NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Enam bulan setelah malam di dermaga privat pulau seberang, Jakarta menyambut musim kemarau dengan langit yang biru bersih tanpa segumpal pun awan kelabu. Di lantai lima puluh lima Menara Bratadikara, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui dinding kaca raksasa, memantulkan kilau keperakan pada sebuah plakat kuningan yang baru saja dipasang di samping pintu jati ruang kerja utama.

Gisela Aura, S.H.

Chief Legal Officer & General Counsel of Bratadikara Group

Aura berdiri di depan meja kayu mahoni besarnya, menatap plakat tersebut dengan senyuman tipis yang sarat akan kepuasan. Di usianya yang baru menginjak dua puluh dua tahun, ia telah melompati puluhan anak tangga karier yang biasanya membutuhkan waktu belasan tahun bagi pengacara biasa. Namun, Aura tahu betul bahwa posisi ini bukan sekadar hadiah romantis dari Devan, melainkan sebuah kebutuhan taktis yang mendesak bagi kelangsungan masa depan klan.

"Selamat pagi, Ibu Direktur Hukum," sebuah suara berat yang sangat familier memecah keheningan ruangan.

Aura menoleh dan mendapati Devanandra melangkah masuk dari pintu penghubung privat. Pagi ini, Devan tampak sangat gagah dalam balutan setelan jas tiga potong (three-piece suit) berwarna hitam legam yang dijahit khusus, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi sutra berwarna biru dongker—senada dengan warna gaun formal yang dikenakan Aura hari ini. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura ketegasan seorang CEO muda sekaligus pemimpin tertinggi faksi modern Bratadikara.

Devan berjalan mendekat, melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling pinggang Aura dari belakang, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di pelipis gadis itu. "Gimana rasanya melihat nama lo di sana?"

"Sedikit surealis," aku Aura, menyandarkan punggungnya pada dada bidang Devan, menikmati aroma maskulin cendana dan sisa sabun cukur yang menenangkan. "Enam bulan lalu aku masih pusing memikirkan revisi skripsi dari Profesor Wijaya, dan sekarang aku memegang kuasa penuh atas legalitas ratusan kapal kargo internasional."

Devan terkekeh rendah, sebuah getaran hangat yang merambat langsung ke jantung Aura. "Lo pantas mendapatkannya, Ra. Draf konsolidasi yang lo selesaikan minggu lalu sukses membuat tiga kementerian menandatangani izin perluasan dermaga baru di Distrik Utara tanpa ada satu pun gugatan dari oposisi hukum Mahendra. Bahkan bokap gue bilang, lo adalah investasi terbaik yang pernah gue bawa ke dalam keluarga ini."

"Investasi?" Aura membalikkan tubuhnya dalam dekapan Devan, menatap mata elang pria itu dengan binar jenaka. "Jadi aku cuma dianggap investasi ekonomi?"

"Lo adalah segalanya bagi gue, Aura," jawab Devan, ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi sangat intens dan penuh ketulusan yang mutlak. Ia mengangkat tangan kiri Aura, mengusap lembut cincin berlian yang kini telah berdampingan dengan cincin pernikahan emas putih sederhana di jari manis gadis itu. "Investasi hati yang gak akan pernah punya nilai kedaluwarsa."

Hari ini bukan hari kerja biasa di Menara Bratadikara. Di ruang konferensi utama lantai lima puluh, sebuah pertemuan tingkat tinggi yang akan mengubah peta geopolitik bisnis kota sedang berlangsung. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, klan Bratadikara mengundang perwakilan inti dari faksi-faksi independen Distrik Barat, Timur, dan Selatan untuk menandatangani Pakta Integrasi Logistik Nasional.

Ketika Devan dan Aura melangkah masuk ke dalam ruang konferensi, keheningan instan langsung turun menembus ruangan yang dipenuhi oleh para pria berwajah dingin dan veteran bisnis senior. Bram berdiri tegap di sudut pintu masuk, sementara Kenzo sudah duduk di barisan kursi teknis dengan lima layar monitor yang memantau enkripsi ruang pertemuan agar bebas dari penyadapan eksternal.

Aura berjalan dengan langkah tak tergoyahkan di samping Devan. Ia membawa sebuah tas kerja kulit hitam yang berisi draf perjanjian setebal tiga ratus halaman—sebuah mahakarya hukum yang ia susun sendiri bersama tim pengacara senior klan. Tidak ada lagi keraguan di matanya; ia adalah perisai hukum yang akan memastikan tidak ada satu pun klausul tersembunyi yang bisa merugikan Bratadikara.

