Karena pria yang mencintainya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya membuat Lavanya mau tidak mau harus menikah dengan Mike.
Mike berusaha untuk menjalani pernikahan mereka meski pernikahan itu didasari tanpa cinta dan Lavanya tidak mudah membuka hatinya.
Percekcokan terjadi di antara mereka, Lavanya benar-benar tidak ingin mencoba untuk rumah tangganya dan tidak mungkin berpisah karena keluarga calon suaminya itu dikenal oleh orang banyak dan sangat terhormat.
Sahabatnya masuk dalam rumah tangga mereka dan menghancurkan rumah tangga itu dengan Mike mencari kenyamanan pada Arumi.
Ketika Lavanya menyadari adanya yang tidak sehat dalam rumah tangganya, bagaimana dirimu manfaatkan dan terlalu sibuk untuk dirinya dan sampai akhirnya mengetahui perselingkuhan suaminya. Lavanya ternyata tidak mundur dan justru maju untuk merebut suaminya kembali.
Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan antara Mike dan Lavanya. Apakah pada akhirnya Lavanya kembali mendapatkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Ketegasan Lavanya
Pria berjubah putih baru saja keluar dari ruang perawatan Lavanya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Mike.
"Nona Lavanya Alhamdulillah baik-baik saja, kondisinya sudah jauh lebih baik dan sudah sadar, beliau mungkin shock dengan apa yang terjadi, Nona Lavanya hanya membutuhkan istirahat dan setelah itu kondisinya pasti akan semakin stabil," jawab dokter.
"Syukurlah," sahut Mike benar-benar merasa bersyukur, begitu juga dengan Naomi pada akhirnya sahabatnya baik-baik saja.
"Hmmmm, untuk sementara sebaiknya Nona Lavanya dijaga dengan baik, diberi ketenangan agar tidak mengingat hal-hal yang terjadi padanya," ucap dokter memberi saran.
"Baik Dokter," sahut Mike.
"Kalau begitu saya permisi dulu!" dokter tersebut berpamitan membuat Mike dan Naomi mengangkatkan kepala.
"Pak, saya juga sebaiknya kembali ke kantor untuk beres-beres karena ini juga sudah sore. Nanti saya akan datang lagi untuk melihat keadaan Lavanya," ucap Naomi.
"Ya sudah Naomi, saya ucapkan terima kasih karena kamu sering membantu istri saya," ucap Mike.
"Baik. Pak, kalau begitu saya permisi dulu!" Naomi menundukkan kepala dan kemudian langsung berlalu dari hadapan pimpinannya itu.
"Mike!" baru saja Mike ingin memasuki ruangan istrinya dan tiba-tiba saja kedua orang tuanya sudah datang.
"Pa, Ma," sahut Mike.
"Bagaimana keadaan Lavanya? Apa yang terjadi padanya?" tanya Brahmana.
"Ceritanya panjang, sebaiknya kita masuk saja untuk melihat keadaannya," jawab Mike.
"Baiklah," sahut Brahmana dengan menganggukkan kepala.
******
Brahmana, Maria dan Mike sudah berada di ruangan Lavanya dengan Mike yang duduk di sebelah sang istri dengan menggenggam tangannya jari-jarinya mengusap punggung jari-jari tersebut seolah-olah memberi ketenangan bahwa dia akan selalu ada.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Mike dengan lembut.
"Jauh lebih baik, tapi masih kepikiran dengan orang yang ingin mencelakai Lavanya," jawabnya dengan suara yang terdengar begitu pelan.
"Kamu melihat orangnya siapa?" tanya Brahmana membuat Lavanya menggelengkan kepala.
"Kamu jangan khawatir Lavanya, saya pasti akan menemukan orangnya," ucap Mike berjanji pada sang istri.
"Pa. Ma, mungkinkah orang itu adalah orang yang sama yang mencelakai Lavanya saat di Bali, bagaimana perkembangan penyelidikan Polisi, apa mereka sudah menemukan atau menemukan petunjuk terhadap orang yang ingin mencelakai Lavanya?" tanya Lavanya dengan nada suaranya yang terdengar begitu rendah.
"Kasus ini sudah Papa serahkan pada pengacara, jadi biarkan mereka yang menyelesaikannya," jawab Brahmana.
"Kamu lain kali hati-hati, dan jika ingin keluar dari rumah, lebih baik ditemani bukan sendirian," sahut Maria.
"Kalian adalah orang-orang besar, memiliki pengaruh dan bukankah seharusnya masalah mencari orang yang mencelakaiku adalah hal yang mudah, tetapi kenapa sampai sekarang kalian belum menemukannya, mungkinkah kalian tidak akan menemukannya karena orang itu loh tidak lain adalah orang-orang dari kalian," batin Lavanya curiga kepada ayah dan ibu mertuanya yang memang sangat santai semenjak dia mengalami insiden buruk.
"Mama ngapain?" Lavanya menegur Ibu mertuanya ketika mengeluarkan ponsel dan ingin memotret dirinya.
"Hanya ingin memberi informasi kepada media, bahwa menantu dari keluarga Brahmana sedang mengalami insiden buruk dan dirawat di rumah sakit," jawab Maria ternyata ingin update.
"Lavanya tidak mengizinkan untuk mengambil foto Lavanya secara diam-diam dan menyebarluaskannya," sahut Lavanya.
