NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 1: Warisan di Ujung Senja Modern

​Tahun 2042. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, tetapi malam itu, kota metropolitan ini terasa jauh lebih sesak dari biasanya. Di langit-langit kota, papan reklame holografik tiga dimensi berukuran raksasa memproyeksikan iklan mobil terbang generasi terbaru dan suplemen kecerdasan buatan. Cahaya neon berwarna biru elektrik dan merah muda menyiram jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan sore. Teknologi telah mencapai puncaknya, mengubah manusia menjadi budak-budak efisiensi. Namun, di balik semua kemilau futuristik itu, ada sesuatu yang tidak beres dengan alam.

​Arkana Wijaya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi plastik di balkon kamar kosnya yang sempit. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terletak di lantai empat sebuah gedung tua di pinggiran Jakarta Barat—salah satu dari sedikit kawasan yang belum digusur oleh korporasi megah. Di atas meja belajarnya yang berantakan, layar tablet transparan masih menyala, menampilkan tumpukan jurnal tugas kuliah semester empatnya di jurusan Teknik Informatika.

​Arkana baru berusia dua puluh tahun. Wajahnya tipis, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya akibat begadang yang terlalu sering. Garis rahangnya tegas, namun ekspresinya selalu memancarkan kelelahan khas pemuda kelas pekerja yang berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya tuntutan zaman.

​Namun, malam ini, fokus Arkana sama sekali bukan pada tugas kuliahnya. Pandangannya terpaku pada sebuah benda kecil yang tergeletak di telapak tangan kanannya.

​Itu adalah sebuah cincin.

​Cincin itu terbuat dari sejenis logam hitam pekat yang tidak berkilau, bahkan ketika terpapar cahaya lampu neon dari luar jendela. Permukaannya kasar, dipenuhi dengan ukiran-ukiran kuno yang sekilas tampak seperti retakan alami, tetapi jika diperhatikan lebih dekat, retakan itu membentuk pola sulur dan tulisan dalam bahasa yang belum pernah Arkana lihat di buku sejarah mana pun. Benda ini adalah satu-satunya peninggalan dari almarhum kakeknya, Wijaya, yang meninggal dunia sebulan lalu.

​Kakek Wijaya adalah sosok yang aneh di mata keluarga. Di era di mana semua orang memuja kecerdasan buatan dan implan sibernetik, kakeknya justru menghabiskan hidupnya dengan mengumpulkan barang-barang rongsokan kuno, membaca gulungan kain usang, dan menggumamkan hal-hal tidak masuk akal tentang "energi bumi" dan "jalan langit". Sebelum mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit tua, sang kakek mencengkeram erat pergelangan tangan Arkana dan menyerahkan cincin ini.

​"Arka... simpan ini," bisik kakeknya hari itu, suaranya parau dan bergetar hebat. "Dunia yang kau kenal hanyalah ilusi yang dibangun di atas tanah yang tertidur. Ketika fajar sejati tiba, singkaplah segelnya. Hanya darah Wijaya yang bisa menahan beban ini."

​Saat itu, Arkana mengira kakeknya hanya berhalusinasi akibat demam tinggi. Namun, entah mengapa, dia tidak pernah bisa membuang cincin itu. Dia selalu membawanya, menyimpannya di dalam saku celananya seperti sebuah jimat keberuntungan yang tidak berguna.

​"Dunia yang tertidur, ya?" gumam Arkana retoris. Dia tersenyum kecut, memutar-mutar cincin hitam itu di sela jarinya. "Kek, kalau saja kau tahu seberapa susahnya membayar uang kos bulan ini, kau pasti akan menyarankanku untuk menjual cincin rongsokan ini ke toko barang antik."

​Tepat ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, sesuatu yang aneh terjadi.

​BZZZZT!

​Lampu neon di langit-langit kamar kos Arkana mendadak berkedip hebat. Layar tablet transparannya bergoyang, memancarkan gelombang statis sebelum akhirnya mati total. Bukan hanya di kamarnya, dari luar jendela, Arkana bisa mendengar suara riuh rendah dan klakson kendaraan yang tiba-tiba bersahutan. Papan reklame holografik raksasa yang menerangi langit Jakarta mendadak padam, melemparkan seluruh kota ke dalam kegelapan yang pekat.

​Blackout? Di seluruh Jakarta? Itu adalah hal yang mustahil di tahun 2042, di mana kota ini disokong oleh reaktor fusi nuklir bawah tanah yang memiliki sistem cadangan berlapis.

​Namun, kejutan malam itu baru saja dimulai.

​Bumi di bawah kaki Arkana tiba-tiba bergetar. Itu bukan gempa bumi biasa yang bergetar ke kanan dan ke kiri. Ini adalah getaran frekuensi tinggi yang seolah-olah meletup dari kedalaman tanah, menembus fondasi gedung, dan langsung merambat ke dalam tulang-belulangnya. Arkana terhuyung, terpaksa berpegangan pada pagar pembatas balkon agar tidak jatuh.

​"Apa yang terjadi?!" bisiknya dengan jantung yang mulai berdegup kencang.

​Dia mendongak ke langit, dan matanya melebar tak percaya. Langit Jakarta yang biasanya tertutup polusi dan awan kelabu tebal, perlahan-lahan terbelah. Dari balik celah awan itu, sebuah fenomena alam yang luar biasa indah sekaligus mengerikan tercipta. Tirai cahaya berwarna hijau zamrud dan ungu tua—mirip seperti aurora borealis, namun seratus kali lebih masif—membentang luas melintasi cakrawala.