"Selamat siang, para kolega," Devan membuka suara setelah duduk di kursi utama di ujung meja elips panjang, sementara Aura duduk tepat di sebelah kanannya sebagai penasihat hukum tertinggi. "Hari ini kita berkumpul bukan untuk bernegosiasi mengenai siapa yang menguasai wilayah mana. Hari ini, kita berkumpul untuk meratifikasi sebuah sistem baru yang legal, transparan, dan tidak tersentuh oleh korupsi politik luar."

Seorang perwakilan senior dari Distrik Timur—mantan kolega dekat si tua Mahendra—berdehem, menatap Aura dengan pandangan menilai yang skeptis. "Tuan Muda Devan, kami menghormati kekuatan Bratadikara. Namun, menyerahkan seluruh kontrol yurisdiksi kontrak pelabuhan kepada seorang wanita muda yang baru lulus kuliah... bukankah itu terlalu berisiko bagi stabilitas investasi kami?"

Suasana ruangan mendadak menegang. Bram di sudut ruangan sedikit menggeser posisi berdirinya, siap bergerak jika ada tanda-tanda provokasi fisik. Namun, sebelum Devan sempat membalas dengan kemarahan mafianya, Aura mengangkat tangan kanannya sedikit, memberikan isyarat halus bahwa ia yang akan menangani interupsi ini.

Aura membuka draf dokumen di hadapannya, lalu menatap langsung ke arah pria senior tersebut dengan sepasang mata cokelatnya yang kini memancarkan ketajaman yurididis yang mutlak.

"Tuan Prakoso," suara Aura terdengar begitu jernih, tenang, namun sarat akan otoritas yang dingin. "Dalam pasal 14 ayat 3 draf yang berada di depan Anda, saya telah menyisipkan klausul lindung nilai (hedging clause) yang mengunci tarif kargo Distrik Timur pada angka tetap selama lima tahun ke depan, mengabaikan fluktuasi inflasi global. Jika Anda menolak menandatangani pakta ini hari ini dan memilih untuk menggunakan jalur hukum lama Mahendra, perusahaan Anda akan terkena denda retroaktif sebesar dua belas persen atas manipulasi manifes pelabuhan tahun 2024 yang datanya sudah berada di meja Kejaksaan Agung pagi ini."

Aura menjeda kalimatnya selama tiga detik, membiarkan efek dari kalimatnya meresap ke dalam sanubari seluruh peserta rapat. "Jadi, pertanyaan saya kepada Anda adalah: apakah Anda ingin tunduk pada proteksi hukum klan Bratadikara yang menjamin keuntungan Anda selama lima tahun, atau Anda ingin menghabiskan sisa masa pensiun Anda di dalam sel tahanan Distrik Pusat?"

Mendengar pemaparan taktis dan ancaman hukum yang begitu presisi dari Aura, wajah Tuan Prakoso seketika berubah pucat. Ia menelan ludah dengan susah payah, menatap lembaran draf di depannya, lalu perlahan kembali duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada lagi satu pun orang di dalam ruangan itu yang berani mempertanyakan kapasitas Gisela Aura Kirana.

Di sampingnya, Devan mengulas senyuman miring kebanggaannya yang paling cerah. Ia tahu, wanita yang ia pilih bukan sekadar pemanis di samping takhtanya; Aura adalah kekuatan pemukul yang jauh lebih mematikan daripada ratusan senapan laras pendek milik pasukannya.

Sore harinya, setelah penandatanganan pakta sejarah itu selesai dengan kemenangan mutlak Bratadikara, sebuah perayaan kecil diadakan di beranda terbuka lantai teratas menara. Tempat itu telah disulap menjadi taman gantung yang indah dengan dekorasi lampu-lampu tumblr yang mulai menyala di bawah langit senja.

Nyonya Rahma hadir dengan kursi roda barunya yang lebih canggih, ditemani oleh Tari yang sore itu tampak sibuk mengambil foto estetis di sepanjang beranda dengan wajah ceria. Kondisi kesehatan ibu Aura telah pulih hampir sempurna berkat perawatan medis eksklusif yang terus difasilitasi oleh Devan.