"Kamu bilang apa?" tanya Maria.
"Jangan jadikan insiden yang terjadi pada Lavanya untuk menarik simpatik masyarakat, Lavanya mohon untuk tidak melibatkan Lavanya dengan urusan politik Papa. Dari pada Mama melakukan hal yang membuang waktu seperti ini dan sebaiknya cari dan temukan orang yang mencelakai Lavanya!" tegas Lavanya.
"Kurang ajar sekali kamu Lavanya berbicara seperti itu kepada saya," sahut Maria merasa tersinggung dengan perkataan Lavanya.
"Sudah-sudah. Jangan ada keributan seperti apapun lagi. Ma, Lavanya sedang sakit dan masih schok dengan apa yang terjadi, benar apa yang dikatakan yang sebaiknya jangan sampai media memanfaatkan kondisinya dengan pemberitaan yang tidak benar, Lavanya tidak nyaman dan lebih baik untuk tidak dilakukan!" tegas Mike membela istrinya.
"Sudahlah Maria tidak perlu melakukannya," Brahmana juga tidak ingin ada keributan dan menghentikan sang istri, tetapi sudah pasti Maria tampak begitu kesal menatap menantunya itu dengan tajam atas keberanian yang melarang dirinya.
Lavanya tidak ingin dimanfaatkan oleh kedua orang tua dari suaminya itu untuk mencari simpati masyarakat atas insiden yang dialami.
******
Naomi memiliki kesempatan untuk menjenguk sahabatnya dan kebetulan Mike juga pergi sebentar. Naomi memotongkan buah untuk Lavanya.
"Ini!" Naomi dengan berbaik hati memberikan buah tersebut kepadanya.
"Makasih Naomi, pada hari ini sudah malam dan kamu masih menyempatkan diri untuk menjengukku, kamu juga sudah menyelamatkanku," sahut Lavanya.
"Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu Lavanya, aku senang bisa membantu kamu," sahut Naomi.
"Naomi aku boleh minta tolong tidak?" tanya Lavanya.
"Minta tolong apa?" tanya Naomi.
"Kamu tolong carikan siapa pengemudi dari mobil yang ingin mencelakaiku, karena lokasinya terjadi di parkiran dan aku yakin pasti ada cctv di sana, kamu harus bergerak cepat untuk menemukannya," ucap Lavanya.
"Bukankah masalah ini sudah ditangani oleh keluargamu?" tanya Naomi.
"Entah kenapa aku sulit sekali percaya kepada mereka, dengan kekuasaan yang mereka miliki dan bukankah seharusnya masalah sepele ini dalam hitungan jam akan selesai, tetapi kenyataannya tidak ada petunjuk apapun dan ini sama kejadian yang terjadi di Bali, tidak ada perkembangan kasus dan semua masih abu-abu," ucap Lavanya merasa tidak bisa diam saja dan harus meminta bantuan kepada Naomi.
"Naomi, aku yakin kamu bisa melakukan semua ini, kamu pasti bisa membantuku, aku mohon Naomi tolong aku," ucap Lavanya.
"Aku tidak janji apapun kepada kamu Lavanya, tapi baiklah aku akan berusaha untuk menemukan pelakunya," sahut Naomi.
Lavanya merasa lega jika ada orang yang bisa dia percaya untuk membantu dirinya, karena Lavanya merasa percuma meminta bantuan kepada mertuanya yang sudah pasti akan terus mengundur-undur untuk menemukan pelakunya.
*****
Mike duduk di samping istrinya, yang saat ini Lavanya bersandar di kepala ranjang dan disuapi oleh Mike.
"Makannya enak?" tanya Mike.
"Sedikit hambar, tetapi namanya juga makanan rumah sakit," jawab Lavanya.
Mike mengusap pucuk kepala Lavanya yang saat ini memang tidak menggunakan hijab karena mungkin berada di rumah sakit.
"Kamu jangan takut, kejadian ini tidak akan terulang lagi," ucap Mike benar-benar sangat lembut berbicara kepadanya, terdengar meyakinkan.
"Makasih. Kak," sahut Lavanya.
"Lavanya, saya menemani kamu di sini, saya bisa menjamin tidak akan ada yang berani untuk menyentuh atau menyakiti kamu lagi," ucap Mike benar-benar dalam menatap istrinya.
"Ya Allah, aku bisa melihat ketulusan dari pria di hadapanku ini, tetapi kenapa hatiku sangat sulit sekali terbuka untuknya, apa mungkin ini yang menjadi penghalang diantara kami, aku menginginkan dia untuk menjadi milikku, tetapi hatiku tidak mampu terbuka dan menerima semua itu, apakah karena aku tidak tulus melakukannya untuk pernikahan, tadi melakukannya hanya karena takut dia dimiliki oleh orang lain," batin Lavanya terlihat begitu galau.
"Makan lagi!" Mike kembali menyodorkan sesendok makanan itu membuat Lavanya membuka mulutnya.
Lavanya tersenyum mendapat perhatian yang benar-benar tulus, tidak ada keterpaksaan sama sekali, Mike mungkin benar melakukannya, bukan karena takut bahwa dia akan ketahuan memiliki hubungan dengan Arumi, tetapi karena wanita itu adalah istrinya.
Bersambung....
Bra