​Udara di sekitar Arkana mendadak berubah. Oksigen yang dia hirup tidak lagi terasa hambar dan berbau asap knalpot. Udara itu mendadak menjadi sangat dingin, murni, dan membawa aroma tanah basah serta wewangian kuno yang menyegarkan. Setiap kali Arkana menarik napas, dia merasa paru-parunya seperti dibersihkan, dan rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya selama berhari-hari lenyap dalam sekejap.

​Tanpa disadari oleh umat manusia, pada detik itu, tirai tak kasat mata yang mengunci energi spiritual Bumi selama ribuan tahun telah runtuh. Qi—energi primordial alam semesta—mengalir kembali ke permukaan bumi seperti air bah yang menjebol bendungan.

​Dan di tangan Arkana, cincin hitam itu mulai bereaksi.

​Ukir-ukiran kuno di permukaan logam cincin itu tiba-tiba menyala, memancarkan cahaya keemasan yang redup namun intens. Arkana tersentak kaget. Dia mencoba melemparkan cincin itu ke lantai, tetapi benda itu seolah-olah telah merekat erat pada kulit telapak tangansnya. Rasa hangat yang awalnya nyaman dengan cepat berubah menjadi panas yang membakar.

​"Sialan! Panas!" jerit Arkana.

​Cahaya keemasan dari cincin itu semakin terang, membentuk sulur-sulur cahaya yang merayap naik ke pergelangan tangannya, menembus urat nadi, dan terus menjalar menuju lengannya. Arkana terjatuh ke lantai balkon, mencengkeram lengan kanannya yang kini dipenuhi oleh garis-garis emas yang bercahaya di bawah kulitnya. Rasanya seolah-olah ada cairan logam mendidih yang disuntikkan langsung ke dalam aliran darahnya.

​Napas Arkana memburu. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Di tengah rasa sakit yang mendera, sebuah suara berdengung keras di dalam kepalanya, mengabaikan indra pendengarannya fisik dan langsung berbicara ke dalam jiwanya.

​【 Sembilan Ribu Tahun Kehampaan... Segel Roda Langit Telah Hancur... 】

​【 Pewaris Darah Wijaya Ditemukan. Memulai Proses Pengikatan Jiwa dengan Cincin Kaisar Abadi... 】

​"Siapa... siapa itu?!" Arkana berteriak di dalam batinnya, mencoba mempertahankan kesadarannya yang mulai terkikis oleh rasa sakit yang luar biasa.

​Sebelum dia sempat memahami apa yang terjadi, gelombang informasi raksasa menghantam otaknya tanpa ampun. Itu bukan sekadar teks atau data numerik, melainkan untaian memori, visualisasi, dan emosi yang sangat masif.

​Arkana melihat kilasan-kilasan masa lalu yang tidak masuk akal. Dia melihat seorang pria berambut putih panjang yang berdiri di puncak gunung tertinggi, memegang sebuah pedang yang mampu membelah awan dan bintang-bintang di langit hanya dengan satu tebasan. Pria itu dikelilingi oleh ribuan makhluk mengerikan berwujud naga dan binatang buas raksasa, namun tatapan matanya tetap tenang, sedalam lautan purba. Pria itu adalah Kaisar Abadi, penguasa tertinggi dari era kultivasi kuno sebelum energi dunia ini mengering.

​Semua pengetahuan pria itu—teknik bertarung, pemahaman tentang hukum alam, formula ramuan obat, hingga rahasia kultivasi terdalam—diubah menjadi segel-segel cahaya dan ditanamkan paksa ke dalam struktur otak Arkana.

​Kepala Arkana terasa seperti mau pecah. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol keluar, berdenyut selaras dengan cahaya emas di lengannya. "Hentikan... CUKUP!"

​Namun proses itu tidak bisa dihentikan. Cincin Kaisar Abadi telah memilihnya.

​Bersamaan dengan masuknya memori tersebut, energi spiritual murni dari cincin itu mulai merombak tubuh fisik Arkana. Ini adalah tahap paling dasar namun paling menyakitkan dalam dunia kultivator: Body Tempering (Penempaan Tubuh).

​Arus energi yang kasar dan tajam seperti pisau mikroskopis mulai mengalir melalui jalur meridian tubuhnya yang tersumbat sejak lahir. Energi itu menghancurkan sel-sel mati, membersihkan racun-racun kimia akibat makanan modern dan polusi kota, serta memperkuat struktur tulang dan ototnya dari dalam.

​Arkana bisa mendengar suara gemertak dari tulang-belulangnya sendiri. Setiap inci dagingnya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum es. Rasa sakitnya begitu intens hingga dia bahkan tidak bisa berteriak lagi. Suaranya tertahan di tenggorokan, dan pandangannya perlahan-lahan mulai menggelap.

​Di ambang batas kesadarannya, dia melihat garis-garis emas di tubuhnya perlahan meredup, menyerap masuk ke dalam jantungnya. Cincin hitam di tangannya kini telah berpindah tempat, melingkar dengan sempurna di jari tengah tangan kanannya, tampak menyatu seolah-olah benda itu memang terlahir di sana.

​Sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya, sebuah baris kalimat emas terakhir mengambang di benaknya, berkilau dengan keagungan yang mutlak:

​【 Kitab Primordial Kaisar Abadi: Penempaan Tubuh Tubuh Sembilan Langit... Telah Dibuka. 】

​Arkana jatuh pingsan di lantai balkon kosnya yang dingin. Di luar sana, Jakarta masih tenggelam dalam kegelapan, diselimuti oleh tirai aurora yang menari-nari dengan anggun di langit malam. Tanpa ada yang menyadari, di sudut kota yang kumuh ini, roda takdir seorang penguasa baru telah mulai berputar.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!