"Aura, lo bener-bener keren banget tadi di ruang rapat!" bisik Tari dengan antusias saat menghampiri sahabatnya yang sedang mengambil segelas jus jeruk. "Gue denger dari Kenzo, lo baru aja bikin para bos mafia tua itu mati kutu cuma pake satu pasal hukum!"

Aura tertawa kecil, merangkul pundak sahabat karibnya itu. "Itu cuma penerapan pasal regulasi biasa, Tari. Gak ada yang spesial."

"Biasa apanya! Lo sekarang adalah The Queen of Legal Law di kota ini, tahu gak!" seru Tari dramatis, membuat Nyonya Rahma yang duduk di dekat mereka ikut terkekeh hangat.

"Aura memang selalu tahu apa yang terbaik untuk dilakukan, Nak Tari," sahut Nyonya Rahma, matanya memandang Aura dengan binar kebanggaan seorang ibu yang tidak ternilai harganya. "Ibu hanya berharap, di tengah semua kesuksesan besar ini, Aura dan Nak Devan tidak pernah lupa untuk bahagia bersama."

Tepat pada saat itu, Devan berjalan mendekati mereka setelah menyelesaikan koordinasi terakhir dengan Bram dan Kenzo di ruang kendali. Ia melepaskan jas hitamnya, menyisakan kemeja putih dan rompi hitam yang membuatnya tampak sedikit lebih kasual. Ia membungkuk hormat kepada Nyonya Rahma, lalu beralih menatap Aura dengan binar mata yang dipenuhi oleh kelegaan.

"Semua perimeter aman, Ra," kata Devan rendah. "Malam ini, seluruh kota ada di bawah kendali kita. Gak ada lagi Mahendra, gak ada lagi ancaman di garis belakang."

Aura tersenyum, melangkah mendekati Devan dan menyelipkan jemari tangannya di antara sela-sela jari tangan suaminya itu. "Lalu, apa yang ingin kamu lakukan malam ini, Devanandra?"

Devan menatap hamparan lampu kota Jakarta yang mulai menyala di bawah langit malam yang bertabur bintang keperakan. Di ketinggian lantai lima puluh lima ini, angin berembus cukup kencang, memainkan helai rambut hitam Aura yang dibiarkan tergerai malam ini.

"Gue mau berdansa sama lo, Ra," bisik Devan, suaranya terdengar begitu tulus dan romantis, meruntuhkan sisa-sisa karakter bos mafia yang dingin. "Tanpa ada draf hukum, tanpa ada kamera pengawas Kenzo, dan tanpa ada urusan klan. Cuma ada gue, lo, dan masa depan yang sudah kita bangun bersama."

Tanpa menunggu jawaban Aura, Devan menarik lembut tangan gadis itu menuju area tengah beranda yang sedikit temaram. Kenzo yang peka langsung menekan sebuah tombol di tabletnya, memutar sebuah instrumen musik klasik bernada lembut melalui sistem pelantang suara tersembunyi di sekitar taman gantung.

Di bawah siraman cahaya bulan purnama yang keperakan dan disaksikan oleh kerlip lampu kota yang dinamis, Devan meletakkan tangan kanannya di pinggang Aura, sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Aura. Mereka mulai bergerak mengikuti ritme musik dengan gerakan yang lambat, anggun, dan penuh dengan keharmonisan batin.

Aura menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup dengan ritme yang konstan dan menenangkan—sebuah detak jantung yang kini menjadi melodi keamanan terindahnya. Ia menyadari, petualangan maut yang dimulai dari sebuah insiden kopi tumpah di perpustakaan kampus Ganesha telah membawa hidupnya melangkah sejauh ini.

Dunia Devan mungkin dipenuhi oleh bahaya dan kegelapan, namun di dalam pelukan pria ini, Aura telah menemukan sebuah tempat di mana ia bisa menjadi dirinya yang seutuhnya: seorang wanita yang dicintai dengan obsesi yang suci, dan seorang pengacara yang kecerdasannya dihormati di atas takhta tertinggi.

Badai konspirasi telah resmi berlalu, meninggalkan puing-puing dinasti lama yang telah runtuh. Namun di atas puing-puing itu, sebuah fajar baru telah terbit dengan begitu indahnya—sebuah fajar yang menandai dimulainya aliansi abadi antara sang good girl akademis dan penguasa takhta kegelapan Bratadikara, sebuah kisah yang keindahannya akan terus diukir dengan kesetiaan, cinta, dan perlindungan mutlak yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun hingga akhir waktu.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!