"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Berbeda
Doni mengumpulkan tim nya di ruang rapat. Dia segera membagikan detail proyek kepada mereka.
Proyek dari Atma Group bukan proyek biasa. Perusahaan besar itu berencana membangun sebuah resort mewah sekaligus hotel bintang lima di kawasan wisata yang sedang berkembang.
Nilai proyeknya sangat fantastis dan menjadi incaran banyak perusahaan.
Karena itulah, Doni tidak ingin timnya bekerja setengah-setengah.
"Kita tidak hanya membuat proposal," ujar Doni saat membagikan dokumen kepada tim. "Kita harus memberikan solusi terbaik dan menunjukkan bahwa WIN Group adalah pilihan yang tepat bagi Atma Group."
Semua orang mengangguk penuh semangat. Lalu, Doni menjelaskan detail lain baru setelahnya, ia membagi tugas pada tim nya.
Ada yang bertanggung jawab mengumpulkan informasi mengenai tender, melakukan riset pasar, dan melakukan survei lokasi. Sebagian anggota tim menyusun konsep dan desain, sementara yang lain menghitung anggaran, menganalisis risiko, hingga menyiapkan rencana cadangan jika sewaktu-waktu diperlukan.
Semua bekerja sesuai bidang masing-masing.
Bahkan, demi mendapatkan hasil yang terbaik, Doni turun langsung ke lapangan bersama Alena.
Mereka mengunjungi beberapa resort dan hotel berbintang sebagai bahan referensi, mempelajari kebutuhan pasar, hingga mengamati berbagai konsep pembangunan yang sedang menjadi tren.
Sementara itu, di ASN Group, suasananya tidak kalah sibuk.
Seluruh tim juga bekerja keras mempersiapkan proposal untuk tender Atma Group.
Mereka melakukan riset pasar, survei lokasi, menyusun konsep, menghitung anggaran, hingga membuat berbagai strategi agar bisa mengalahkan para pesaing.
Semua tugas dibagi dengan rapi. Namun, ada satu perbedaan yang cukup mencolok.
Jika Doni turun langsung dan terlibat dalam setiap proses, Arsen justru menyerahkan hampir seluruh pekerjaan kepada timnya.
Ia lebih sering duduk di ruangannya ditemani Erina.
Setelah tim menyelesaikan pekerjaannya, mereka akan mengadakan rapat dan mempresentasikan hasilnya.
Arsen dan Erina hanya duduk mendengarkan. Sesekali, keduanya memberikan masukan.
"Bagian ini kurang menarik. Ubah lagi."
"Konsep desainnya terlalu biasa. Aku ingin sesuatu yang lebih mewah."
"Data pasarnya kurang lengkap. Perbaiki."
Begitulah yang terus terjadi. Dan, Tim nya akan kembali bekerja keras memperbaiki semuanya sesuai keinginan mereka.
Perusahaan-perusahaan yang ikut serta sama-sama mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Masing-masing memiliki ambisi besar untuk memenangkan proyek bernilai fantastis itu.
Namun, pada akhirnya, hanya akan ada satu pemenang.
Dan, kemenangan itu akan ditentukan oleh siapa yang benar-benar memahami apa yang diinginkan Atma Group.
***
Hari demi hari berlalu dengan sangat sibuk.
Alena bahkan nyaris tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Ia sering membawa pekerjaannya pulang ke rumah dan mengerjakannya hingga larut malam. Tidak jarang, ia juga harus lembur bersama tim demi menyelesaikan berbagai persiapan.
Kesibukan itu tentu saja membuat Hana murka. Setiap pagi, wanita paruh baya itu selalu mengomel dan mencari-cari kesalahan Alena.
Seperti pagi ini. Alena baru saja menuruni anak tangga, tapi Hana sudah mulai menyindirnya.
"Rumah ini rasanya seperti tidak punya menantu!" gerutu Hana. "Pergi pagi, pulang malam. Apa yang sebenarnya kamu cari dengan bekerja seperti itu?"
Alena hanya diam.
"Kamu semakin mengabaikan kewajiban mu sebagai istri!" lanjut Hana dengan nada tajam.
Alena tidak mau ambil pusing. Ia tahu, Arsen sendiri sudah beberapa hari terakhir hampir tidak pernah pulang ke rumah. Jadi, ia tidak perlu merasa bersalah karena mengabaikan kewajibannya.
