NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Grand Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta malam itu disulap menjadi samudra kemewahan yang tiada tanding. Lampu-lampu gantung kristal berukuran raksasa tergantung megah di langit-langit yang tinggi, memancarkan pendar keemasan hangat yang memantul sempurna pada lantai marmer Italia yang resik.

Alunan musik orkestra klasik mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye dan bisik-bisik riuh dari ratusan tamu undangan, para petinggi universitas, mahasiswa elit berbalut jas dan gaun malam kelas atas, hingga jajaran alumni berpengaruh dan pejabat kota.

Di dekat pintu masuk utama berkarpet merah, riak kekaguman mendadak berembus bagai angin malam.

Seorang wanita melangkah masuk.

Hilmira Hazelya hadir dalam balutan gaun malam midnight blue berpotongan A-line pilihan Arkan. Kain sutra pekat berhias lapisan tulle transparan berkilau bagai taburan bintang di langit malam, melambai anggun setiap kali ia melangkah.

Khimar panjang dan cadar sutra midnight blue senada menutupi wajah serta bentuk tubuhnya dengan begitu santun, namun justru memancarkan aura kemewahan yang misterius dan berkelas tinggi. Di atas dadanya, terselip bros berlian sapphire biru yang memantulkan kilau menyilaukan di bawah sorotan lampu spotlight.

"Siapa dia...?" bisik salah seorang mahasiswi di barisan depan, matanya tak berkedip menatap Hilmira.

"Bukankah itu gadis bercadar dari FISIP? Gila... gaun dan perhiasannya itu rancangan rumah mode Paris! Harganya pasti miliaran!" timpal mahasiswi lainnya dengan nada iri dan terkagum-kagum.

Hilmira berjalan perlahan, jemari mungilnya menggenggam tas genggam kecil berwarna perak. Dari balik cadar sutranya, sepasang mata bulatnya yang jernih tampak berbinar canggung. Ia berusaha mengabaikan ratusan pasang mata yang kini menatapnya sebagai pusat perhatian utama malam itu.

Tak jauh dari situ, Rian, yang tampil gagah dengan tuksedo hitam klasik, memperhatikan Hilmira dari sudut bar.

Matanya membelalak tak percaya. Langkah kakinya sempat terdorong ingin mendekat, namun ingatan tentang insiden cangkir kopi berdarah dan intimidasi dingin Arkan di koridor kampus beberapa hari lalu mendadak menahan langkahnya di tempat.

Di area balkon VIP yang berada di lantai mezanin, terpisah oleh pagar ukiran perunggu dengan pemandangan langsung ke seluruh area ballroom, berdiri sosok penguasa malam yang sebenarnya.

Arkan Oliver.

Pria tegap setinggi 185 sentimeter itu tampil luar biasa memikat dalam balutan tuksedo custom-tailored berwarna hitam pekat buatan Italia. Kemeja putih kaku di bagian dalam dipadu dasi kupu-kupu hitam yang terpasang sempurna pada leher kokohnya.

Rambut hitam tebalnya disisir rapi ke belakang slicked-back, menonjolkan garis rahang tegas, hidung mancung, serta sepasang mata elang yang menyala penuh karisma. Di pergelangan tangan kirinya, jam tangan perak bernilai fantastis berkilau dingin.

Tangan kanan Arkan yang masih terbalut perban putih tipis tersimpan anggun di dalam saku celana bahannya, sementara tangan kirinya memegang gelas kristal berisi air mineral dingin.

Aura cold CEO yang dipancarkannya dari lantai atas begitu dominan dan membekukan, membuat beberapa putri pengusaha kaya yang mencoba mendekatinya di area VIP langsung mengurungkan niat karena takut pada tatapan matanya yang tak tersentuh.

Namun, tatapan mata Arkan malam ini tidak tertuju pada jajaran pejabat universitas yang berdiri di sekelilingnya.

Sepasang mata elangnya terkunci sepenuhnya pada sosok wanita bergaun midnight blue di bawah sana.

Melihat betapa memukaunya Hilmira, dan melihat bagaimana puluhan pria di ballroom menatap istrinya dengan pandangan terkagum-kagum, dada Arkan bergejolak hebat. Rahang tegasnya mengeras, dan cengkeraman jarinya pada gelas kristal mengencang.

Ada gelombang keposesifan liar dan kecemburuan gila yang membakar dadanya, keinginan impulsif untuk turun ke bawah, merengkuh pinggang Hilmira di depan semua orang, dan menegaskan pada dunia bahwa wanita tercantik malam ini adalah milik sah Arkan Oliver.

"Kau sangat cantik malam ini, Hilmira..." batin Arkan, hembusan napasnya terasa berat dan dalam. "Sangat cantik hingga membuatku ingin menyembunyikanmu dari mata dunia."

