yang terbiasa memimpin. Auranya beda. Padahal pakaiannya biasa."

"Ternyata Iptu Chantika gak pernah ngasih harapan sama kamu karena memang udah punya seseorang," goda rekan Arga.

Arga mengalihkan pandangannya ke arah meja Chantika. Di sana, wanita itu sedang membuka buku menu sambil sesekali tersenyum kepada Enzo. Senyum yang selama ini belum pernah ia lihat saat Chantika berbicara dengannya.

"Kayaknya dia nyaman sama pria itu," gumam Arga pelan.

Rekannya menepuk bahunya. "Kalau gitu cari yang lain, Pak AKP. Umur udah kepala tiga, kapan lagi mau nikah?"

Arga hanya tersenyum masam. "Mungkin memang bukan jodohku."

Ia tak berniat mengganggu pilihan Chantika. Selama ini pun ia hanya mencoba mendekat dengan cara yang baik. Jika wanita itu telah menemukan seseorang yang membuatnya membuka hati, ia memilih menghormati keputusan tersebut.

-

Sementara itu, di meja lain....

Enzo menutup buku menu, lalu menatap Chantika sejenak. "Dia kayaknya suka sama kamu."

"Siapa?" tanya Chantika ringan. "Bang Arga?"

Enzo mendesah pelan. "Siapa lagi."

Chantika mengulum senyum tipis. "Kenapa?" godanya. "Cemburu?"

Enzo berdeham pelan sambil membenarkan ujung lengan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi. "Aku bukan cemburu."

"Lalu?"

"Aku cuma sedang menghitung."

Chantika memiringkan kepalanya sedikit. "Menghitung apa?"

"Berapa banyak pesaing yang harus patah hati setelah kamu jadi istriku."

Chantika tak kuasa menahan tawanya. "Percaya diri banget."

Enzo menatapnya lekat. "Bukan percaya diri." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara tenang. "Aku hanya gak suka kehilangan sesuatu yang sudah kupilih."

Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa membuat jantung Chantika berdetak sedikit lebih cepat.

Ia menatap pria itu, di balik nada tenangnya, Chantika bisa melihat ada keyakinan yang begitu kuat. "Kenapa aku merasa sikapnya bukan hanya sekadar seorang CEO yang terbiasa mengambil keputusan? Dia kayak... punya naluri seorang pemimpin yang gak pernah ngelepasin apa yang udah jadi tanggung jawabnya."

"Tapi tenang saja," lanjut Enzo sambil tersenyum tipis. "Aku masih cukup sabar untuk menghadapi satu atau dua pengagum."

"Kalau lebih dari itu?" tanya Chantika sambil mengangkat sebelah alis.

Enzo menyesap air putih di depannya sebelum menjawab santai. "Berarti aku harus lebih rajin menemanimu."

Chantika kembali tertawa. "Dasar."

-

Setelah makan malam usai, Enzo langsung mengantar Chantika pulang.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah Rahardja.

Enzo segera turun lebih dulu, lalu berjalan memutari mobil sebelum membukakan pintu untuk Chantika.

"Silakan."

Chantika turun sambil menatap pria itu dengan senyum tipis. "Kamu perhatian sekali."

Enzo hanya tersenyum.

"Apa kamu memang sudah terbiasa melakukan ini?" tanya Chantika.

Enzo menggeleng pelan. "Aku sudah bilang, 'kan? Aku gak pernah deket sama perempuan mana pun."

Tatapannya bertemu dengan mata Chantika. "Kamu perempuan pertama yang pernah kubukakan pintu mobil."

Chantika mengangkat sebelah alis. "Serius?"

"Kalau gak percaya, kamu bisa tanya Marco."

"Marco?"

"Asistenku." Enzo tersenyum tipis. "Nomornya sudah ku save di ponselmu. Kalau suatu saat aku sulit dihubungi, kamu bisa menghubunginya."

"Oh..." Chantika mengangguk pelan. "Kalau begitu aku masuk dulu."

Enzo mengangguk. "Perlu kuantar sampai depan pintu?"

"Gak usah. Aku bisa sendiri."

Chantika baru saja hendak melangkah ketika Enzo tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut.

Chantika menoleh. "Kenapa?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Yang membuat hati jatuh bukanlah jabatan atau kekayaan, melainkan ketulusan seseorang yang selalu menempatkan kebahagiaanmu di atas kebanggaannya sendiri."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Kadek Sri
Bryan jangan percaya diri dulu, tunggu saja kehancuranmu
Hanima
👍👍
Anitha
Pak Raharja tidak sebodoh itu Bryan
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...

Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.

Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Siti Jumiati
lanjuuuut kak nana💪🙏
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!