Baginya sekarang, pekerjaan ini jauh lebih penting. Karena pekerjaan ini adalah kesempatan untuk membangun masa depannya sendiri.
"Lihat itu!" seru Hana dengan nada tinggi. "Bahkan di hari libur pun kamu bangun siang dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Apa kamu menganggap dirimu seorang putri raja, hah?"
Alena yang baru saja menginjakkan kaki di lantai bawah, hanya memutar bola matanya. Ia sama sekali tidak berniat menanggapi ucapan mertuanya itu dan memilih berjalan melewatinya begitu saja.
Sikap tersebut justru membuat Hana semakin murka.
"Alena!" bentaknya. "Mama sedang bicara denganmu. Apa kamu tidak dengar?"
"Sudahlah, Mah," ujar Danis, berusaha menenangkan istrinya. "Pagi-pagi jangan marah terus."
"Sudah bagaimana?" Hana menoleh kesal pada suaminya. "Kita datang ke sini untuk mengunjungi mereka, tapi lihat sikap menantu mu itu! Tidak sopan sama sekali."
Alena tetap diam, seolah tidak mendengar apa pun, ia berjalan menuju meja makan dan duduk dengan tenang. Di hadapannya sudah tersedia sarapan yang sengaja Santi siapkan untuknya.
Ia mulai menikmati sarapannya yang sedikit terlambat.
Sesekali, matanya tertuju pada ponsel yang berada di samping piring. Ia membuka beberapa dokumen dan meninjau kembali data proyek yang telah ia kumpulkan.
Namun, tiba-tiba layar ponselnya menyala menampilkan sebuah panggilan masuk.
Nama yang tertera di layar membuat Alena sedikit terkejut.
"Kakek?"
Ia segera menjawab panggilan itu.
"Halo, Kek. Ada apa?"
"Maaf kalau Kakek mengganggumu, Alena. Tapi, Kakek ingin meminta tolong. Apa kamu sedang sibuk?" tanya Rendra dari seberang.
"Tidak, Kek. Memangnya ada apa?"
"Begini, hari ini Kakek ada janji dengan dokter. Kakek ingin melakukan pemeriksaan rutin." Suara pria tua itu terdengar ragu. "Apa kamu bisa menemani Kakek?"
Alena terdiam beberapa saat. Hari ini memang hari liburnya. Tapi, ia berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum sempat ia kerjakan.
"Halo, Alena?" panggil pria tua itu lagi.
Alena segera tersadar dari lamunannya. "Oh... iya, Kek. Tentu saja aku bisa menemani Kakek."
"Benarkah?" Suara Rendra terdengar senang.
"Iya. Aku akan segera bersiap."
"Terima kasih, Alena. Kakek jadi merepotkan mu."
Alena tersenyum hangat. "Tidak apa-apa, Kek. Sampai nanti."
Panggilan pun berakhir.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali melanjutkan sarapannya hingga selesai.
Setelah itu, Alena membawa piringnya ke wastafel, mencucinya sebentar, lalu berbalik untuk kembali ke kamar. Tapi, lagi-lagi suara Hana menghentikan langkahnya.
Wanita paruh baya itu seolah tidak rela melihat Alena tenang meski hanya sesaat.
"Apa sebenarnya mau mu, Alena?" tanya Hana tajam. "Kalau kamu sudah tidak mau menjadi menantuku, lebih baik kamu dan Arsen bercerai saja!"
Suasana mendadak hening.
Beberapa detik kemudian, sudut bibir Alena perlahan terangkat membentuk senyum sinis.
Ia menoleh sebentar ke arah mertuanya. Tapi, tidak ada kemarahan ataupun kesedihan di wajahnya. Yang ada hanyalah tatapan tenang yang sulit diartikan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alena berbalik dan kembali melangkah menaiki anak tangga.
Hana tertegun tak percaya dengan sikap Alena. "Li-lihat itu! Kamu lihat menantu mu! Dia benar-benar menantang kita."
Danis menatap punggung Alena yang semakin menjauh. Entah mengapa, ia merasa akhir-akhir ini Alena nampak berbeda. Wanita itu seolah tidak peduli lagi dengan keutuhan rumah tangga.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...