Sementara itu, di sudut ballroom yang agak temaram, tepat di belakang deretan meja saji katering kelas atas.

Kehangatan dan kemewahan pesta mendadak terancam oleh kemunculan sebuah bayangan hitam yang mengerikan.

Seorang pria bertubuh tegap berotot dengan seragam pramusaji katering berwarna hitam tampak berdiri membelakangi kerumunan. Pria itu pura-pura menyusun gelas-gelas setinggi piramida di atas meja, namun sepasang matanya yang licik, tajam, dan penuh dendam terus memperhatikan pergerakan Hilmira di tengah ruangan.

Di balik lengan kemeja seragam kateringnya yang agak terangkat, terlihat ujung tato hitam berbentuk kepala serigala bercakar, lambang khas dari kelompok kartel perdagangan manusia internasional yang bermasalah di masa lalu.

Pria itu adalah Marko, mantan anak buah kepercayaan bos kartel yang beberapa bulan lalu menyekap Hilmira, sebelum akhirnya markas mereka dihancurkan total oleh pasukan keamanan khusus yang dikirim secara rahasia oleh keluarga Oliver.

Marko merogoh saku celananya, menyentuh gagang pisau lipat taktis berbilah tipis yang tersembunyi rapi di dalam seragamnya. Seringai kejam dan beracun terukir di bibirnya yang serba hitam akibat rokok.

"Ketemu juga kau, gadis kecil..." bisik Marko dengan suara parau yang amat dingin dan bergetar oleh dendam.

"Kau yang membuat bos kami ditangkap dan seluruh bisnis kami hancur. Malam ini... di tengah pesta megah keluarga Oliver ini, aku akan memastikan kau membayar semuanya dengan nyawamu."

Marko mengambil nampan perak berisi beberapa cangkir minuman, lalu mulai melangkah perlahan menembus kerumunan tamu, bergerak secara strategis memotong jalur jalan Hilmira yang sedang berjalan sendirian menuju area lorong sepi dekat toilet wanita VIP.

Hilmira melangkah keluar dari keramaian ballroom, mencari ketenangan sejenak di lorong marmer berlampu temaram yang mengarah ke area taman dalam hotel. Suara bising musik orkestra perlahan teredam oleh tebalnya pintu kaca lorong.

Hilmira menghela napas panjang di balik cadar sutranya, memegangi dadanya yang berdebar halus. Cincin pernikahan platina di jari manisnya memantulkan pendar lampu dinding yang lembut.

Sret.

Suara gesekan sepatu yang tergesa-gesa di atas lantai marmer mendadak terdengar dari arah belakangnya.

Hilmira refleks membalikkan badan. "Siapa...."

Kalimat Hilmira terputus total.

Pramusaji tinggi besar itu kini berdiri hanya berjarak dua meter darinya. Marko perlahan menurunkan nampan peraknya ke atas meja konsol, lalu mengangkat wajahnya, menampilkan parut luka bakar panjang di pipi kirinya dan tatapan mata liar yang dipenuhi kegilaan.

Melihat tato serigala bercakar di pergelangan tangan pria itu dan mengenali parut luka bakar tersebut, memori kelam masa lalu yang paling mengerikan seketika meledak di dalam kepala Hilmira.

DEG!

Wajah Hilmira di balik cadar mendadak pucat pasi bagai kertas. Seluruh darah di tubuhnya serasa membeku seketika.

"K-Kau...!" bisik Hilmira, suaranya tercekat di tenggorokan oleh rasa panik dan trauma luar biasa yang langsung melumpuhkan seluruh saraf tubuhnya.

"Lama tidak berjumpa, Hilmira Hazelya," seringai Marko melebarkan luka di wajahnya. Pria itu menarik pisau lipat taktisnya dari balik baju, menekan tombol hingga mata pisau berkilat tajam di bawah lampu lorong.

"Keluarga Oliver pikir mereka bisa melindungimu selamanya? Malam ini, tidak ada Arkan Oliver yang bisa menolongmu!"

Marko melompat maju dengan kecepatan tinggi, tangannya terangkat mengayunkan pisau tajam itu lurus ke arah dada Hilmira!

"Aaaakgh!" Hilmira menjerit ketakutan, menutup matanya rapat-rapat sembari mundur hingga punggungnya menabrak dinding marmer yang dingin, pasrah pada takdir mengerikan yang mengancamnya.

Namun-

BAGG!

Sebuah benturan fisik bertekanan tinggi yang teramat dahsyat membelah keheningan lorong!

Sebelum ujung pisau Marko menyentuh kain gaun Hilmira bahkan hanya sekelumit pun, sebuah bayangan tegap bertubuh kokoh menerobos masuk dengan kecepatan bagai kilat.

Arkan Oliver telah tiba!

