Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dress Dinda!
"Rindu! Rindu!"
Suara lengkingan Dinda bergaung dari lantai bawah, meniti anak tangga dengan tergesa-gesa dan memecah keheningan lantai tiga.
Bunyi debuman langkah kakinya yang cepat menandakan adik iparnya itu sedang terburu-buru mencari keberadaannya.
Rindu yang baru saja menutup pintu mesin cuci langsung tersentak. Mendengar nada suara Dinda yang begitu mendesak, rasa cemas seketika menyergapnya.
Tanpa membuang waktu, ia langsung melangkah lebar meninggalkan ruang cuci, lalu bergegas turun ke bawah dengan berlari kecil menuruni anak tangga demi anak tangga.
"Ada apa, Dinda?" tanya Rindu dengan napas yang sedikit terengah begitu ia sampai di hadapan adik iparnya.
Matanya menatap lekat wajah Dinda, mencari tahu hal darurat apa yang membuat gadis itu berteriak-teriak memanggil namanya ke seluruh penjuru rumah.
Dinda berkacak pinggang, menatap Rindu dengan raut wajah kesal yang kentara.
"Dress aku yang warna emerald green, itu mana?" tanya Dinda tanpa basa-basi. Nada suaranya meninggi, menuntut jawaban segera.
"Dress kamu? Warna emerald green?" Rindu tampak berpikir sejenak. Ia mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat deretan pakaian yang sejak pagi tadi ia pilah dan masukkan ke dalam keranjang.
Memori di kepalanya berputar, mengingat sebuah gaun berbahan satin mewah dengan warna hijau zamrud yang pekat.
"Oh, dress itu... baru aku cuci, Din," sahut Rindu pelan, berusaha memberikan penjelasan dengan sehalus mungkin agar tidak memancing emosi adik iparnya.
Mendengar jawaban itu, mata Dinda seketika membelalak sempurna. Wajahnya yang semula hanya kesal kini berubah menjadi merah padam karena murka. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan gusar.
"Apa?! Baru kamu cuci?!" seru Dinda dengan nada tinggi yang menggema di ruang tengah.
"Kak Rindu, dress itu mau aku pakai tahu! Ada acara penting sama teman-teman aku! Kok baru kamu cuci sih sekarang?!"
Dinda menatap Rindu dengan pandangan menyalahkan. Kekesalannya memuncak karena rencana yang sudah ia susun rapi sejak jauh-jauh hari terancam berantakan hanya karena gaun pilihan utamanya masih basah di dalam mesin cuci.
Sementara itu, Rindu hanya bisa terpaku, merasa serbasalah menghadapi ledakan amarah adik iparnya yang tiba-tiba.
Dinda menyilangkan dada, napasnya memburu menahan dongkol.
"Kamu itu kenapa sih nggak pernah becus kalau apa-apa! Cuma ngurusin baju di rumah ini aja lambat banget!"
Kalimat tajam itu menghantam Rindu, seketika membuat lidahnya kelu.
Sebagai menantu yang menumpang di rumah mertua, Rindu selalu berusaha melakukan segalanya dengan sempurna agar tidak menjadi beban.
Namun, hardikan Dinda barusan terasa begitu menyakitkan dan tidak adil, mengingat gaun itu baru diletakkan Dinda di keranjang baju kotor semalam tanpa pesan apa pun.
"Dinda, maaf... tapi kamu baru taruh dress itu di keranjang semalam," ucap Rindu, berusaha menahan getaran di suaranya agar tetap terdengar tenang dan sopan.
"Kamu juga nggak ada bilang kalau mau dipakai hari ini. Kalau kamu bilang dari kemarin, pasti sudah Kakak dahulukan."
"Alasan aja! Harusnya sebagai yang ngurus rumah, Kakak bisa tanggap dong mana baju yang penting!" potong Dinda ketus, ego mudanya sama sekali tidak mau mengalah.
"Ada apa sih ini ribut-ribut!" suara lantang Bu Ratna seketika memecah ketegangan.
Wanita paruh baya itu berjalan cepat menghampiri, dahinya terlipat dalam memperlihatkan rasa tidak senang dengan kegaduhan yang mengganggu ketenangan rumahnya.
Dinda yang melihat mamanya datang langsung memasang wajah manja sekaligus gusar. Ia menunjuk Rindu dengan dagunya, mencari pembelaan.
"Ini, Ma, Kak Rindu! Masa dress yang mau Dinda pakai baru dicuci sama dia! Padahal Dinda ada acara penting banget satu jam lagi!" lapor Dinda dengan nada mengadu yang berlebihan.
Bu Ratna seketika mengalihkan pandangan tajamnya ke arah menantunya. Wajahnya mengeras, tidak mau tahu apa alasan di balik keterlambatan itu.
"Lho, kamu bagaimana sih, Rindu?!" tegur Bu Ratna, suaranya meninggi dan penuh nada menghakimi.
"Kamu kan cuman di rumah, kerjamu cuma mengurus rumah tangga. Masa hal sepele seperti baju Dinda saja tidak bisa kamu perhatikan dengan benar? Harusnya kamu tahu mana baju yang mendesak untuk dicuci!"
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