Dengan refleks tempur tingkat tinggi dan aura kemurkaan yang meledak liar, Arkan menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mencengkeram pergelangan tangan Marko yang memegang pisau, memutarnya secara ekstrem hingga suara derak tulang retak berbunyi nyaring.

KRAK!

"ARGGHHH!" Marko menjerit kesakitan hebat, pisaunya terlepas dan jatuh berdentang di atas marmer.

Belum sempat Marko memulihkan kesadarannya, Arkan melancarkan tendangan menyapu yang teramat keras menggunakan kaki panjangnya tepat ke arah dada Marko.

BUMM!

Tubuh kekar Marko terpental deras menghantam meja konsol kayu hingga hancur berkeping-keping, sebelum akhirnya tersungkur di lantai dengan darah segar menyembur dari mulutnya.

Suasana lorong sepi itu mendadak hening seketika, hanya diisi oleh suara deru napas Arkan yang berat dan memburu.

Arkan berdiri menjulang di tengah lorong. Jas tuksedo mewahnya sedikit berantakan, dasi kupu-kupunya miring, dan sepasang mata elangnya yang merah menyala memancarkan kejamnya kemurkaan seorang monster yang tempat sucinya baru saja diusik.

Aura membunuh yang memancar dari tubuhnya malam ini seribu kali lebih mengerikan daripada saat ia menghadapi Felicia di basement.

Tanpa memedulikan Marko yang terkapar tak berdaya di lantai, Arkan membalikkan tubuh tegapnya dengan cepat.

"Mira!"

Suara bariton Arkan keluar dalam nada yang sangat parau, panik, dan bergetar hebat, sebuah nada ketakutan murni yang belum pernah terdengar dari mulut sang pewaris tunggal Oliver Group.

Arkan melangkah lebar, langsung menangkup kedua bahu Hilmira yang gemetar hebat. Tangan Arkan yang kekar, meski salah satunya terbalut perban, memegang tubuh mungil Hilmira dengan cengkeraman yang teramat protektif, memeriksa setiap jengkal gaun midnight blue istrinya dengan pandangan mata yang liar oleh rasa cemas.

"Kau terluka?! Katakan padaku, ada yang sakit?! Dia menyentuhmu?!" cerca Arkan tanpa jeda, matanya menatap lurus ke dalam netra bulat Hilmira yang kini berderai air mata ketakutan.

"K-Kak Arkan... hiks..."

Hilmira tak sanggup lagi menahan serangan panik dan ketakutannya. Pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Tanpa memedulikan lagi batasan atau aturan berpura-pura asing, Hilmira maju satu langkah lalu menjatuhkan tubuhnya ke dalam dekapan Arkan. Tangannya mencengkeram kencang kain tuksedo di bagian dada Arkan, menyembunyikan wajah bercadarnya di dada bidang suaminya.

DEG.

Dada Arkan bergetar hebat menerima sengatan kejutan dari pelukan hangat dan keputusasaan istrinya.

Kemurkaan gila di dalam kepala Arkan seketika lelap, berganti dengan kelembutan tak terbatas.

Arkan melingkarkan kedua tangannya yang kokoh dan lebar di sekeliling tubuh sempit Hilmira, merengkuh istrinya begitu erat ke dalam dadanya, menjadikan tubuh tegapnya sebagai benteng baja tak tertembus yang menyembunyikan Hilmira dari bahaya dunia luar.

Arkan menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya yang tegas tepat di atas khimar midnight blue Hilmira, membiarkan aroma keharuman lembut istrinya menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh liar.

"Ssstt... tidak apa-apa, sayang... tidak apa-apa..." bisik Arkan dengan suara bariton yang sangat rendah, lembut, dan memabukkan di dekat telinga Hilmira. "Kau aman sekarang. Aku di sini. Tidak ada satu pun bajingan di dunia ini yang bisa menyentuhmu selama aku masih bernapas."

Dua orang pengawal pribadi berjas hitam milik keluarga Oliver berlari cepat memasuki lorong dengan senjata tersembunyi di balik jas mereka, langsung mengunci dan menyeret tubuh Marko yang pingsan keluar dari area hotel secara senyap tanpa menimbulkan kegaduhan di *ballroom* utama.

Di lorong temaram yang sunyi itu, Arkan terus mengecup puncak kepala Hilmira yang berada di dalam pelukannya.

Tangan kekarnya mengelus punggung Hilmira dengan penuh kehangatan, seolah menegaskan pada malam bahwa mulai detik ini, siapapun yang berani mengancam keselamatan wanita di dalam pelukannya ini, akan berhadapan langsung dengan murka abadi keluarga Oliver.

...----------------...

To Be Continue ....

1
mama
suka sm karakter ny arkan kak,sat set gk pke lama
Eva Karmita
jangan takut ya Mira...ada babang Arkan selalu di sampingmu 🔥💪🥰
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Estu Suet
mantap thor
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!